Showing posts with label Memoar. Show all posts
Showing posts with label Memoar. Show all posts
, ,

Cerita Persalinan Pertamaku: Labor Induction

Tadi sore, aku mendapatkan kabar duka dari teman sekelas suami di SMA yang meninggal dunia setelah melahirkan dengan proses CSection. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raj'un. Al fatihah untuk beliau, semoga khusnul khotimah. Sedih, patah hati rasanya meski aku tidak mengenal beliau. Ada sebuah rasa yang sulit dijelaskan ketika sudah menjadi seorang ibu, semua anak seakan terasa seperti anakmu sendiri. Berat membayangkan bagaimana si bayi mungil yang masih merah itu harus kehilangan seorang ibu. 

Okay hi, I'm back! Aku akhirnya tergerak untuk menuliskan pengalaman persalinanku beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya, aku sudah pernah membuat instastory tentang cerita persalinanku ini sih, bisalah dikepoin di highlight instagramku yang judulnya Birthstory. Kali ini aku pengen menuliskannya secara lengkap dan rinci di sini. Bingung nih mau mulai dari mana. So, here we go.

Jadi, Hari Perkiraan Lahir (HPL) bayiku adalah tanggal 28 Januari 2018 menurut HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir). Nah, ini penting banget diketahui sama ibu hamil. Selain untuk mengetahui usia kehamilan, juga untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk mulai mengambil cuti persalinan. Aku sudah mulai cuti sejak tanggal 22 Desember 2017 karena waktu itu aku berpatokan pada HPL versi USG. Optimis nggak akan jauh-jauh dari tanggal HPL, aku minta suami untuk pulang tanggal 25 Januari 2018. Alhamdulillah, di tanggal-tanggal itu bertepatan beliau mendapat tugas negara ke Denpasar sehingga bisa sekalian pulang kampung dan mengambil cuti panjang. Semacam kayak semesta mendukung gitulah. Entah aku yang berhasil sounding ke dedek bayi atau memang sudah rejeki kami, kelahiran pertama kali ini sudah dapat dipastikan bakal didampingi suami. 

Tanggal 26 Januari 2018 malam, aku ada jadwal kontrol rutin ke obsgyn. Ohya, selama di Klaten ini, aku langganan periksanya ke Dokter Zamzuri Hudaya, SpOG yang praktik di RSI Klaten. Beliau juga membuka praktik di Apotek Sidowayah in case you want to know. Kebetulan aku langsung cocok sih dengan gaya konsultasi beliau. Malem itu, aku akhirnya bisa kontrol rutin di Klaten dengan didampingi oleh suami. Nah, nggak kayak kontrol-kontrol rutin sebelumnya yang hampir nggak pernah ada masalah selain BB Janin yang kurang, malem itu banyak hal yang bikin aku khawatir. Indeks air ketubanku yang minggu lalu masih di level sangat aman tiba-tiba terjun bebas mendekati angka minimal. Aku bahkan nggak sadar bahwa ketubanku rembes. Berhubung usia kehamilanku sudah terbilang tua (saat kontrol sudah hampir uk 40minggu), plasentaku juga sudah mulai mengalami pengapuran grade 2. Dokter bilang bahwa kondisi ini tidak bisa dikatakan bagus. Bahkan beliau bersikeras agar bayiku segera dilahirkan saja demi keselamatan ibu dan si buah hati. Bila ditunda, beliau tidak berani mengambil risiko yang diakibatkan oleh kondisi air ketubanku ini. Beruntung, aku masih mempunyai kesempatan untuk melahirkan secara vaginal birth. Selain karena indeks air ketubanku masih memungkinkan, ukuran BB Janinku tergolong kecil namun normal. Tersebutlah aku diberi surat pengantar ke UGD untuk mendapatkan tindakan induksi besuk paginya. Syok banget rasanya karena nggak pernah kebayang bakalan mengalami proses induksi yang kata orang-orang rasanya berkali-kali lipat sakitnya.

Sampai rumah, aku dan suami galau banget. Ibu mertua menyarankan kami untuk cari second opinion terlebih dahulu. Akhirnya, pagi harinya tanggal 27 Januari 2018 pukul 06.30 WIB, kami coba periksa ke dokter lain. Namun ternyata, hasilnya tidak lebih bagus dari dokterku yang sebelumnya. Kami pun akhirnya mantap ke rumah sakit siang itu juga. Setiba di sana, aku langsung diberi makan dan dicek pembukaan serta DJJ. Aku seneng banget karena di sini aku dibebaskan menunggu hingga siap diinduksi. Tidak ada intervensi medis yang berarti.

Pukul 13.52 WIB, aku mulai mendapatkan tindakan induksi yang pertama dan akan dievaluasi 6 jam kemudian. Nah, selama masa nunggu itu aku nggak diem saja di tempat. Aku jalan-jalan keliling rumah sakit, naik turun tangga, main gymball, mengulang gerakan senam hamil, pokoknya gerakan apa saja yang memacu kontraksi alami. Setelah sholat ashar, aku mulai merasakan perutku mulai mengeras dan seperti makin turun. Saat sholat magrib pun aku sudah mulai kepayahan untuk rukuk dan sujud. Rasanya seakan aku optimis  sok tahu mungkin ini tanda sudah mulai pembukaan. Meskipun aku sendiri masih nggak tahu bagaimana rasanya gelombang kontraksi itu.

Pukul 20.00 WIB, dievaluasi dan ternyata belum pembukaan sama sekali. Duh, kok sedih banget ya rasanya. Pukul 21.00 WIB, aku setuju mendapatkan tindakan induksi untuk kedua kalinya setelah memastikan bahwa DJJ (Denyut Jantung Janin) masih aman. Setelah itu, ibuku mulai pamit ke mushola karena yang diizinkan menunggu hanya satu orang. Berhubung kami semua sudah sangat lelah, aku menyuruh suami untuk istirahat dulu. Aku berpikir mungkin aku lebih membutuhkan beliau saat nanti mulai kontraksi. Di saat ini, penting sekali yang namanya kerja sama tim. Aturan pertama mendampingi persalinan adalah jangan ikutan panik. Sungguh kami ini hanya butuh orang yang bisa menyemangati kami, mengurangi rasa panik, dan tentu saja selalu sigap dan siap dengan segala kondisi yang akan terjadi. Istilahnya siaga gitulah.

Pukul 23.00 WIB, aku ke kamar mandi dan ternyata sudah mulai keluar lendir darah. Rasanya gelombang kontraksi mulai muncul namun masih bisa ku atasi dengan mengatur nafas. Setengah jam kemudian udah nggak karuan rasanya, suami pun terbangun dan mulai mendampingiku menahan sakitnya kontraksi. Baru kali itu aku tahu rasanya orang melahirkan, sakitnya masya Alloh. Semua ilmu-ilmu saat senam hamil langsung luntur entah kemana. Aku nggak bisa mengontrol nafasku. Beberapa kali bidan yang jaga menegurku agar menghemat tenaga dan mengatur nafas supaya tidak kesakitan dan kelelahan saat mengejan nanti. Namun tetap saja aku takluk dengan rasa sakitnya kontraksi. Mulutku nggak bisa berhenti meringis keras.

Pukul 00.30 WIB tanggal 28 Januari 2018, aku mulai nggak tahan dan minta suami untuk memanggil bidan. Bidan mengecek ternyata baru bukaan 2. Patah hatiku setelah hebatnya rasa sakit itu ternyata baru bukaan 2. Rasanya langsung pesimis bakal bisa bertahan. Sangking kesakitannya, hampir setiap 5 menit sekali aku nanya ke suami jam berapa. Rasanya kok kayak lama banget. Sejam kemudian aku udah kayak nggak sanggup lagi dan ngaco pengen minta pain killer. Di tengah kemelut rasa sakitku, aku maksa suami buat googling pain killer induksi. Sungguh ngarang sekali karena jelas sekali tidak ada. Aku pun minta turun ranjang dan duduk di gymball. Rasanya sedikit membaik meski tentu saja makin lama gelombang kontraksi makin keras menyerang. Aku sudah nggak peduli lagi bagaimana kondisiku saat itu. Nguyek-nguyek suami sambil mainan gymball dengan nafas tersengal-sengal dan sesekali teriak kesakitan. Kalimat istighfar tidak berhenti melantun dari bibirku. Seakan-akan aku ingat semua dosa-dosaku selama ini.

Karena aku begitu berisik, bidanku datang menenangkan. Sungguh, kalimat bidan memberiku sedikit kekuatan meski tentu saja setelah bidannya pergi aku kembali dengan teriakan dan ringisanku yang tadi. Selama berjuang melawan kontraksi itu, aku tak henti minum air putih, teh manis, pocari sweat hingga makan pisang agar tenagaku tidak habis. Ini penting sekali ya ibu-ibu karena percuma aja menahan sakit bila akhirnya tidak kuat mengejan. Minta tolong suami untuk selalu bersiap memberi kita amunisi setiap kali merasa lapar dan haus.

Pukul 02.20 WIB, aku mulai merasakan ada yang mau keluar di bawah tubuhku. Aku selalu mengingat ajaran senam hamil dari pelatihku bahwa aku tidak boleh mengikuti ajakan tubuh untuk mengejan sebelum bukaan lengkap. Sayangnya, aku kelepasan. Saat aku mulai ribut minta dicek, ternyata sudah mulai bukaan 7. Disitulah aku sempat kelepasan mengejan sedikit. Dalam hitungan menit, aku mulai nggak sanggup menahan ajakan untuk mengejan tersebut. Aku pun teriak ke suami bahwa ada yang mau keluar tak tertahankan dari bawah sana. Suami mulai melihat kepala bayi dan langsung memanggil bidan. Seketika saat itu ketuban pecah, aku bisa merasakan hangatnya air ketuban membasahi bagian bawah tubuhku. Bidan pun datang menyiapkan alat, siap-siap menolong persalinan. Dengan dibantu suami menopang tubuhku, aku dipandu untuk mengejan. 

