, , , ,

How to Live in Banjarmasin as A New Comer

Halo! Rasanya saya belum pernah bercerita tentang detail pengalaman hidup saya selama tinggal di Banjarmasin dan saya merasa perlu. Berhubung tahun telah berganti dan saya rasa akan ada wajah-wajah baru yang datang menggantikan saya di kantor ini, sekaligus sebagai tanda perpisahan saya dengan kota ini beberapa minggu lagi, rasanya tidak ada yang salah bila saya sedikit berbagi tips maupun pengalaman hidup selama berada di sini. Postingan kali ini akan sedikit lebih panjang dan sarat curhatan.

Saya jadi teringat pertama kali saya tiba di kota ini satu setengah tahun yang lalu, tepatnya pada hari Sabtu, 3 Oktober 2015. Beberapa hari sebelum keberangkatan saya ke kota ini, salah satu mantan atasan saya saat masih magang di KPPN Semarang sempat menghubungi salah seorang temannya yang sedang bertugas di KPPN Banjarmasin. Beliau meminta tolong pada temannya tersebut untuk membantu saya selama nanti berada di Banjarmasin, terutama terkait urusan menjemput dari bandara.
Para Pegawai KPPN Banjarmasin
Beruntung sekali saya menemui orang-orang baik itu sesaat saya tiba di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru. Datang seorang diri di kota yang sepenuhnya baru untuk saya memang sempat membuat saya sedikit kagok. Saya masih sangat ingat saat itu disambut oleh dua wajah baru yang begitu ramah menjemput dan membantu saya membawakan barang, yaitu Mbak Amilia Zakiyyah dan Mas Alam Haris. Mereka memberikan semacam briefing singkat mengenai kota Banjarmasin selama di perjalanan sebagai ucapan selamat datang. Dari sanalah saya tahu bahwa mereka berdua juga merupakan pendatang seperti saya. Kebetulan sekali, Mbak Zakiyyah ini ternyata adalah kakak tingkat saya di STAN dan hanya terpaut satu angkatan saja.

Sebelum menaruh barang, saya sempat diajak mampir sebentar ke KPPN Banjarmasin untuk perkenalan singkat dengan beberapa pegawai yang terlihat sedang lembur. Sebagai informasi saja, KPPN Banjarmasin ini termasuk salah satu KPPN dengan jumlah satker besar, bersaing dengan Banda Aceh. Waktu saya datang masih sekitar 400an satker namun beberapa sudah dilikuidasi dan tersisa sekitar 360an satker. Jadi, bagi kalian yang ditempatkan di Seksi VERA, siap-siap ya dikejar target rekonsiliasi yang tinggi. Sedangkan untuk di Seksi Pencairan Dana, semangat memproses SPM di awal bulan maupun akhir tahun.
Sekilas Jalan Sutoyo
Sementara waktu, saya tinggal di salah satu indekos di Jalan Sutoyo, tepatnya di depan Hotel Metro tak jauh dari kantor. Letak indekos saya ini termasuk sangat strategis di tengah kota. Bangunan rumah di sini rata-rata berupa rumah panggung. Hal ini karena struktur tanah di Banjarmasin berupa rawa-rawa atau lahan gambut, sehingga pembangunan fondasi rumah selalu menggunakan kayu ulin. Saya sudah beberapa kali diberi tahu oleh teman saya mengenai hal ini agar saya tidak kaget saat tiba nanti. Teman saya seangkatan yang kebetulan sudah penempatan terlebih dululah yang membantu saya mencari indekos. Teman saya ini namanya Arin Perwitasari, kebetulan satu jurusan dengan saya, hanya saja berbeda instansi penempatan. Hari pertama di sana, saya langsung diberi semacam tutorial bagaimana mengenal kota ini. Arin menjelaskan secara detail pengalamannya tinggal di Banjarmasin selama 3 bulan mendahului kedatangan saya. Saya langsung diajak berkeliling malam itu juga, sehingga keesokan harinya saya bisa tahu bagaimana jalan menuju kantor. Begitulah kira-kira awal perkenalan saya dengan kota ini.

