Showing posts with label Pernik. Show all posts
Showing posts with label Pernik. Show all posts
, ,

Perpustakaan Mini di Rumah

source: www.google.com
"Mas, pokoknya rumah kita nanti harus ada perpustakaan mininya, ya." pintaku pada suami suatu hari yang kemudian hanya dijawabnya dengan senyum sambil berujar "Iya boleh. Tapi beli rumahnya dulu, ya sayang." Aku pun hanya bisa tersenyum maklum.

Salah satu kegalauan yang bakalan melanda pasangan muda generasi milenial adalah mengenai rencana membeli rumah tinggal, tak terkecuali juga buat aku dan suami. Namun, aku tidak akan membahasnya kali ini. Mungkin lain kali pada postingan terpisah supaya lebih jelas. Sejak dulu, entah mulai kapan, aku selalu menyimpan mimpi kecil memiliki sebuah perpustakaan mini di rumahku. Satu ruang kecil berisi beberapa rak buku yang tertata rapi dengan beberapa kursi atau sofa baca di sekitarnya. Tentunya dengan tambahan pencahayaan yang cukup dan dilengkapi jendela yang bisa dibuka untuk mengalirkan udara segar ke dalam ruangan. Tak lupa juga harus ada satu buah meja kecil tempat menaruh vas bunga dan bingkai foto untuk little family portrait. Perpustakan miniku haruslah senyaman itu. 

Bagaimana permulaannya? Maka, aku akan butuh untuk mengenang kembali masa sekolah. Sekolahku dulu sama seperti sekolah-sekolah lain yang menyediakan sebuah perpustakaan sebagai tempat untuk para murid meminjam buku atau sekadar duduk-duduk membaca buku. Sejak aku masih duduk di sekolah dasar, aku dan beberapa temanku sudah suka meminjam buku cerita di perpustakaan. Ada banyak sekali jenis buku yang ku baca. Ada yang bertema cerita rakyat, pengetahuan umum seperti biografi penemu-penemu dunia, cerita fiksi, fabel, sejarah kepahlawanan, dan lain sebagainya. Salah satu buku cerita kesukaanku masa SD yang paling ku ingat adalah Oliver Twist karya Charles Dickens yang menceritakan secara tidak langsung tentang keadaan sosial masa revolusi industri di Inggris. Kegemaranku menyambangi perpustakaan ini terus berlanjut hingga aku SMP.  Salah satu buku favorit yang pernah ku pinjam di perpustakaan SMP adalah Ipung, Hidup ini Keras maka Gebraklah! karya Prie GS yang menceritakan perjuangan seorang anak desa yang berkesempatan menempuh pendidikan di salah satu SMA favorit di Semarang dengan segala drama kehidupannya (This was coincidentally recalling me about my own life story back then). Ohya, aku juga pernah mengikuti lomba sinopsis tingkat kabupaten saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama yang mengharuskanku membaca habis satu buah buku berisi tentang budidaya mutiara laut untuk ku ringkas dan ku ceritakan ulang ke dewan juri. Meski bukan bibliophile atau semacamnya yang lahap membaca segala macam jenis buku, aku termasuk orang yang cukup antusias terhadap buku, terutama pada jenis buku yang ku suka. Buku-buku karangan Pramoedya Ananta Toer  dan Eka Kurniawan misalnya. 

Saat masuk SMA, aku tidak lagi begitu sering membaca buku di perpustakaan. Perpustakaan SMA di tempatku kurang banyak menyediakan buku cerita atau novel untuk anak-anak seusia kami. Perpustakaannya lebih banyak menyediakan buku-buku pelajaran yang digunakan untuk referensi materi presentasi atau sebagai buku diktat saja. Ya, tapi memang itu sih yang paling kami butuhkan saat itu. Kadang-kadang, aku masih menyempatkan datang ke perpustakaan hanya untuk sekadar melihat-melihat ensiklopedia yang ada di sana. Melihat-lihat gambarnya sambil sesekali membacanya sekilas. Ensiklopedianya berisi mengenai tempat-tempat menarik di berbagai belahan dunia yang kemudian berhasil membuatku berkhayal bisa ke sana suatu hari nanti. Kalian tahu nggak? This is not a joke. Dampak positif membaca buku itu memang nyata dan luar biasa kalau bisa ku gambarkan dengan lebay. Bahkan untuk orang yang kadar kegemaran membacanya masih sangat cetek dan pilih-pilih sepertiku pun, aku bisa merasakan manfaatnya. Kalimat buku adalah jendela dunia itu bukanlah sekadar kalimat pajangan tanpa makna yang kalian baca secara repetitif di berbagai tempat. It's a deep thought someone could state, indeed. Dengan membaca buku, tanpa perlu mendatangi suatu tempat yang letaknya ribuan mil dari negaramu, kalian bisa tahu bagaimana gambaran tempat itu. Kalian bisa mengetahui statistika daerah lain yang bahkan kalian tidak pernah selintas pun punya ide untuk mendatanginya. 