Ternyata, meskipun sudah diberi tahu bahwa proses mengejannya tidak jauh berbeda dengan proses kita mengejan saat BAB, aku tetap saja sempat salah melakukannya. Akhirnya setelah 3 kali mencoba untuk mengejan, tepat pukul 02.40 WIB, lahirlah putra kami dengan sehat dan selamat. Alhamdulillah, kalau kamu pernah mendengar kata orang bahwa setelah anak lahir, maka kita akan lupa bagaimana rasa sakitnya melahirkan. Begitulah rasanya kira-kira. Akhirnya aku tahu bahwa kalimat itu bukan bualan semata. Sungguh, aku bahkan sudah lupa rasanya sakit yang baru saja ku alami setelah melihat tubuh mungil itu diletakan di dadaku saat dilakukan proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Mau nangis haru sampai nggak bisa sangking bahagianya. Terima kasih, nak sudah mau berjuang bersama mama. Ohya, ternyata proses mengeluarkan plasenta serta jahitan jalan lahir itu nggak kalah sakit ya guys meskipun sudah dibius lokal.

For the first time in my life, I feel like a hero. I already knew, at this moment, I was not only giving birth but also being born again as a mom. My life will never be the same anymore. Thank you God for the best thing you could give to me as a human. Terima kasih banyak suamiku atas kesabaranmu selama mendampingiku berjuang hidup dan mati. I didn't know what's gonna happen without you. Terima kasih ibuku yang tak pernah berhenti melantunkan doa untuk anakmu yang akan melahirkan cucu untukmu. Kalian luar biasa. 
Continue reading Cerita Persalinan Pertamaku: Labor Induction
,

Life is A Never Ending Struggle

Ada rindu pada masa kecil yang sering kali justru membuatku tak berhenti mengucap syukur sudah berada di titik tempatku sekarang berpijak. Rindu bukan berarti ingin kembali. Namun, rindu itu pula yang membuatku tak pernah lupa darimana asalku.

Aku tidak tumbuh dari keluarga kaya raya yang dapat memberikanku segalanya. Ayahku hanya seorang buruh biasa, seorang sopir yang mengabdi pada juragannya. Sedangkan ibuku, seorang ibu rumah tangga full time. Meskipun hanya anak seorang sopir, aku dan adik laki-lakiku hidup berkecukupan. Kami mempunyai semua hal yang kami butuhkan. Kami mendapatkan apa yang seorang anak perlukan dari kedua orang tuanya. Mainan, hiburan, kebutuhan sehari-hari, rumah yang nyaman, kendaraan untuk bepergian, sepeda baru, teve berwarna, dan sebagainya. Tak kekurangan suatu apapun. Pada era orde baru, kehidupan sosial terasa begitu mudah bagi keluarga kami. Sandang, papan, pangan tersedia dan harga sembako cenderung murah. Rakyat hidup sejahtera. Meski ternyata baru disadari bahwa semua itu hanyalah kamuflase dari sebuah rezim. Kami adalah bagian dari rakyat yang tidak tahu menahu bahwa selama puluhan tahun disuap dengan subsidi pemerintah yang berasal dari utang luar negeri. Utang yang justru sebagian besar jumlahnya masuk ke kantong pribadi kroni-kroni orde baru. Utang yang pada akhirnya gagal dibayar oleh pemerintah dan terus membebani pemerintahan selanjutnya.

Krisis moneter 1998 membangunkan kami dari mimpi indah selama bertahun-tahun. Banyak sekali sektor perekonomian yang jatuh dan gagal bangkit. Ayahku, seorang buruh kecil yang tak tahu menahu makanan politik dan hitungan ekonomi, turut pula menjadi korban yang merasakan kejamnya dampak krisis tersebut. Tahun-tahun awal kejatuhan krisis, kami perlahan-lahan beradaptasi dengan perubahan hidup di berbagai lini. Kami mulai belajar menyesuaikan penghasilan buruh yang tidak seberapa untuk mengimbangi kenaikan harga-harga barang yang melambung berkali lipat dari sebelumnya. Hiperinflasi itu perlahan mengubah kondisi kehidupan hampir seluruh rakyat, tak terkecuali keluarga kecil kami.

Di saat kehidupan mulai sulit, lahirlah adik-adik perempuanku. Mereka mungkin tidak sempat mencicip manisnya hidup dalam selimut orde baru. Mereka adalah sebagian dari rakyat kecil yang harus merasakan dampak jatuhnya orde baru. Ayahku masih bertahan sebagai buruh sopir dan akan selalu begitu meskipun harus berkali-kali berganti juragan karena lesunya perekonomian. Ibu masih setia menemani anak-anaknya di rumah sembari mengurus pekerjaan rumah tangga. Selintas kehidupan kami baik-baik saja, namun bila melihat lebih dekat dan lebih dalam, kami semua sebenarnya sama-sama sedang berjuang untuk bertahan. Sebagai anak tertua, mudah sekali bagiku melihat kesulitan orang tua. Meski usiaku masih sangat belia, aku tahu kondisi keuangan kedua orang tuaku sedang tidak sebaik dulu. Pantang rasanya meminta sesuatu di luar kemampuan orang tua.

Ibu mendidik kami untuk hidup prihatin. Sejak kecil, kami diajari untuk puasa sunnah, shalat sunnah maupun ibadah-ibadah sunnah lainnya. Ibu juga melatih kami untuk hidup sederhana dan hemat. Aku dan adik-adikku tak pernah gengsi untuk mendaftar berbagai beasiswa yang disediakan pemerintah untuk anak-anak tidak mampu. Beruntung, aku pernah dua kali mendapatkan beasiswa prestasi saat duduk di bangku sekolah dasar dan bangku sekolah menengah pertama lantaran partisipasiku dalam lomba siswa teladan. Saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku pernah ditegur beberapa temanku karena sepatuku sepertinya sudah tidak layak pakai lagi. Mereka merasa kasihan padaku. Meski ya, ternyata aku ini anaknya sangat cuek dan cenderung masa bodoh. Kabar ini pun sampai ke telinga ibu entah bagaimana caranya. Ibu merasa kasihan padaku dan membelikanku sepatu baru dengan cara hutang di toko sepatu kepunyaan salah seorang saudara. Kau tahu? Sesulit apapun hidup, ada hal-hal kecil yang patut untuk dirayakan oleh orang-orang kecil seperti kami.

Orang tuaku menjadi motivasi tersendiri bagiku dalam bersungguh-sungguh menjalani pendidikan. Meskipun hanya orang kecil, orang tuaku tipikal orang tua yang rela melakukan segalanya untuk anak terutama agar anak-anaknya dapat meraih cita-citanya. Bagi mereka, pendidikan adalah salah satu cara untuk mengubah putaran roda nasib. Ibuku tidak pernah mewajibkan anak-anaknya untuk membantu pekerjaan rumah. Bagi ibu, tugas seorang anak hanyalah beribadah dengan baik dan menjadi siswa yang baik di sekolah. Tugas utama pelajar hanyalah belajar dan berusaha mengukir prestasi terbaik di sekolah. Pandangan itulah yang menjadi kunci yang ku pegang sampai dengan sekarang. Bila semua pekerjaan rumah sudah dengan baik dilakukan oleh ibu, bagaimana mungkin aku tidak dapat melakukan tugasku dengan baik di sekolah. Meski demikian, bukan berarti aku absen sama sekali dalam pekerjaan rumah. Menurut ibu, aku termasuk anak yang bisa dibilang paham tentang pekerjaan rumah. Tentu saja, memasak dan mencuci baju tidak masuk dalam hitungan. Ibu melarang anak-anaknya untuk mencuci baju ketika masih duduk di bangku sekolah. Entah karena alasan apa.

Pada saat aku masih duduk di bangku kelas 6, ibu mulai ikut membantu ayah mencari nafkah. Ibu berjualan ayam potong keliling desa-desa mengendarai sepeda motor butut satu-satunya yang kami miliki. Setiap sore, aku diajak ibu mengambil ayam-ayam hidup yang dibeli ibu di kecamatan sebelah. Aku harus membiasakan diri untuk berdamai dengan ayam. Sering kali, celanaku harus rela terkena kotoran ayam-ayam hidup yang berontak dalam genggamanku saat berada di motor. Kondisi ini ku alami hampir satu tahun. Aku melihat sendiri bagaimana sulitnya mencari uang. Ibu harus bangun dini hari menyembelih dan membersihkan ayam-ayam itu seorang diri. Belum lagi membuat bakwan tahu untuk dititipkan pada penjual keliling yang ada di desa. Sering kali saat bangun shalat tahajud, aku dan adik-adikku membantu ibu sebisa kami. Ya, dulu bangun sangat pagi rasanya tidak berat karena kami melakukannya bersama-sama. Berhubung keuntungan dan kerja keras tidak sebanding, ibu berhenti berjualan dan mencari cara lain untuk bekerja.

Saat aku duduk di bangku kelas 8, ibu mulai berjualan pakaian seperti simbah. Di luar dugaan, ternyata bisnis kecil ibu ini berbuah hasil. Bisnis itulah yang nantinya dapat membiayai pendidikanku dan adik-adik. Ibu mulai semangat meniti pekerjaannya. Ayah tetap dengan pekerjaan sopirnya di luar kota sedangkan kami anak-anaknya masih berkutat dengan tugas-tugas sekolah. Ibuku, bukan tipikal orang tua yang overproud pada anak-anaknya. Beliau jarang sekali memuji atau membanggakan anak-anaknya kepada orang-orang. Satu hal yang selalu ingin ku lakukan adalah membuat ibu bangga setiap kali harus mengambilkan raporku di sekolah. Aku selalu ingin mempersembahkan nilai dan peringkat terbaikku di sekolah. Aku tidak peduli pada anggapan bahwa nilai dan peringkat di sekolah tidak serta merta mempengaruhi masa depanku. Yang aku tahu, orang tuaku bekerja membanting tulang setiap hari dari pagi hingga malam hanya untuk dapat melihat anak-anaknya menikmati pendidikan setinggi-tingginya. Apa lagi yang dapat ku lakukan untuk mereka selain selalu berusaha memberikan yang terbaik.