Kota Banjarmasin ini bisa dibilang tidak terlalu luas. Kalau kata orang-orang di sini, kota ini hanya sejauh radius 6 kilometer saja, cukup mudah untuk dikelilingi. Menurut saya, tata kota Banjarmasin sendiri sedikit kurang rapi karena terlalu banyak gang-gang kecil yang tidak tertata dengan baik. Katanya, pembangunan kota ini memang sudah salah sejak awal. Kalau di kota tetangga, yaitu kota Palangka Raya, jalan dulu dibangun baru bangunannya. Sedangkan di Banjarmasin ini, jalanan seperti dibangun seadanya lahan saja, sehingga terkesan semrawut peletakannya. Selain itu, minim sekali taman kotanya dan kondisinya terlihat tidak terawat. Sejauh yang saya tahu, mungkin hutan kota di Masjid Sabilal Muhtadin inilah yang paling mending. Selain itu, sekarang Taman Kamboja di dekat indekos saya juga sudah mulai sedikit dibenahi.

Kalian akan sulit menemukan rumah dengan garasi yang luas di pusat kotanya. Kebanyakan rumah dibangun di dalam gang-gang sempit yang menurut saya susah dijangkau mobil. Minimnya lahan itulah mungkin menjadi salah satu alasan pembangunan bandara maupun kantor-kantor pemerintahan kebanyakan dilakukan di Banjarbaru. Jarak bandara ke pusat kota Banjarmasin sendiri kurang lebih 45 menit. Biasanya, kami memakai jasa sopir kantor untuk menjemput maupun mengantar ke bandara demi menghemat ongkos. Cukup memberikan upah sepantasnya saja. 

Duta Mall
Kondisi kota Banjarmasin tidak begitu ramai, sehingga jarang sekali macet. Jikapun macet, palingan hanya di jam-jam atau wilayah tertentu saja dan itupun tidak separah kota-kota besar di Jawa. Kota ini sebenarnya hanya punya satu jalanan utama saja yang menghubungkannya dengan kota Banjarbaru, Martapura maupun kota-kota lain di sekitarnya, yaitu Jalan Ahmad Yani yang sejauh mata memandang hanya lurus saja arahnya. Di kota ini, hanya terdapat satu mall dan satu bioskop XXI, yaitu di Duta Mall yang terletak di pal 2,5 atau Jalan Ahmad Yani km 2,5. Sebagai informasi, orang sini menyebut kilometer dengan sebutan pal untuk menunjukkan suatu tempat atau jarak. Minimnya hiburan itulah yang menyebabkan mall selalu ramai dengan pengunjung terlebih lagi di akhir pekan. Jangan kaget jika kalian akan selalu menemui antrean panjang di bioskop setiap kali ada premier film apapun itu.
Antrean Bioskop
Baca juga : Wisata di Sekitar Kota Banjarmasin

Selama di Banjarmasin, sebenarnya saya jarang sekali jalan-jalan. Saya tipikal orang yang lebih suka menghabiskan akhir pekan hanya dengan berdiam diri di rumah saja, entah membaca buku, menulis blog, menonton drama dan film atau sekadar mengerjakan pekerjaan rumah. Saya hampir tidak pernah sungguh-sungguh mengeksplorasi tempat-tempat wisata di Banjarmasin. Toh, wisata alam yang bagus letaknya jauh dan perlu beberapa jam perjalanan dari pusat kota, sehingga saya kurang tertarik. Kota seribu satu sungai ini sebenarnya dapat belajar dan berkaca pada Singapura dalam hal menata kota terutama untuk wisata di sekitar sungainya. Terlebih disini juga terdapat ikon atau maskot kota Banjarmasin, yaitu Patung Bekantan di tepian Sungai Martapura yang ditinjau dari ukurannya tidak jauh berbeda dengan Patung Merlion di dekat Marina Bay. Sayang sekali hal tersebut kurang diperhatikan dengan baik oleh pemkotnya sehingga terkesan seadanya sekali. Kondisi sungainya juga terkesan sangat kumuh dengan bantaran sungai yang masih banyak dipenuhi sampah maupun bangunan semi permanen.
Patung Bekantan di Siring Sungai Martapura
Untuk kalian yang hobi kuliner, di Banjarmasin sendiri banyak sekali berdiri kafe-kafe lucu untuk tempat nongkrong anak muda. Terutama di sekitar kampus Universitas Lambung Mangkurat di daerah Kayu Tangi. Kalian bisa mengintipnya lewat instagram Banjarmasin Food yang selalu update tentang tempat-tempat makan atau kafe-kafe kekinian. Kalau soal harga dan rasa, saya kira kalian hanya akan butuh sekali datang saja dan tidak akan mengulanginya lagi di tempat yang sama. Begitu sih menurut pengalaman saya.