Buku-buku yang berisi pandangan hebat, kritis, dan sarat inspirasi dengan berbagai macam jenis label dari para penulisnya, mampu melibatkan pembacanya untuk turut serta memahami jalan pikiran di penulis. Tak jarang, banyak yang terinspirasi mengikuti atau belajar menjadi pribadi yang lebih baik setelah membacanya. Kalian pasti pernah tahu Tereliye dan Andrea Hirata, bukan? Meskipun tidak semua karyanya ku suka, namun beberapa bukunya yang berhasil ku tamatkan sering kali mempengaruhiku secara receh untuk menjadi manusia yang lebih baik. Iya, sereceh itu hanya dengan membaca buku. Untuk membuat tulisan yang bagus dan berbobot pun, orang harus mempunyai banyak kosa kata bagus yang semua itu secara tidak sadar dapat mereka peroleh dari buku-buku yang pernah mereka baca. Naskah pidato yang hebat pun, sering kali dibuat oleh mereka yang sudah mempunyai daftar bacaan begitu banyak dan kompleks di bidangnya. 

Kalian pasti juga sering membaca kisah mengenai efek membaca buku pada beberapa orang yang bahkan mampu mengubah jalan hidup atau bahkan memperbaiki masa depannya. Memang bisa sebesar itu dampaknya. Negarawan atau tokoh-tokoh penting dan hebat di negara kita itu hampir semuanya doyan membaca buku aneka jenis. Jangan tanya sudah seberapa banyak buku yang berhasil mereka khatamkan. Mereka sendiri pun pasti sudah lupa jumlahnya. Jangan dikira mereka mampu menelurkan ide-ide cemerlang dengan begitu saja. Peranan membaca buku pasti juga memegang andil cukup besar di sini. Buku adalah salah satu asupan gizi untuk otak. Ada rincian panjang mengenai daftar manfaat membaca buku yang tak perlu ku sebutkan di sini karena setiap orang pasti mampu menemukan sendiri manfaatnya bagi diri mereka. Bisa jadi akan sangat berbeda untuk setiap individu.

Berkaca dengan alasan-alasan tersebut, aku ingin (paling tidak) keluarga kecilku nanti dibangun dengan kesadaran yang tinggi akan pentingnya membaca buku. Membangun kecintaan pada buku di rumah. Pengenalan buku sejak dini dapat dilakukan dengan menyediakan berbagai jenis buku di rumah sesuai dengan usia perkembangan anak. Anak-anak mulai dikenalkan dengan buku sejak bayi, dari hal-hal kecil seperti pemberian cerita bergambar yang ada suaranya misalnya. Namun, tentu saja sebagai orang tua kita harus selektif dalam memilih buku yang akan dihadirkan di perpustakaan rumah. Terlebih lagi, di era sekarang ini banyak sekali kita temukan buku-buku cerita yang tidak sesuai dengan perkembangan usia anak dan bisa jadi justru memberikan dampak negatif kepada anak-anak kita. Aku ingin mulai membelikan buku-buku cerita kepada anak-anakku kelak dimulai sejak dia bayi. Sekadar mengenalkan warna dari gambar-gambar yang ada di buku cerita. Meskipun teknologi sudah begitu majunya, media cetak dalam bentuk buku tetap sangat dibutuhkan oleh anak-anak. Terlalu lama menatap layar gadget juga kurang baik untuk kesehatan mata. Untuk itulah, buku tetap harus hadir sebagai teman main anak.

Salah satu contoh model perpustakaan mini dari google image
Perpustakaan mini di rumah mungkin dapat dibangun seiring dengan selesainya pembangunan rumah kami nanti. Namun untuk urusan mengisi rak bukunya, tentu saja tidak bisa begitu saja menjadi langsung penuh. Perlu waktu untuk hunting buku dari sana sini. Tentu saja kita perlu mendatangi semacam book fair, event Big Bad Wolf setiap tahun, wara-wiri di gramedia atau toko buku lainnya, dan lain-lain. Hal ini agar koleksi perpustakaan mini di rumah kita bisa lengkap, up to date, dan bervariasi jenisnya. Aku akan melibatkan anak-anakku kelak dalam memilih jenis buku apa saja yang ingin mereka baca, sehingga minat bacanya bisa terus meningkat. Berbelanja buku juga bisa menjadi salah satu alternatif wisata kecil untuk keluarga manakala kehabisan ide. Ya, perpustakaan miniku masih ada di angan-angan. Aku bisa mencicilnya dari sekarang dengan menambah koleksi aneka jenis buku untuk perpustakaanku nanti. Tapi, kapan ya kira-kira punya perpustakaan mininya? 