Aku tidak hidup seperti kebanyakan remaja seusiaku. Orang tuaku yang overprotektif selalu melarangku bermain bersama teman-teman saat aku masih SMA. Alhasil aku sedikit kurang pergaulan, but it's fine. I have a little circle in friendship that can encourage me to do good things in life. Pertemanan itu bukan masalah seberapa banyak temanmu nongkrong tapi tentang bagaimana kualitas pertemananmu. Ya, aku cenderung mempunyai sedikit teman namun awet hingga sekarang. Aku lebih memilih berteman dengan orang-orang yang mempunyai positivity, bukan yang hobi membuat gossip tentang orang lain. Bukankah teman kita adalah gambaran diri kita sendiri, bukan? Ibuku ini luar biasa. Kemanapun aku pergi, ibu selalu mengantarkan. Ibu lebih rela mengantarkanku kemana-mana daripada harus melihatku pergi bersama teman-teman. Ya, bahkan untuk urusan mendaftar kuliah pun, ibu juga yang mengantarkanku. Hal-hal semacam ini mungkin terasa kolot, namun aku bersyukur memiliki orang tua yang selalu perhatian padaku. Karena didikan merekalah, aku menjadi seperti sekarang. Aku tahu gaya parenting orang tuaku ini tidak kekinian atau bahkan banyak yang masih harus dikritisi, but who cares? Aku bangga pada mereka bagaimanapun cara mereka menyayangi dan menjagaku.

Dorongan untuk membahagiakan mereka secara financially mulai terukir sejak aku kecil. Aku ingin memperbaiki rumahku, aku ingin bisa membelikan ayahku mobil pribadi, aku ingin bisa membelikan ibu dan adik-adikku barang-barang bagus yang mereka inginkan, aku ingin membiayai sekolah adik-adikku, dan sebagainya dan sebagainya. Mungkin dulu semua itu hanyalah mimpi saja bagiku, tapi aku bersyukur perlahan-lahan semua itu dapat ku wujudkan. Aku tahu selama ini belum menjadi anak yang baik untuk kedua orang tuaku. Namun, orang tuaku tahu dengan pasti bahwa anaknya ini sangat menyayangi mereka.

Hidup penuh perjuangan sebenarnya lebih dirasakan oleh kedua orang tuaku daripada diriku sendiri. Aku mungkin harus berkali-kali melawan kegagalan, namun aku belum merasakan bagaimana rasanya berjuang untuk orang lain. Berjuang untuk masa depan anak-anakmu sendiri. Ya, life is a never ending struggle. When you have done one thing, there's always another thing to be fought for. Hidupku baru dimulai anyway. Semoga Tuhan selalu berbaik hati pada kami. Aku selalu menanamkan prinsip pada adik-adikku bahwa mereka dapat mengambil hal-hal baik dari orang tua dan kakak-kakaknya. Mereka harus bisa lebih baik dari kakak-kakaknya. Dan yang terpenting, jangan lupa beribadah karena semua yang kita raih tidak akan ada artinya tanpa ibadah. Kesulitan-kesulitan yang pernah kami alami di masa kecil membentuk kami menjadi pribadi yang dekat satu sama lain. Kami selalu support satu sama lain. Mungkin hubungan kami bukanlah sibling goals atau semacamnya. Yang ku tahu, kami punya satu tujuan yang sama yaitu, membahagiakan orang tua terutama di masa tua mereka.

Sebenarnya, aku bukan tipikal orang yang suka menceritakan hal-hal yang sifatnya sangat pribadi pada orang lain. Menurutku, menyimpan kesulitan untuk diri sendiri dan membuktikan pada dunia bahwa kita bisa mengatasinya tanpa mengeluhkannya adalah hal yang lebih penting. Berhubung hal-hal di masa kecilku ini sudah berlalu, tidak ada salahnya mengingatkan diri sendiri untuk selalu bersyukur. Ya, salah satunya dengan cara menuliskannya. I know, life can be harder somehow. But, the way we face it will lead us to the result afterwards. Sometimes, it's a sweet thing, sometimes it's not. Just brace yourself for everything.

Continue reading Life is A Never Ending Struggle
, , , ,

How to Live in Banjarmasin as A New Comer

Halo! Rasanya saya belum pernah bercerita tentang detail pengalaman hidup saya selama tinggal di Banjarmasin dan saya merasa perlu. Berhubung tahun telah berganti dan saya rasa akan ada wajah-wajah baru yang datang menggantikan saya di kantor ini, sekaligus sebagai tanda perpisahan saya dengan kota ini beberapa minggu lagi, rasanya tidak ada yang salah bila saya sedikit berbagi tips maupun pengalaman hidup selama berada di sini. Postingan kali ini akan sedikit lebih panjang dan sarat curhatan.

Saya jadi teringat pertama kali saya tiba di kota ini satu setengah tahun yang lalu, tepatnya pada hari Sabtu, 3 Oktober 2015. Beberapa hari sebelum keberangkatan saya ke kota ini, salah satu mantan atasan saya saat masih magang di KPPN Semarang sempat menghubungi salah seorang temannya yang sedang bertugas di KPPN Banjarmasin. Beliau meminta tolong pada temannya tersebut untuk membantu saya selama nanti berada di Banjarmasin, terutama terkait urusan menjemput dari bandara.
Para Pegawai KPPN Banjarmasin
Beruntung sekali saya menemui orang-orang baik itu sesaat saya tiba di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru. Datang seorang diri di kota yang sepenuhnya baru untuk saya memang sempat membuat saya sedikit kagok. Saya masih sangat ingat saat itu disambut oleh dua wajah baru yang begitu ramah menjemput dan membantu saya membawakan barang, yaitu Mbak Amilia Zakiyyah dan Mas Alam Haris. Mereka memberikan semacam briefing singkat mengenai kota Banjarmasin selama di perjalanan sebagai ucapan selamat datang. Dari sanalah saya tahu bahwa mereka berdua juga merupakan pendatang seperti saya. Kebetulan sekali, Mbak Zakiyyah ini ternyata adalah kakak tingkat saya di STAN dan hanya terpaut satu angkatan saja.

Sebelum menaruh barang, saya sempat diajak mampir sebentar ke KPPN Banjarmasin untuk perkenalan singkat dengan beberapa pegawai yang terlihat sedang lembur. Sebagai informasi saja, KPPN Banjarmasin ini termasuk salah satu KPPN dengan jumlah satker besar, bersaing dengan Banda Aceh. Waktu saya datang masih sekitar 400an satker namun beberapa sudah dilikuidasi dan tersisa sekitar 360an satker. Jadi, bagi kalian yang ditempatkan di Seksi VERA, siap-siap ya dikejar target rekonsiliasi yang tinggi. Sedangkan untuk di Seksi Pencairan Dana, semangat memproses SPM di awal bulan maupun akhir tahun.
Sekilas Jalan Sutoyo
Sementara waktu, saya tinggal di salah satu indekos di Jalan Sutoyo, tepatnya di depan Hotel Metro tak jauh dari kantor. Letak indekos saya ini termasuk sangat strategis di tengah kota. Bangunan rumah di sini rata-rata berupa rumah panggung. Hal ini karena struktur tanah di Banjarmasin berupa rawa-rawa atau lahan gambut, sehingga pembangunan fondasi rumah selalu menggunakan kayu ulin. Saya sudah beberapa kali diberi tahu oleh teman saya mengenai hal ini agar saya tidak kaget saat tiba nanti. Teman saya seangkatan yang kebetulan sudah penempatan terlebih dululah yang membantu saya mencari indekos. Teman saya ini namanya Arin Perwitasari, kebetulan satu jurusan dengan saya, hanya saja berbeda instansi penempatan. Hari pertama di sana, saya langsung diberi semacam tutorial bagaimana mengenal kota ini. Arin menjelaskan secara detail pengalamannya tinggal di Banjarmasin selama 3 bulan mendahului kedatangan saya. Saya langsung diajak berkeliling malam itu juga, sehingga keesokan harinya saya bisa tahu bagaimana jalan menuju kantor. Begitulah kira-kira awal perkenalan saya dengan kota ini.

Kota Banjarmasin ini bisa dibilang tidak terlalu luas. Kalau kata orang-orang di sini, kota ini hanya sejauh radius 6 kilometer saja, cukup mudah untuk dikelilingi. Menurut saya, tata kota Banjarmasin sendiri sedikit kurang rapi karena terlalu banyak gang-gang kecil yang tidak tertata dengan baik. Katanya, pembangunan kota ini memang sudah salah sejak awal. Kalau di kota tetangga, yaitu kota Palangka Raya, jalan dulu dibangun baru bangunannya. Sedangkan di Banjarmasin ini, jalanan seperti dibangun seadanya lahan saja, sehingga terkesan semrawut peletakannya. Selain itu, minim sekali taman kotanya dan kondisinya terlihat tidak terawat. Sejauh yang saya tahu, mungkin hutan kota di Masjid Sabilal Muhtadin inilah yang paling mending. Selain itu, sekarang Taman Kamboja di dekat indekos saya juga sudah mulai sedikit dibenahi.

Kalian akan sulit menemukan rumah dengan garasi yang luas di pusat kotanya. Kebanyakan rumah dibangun di dalam gang-gang sempit yang menurut saya susah dijangkau mobil. Minimnya lahan itulah mungkin menjadi salah satu alasan pembangunan bandara maupun kantor-kantor pemerintahan kebanyakan dilakukan di Banjarbaru. Jarak bandara ke pusat kota Banjarmasin sendiri kurang lebih 45 menit. Biasanya, kami memakai jasa sopir kantor untuk menjemput maupun mengantar ke bandara demi menghemat ongkos. Cukup memberikan upah sepantasnya saja. 