Entahlah, saya merasa bahwa kafe-kafe dadakan semacam itu hanya sekadar menjual tempat saja namun kurang memperhatikan kualitas cita rasa makanannya. Meski demikian, beberapa kafe atau tempat nongkrong masih cukup layak untuk dicoba kok misalnya Efronte yang terletak di daerah Bumi Mas, Omnivora yang terletak di Jalan Hasan Basri, Panties Pizza, Lewis, Calais, Share Tea, Happy Tea, dan lain-lain. Meskipun menunya standar, setidaknya cita rasa makanannya lumayan juga. Kalian juga bisa mengeksplorasi warung makan-warung makannya sebagai alternatif tempat makan. Salah satu warung makan langganan saya dan teman-teman adalah Warung Bangjoe yang terletak tepat di pinggir lampu merah Jalan Sutoyo. Kebetulan nasi yang dipakai adalah nasi jawa, sehingga sesuai dengan lidah saya. Mengingat di Banjarmasin ini penggunaan nasi jawa sangat jarang karena kebanyakan menggunakan beras banjar yang strukturnya lebih kasar (tidak pulen), menemukan nasi jawa adalah sebuah keberkahan tersendiri.

Bagi yang ingin mencari menu sarapan atau makan siang di sekitar kantor, beberapa alternatif tempat makan dapat kalian coba seperti Warung Jawa di samping Korem, Citra Rasa di samping Dinas Perdagangan, Warung Do'a Ibu di samping KPPN, Pecel Korem, Warung Mama Lidya di dekat Hotel Batara, atau kalian bisa juga menelusuri Jalan Veteran. Di sana terdapat banyak pilihan tempat makan. Untuk harga variatif sih, rasanya juga lumayan menurut saya. Namun akan lebih hemat lagi jika kalian masak sendiri. Di Banjarmasin ini kalian dapat belanja kebutuhan dapur di Pasar Belitung dekat dengan Kompleks Ditjen Anggaran (Rumah Dinas saya sekarang) maupun di Pasar Lama dekat kantor. Pasarnya lumayan lengkap. Kalian bisa mengunjungi Pasar Belitung di waktu pagi dan sore hari sepulang kerja. Sedangkan untuk Pasar Lama, biasanya hanya ramai di pagi hari. Untuk membeli kebutuhan sehari-hari, saya biasanya mengandalkan mini market lokal seperti Minimarket Anna di dekat kantor atau Mart Plus di Jalan Belitung tepat di samping rumah dinas maupun Minimarket 88. Segala galon isi ulang hingga tabung gas elpiji juga tersedia di sana, namun harganya sedikit lebih mahal dari yang dijual di pinggir jalan. Memangnya tidak ada Indomart, Alfamart atau Giant? Ada, namun tidak begitu dekat dengan kediaman saya. Selain itu, biasanya kurang lengkap isinya. Sedangkan urusan membeli barang-barang untuk mengisi indekos, kalian juga bisa mengandalkan Pasar Lama maupun Pasar Sudimampir. Namun, saya lebih merekomendasikan Pasar Lama karena lebih dekat, tidak begitu luas, harga murah, dan mudah mencari pritilan-pritilan yang kalian butuhkan. Sedangkan Pasar Sudimampir menurut saya kurang efisien. Selain tempatnya terlalu luas, penggolongan tokonya pun tidak rapi sehingga bingung mencari item-item kecil yang saya butuhkan, Namun, kalian bisa membeli sprei bagus dan murah di sana. Saya sangat merekomendasikannya.