Continue reading Perpustakaan Mini di Rumah
, ,

Belajar Menulis dengan Baik #1

source: unsplash.com
Sebenarnya, aku sudah suka menulis sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, literally tulisan tangan. Kenapa tulisan tangan? Karena masa kecilku belum mengenal komputer atau laptop. Dulu, aku dan teman-teman masa kecilku senang mengarang cerpen bebas (namanya sih cerpen namun pada praktiknya hanya terdiri dari beberapa paragraf saja, tidak sesuai dengan aturan cerpen yang sebenarnya), membuat majalah dan buku cerita bergambar handmade ala-ala, memasang mading sederhana di samping rumah, hingga menulis diary. Masa kecilku belum mengenal gadget seperti kebanyakan anak kecil jaman sekarang. Itulah sebabnya, apapun dapat kami jadikan mainan. Saking ‘kreatifnya’, apapun dapat kami bikin jadi aktivitas bermain. Anak-anak desa di generasi kami yang terbiasa dengan keterbatasan fasilitas bermain, justru tak pernah habis kreasi menciptakan mainan-mainannya sendiri. Sayangnya sih hasil cipta karya kami tersebut sudah hilang entah kemana karena tidak disimpan dengan baik. Terlebih, beberapa teman masa kecilku sempat pindah rumah. Selain itu, rumahku sendiri juga sempat mengalami beberapa renovasi sana-sini, sehingga banyak barang-barang yang dianggap tidak berguna, dibuang atau dibakar.

Wali kelasku saat duduk di bangku sekolah dasar juga sempat mewajibkan kami membuat buku harian yang harus diserahkan dan dinilai setiap hari. Buku harian kami ini isinya bukan curhatan melainkan rangkuman materi atau kumpulan soal-soal lengkap dengan jawabannya. Wali kelas membebaskan kami memilih subjek pelajaran yang akan kami gunakan sebagai bahan mengisi buku harian dengan batasan bahwa satu bahasan yang sama hanya boleh dipakai untuk lima kali penulisan. Tujuan menulis buku harian ini adalah untuk memaksa para siswa agar mau tak mau belajar setiap hari. Menulis merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengingat pelajaran. Dengan menulis tentang materi-materi pelajaran ini, para siswa mau tak mau secara otomatis harus membaca materi pelajaran yang akan ditulisnya. Dengan begitu, minat bacanya juga akan meningkat. Kebiasaan ini kami lakukan selama 3 tahun karena kebetulan wali kelasku tersebut ingin tetap mengajar di kelas kami selama itu pula.

Kebiasaan menulis tangan tidak begitu saja ku tinggalkan saat aku sudah lulus sekolah dasar. Aku masih aktif menulis diary ala-ala khas diary remaja sampai aku lulus SMP. Isinya pun tak jauh dari aktivitasku sehari-hari. Anyway, kalau mau mencari curhatan percintaan, tidak akan kalian temui di dalam diary ku tersebut. Diary ku ini murni hanya sekadar tulisan tentang aktivitas rutinku maupun tumpahan perasaan yang mungkin sempat ku rasakan di hari-hari tersebut. Selain itu, banyak pula terselip cerita tentang bagaimana jalinan persahabatanku kala itu. Anaknya emang rada-rada setia kawan gitulah. Selepas SMP, aku sudah tidak lagi menulis diary. Entah karena aku mulai malas, atau mungkin karena aktivitas di SMA sudah sangat banyak menyita waktuku. Apalagi aku anaknya lumayan aktif berorganisasi dan banyak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di sekolah.