Duta Mall
Kondisi kota Banjarmasin tidak begitu ramai, sehingga jarang sekali macet. Jikapun macet, palingan hanya di jam-jam atau wilayah tertentu saja dan itupun tidak separah kota-kota besar di Jawa. Kota ini sebenarnya hanya punya satu jalanan utama saja yang menghubungkannya dengan kota Banjarbaru, Martapura maupun kota-kota lain di sekitarnya, yaitu Jalan Ahmad Yani yang sejauh mata memandang hanya lurus saja arahnya. Di kota ini, hanya terdapat satu mall dan satu bioskop XXI, yaitu di Duta Mall yang terletak di pal 2,5 atau Jalan Ahmad Yani km 2,5. Sebagai informasi, orang sini menyebut kilometer dengan sebutan pal untuk menunjukkan suatu tempat atau jarak. Minimnya hiburan itulah yang menyebabkan mall selalu ramai dengan pengunjung terlebih lagi di akhir pekan. Jangan kaget jika kalian akan selalu menemui antrean panjang di bioskop setiap kali ada premier film apapun itu.
Antrean Bioskop
Baca juga : Wisata di Sekitar Kota Banjarmasin

Selama di Banjarmasin, sebenarnya saya jarang sekali jalan-jalan. Saya tipikal orang yang lebih suka menghabiskan akhir pekan hanya dengan berdiam diri di rumah saja, entah membaca buku, menulis blog, menonton drama dan film atau sekadar mengerjakan pekerjaan rumah. Saya hampir tidak pernah sungguh-sungguh mengeksplorasi tempat-tempat wisata di Banjarmasin. Toh, wisata alam yang bagus letaknya jauh dan perlu beberapa jam perjalanan dari pusat kota, sehingga saya kurang tertarik. Kota seribu satu sungai ini sebenarnya dapat belajar dan berkaca pada Singapura dalam hal menata kota terutama untuk wisata di sekitar sungainya. Terlebih disini juga terdapat ikon atau maskot kota Banjarmasin, yaitu Patung Bekantan di tepian Sungai Martapura yang ditinjau dari ukurannya tidak jauh berbeda dengan Patung Merlion di dekat Marina Bay. Sayang sekali hal tersebut kurang diperhatikan dengan baik oleh pemkotnya sehingga terkesan seadanya sekali. Kondisi sungainya juga terkesan sangat kumuh dengan bantaran sungai yang masih banyak dipenuhi sampah maupun bangunan semi permanen.
Patung Bekantan di Siring Sungai Martapura
Untuk kalian yang hobi kuliner, di Banjarmasin sendiri banyak sekali berdiri kafe-kafe lucu untuk tempat nongkrong anak muda. Terutama di sekitar kampus Universitas Lambung Mangkurat di daerah Kayu Tangi. Kalian bisa mengintipnya lewat instagram Banjarmasin Food yang selalu update tentang tempat-tempat makan atau kafe-kafe kekinian. Kalau soal harga dan rasa, saya kira kalian hanya akan butuh sekali datang saja dan tidak akan mengulanginya lagi di tempat yang sama. Begitu sih menurut pengalaman saya.

Entahlah, saya merasa bahwa kafe-kafe dadakan semacam itu hanya sekadar menjual tempat saja namun kurang memperhatikan kualitas cita rasa makanannya. Meski demikian, beberapa kafe atau tempat nongkrong masih cukup layak untuk dicoba kok misalnya Efronte yang terletak di daerah Bumi Mas, Omnivora yang terletak di Jalan Hasan Basri, Panties Pizza, Lewis, Calais, Share Tea, Happy Tea, dan lain-lain. Meskipun menunya standar, setidaknya cita rasa makanannya lumayan juga. Kalian juga bisa mengeksplorasi warung makan-warung makannya sebagai alternatif tempat makan. Salah satu warung makan langganan saya dan teman-teman adalah Warung Bangjoe yang terletak tepat di pinggir lampu merah Jalan Sutoyo. Kebetulan nasi yang dipakai adalah nasi jawa, sehingga sesuai dengan lidah saya. Mengingat di Banjarmasin ini penggunaan nasi jawa sangat jarang karena kebanyakan menggunakan beras banjar yang strukturnya lebih kasar (tidak pulen), menemukan nasi jawa adalah sebuah keberkahan tersendiri.

Bagi yang ingin mencari menu sarapan atau makan siang di sekitar kantor, beberapa alternatif tempat makan dapat kalian coba seperti Warung Jawa di samping Korem, Citra Rasa di samping Dinas Perdagangan, Warung Do'a Ibu di samping KPPN, Pecel Korem, Warung Mama Lidya di dekat Hotel Batara, atau kalian bisa juga menelusuri Jalan Veteran. Di sana terdapat banyak pilihan tempat makan. Untuk harga variatif sih, rasanya juga lumayan menurut saya. Namun akan lebih hemat lagi jika kalian masak sendiri. Di Banjarmasin ini kalian dapat belanja kebutuhan dapur di Pasar Belitung dekat dengan Kompleks Ditjen Anggaran (Rumah Dinas saya sekarang) maupun di Pasar Lama dekat kantor. Pasarnya lumayan lengkap. Kalian bisa mengunjungi Pasar Belitung di waktu pagi dan sore hari sepulang kerja. Sedangkan untuk Pasar Lama, biasanya hanya ramai di pagi hari. Untuk membeli kebutuhan sehari-hari, saya biasanya mengandalkan mini market lokal seperti Minimarket Anna di dekat kantor atau Mart Plus di Jalan Belitung tepat di samping rumah dinas maupun Minimarket 88. Segala galon isi ulang hingga tabung gas elpiji juga tersedia di sana, namun harganya sedikit lebih mahal dari yang dijual di pinggir jalan. Memangnya tidak ada Indomart, Alfamart atau Giant? Ada, namun tidak begitu dekat dengan kediaman saya. Selain itu, biasanya kurang lengkap isinya. Sedangkan urusan membeli barang-barang untuk mengisi indekos, kalian juga bisa mengandalkan Pasar Lama maupun Pasar Sudimampir. Namun, saya lebih merekomendasikan Pasar Lama karena lebih dekat, tidak begitu luas, harga murah, dan mudah mencari pritilan-pritilan yang kalian butuhkan. Sedangkan Pasar Sudimampir menurut saya kurang efisien. Selain tempatnya terlalu luas, penggolongan tokonya pun tidak rapi sehingga bingung mencari item-item kecil yang saya butuhkan, Namun, kalian bisa membeli sprei bagus dan murah di sana. Saya sangat merekomendasikannya.

Untuk barang-barang isi rumah dinas seperti kasur, almari maupun rak, kalian bisa membelinya di seberang Hotel Batara. Tawar saja seperlunya. Di sana banyak pilihan merek dan kualitasnya juga lumayan. Selain itu, kalian juga bisa meminta delivery gratis ke rumah. Atau jika ingin berhemat, beli saja dari pegawai yang akan pindah atau mutasi. Namun tentu saja tidak akan selalu ada.

Biaya hidup di kota ini lumayan terjangkau sebenarnya. Untuk tempat tinggal maupun kebutuhan sehari-hari, rata-rata maksimal habis sekitar Rp 2.000.000,00 sebulan dan itupun masih sangat bisa dihemat lagi. Apalagi jika kalian tinggal di rumah dinas dan tidak malas masak, mungkin hanya butuh separuh dari nilai tersebut. Orang-orang di sini termasuk sangat konsumtif. Kalian akan menemukan beranekaragam jenis mobil mulai dari yang murah hingga mobil mewah hilir mudik di jalanan. Tidak heran jika harga kendaraan bekas di sini relatif lebih murah dibandingkan di Jawa. Butik-butik mahal juga tidak ketinggalan dibangun di sini seperti Butik Dian Pelangi misalnya. Jika bertandang ke mall, kalian akan melihat bagaimana mereka terlihat butuh untuk dress up hanya untuk menonton film atau belanja saja.

Saya sampai lupa bilang, bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat setempat adalah bahasa Banjar yang mirip dengan bahasa Indonesia namun dengan tempo yang lebih cepat dan kosa kata yang sedikit berbeda di beberapa hal tentunya. Bahasa Banjar ini juga beberapa katanya ada kemiripan dengan bahasa Jawa lho. Seperti penggunaan kata pian sebagai kata ganti orang kedua secara halus yang dalam bahasa Jawa kita menyebutnya sampean. Sedangkan untuk percakapan biasa, cukup menggunakan kata ikam untuk kamu dan ulun untuk saya. Selama di sini, saya tidak begitu tertarik untuk memahami bahasa setempat, sehingga cukup hanya menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari.
Kebersamaan di Kompleks Ditjen Anggaran, Jalan Belitung Darat pada Ramadhan 2016
Sebagai informasi, sejak bulan Desember 2015, saya dan beberapa teman mulai tinggal di rumah dinas, yaitu di Kompleks Ditjen Anggaran yang terletak di Jalan Belitung Darat. Kondisi rumah dinas di Kalimantan Selatan ini lumayan memprihatinkan menurut saya. Banyak bangunan yang dibiarkan rusak dan terbelangkalai dimakan usia. Kondisi rumah yang saya huni saat itu juga tidak kalah memprihatinkan. Butuh renovasi di beberapa bagian agar terlihat lebih nyaman ditinggali. Selain itu, lingkungan kompleksnya juga banyak ditumbuhi rumput dan semak-semak sehingga sering kali ada binatang melata terlihat hilir mudik di sekitar rumah. Rumah kami saja sudah tiga kali kemasukan ular. Meski demikian, penduduk di rumah dinas sangat menyenangkan dan ramah. Itulah salah satu alasan saya betah tinggal di sana, disamping menghemat pengeluaran juga tentunya. Sebelum mutasi, saya dan teman saya sempat pindah rumah ke bekas rumah dinas mantan kepala seksi VERA yang baru saja pensiun. Kondisi rumah baru kami ini jauh lebih mendingan dan bangunannya sedikit lebih luas. Saya selalu berharap pejabat setempat mulai memikirkan perombakan atau renovasi rumah dinas agar pegawai yang dimutasi ke Banjarmasin tidak kesulitan mencari tempat tinggal. Yang saya dengar dari salah satu pejabat pengadaan barang di kantor saya, kemungkinan akan dilakukan renovasi di beberapa rumah dinas. Semoga demikian.

Saran saya, setelah kalian settled tempat tinggal, selain dokumen kepegawaian, sebaiknya kalian juga lekas mengurus BPJS. Kalian bisa langsung datang ke kantor BPJS Jalan Ahmad Yani km 3,5. Atau bisa juga borongan bersama teman-teman kalian yang satu kantor. Untuk PNS, prosesnya mudah sekali dan tidak perlu lama mengantri karena iurannya sudah dipotong langsung dari gaji pokok. Kalau bisa, faskes tingkat satunya pilih di Puskesmas saja. Bisa Puskesmas S. Parman Jalan Antasan Kecil atau Puskesmas dekat Pertamina. Saya dulu terlanjur memilih dokter umum yang letaknya cukup jauh, sehingga sedikit kerepotan saat ingin periksa. Namun dokter saya sangat baik kok, kalau kalian berminat untuk memakainya sebagai faskes 1 lumayan juga. Namanya Dokter Delis dan letak kliniknya ada di Jalan Mayjen Sutoyo, tepat di samping Lapas Kelas II A Banjarmasin.