Untuk barang-barang isi rumah dinas seperti kasur, almari maupun rak, kalian bisa membelinya di seberang Hotel Batara. Tawar saja seperlunya. Di sana banyak pilihan merek dan kualitasnya juga lumayan. Selain itu, kalian juga bisa meminta delivery gratis ke rumah. Atau jika ingin berhemat, beli saja dari pegawai yang akan pindah atau mutasi. Namun tentu saja tidak akan selalu ada.

Biaya hidup di kota ini lumayan terjangkau sebenarnya. Untuk tempat tinggal maupun kebutuhan sehari-hari, rata-rata maksimal habis sekitar Rp 2.000.000,00 sebulan dan itupun masih sangat bisa dihemat lagi. Apalagi jika kalian tinggal di rumah dinas dan tidak malas masak, mungkin hanya butuh separuh dari nilai tersebut. Orang-orang di sini termasuk sangat konsumtif. Kalian akan menemukan beranekaragam jenis mobil mulai dari yang murah hingga mobil mewah hilir mudik di jalanan. Tidak heran jika harga kendaraan bekas di sini relatif lebih murah dibandingkan di Jawa. Butik-butik mahal juga tidak ketinggalan dibangun di sini seperti Butik Dian Pelangi misalnya. Jika bertandang ke mall, kalian akan melihat bagaimana mereka terlihat butuh untuk dress up hanya untuk menonton film atau belanja saja.

Saya sampai lupa bilang, bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat setempat adalah bahasa Banjar yang mirip dengan bahasa Indonesia namun dengan tempo yang lebih cepat dan kosa kata yang sedikit berbeda di beberapa hal tentunya. Bahasa Banjar ini juga beberapa katanya ada kemiripan dengan bahasa Jawa lho. Seperti penggunaan kata pian sebagai kata ganti orang kedua secara halus yang dalam bahasa Jawa kita menyebutnya sampean. Sedangkan untuk percakapan biasa, cukup menggunakan kata ikam untuk kamu dan ulun untuk saya. Selama di sini, saya tidak begitu tertarik untuk memahami bahasa setempat, sehingga cukup hanya menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari.
Kebersamaan di Kompleks Ditjen Anggaran, Jalan Belitung Darat pada Ramadhan 2016
Sebagai informasi, sejak bulan Desember 2015, saya dan beberapa teman mulai tinggal di rumah dinas, yaitu di Kompleks Ditjen Anggaran yang terletak di Jalan Belitung Darat. Kondisi rumah dinas di Kalimantan Selatan ini lumayan memprihatinkan menurut saya. Banyak bangunan yang dibiarkan rusak dan terbelangkalai dimakan usia. Kondisi rumah yang saya huni saat itu juga tidak kalah memprihatinkan. Butuh renovasi di beberapa bagian agar terlihat lebih nyaman ditinggali. Selain itu, lingkungan kompleksnya juga banyak ditumbuhi rumput dan semak-semak sehingga sering kali ada binatang melata terlihat hilir mudik di sekitar rumah. Rumah kami saja sudah tiga kali kemasukan ular. Meski demikian, penduduk di rumah dinas sangat menyenangkan dan ramah. Itulah salah satu alasan saya betah tinggal di sana, disamping menghemat pengeluaran juga tentunya. Sebelum mutasi, saya dan teman saya sempat pindah rumah ke bekas rumah dinas mantan kepala seksi VERA yang baru saja pensiun. Kondisi rumah baru kami ini jauh lebih mendingan dan bangunannya sedikit lebih luas. Saya selalu berharap pejabat setempat mulai memikirkan perombakan atau renovasi rumah dinas agar pegawai yang dimutasi ke Banjarmasin tidak kesulitan mencari tempat tinggal. Yang saya dengar dari salah satu pejabat pengadaan barang di kantor saya, kemungkinan akan dilakukan renovasi di beberapa rumah dinas. Semoga demikian.