Ohya, pada saat kelulusan SMP, seorang guru Mata Pelajaran Matematika memberikan hadiah buku saku kepada seluruh siwa-siswi yang berhasil mendapatkan nilai Ujian Nasional sempurna khusus Mata Pelajaran Matematika. Kebetulan aku salah satunya. Buku saku yang ku dapat ini berisi tentang cara membuat dan mengelola blog pribadi. Sebagai anak sekolah yang belum banyak mengenal internet kala itu, istilah blog masih sangat asing di telingaku. Meski demikian, buku saku tersebut entah bagaimana ceritanya tetap saja lahap ku baca habis. Tidak berhenti di situ, rasa penasaranku tentang blog pun berlanjut. Aku mulai mencari tahu selengkapnya mengenai blog saat aku masuk SMA. Kebetulan sekali mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi Komputer) menyediakan labolatorium yang berisi komputer dengan jaringan internet. Guru TIK pun mewajibkan kami untuk membuat blog pribadi. Alhasil tepat di tahun 2008, aku resmi membuat blog pribadi melalui www.blogger.com sesuai dengan petunjuk pada buku saku yang pernah ku baca.

Berhubung blog berbeda dengan media sosial atau tidak semenarik media sosial seperti friendster atau sebangsanya, tidak banyak teman-teman yang tertarik untuk menghidupkan blognya. Rata-rata blog mereka didiamkan begitu saja tanpa aktif diisi. Aku pun tidak punya teman untuk menulis blog. Meski demikian, aku lumayan aktif mengisi blogku dengan aktivitas sehari-hari atau informasi-informasi terkini dalam bahasaku sendiri. Rupanya, blog ini menjadi diary online buatku setelah kebiasaan menulis tangan sudah lama ku tinggalkan.

Bahasa tulisan yang ku pakai dalam blog pribadiku dulu sangat kacau bahkan cenderung alay (dulu sih itu termasuk bahasa keren kayaknya ya). Bentuk tulisan maupun tata bahasanya benar-benar bisa membuat pusing penulisnya sendiri ketika sekarang membacanya ulang. Like, what the hell I just wrote? Sebenarnya, blog lamaku itu masih aktif sampai dengan sekarang. Aku secara ajaib masih mengingat alamat email dan password blogku kala itu. Tentu saja namanya pun tetap alay. Aku sudah mencoba melakukan perombakan tulisan maupun desain blognya sebisaku. Namun berhubung terlalu banyak tulisan dan remeh-temeh lainnya, aku pun menyerah. Banyak tulisan-tulisan lamaku itu akhirnya ikhlas ku hapus secara massal. Aku juga mengubah privasi blogku, sehingga hanya pemiliknya saja yang dapat membacanya. Di tahun 2012, tepatnya saat aku sudah kuliah semester 3, aku akhirnya membuat blog baru. Tujuannya kali ini benar-benar ingin belajar menulis. Aku pernah membaca kutipan buku Pramoedya Ananta Toer yang berbunyi “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Berbekal dari kutipan tersebutlah, aku merasa harus belajar untuk menuangkan kata-kata dalam bentuk tulisan. Belajar menulis dengan baik dengan tata bahasa yang baik juga merupakan bentuk dari mencintai bahasa itu sendiri, khususnya bahasa Indonesia.

Aku suka sekali membaca tulisan-tulisan blogger lain yang sudah terbilang pro dalam dunia tulis menulis. Banyak yang akhirnya menjadi influencer. Aku selalu salut dengan cara mereka menuangkan ide-ide dalam bentuk tulisan. Pemilihan diksinya sangat jeli dan rinci hingga menghasilkan tulisan yang kritis dan berbobot. Susunan bahasanya rapi, kosa katanya luas. Bahkan banyak juga yang menggunakan bahasa asing sebagai bahasa penulisan. Menulis dalam bahasa yang bukan bahasa ibu sendiri (mothertongue) namun tetap menghasilkan tulisan yang berbobot itu level sulitnya dua kali menurutku. Ajaibnya, banyak yang menjadi blogger pro tersebut berusia tak jauh berbeda dengan usiaku, bahkan beberapa masih lebih muda dariku. Terkadang itu juga yang membuatku minder untuk membagi blogku kepada orang lain. Like, emangnya ada yang mau baca, Fah? Kata suamiku, kalau tetap tidak percaya diri membagi tulisan blog kepada orang lain, kapan majunya? Bagi yang suka membaca, menulis seharusnya menjadi kegiatan sepaket. Agar apa yang sudah kita baca dapat diikat oleh waktu dalam bentuk tulisan.