Untuk para wanita, saya yakin kalian pasti bertanya-tanya mengenai salon kecantikan atau klinik skincare seperti Natasha atau Erha di sekitar sini. Jangan khawatir, untuk yang memakai produk skincare Natasha, kalian bisa mengunjungi kliniknya di Jalan Ahmad Yani km 5,8. Sedangkan untuk pelanggan Erha, kliniknya dapat kalian jumpai di Lantai 1 Duta Mall. Namun, harga produk maupun treatment di sana tentu berbeda dengan yang ada di Jawa atau dengan kata lain jauh lebih mahal. Kalau ingin menghemat uang, kalian bisa kok facial atau treatment lain di Salon Kecantikan seperti di Salon Yulia di dekat Kedai Bunda atau Salon Moez5 di Kampung Melayu. Tempat maupun harga perawatan di sana lumayan terjangkau menurut saya. Sedangkan untuk kebutuhan kosmetik, kalian bisa membelinya di Princess. Letaknya berada di seberang Hotel Aria Barito. Di sana kalian akan menemukan berbagai produk kosmetik mulai dari skincare hingga perlengkapan make up dengan harga yang sangat terjangkau. Dijamin bisa bikin khilaf.
Salah satu standard room di Sienna Inn
Jika ingin mengajak keluarga datang kesini, banyak alternatif hotel murah dan bagus kok di pusat kota seperti Hotel Sienna Inn, Hotel Summer bed and Breakfast, Hotel Aria Barito, maupun Fave Hotel. Harganya berkisar antara Rp 300.000,00 hingga Rp 600.000,00 semalam dan sudah termasuk sarapan untuk dua orang. Kalau ingin lebih hemat bisa di Hotel Metro, Hotel Mira, Hotel Andalas, Hotel Batara atau Guest House Kencana di Jalan Pulau Laut. Kalian hanya perlu membayar sekitar Rp 100.000,00 hingga Rp 200.000,00 semalam. Untuk pilihan tempat makan keluarga, kalian juga bisa mengajak keluarga kalian untuk makan di Pondok Tepi Sawah yang terletak di Jalan Ahmad Yani km 8,8. Menurut teman saya, tempat dan rasa masakannya cukup recommended meskipun harganya sedikit mahal.
Salah satu kamar di Guest House Kenanga
Untuk yang membawa kendaraan, di sekitar kantor banyak terdapat bengkel bagi yang membutuhkannya untuk servis, reparasi maupun sekadar isi angin saja. Sedangkan untuk pengguna mobil, kalian bisa mengganti aki maupun servis di Jago Aki yang terletak di Jalan Ahmad Yani km 8. Ohya, di sini juga ada klinik dokter gigi spesialis bedah mulut lho di dekat Jago Aki. Jadi jangan khawatir jika tiba-tiba kalian butuh jasa dokter gigi yang bagus dan recommended.

Mungkin kira-kira itu saja yang dapat saya bagikan selama kurang lebih satu setengah tahun berada di Banjarmasin. Mungkin masih banyak yang perlu saya eksplore lagi. Gambar maupun tambahan informasi akan saya update lain waktu. Semoga gambaran mengenai kota Banjarmasin ini bermanfaat dan membuat kalian sedikit diberi kesiapan saat mendapat penempatan di kota seribu satu sungai ini. Semoga beruntung dengan penempatan kalian nanti. Syukuri saja dimanapun itu.



Continue reading How to Live in Banjarmasin as A New Comer

Sesuatu Yang Baru



Perubahan itu mutlak terjadi di sekitar kita.  Besar atau kecil, signifikan atau tidak. Dan, suka atau tidak suka akan kita alami juga pada akhirnya. Begitupun dengan saya. Terlebih, saya harus berpindah dari satu kota ke kota lain selama kurang lebih 5 tahun terakhir ini. Beradaptasi dengan lingkungan baru, orang-orang baru, suasana baru, hingga proses mencari kenyamanan baru atas perubahan apa saja yang harus saya alami di tempat baru. Bagaimana rasanya ketika harus meninggalkan setiap jejak yang sudah kita buat di tempat yang kita merasa sudah cukup nyaman dan menyatu. Bagaimana rasanya ketika harus memulai semua dari awal lagi, membangun chemistry lagi dengan orang-orang yang baru maupun lingkungan yang baru, tentu saja dengan segala perbedaan yang ada pada mereka. Saya tidak pernah mencoba untuk membayangkan rasanya, saya lebih suka menikmati dinamika dan prosesnya saja.
Continue reading Sesuatu Yang Baru

Pancasila adalah Definisi Kita Berlima

Sebagai Warga Negara Indonesia yang baik, dalam kehidupan sehari-hari, saya tentu harus memahami serta mengamalkan butir-butir yang terkandung dalam landasan idiil negara kita, yakni Pancasila. Hal tersebut karena Pancasila berperan sebagai pedoman hidup atau way of life bangsa Indonesia. Pancasila memiliki banyak sekali fungsi dan kedudukan yang penting dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan, Pancasila disebut sebagai sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di Indonesia. Hal tersebut berarti bahwa segala peraturan atau perundang-undangan yang ada tidak boleh bertentangan dengan Pancasila. Pancasila adalah jiwa kepribadian bangsa Indonesia yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Di era globalisasi ini, Pancasila berfungsi sebagai penyaring (filter) dari nilai-nilai luar yang masuk, sehingga nilai-nilai yang berasimilasi tersebut tidak bertentangan dengan budaya yang telah hidup dan mengakar pada bangsa Indonesia.
Foto jadul di SS, 3 tahun yang lalu
Baiklah. Meskipun sedang musim TKD, sesungguhnya saya tidak sedang ingin membahas hal-hal berbau Pancasila dan turunannya seperti pemaparan di atas. Kali ini, saya ingin bercerita tentang arti nama Pancasila menurut kamus pribadi saya. Tunggu, kamus pribadi? Ya. Setiap orang pasti memiliki definisi tersendiri mengenai segala hal yang ada dalam kehidupannya, terlepas hal tersebut merupakan definisi terkait terminologi secara ilmiah atau bukan. Begitupun dengan saya. Pancasila mungkin merupakan pedoman hidup bagi bangsa Indonesia, tak terkecuali bagi saya karena saya adalah bagian dari bangsa ini. Namun, di sisi lain, Pancasila juga saya artikan sebagai sebuah nomenklatur dalam persahabatan. Mengapa begitu? Lagi-lagi semua ini adalah sebuah anggapan subjektif –tidak berlaku bagi semua orang. Pancasila menurut kaca mata saya adalah definisi persahabatan saya dan empat orang sahabat saya semasa menempuh pendidikan tinggi di salah satu sekolah kedinasan.
Continue reading Pancasila adalah Definisi Kita Berlima

Aku Sangat Rindu

Aku rindu caramu mengenalkanku huruf demi huruf dalam barisan alfabet kepadaku
Aku pun rindu berteriak semangat ketika huruf S disodorkan kepadaku karena aku pasti akan berkata “S marakke sakit”

Aku rindu bagaimana kau bisa begitu sabar mencernakan huruf demi huruf hingga aku mengerti apa itu kata, apa itu kalimat, dan apa itu prosa
Sesekali aku memutar memoriku beberapa tahun ke belakang
Lalu, aku menemukan wajah teduhmu di hadapanku

Aku masih ingat
Bagaimana lucunya kau saat mengajariku lagu-lagu daerah tiap kau pulang ke rumah, bahkan mempraktikkan gerakannya hingga aku dan Riza tertawa kegelian

Aku masih ingat
Kau selalu mendongengiku sebelum aku beranjak ke mimpiku, mengizinkanku duduk lama-lama di pangkuanmu
Betapa beruntungnya aku, dongeng-dongeng masa kecilku itu tak lagi didapat oleh anak-anak masa kini

Continue reading Aku Sangat Rindu

Mungkin itu Rumahmu

Rumah itu tidak begitu jauh dari tempatku berdiam, bahkan memang sungguh tidak jauh sama sekali. Rumah itu tak pernah berpindah, masih bertahan di sana dan akan selalu begitu, ku rasa. Rumah itu biasa saja, sama seperti kebanyakan bangunan rumah di daerahku. Rumah itu terletak di sebuah tempat tak jauh dari desaku. Bahkan, kini pun terasa kian dekat berkat kemampuan bermotorku yang meningkat. Namun, rumah itu masih termangu saja di sana, menantangku untuk sekadar melihat. Bukan, bukan aku yang bersandiwara seberani itu untuk berangan, jangan salah mengira. Aku pun tak pernah berpikir akan menandainya sebagai hal istimewa. Sering kali aku heran, bahkan terkadang masih sempat ku ulum senyum lebar setiap kali menghubungkan rentetan kejadian demi kejadian tentang rumah itu yang ku artikan sendiri seolah memiliki benang merah denganku ini, denganmu pun kemudian. Lalu, lihatlah. Di sinilah aku pada akhirnya akan mulai menceritakannya kepadamu. Bukan kepadamu, kamu. Namun, kepadamu, diriku. Dan hei, percayalah, semua ini sungguh menarik.

Kau masih ingat beberapa tahun yang lalu adikmu sering menyebut nama sebuah tempat yang terasa asing, lucu, aneh atau bahkan absurd kedengarannya bagimu itu, bukan. Kau selalu saja mengangkat salah satu alismu tanda heran dan mungkin juga lantaran sebuah alasan atas ketidaktahuanmu sendiri tiap nama tempat itu disebut. Ah, macam tak ada nama lain saja untuk menamai sebuah tempat. Mengapa harus begitu dan seperti itu, gumammu dulu. Katanya kemudian saat melihatmu bergeleng tanda bingung, tempat itu jauh jika kau hanya menempuhnya dengan sepeda bututmu yang berwarna biru muda itu, lengkap dengan keranjang bekas yang menempel di depan kemudi stang dan bangku penumpang yang (begitu) keras hasil kreasi ayahmu saat kau membutuhkannya untuk bersekolah di sebuah SMP negeri terfavorit di daerahmu beberapa tahun silam. Katanya untuk ke tempat tersebut, jika kau hendak menghemat waktu tempuh, lewatlah jembatan penghubung dua dusun yang demikian tersembunyi sebelah utara desamu atau di dekat tetangga desamu itu. Namun, katanya selanjutnya, hal tersebut mungkin akan sedikit riskan lantaran jurang di samping kanan-kiri jembatan cukup curam, serta lebar jembatan yang terbilang sangat sempit, bahkan untuk dilalui sebuah sepeda pun. Saat itu, kau hanya manggut-manggut saja mendengar penuturan adik kecilmu yang sangat bersemangat seakan merasa telah berhasil mencapai tempat terpencil laksana rimba petualangan kecilnya itu. Sekedip saja kau mengingat nama tempat itu. Ya. Tepatnya hanya sekedip saja.