Saran saya, setelah kalian settled tempat tinggal, selain dokumen kepegawaian, sebaiknya kalian juga lekas mengurus BPJS. Kalian bisa langsung datang ke kantor BPJS Jalan Ahmad Yani km 3,5. Atau bisa juga borongan bersama teman-teman kalian yang satu kantor. Untuk PNS, prosesnya mudah sekali dan tidak perlu lama mengantri karena iurannya sudah dipotong langsung dari gaji pokok. Kalau bisa, faskes tingkat satunya pilih di Puskesmas saja. Bisa Puskesmas S. Parman Jalan Antasan Kecil atau Puskesmas dekat Pertamina. Saya dulu terlanjur memilih dokter umum yang letaknya cukup jauh, sehingga sedikit kerepotan saat ingin periksa. Namun dokter saya sangat baik kok, kalau kalian berminat untuk memakainya sebagai faskes 1 lumayan juga. Namanya Dokter Delis dan letak kliniknya ada di Jalan Mayjen Sutoyo, tepat di samping Lapas Kelas II A Banjarmasin.

Untuk para wanita, saya yakin kalian pasti bertanya-tanya mengenai salon kecantikan atau klinik skincare seperti Natasha atau Erha di sekitar sini. Jangan khawatir, untuk yang memakai produk skincare Natasha, kalian bisa mengunjungi kliniknya di Jalan Ahmad Yani km 5,8. Sedangkan untuk pelanggan Erha, kliniknya dapat kalian jumpai di Lantai 1 Duta Mall. Namun, harga produk maupun treatment di sana tentu berbeda dengan yang ada di Jawa atau dengan kata lain jauh lebih mahal. Kalau ingin menghemat uang, kalian bisa kok facial atau treatment lain di Salon Kecantikan seperti di Salon Yulia di dekat Kedai Bunda atau Salon Moez5 di Kampung Melayu. Tempat maupun harga perawatan di sana lumayan terjangkau menurut saya. Sedangkan untuk kebutuhan kosmetik, kalian bisa membelinya di Princess. Letaknya berada di seberang Hotel Aria Barito. Di sana kalian akan menemukan berbagai produk kosmetik mulai dari skincare hingga perlengkapan make up dengan harga yang sangat terjangkau. Dijamin bisa bikin khilaf.
Salah satu standard room di Sienna Inn
Jika ingin mengajak keluarga datang kesini, banyak alternatif hotel murah dan bagus kok di pusat kota seperti Hotel Sienna Inn, Hotel Summer bed and Breakfast, Hotel Aria Barito, maupun Fave Hotel. Harganya berkisar antara Rp 300.000,00 hingga Rp 600.000,00 semalam dan sudah termasuk sarapan untuk dua orang. Kalau ingin lebih hemat bisa di Hotel Metro, Hotel Mira, Hotel Andalas, Hotel Batara atau Guest House Kencana di Jalan Pulau Laut. Kalian hanya perlu membayar sekitar Rp 100.000,00 hingga Rp 200.000,00 semalam. Untuk pilihan tempat makan keluarga, kalian juga bisa mengajak keluarga kalian untuk makan di Pondok Tepi Sawah yang terletak di Jalan Ahmad Yani km 8,8. Menurut teman saya, tempat dan rasa masakannya cukup recommended meskipun harganya sedikit mahal.
Salah satu kamar di Guest House Kenanga
Untuk yang membawa kendaraan, di sekitar kantor banyak terdapat bengkel bagi yang membutuhkannya untuk servis, reparasi maupun sekadar isi angin saja. Sedangkan untuk pengguna mobil, kalian bisa mengganti aki maupun servis di Jago Aki yang terletak di Jalan Ahmad Yani km 8. Ohya, di sini juga ada klinik dokter gigi spesialis bedah mulut lho di dekat Jago Aki. Jadi jangan khawatir jika tiba-tiba kalian butuh jasa dokter gigi yang bagus dan recommended.

Mungkin kira-kira itu saja yang dapat saya bagikan selama kurang lebih satu setengah tahun berada di Banjarmasin. Mungkin masih banyak yang perlu saya eksplore lagi. Gambar maupun tambahan informasi akan saya update lain waktu. Semoga gambaran mengenai kota Banjarmasin ini bermanfaat dan membuat kalian sedikit diberi kesiapan saat mendapat penempatan di kota seribu satu sungai ini. Semoga beruntung dengan penempatan kalian nanti. Syukuri saja dimanapun itu.



0 komentar:

Post a Comment