Kau tak tahu, bukan? Sekedip itu akan berarti banyak dan panjang untuk diuraikan. Bahwa kelak di kemudian hari kau akan dibuat terkejut kembali karena pemilik rumah itu, atau mungkin cerita dibalik pemiliknya itu, menjadi sedemikian tak asing lagi untuk diputar ulang di kepalamu. Hampir setiap hari kau mulai perlahan mengajari dirimu untuk mengagumi tempat itu. Bukan tempat itu, mungkin sesuatu di tempat itu, atau mungkin seseorang di dalamnya. Iya, entahlah. Kau bahkan masih tak bersedia menjawabnya dengan jujur, bukan?

Kau menjadi sedemikian antusias menyimak siapapun yang sengaja atau tak sengaja bertutur tentang tempat itu, seakan kau sungguh membutuhkan informasi tersebut. Kau pun mulai menertawai kekonyolanmu, bisa begitu berbinar atau mungkin hei, kau mulai memuja nama sebuah tempat kah, oh bukan nama tempatnya, mungkinkah itu karena ada hubungannya dengan nama seseorang yang kau kenal. Entahlah, tak tahu, katamu. Benarkah menjadi begitu istimewa atau hanya sekadar menarik saja? Kali ini kau akan lebih sering menjawabnya dengan sebuah senyuman, bonus rona merah delima di kedua pipimu. Ah, waktu memang sering membuat kita tanpa sadar tenggelam sesaat manakala mengecap kejutan-kejutan peristiwa berbungkus perasaan bahagia atau rangkaian momen-momen manis karenanya.

Masih ingatkah kau bahwa dulu kau lebih sering menghindar dari kenyataan di kepalamu. Menurutmu, itu sama sekali tak istimewa, padahal dalam hati, kau selalu bersorak riang menyambut kabar apapun tentang tempat itu. Tentang dimana letak pastinya, jauh tidak sih dari tempatmu duduk kini, atau kapan bisa kesana, atau mungkin kapan tanpa sengaja bertandang kesana untuk mengobati rasa ingin tahumu tentang pelbagai citraan mengenai morfologi rumah tersebut. Bukankah kau sendiri yakin bahwa rumah itu pasti tak akan begitu berbeda dari rumahmu sendiri. Lalu apa iya, sesuatu bisa kau anggap istimewa jika hanya berwujud sebagai kebanyakan tanpa ada nilai tambah di dalamnya. Kau pasti sudah punya alasanmu sendiri.

Takdir memang lucu. Ia mengemaskan cerita terbaiknya untuk dipersembahkan kepada jalan hidupmu saat itu. Mungkin saja itu bukan hal yang awalnya kau inginkan. Mungkin juga, kau tak akan pernah menyangka bahwa tempat yang sering kali kau abaikan lantaran keanehan fonologi, sintaksis ataupun morfologi pada bahasa penamaannya itu pernah menjelma menjadi judul sebuah tulisan di kepalamu sendiri. Bahkan, kau pernah sangat ingin menggambarnya untuk diabadikan dalam kenanganmu. Lalu, bagaimana caramu nanti menjelaskan keanehan perlakuanmu tersebut terhadap sebuah rumah dengan kenangan yang tak pernah atau belum pernah menjadi milikmu, namun sungguh-sungguh ada di rantai memorimu. Kini pun, di malam yang biasa-biasa saja dengan ribuan bintang gemintang di luar sana yang tengah lelap dalam tidurnya, rumah itu juga sedang dipayungi langit malam yang sama dengan apa yang didapat oleh rumahmu sendiri. Di malam yang biasa ini pula, tanpa angin malam istimewa, tanpa kabut pekat biasanya, tanpa rintik hujan pergantian musim di bulan Maret, serta tanpa puisi pujangga, kau akhirnya menuliskannya. Benarkah ini untuk dia, atau mungkin untuk dirimu sendiri yang masih tak mengerti. 

Mungkin kapan-kapan akan kau beritahu siapa pemilik rumah itu. Mungkin juga kelak kau justru akan melupakan keberadaan rumah asing itu. Satu hal yang sangat ingin kau pahami adalah kau sudah cukup merasa bahagia mengetahuinya ada dan berarti. Dan, mungkin saja itu adalah rumahmu.
Continue reading Mungkin itu Rumahmu
,

Berjuta Cerita di Sensus BMD DKI Jakarta 2013

Euforia kelulusan baru saja usai. Saatnya mengemasi segala perbekalan menuju gerbang kehidupan yang sebenarnya. Meskipun saya menempuh pendidikan (taraf DIII) di sebuah sekolah kedinasan, hal tersebut nampaknya tidak menjadi pengecualian bagi saya dan teman-teman untuk tetap menghadapi realita freshgraduate pada umumnya, yakni mengenyam masa-masa menjadi pengangguran. Kelanjutan kisah penempatan angkatan kami masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Kemenpan dan Kemenkeu. Proses tersebut dapat memakan waktu berbulan-bulan bahkan mungkin satu tahun. Oleh sebab itu, sementara ini mau tak mau predikat pengangguran harus melekat pada diri kami.

Well, untung saja kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Selang berapa hari pascakelulusan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menawarkan kerja sama magang kepada lulusan STAN yang baru saja lulus melalui kontrak tiga pihak, yakni Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, BPKP, dan STAN. Tentu saja hal tersebut disambut dengan baik oleh pihak Lembaga STAN maupun lulusannya sendiri. Meskipun hanya tiga bulan, kami cukup antusias mendaftar. Pertimbangannya hanya dua: daripada bosan menganggur dan income yang ditawarkan cukup lumayan untuk ukuran kantong mahasiswa (meskipun kami bukan lagi mahasiswa). Kebetulan, saya menjadi salah satu lulusan yang tertarik untuk mengikuti kerja sama magang tersebut. Jadilah, saya dan teman-teman yang turut serta tersebut terikat perjanjian selama tiga bulan sebagai Tim Pendampingan Sensus BMD Pemerintah Provinsi DKI Jakarta 2013. Selama tiga bulan itulah saya harus berkutat dengan macetnya ibu kota serta padatnya commuterline dari stasiun Pondok Ranji-Tanah Abang-Rajawali maupun sebaliknya setiap hari.
Continue reading Berjuta Cerita di Sensus BMD DKI Jakarta 2013

Judicium, the Real Newborn

Yudisium KBN STAN angkatan 2010

Bilangan jam menunjukkan angka 00.00 WIB pada hari Rabu, 9 Oktober 2013. Dengan munculnya score kaca mata pada mesin penunjuk waktu tersebut, genap sudah usia 21 menempel dalam diriku. Sebuah ritual wajib yang lazim dilakukan seseorang di hari lahirnya, memperingatinya sebagai hari ulang tahun. Tahun-tahun sebelumnya berlangsung seperti biasa, tak ada hal luar biasa terjadi dalam momen-momen ulang tahunku selain ucapan dan doa serta perayaan-perayaan kecil yang ku rasa cukup spesial, semacam hadiah kecil dari keluarga atau teman-temanku. Dan, hal-hal seperti itu senantiasa terkenang meskipun bukan hal luar biasa. Namun, momen yang terjadi di hari ulang tahunku pada tahun ini berbeda dari  tahun-tahun sebelumnya. Ada hal yang luar biasa terjadi tepat di pergantian usiaku yang meninggalkan angka 20. Aku lulus.

Ya, hari dimana biasanya aku hanya cukup berbahagia memaknai pergantian usia, kini dikalikan lipat entah berapa kali, yang pasti rasanya luar biasa. Pada hari ini, Tuhan sengaja memilihkan hadiah terbaik-Nya untukku. Aku dan 328 mahasiswa Kebendaharaan Negara, STAN angkatan 2010, resmi dinyatakan lulus oleh Lembaga yang selama tiga tahun ini mendidik kami menjadi calon punggawa keuangan negara. Tunai sudah aku membayar kewajibanku menimba ilmu di sekolah kedinasan ini. Tunai sudah APBN membiayai pendidikan kami seangkatan di kampus perjuangan ini. Dan, tepat mulai hari itu juga, aku resmi menjadi salah satu penyumbang angka pengangguran di negeri ini. Haha, tentu saja pengangguran friksional. Pengangguran yang hanya tinggal menunggu waktu penempatan yang (semoga) lekas diangkat menjadi CPNS.

Di tribun Gedung G

Lega dan bahagia. Mungkin dua kata itu cukup mewakili buncahan perasaanku saat ini. Lega karena sudah menunaikan kewajibanku dengan berpredikat Terpuji dan bahagia karena peristiwa itu terjadi tepat di hari ulang tahunku. Sungguh kado terindah untuk tahun ini. Tak banyak memang perubahan yang akan terjadi dalam hidupku mengingat saat ini dan sampai entah kapan, aku dan teman-temanku masih harus bersabar menunggu kapan pembesar Kemenkeu memanggil kami menjadi bagian dari institusi mereka. Ya, tak masalah bagi kami. Rasa syukur itu menjadi tanda bahwa ketidakpastian-ketidakpastian di depan mata tersebut tak lantas mengurangi kebahagiaan kami. Cukuplah itu untuk saat ini, Tuhan. Aku bersyukur atas nikmat-Mu kepadaku yang kian laksana sungai mengalir, tak henti-henti. Meskipun di sela tawa-tawa ceriaku dan teman-temanku di Gedung G, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara masih menyimpan sedikit kesedihan karena setelah ini tentu saja kami tak akan lagi bisa sering bertemu untuk berkumpul seperti dulu. Sedih, semua lakon cerita seperti sudah hendak menutup tabir perannya dalam belantika cerita di Kampus Tercinta ini. Mungkin setelah ini, akan ada begitu banyak rasa rindu menubuhi hati kami. Tentang rasanya menjadi bersama. Tak apa, hidup memang harus berlanjut. The show must go on. Kami masih menyimpan pundi-pundi mimpi di sanubari masing-masing. Dan, kelulusan ini adalah awal dari semua proses meraih mimpi-mimpi itu. Menjadikannya sebuah kenyataan. Bukan hanya sekadar mimpi-mimpi kosong di langit-langit rumah imajinasi.

Sekretariatan Gedung I
Prosesi Yudisium itu berlangsung di Gedung G, STAN pada pukup 09.00 WIB dengan durasi terlambat sekitar satu jam lebih. Peryataan kelulusan itu dibacakan oleh Kepala Bidang Akademik Akuntan, Bapak Akhmad Priharjanto. Nama kami disebut satu persatu. Lihat, betapa tiga tahun terasa begitu cepat ketika berada di tempat itu. Padahal, sebelum pembacaan kelulusan itu, waktu seakan lambat sekali berjalan. Rasa haru yang berkumpul menjadi satu di dalam Gedung G, membuatku tak henti mengucap alhamdulillah, terlebih saat semua prosesi itu selesai dilakukan. Ya, hari ini aku sepeti terlahir kembali menjadi manusia baru. Usiaku bertambah, masa umurku berkurang, predikatku tak lagi mahasiswi, dan aku sudah layak disebut orang dewasa. Kini, di pundakku tak hanya ada tanggung jawab kepada diri sendiri, melainkan tanggung jawab atas keluarga, bangsa, dan agama. Pendidikan itu menjadikanku tertulis sebagai daftar orang terdidik di negeri ini. Dan, mendidik adalah kewajiban setiap orang terdidik. Meskipun tujuanku dididik adalah untuk menjadi punggawa keuangan, hal tersebut tak lantas mematikan tanggung jawabku yang lain. Aku harus memulainya. Ilmuku tak boleh tersia-siakan justru di saat-saat aku masih menyandang predikat pengangguran, yang mungkin selama setahun ke depan. Bismillah. Yudisium, kau bukan penutup, kau pembuka jalanku melangkah meraih impian yang aku sendiri masih merabanya. 
Continue reading Judicium, the Real Newborn

Keretamu

It had been awhile since I waited your coming. 

Kau selalu tahu aku tak begitu suka bepergian. Bukan alasan kemananya atau untuk apanya, tapi lebih kepada bagaimana perjalanannya. Lucu bukan, padahal aku suka sekali mengamati jalanan yang melalukanku kepada tempatmu, kepada tempat-tempat yang kau tunjuk dengan jarimu karena ketidaktahuanku. Padahal di setiap perjalanan yang kita ambil, akulah orang yang paling menikmatinya, memandang lama dibalik jendela kereta hingga melupakan kamu yang diam-diam tersenyum memandangiku di samping tempat dudukku. Padahal kau tahu, aku selalu bersuka cita menyambut liburan dengan menapaktilasi jalan-jalan yang sempat pernah ku rasai dalam angan, dalam mimpi, pun dalam nyata. Padahal aku selalu merengek kepadamu untuk mengajakku ke semua tempat yang kita sukai, terlebih yang belum pernah ku datangi. Padahal pula, aku tak pernah berhenti sesumbar tentang tempat-tempat indah dan asing di luar sana yang ku kemas menjadi tujuan-tujuan kita berikutnya dan berikutnya lagi. Namun, kau masih saja tahu dan mengerti bahwa aku tetap saja bukan pecinta travelling.


Kau selalu mengulang cerita-ceritamu tentang tempat-tempat menarik yang banyak tak ku tahu. Di matamu, aku adalah telinga. Aku tak banyak bercerita, aku hanya mendengarmu mendongengiku. Saat aku hanya lebih sering cerewet berkomentar, kau selalu saja menertawai kebodohanku karena tak banyak tahu tempat yang kau maksud. Namun, aku pada akhirnya tahu di setiap tawamu itu, kau sedang mengajariku menyukai dirimu. Kau tahu, aku tak perlu belajar menyukaimu, perlahan perjalanan-perjalanan di atas kereta itu mengenalkanku atas dirimu, membuatku tahu, aku sudah sejak lama menyukaimu, sejak saat kamu mempercayaiku  sebagai telingamu. 

Kau pernah mengajariku merekam jejak kereta, merasai waktu perlahan mendekatkan kita pada tempatmu menuju. Bagimu, aku yang bodoh ini terlalu kegirangan meloncati gerbong kereta usang itu. Ada keceriaan yang entah bagaimana ku rasakan dengan sangat sempurna. Mungkin kala itu, bagimu aku terlalu udik dibanding mereka yang seusia kita. Dan kau selalu paham, aku tak pernah peduli betapa aku lebih sering terlihat tak tahu menahu tentang perjalanan, tentang tempat, tentang apapun yang ada di dunia luar sana. Aku juga masih ingat di awal perjalanan kita dulu, seakan kedua bola mata kita sama-sama selalu memandangi titik yang berbeda. Seakan pikiran kita sama-sama meminta dipisahkan dimensi tepat pada waktu kita justru sedang duduk berdua. Ada tempat lain yang hendak kau tuju, namun tak kuasa kau sebut. Ada tempat lain yang sungguh ingin ku pijak, namun terasa mustahil untuk ku putuskan pergi.

Tahun berganti tahun, hingga kita yang dulu kini telah menjadi aku dan kamu. Aku hampir lupa kapan terakhir kalinya aku dan kamu menanti kereta yang sama. Aku hampir lupa bahwa pernah ada kamu yang menemaniku menghitung bintang dari kaca kereta atau sekadar terjebak dalam cerita-cerita konyol masa SMA. Dan, puncaknya, aku bahkan lupa bagaimana mengingat wajahmu yang teduh ketika mendongengiku tentang teman-teman lamamu itu. Aku lupa pada melodi suara-suaramu yang mengalunkan dongeng yang sering tak ku mengerti namun sangat ku sukai. Ada beda pada tempo kini dan dulu yang kian jelas ku rasai sekarang. Aku mungkin telah melupakanmu hingga ke noktah terkecil dari yang ku bisa lihat, pun dirimu. Keretamu dan keretaku menjelma gerbong terpisah. Aku sudah lama tak menunggu kedatangan kereta itu, beriringan dengan musim yang terus berganti tanpa henti. Jejak-jejak itu dihapus roda kereta bersama rintik hujan yang tak lagi membawa namamu, yang tak lagi mengantarkan pesan rindumu. Sepi. Tepat di ujung rel kota itu, aku menunggu diriku sendiri, dibungkus cerita baru. September membuka matanya, menyambut kedatanganku. Ku harap kau masih ingat, aku tak pernah menyukai bulan September.
Continue reading Keretamu

Kecil

Menurut ukuran semesta, mungkin ia begitu tak berharga. Ia terabai, terlupakan, bahkan (mungkin) sungguh tak pernah diingat ada sama sekali. Ia hanyalah semacam partikel berukuran sepersejuta nanometer di antara raksasa dunia. Padanya masih perlu mikroskop cahaya versi terbaru untuk sekadar mengetahuinya ada dan berwujud. Tanpa ia sadari pun, jauh-jauh dalam dirinya justru telah lama sengaja atau tanpa sengaja kehilangan anggapan ada atas dirinya di kehidupan orang lain, pun pada hidupnya. Ia menjelma menjadi sebongkah benda asing tak kasat mata bagi semua yang merasakan nafas kehidupan. Ia tak tahu bagaimana cara menggambarkan dirinya sendiri. Mungkin serupa elektron-elektron yang mencoba mencapai kesempurnaan dengan melompati orbital-orbital terdekat. Ia mulai merasa tak berarti. Berkali-kali ia mencoba terlihat, yang terjadi justru ia sedang membuat dirinya terus ditertawakan dunia. Ia belajar menerima tempatnya kini, mungkin di antara tumpukkan kegagalan. Caranya kini mulai diterima sebagai sebuah bentuk tahu diri atas keberadaannya di mata yang lain. Perlahan, ia mulai memberontak tak terima lagi. Darinya ia sadari, kecil pun ia, ia ingin tetap dipandang ada dan berarti. Ia mulai belajar menolak tempat yang menjadikannya jauh dari kata ada. Ia ingin memberikan guna, ia bukan benda kecil tak kasat mata yang sering kali hanya menjadi objek amatan. Ia manusia, ia pun menyadari, sekecil apapun ia, Pencipta selalu menyediakan rencana mengapa ia diadakan, dan itu pasti adalah sebuah guna untuk yang lain. Mungkin ia hanya perlu belajar memahaminya. Sekecil apapun nilai guna atas dirinya. Ini adalah kehendak-Nya.
Continue reading Kecil
,

Paket Kuliah Gratis, Expired!


Ujung sebuah perjalanan seorang penimba ilmu, namun bukan lantas menjadi sebuah akhir. Sederhana saja. Semua tentang bagaimana rasanya mengenang langkah kaki pertama sebagai seorang mahasiswi, tentang bagaimana sensasi hari pertama kuliah di kampus perjuangan ini. Anganku terbang melintasi lorong waktu, tepat saat  kalender menunjukkannya pada hari Senin, 4 Oktober 2010. Pintu pertama, di Ruang I 104, Gedung I, STAN dan disambut oleh Bapak Dosen PIE, Bapak Soemarto Eka Putra hingga akhirnya kini di hari yang lain, diantar pulang lewat lorong waktu pula setelah tiga tahun berjuang untuk menimba ilmu disini, semua hari-hari belajar itu ku tutup, tepat di Ruang I 103, Gedung I, STAN, seraya mengucap selamat tinggal pada Sang Dosen Monev, Ibu Olfah. Dari seorang mahasiswi Semester 1 kelas 1-D hingga berakhir sebagai mahasiswi Semester 6 kelas 3-F, Kebendaharaan Negara. Waktu cepat sekali berlalu.
Continue reading Paket Kuliah Gratis, Expired!

Berbalik kembali

...Mungkin kamu akan menyadarinya suatu hari nanti, saat aku sudah pergi... Begitu pun aku...

Pernahkan kamu terjebak begitu lama dalam khayalan dan harapan yang serta merta kamu tanam sendiri, lantas tanpa sadar kamu juga yang memupuknya hingga ia tumbuh dengan begitu subur bak jamur di musim penghujan? Kamu merasa semua yang sudah kamu pilih sebagai sebuah impian atau sekadar imajinasi tersebut adalah hal terindah yang tak mungkin kamu gantikan dengan hal lain. Seakan-akan kamu tahu bahwa jika semua terwujud maka hidupmu akan sangat luar biasa (bahagia), serasa sempurna, dan tak ingin apa-apa lagi. Sampai sebegitu istimewanya hingga bahkan kamu sangat takut berharap tinggi-tinggi padahal sungguh memang kamu sudah tanpa sadar berdiri di not tertinggi dalam tangga nada harapanmu itu. Dan, celakanya kamu menikmatinya. Terlanjur nyaman dengan semua omong kosong di kepalamu sendiri.

Continue reading Berbalik kembali

Jejak Langkah


SMP N 1 Karanganom

Seseorang mungkin sudah beranjak jauh dari masa kecilnya. Mulai menapaki jengkal-jengkal wilayah kehidupannya yang kian sempit lingkupnya tetapi begitu rumit. Namun, tentu saja dalam benaknya tak pernah ada keinginan atau pun kemampuan yang maha luar biasa untuk sungguh-sungguh melupakan apa saja yang sempat dijalani atau benar-benar diplilih untuk dilakukannya, saat itu. Takkan pernah benar-benar ia lupakan atau sekadar disebut hilang tak bertuan. Kecuali jika memang Tuhan menghendakinya lenyap, ditelan memori lain, amnesia atau apalah sebutannya.

Ku kisahkan pada kalian tentang beberapa helai kalimat tentang jalan pendidikan seseorang hingga kini ia masih bernafas sebagai penuntut ilmu di sebuah sekolah kedinasan yang cukup bisa dipertimbangkan sebagai alternatif masa depan. Memulai menimba ilmu, ia daratkan di TK Pertiwi Jungkare yang sempat menemaninya menghabiskan masa kanak-kanak lantas naik pangkat ke bangku sekolah dasar, SD N 2 Jungkare selama dua tahun. Baginya tak pernah terbesitkan akan meninggalkan SD tersebut beserta sahabat masa kecilnya, ia harus pindah ke SD N 1 Jungkare. Meskipun masih satu desa, semua tak sesederhana itu bagi seorang bocah, terutama dia. Perlahan ia mulai menemukan atmosfer adaptasinya di SD barunya, sulit memang. Hanya saja segalanya terlihat biasa saja di mata orang-orang.

Entah ini butuh dikisahkan atau tidak, ia pernah hampir ditinggalkan orang tuanya untuk menuntut ilmu di sebuah kota nan jauh dari desanya untuk tinggal bersama seseorang yang mungkin tidak begitu dikenalnya, seseorang yang dengan janjinya akan menanggung segala biaya pendidikannya, ia tak mengerti dan hanya mengiyakan. Namun, segalanya adil baginya. Semua tak jadi berlangsung hingga ia kembali dan memutuskan untuk bersekolah di SMP N 1 Karanganom. Sekolah yang mempertemukannya dengan pelbagai macam karakter yang begitu saja membuatnya nyaman dan betah. Sekolah yang membantunya mengukir prestasi meski tak seberapa. Di sanalah, ia temukan salah satu inspirasinya melangkah meraih cita-cita dengan begitu optimis dan bergairah. Seseorang yang selalu ingin ia kalahkan tetapi tak henti membuatnya menatap pada sosok itu. Entah. Mungkin saat itu ia baru saja mengenal jatuh cinta. Ia sendiri pun tak mengerti. Terlalu naif memang, saat orang itulah yang bahkan sanggup mengukir semangat di hati kecilnya. Seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa. 

SMA N 1 Karanganom

Merasa sedikit lebih pintar dari kawan-kawannya, membuatnya ingin sesuatu lebih. Ia tak ingin bersekolah di kecamatan lagi. Ingin sekolah terbaik. Namun, kali ini nasib harus menahannya sekali lagi di tempat itu. Ia gagal membujuk orang tuanya untuk menyekolahkannya di SMA terfavorit di kabupatennya. Ia sedih. Namun, cuma sebentar. Ia mulai menerima kondisi tersebut. Ia sadar betul siapa dirinya, berusaha untuk tahu diri bahwa terkadang kita memang bukan siapa-siapa dibandingkan apapun, apalagi hal rumit seperti takdir. Baginya memahami kesulitan orang tua adalah hal krusial yang tak boleh sedikitpun dibantah nuraninya. Ia sulut lagi api semangatnya untuk menjalani tiga tahun masa SMA di SMA N 1 Karanganom. Ia memang terbiasa menerima. Mungkin itulah yang memudahkan langkahnya menyelesaikan tiap semester dengan baik disana. Restu orang tua memang ridho Tuhan. Ia pun akhirnya mengerti.

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

Dulu, ia bermimpi tinggi sekali hingga ia lupa satu hal, mungkin itu akan menjatuhkannya kapan-kapan. Dan benar saja, ia gagal di dua tempat yang benar-benar diinginkannya. Namun, kali ini ia harus menyaksikan keajaiban dan kemurahan hati Tuhan sekali lagi. Kini, ia berada di tempat yang benar-benar di atas keinginannya. Lebih dari sekadar membuatnya lega, lebih lengkapnya hal tersebut lah yang membuat orang tuanya optimis kelak menggantungkan nasib padanya. Ia hanya menjalani. Hingga kini, ia hanya berdoa semoga Sekolah Tinggi Akuntansi Negara inilah jalannya untuk meraih semua mimpi yang ia punya di list kepalanya. Janjinya sebagai anak pertama. Semoga. Aamiin. Bismilahirohmanirohim. 


Continue reading Jejak Langkah

Sebuah Persimpangan


Saat seseorang belajar sebuah pengorbanan, mungkin juga ia sedang belajar bagaimana rasanya harus meninggalkan semua yang ia punya (untuk kurun waktu tertentu). Keluarga, teman-teman, sahabat, lingkungan yang membesarkannya atau hal lain yang mungkin belum disadarinya. Ia mungkin terlalu kecil untuk mengerti saat itu. Setiap orang pernah menghadapi simpangan-simpangan peristiwa dalam hidupnya. Entah yang luar biasa hingga membekas di memorinya begitu lama atau sekadar figuran cerita yang mampir lewat namun memberikan jejak. Semua sah-sah saja dalam lembaran hidup karya tangan Tuhan. Persimpangan-persimpangan tak terlihat itu menuntunmu pada tempatmu sekarang berada. Menjauhkanmu dari hal yang mungkin saja lebih buruk jika kamu tetap di jalan itu. Atau sebatas anggapan yang tak cukup adil untuk menilai posisimu, yang kadang sekenanya saja dalam memberi label penghakiman atas dirimu. Itulah sebabnya, kamu harus menyingkir.

Continue reading Sebuah Persimpangan

Choose and Be Responsible

Life is a Choice

Bicara soal pilihan hidup, tak hanya melulu tentang pasangan hidup. Bisa berarti juga jalan hidup atau semacamnya. Entah. Pernah berkali-kali menghadapi jalan berpintu seribu terkadang membuat seseorang belajar tentang bagaimana cara menimbang-nimbang sebuah keputusan hingga menjadi sematang mungkin untuk cukup layak dijalani. Tentang mana yang sebaiknya diambil atau mana yang seharusnya dilupakan. Langkah yang tak selancar jalan tol justru mengajari seseorang untuk lebih bijak dan menghargai setiap inchi perjuangan yang pernah ia lakukan. Bukan sekadar berpasrah pada guratan nasib atau mengalir laksana air, dari hulu ke hilir. Bukan seperti itu. Karena segala hal yang manis berbuah dari kerja keras.
Continue reading Choose and Be Responsible

Lorong Waktu

Semua hal penting yang kita lakukan adalah tentang waktu. Tentang semua mimpi-mimpi kecil yang mulai kita bangun dari lembah hingga ke puncak yang entah kapan diizinkan terjadi, semua hanyalah masalah waktu. Kapan kita akan memulai lantas kapan pula semua harus berhenti, berakhir dan bermuara pada tujuannya, ataukah sekadar terbelangkalai di tumpukan sang waktu yang tak pernah menunggu. Waktu memang bukan sosok sabar yang akan meladeni semua kemalasanmu. Maka, sebaiknya jangan ijinkan dirimu barang sedetik pun untuk melalaikannya. Karena waktu takkan kembali meski hanya sedetik. Ia bergerak maju dan tidak punya tombol undo. Kau diam, kau bergerak salah arah, atau kau terlalu lama menunggu, ia akan tetap berjalan, meninggalkanmu tanpa ampun. Karena ia, bukan ada untuk menunggumu.

Manusia sering kali hanya terjebak dalam lorong waktu yang mereka ciptakan sendiri, hingga merasa buntu untuk beranjak. Seakan terjebak dalam situasi stagnan atau comfort zone yang terlanjur membuat mereka nyaman hingga enggan untuk meninggalkannya. Bukan perkara ada tidaknya kesempatan untuk melangkah, hanya saja kehendak diri yang sulit diajak kerja sama. Jarum jam milik Tuhan terus bergerak. Ia tak mungkin sekadar minta didiamkan sejenak. Karena kita tahu, Tuhan tak menyediakan tombol pause kepada hidup kita. Roda kehidupan terus berputar bersama sang waktu. Manusia selalu disibukkan dengan banyak agenda yang kadang mereka pun tak mengerti apa esensinya untuk hidup mereka. Hanya menjadi kata berjudul rutinitas. Lorong waktu hanya berputar-putar di tempat itu saja. Tanpa mencoba melangkah ke tempat lain. Lagi-lagi semua tentang waktu, 24 jam kali 365 hari kali seberapa lama kita menghirup nafas dunia. Jejak apa yang telah kita tinggalkan di tiap tapakan jarum detik hidup kita? Retoris.

Tinggalkan lorong waktu di masa lalu, yang mungkin masih berantakan akan kenangan buruk, kesalahan yang itu-itu saja atau segudang rencana abadi yang tak segera terselesaikan. Tinggalkan. Mulailah atau minimal lanjutkan saja apa yang memang sejak semula sudah kau susun di kalender waktumu. Ingat, lorong waktu bisa menjebakmu, pun waktu yang ada di samping dan depanmu terus melangkah, memilih meninggalkanmu yang tetap terdiam atau tak berhenti meratap. Percayalah, semua tak semelilit itu urusanmu dengan sang waktu, tapi juga bukan sesederhana mematikan saklar lampu. Semua hanya masalah kapan langkahmu kau mulai. Ciptakan kesempatan, jangan menunggunya datang. Karena semua, berawal dari langkah pertama.
Continue reading Lorong Waktu