Beberapa waktu yang lalu, aku sempat bergabung dengan salah satu komunitas blogger Indonesia, yaitu Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB), logonya dapat kalian lihat sendiri di blogku. Kalian dapat ikut bergabung juga jika bersedia. Komunitas ini ku dapat dari facebook beberapa teman kuliahku yang rupanya sudah terlebih dahulu aktif menjadi member. Aku pun memberanikan diri untuk bergabung meski awal buka grup tersebut, aku langsung minder dengan kualitas tulisan member lain. Namun, sudah mau bergabung dengan komunitas merupakan kemajuan tersendiri untukku. Setidaknya aku mendapat lebih banyak inspirasi dan guru untuk menulis. Terlebih lagi, variasi tema blog para member grup sangat beragam. Lagipula yang terpenting dari semua itu adalah tidak ada kata terlambat untuk belajar menulis. Tidak pernah ada waktu yang paling tepat untuk mulai belajar menulis. Selama masih ada waktu dan kesempatan, lakukan saja. Bukankah menulis ya tinggal menulis saja tanpa henti asal menjadi tulisan? Setiap ada ide, tulis saja dulu. Perkara isinya bagus atau tidak itu urusan belakangan. Toh, selagi apa yang kita tulis tersebut bukanlah hal yang buruk.


PS: Budaya membaca dan menulis definitely bakal aku terapkan pada anak-anakku kelak. It’s a very good habit af.


Continue reading Belajar Menulis dengan Baik #1
, ,

Tentang Kisah Cinta

Di umur yang sebentar lagi memasuki silver age dan bahkan sudah berumah tangga, agaknya membicarakan kisah cinta menjadi sedikit terdengar menye-menye dan apalah-apalah. Hahaha, but it’s fine then. It doesn’t always make you seem to be hopeless romantic though. It's normal.

Dari dulu, aku bukan tipikal orang yang bisa dengan mudah curhat panjang lebar ke orang lain mengenai kisah cinta. Entahlah, aku selalu merasa bahwa kisah cintaku tidak cukup menarik untuk diceritakan. Bahkan olehku sendiri. Kalau ku ingat-ingat lagi, kayaknya aku belum pernah curhat tentang masalah percintaanku years back, like for what? Ini bukan soal kisah cinta naksir-naksir alay gebetan lho ya, tapi tentang hubungan yang sedang benar-benar dijalani. Kalau naksir-naksir alay mah buat seru-seruan unyu-unyu sama teman-teman saja biasanya. And, I guess every teenagers experiences. Terkadang saat aku kepancing untuk cerita, bukan cerita yang panjang lebar lho ya, ujung-ujungnya pasti nyesel sendiri. Biar apasih gitu. I’m really talkative but I’m not really good in speaking and telling. Am I an introvert? Not really.

Aku penganut prinsip, mendingan orang mengetahui kapan permulaan dan kapan akhirnya saja. Meski demikian, aku selalu tertarik kok dengan kisah cinta orang lain, misalnya saja bila ada teman atau sahabat yang kebetulan menjadikanku teman curhatnya. Menjadi pendengar curhatan teman soal kisah cinta tidak harus berpengalaman juga tentang percintaan sih menurutku. Syaratnya yang penting punya telinga buat siap mendengarkan saja. Saat masih duduk di bangku SMP-SMA, aku sudah sering menjadi teman curhat teman-temanku tentang kisah percintaan mereka padahal aku sendiri belum pernah mengalami. Biasanya sih, orang curhat hanya ingin mencari tempat untuk mencurahkan beban di kepala dan hatinya saja supaya lebih lega. Mereka hanya butuh didengarkan saja dengan tulus dan mendapat jaminan bahwa rahasia mereka aman.

Pada dasarnya, mereka yang mempunyai masalah percintaan tidak benar-benar butuh solusi dari orang lain because they have already had their own choices and ways to solve it. Saran kita pun tidak akan sungguh-sungguh didengarkan juga kecuali bila memang mereka datang untuk meminta solusi. Jadi, saat mendengarkan mereka bercerita, ada baiknya kita tidak perlu terlalu sok tahu mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang seharusnya dilakukan. Biarkan saja mereka bercerita sepuas mereka hingga esensi curhatnya tersampaikan, yaitu lega. Tidak perlu juga membela atau menyalahkan pihak kedua yang menjadi tokoh dalam cerita temanmu yang biasanya adalah pasangan atau gebetannya. Lagipula, nggak ada yang baik juga dari sikap ngompor-ngomporin orang anyway. Sebaiknya, kita cukup menjadi orang yang berdiri di tengah-tengah mereka saja. Balik lagi dari awal bahwa tujuan mereka curhat biasanya hanya agar hatinya lega saja. Bukan malah dikasih solusi sok tahu apalagi judgmental dari kita yang bahkan menjalaninya saja enggak.

Meskipun kebanyakan orang datang bercerita hanya untuk didengarkan saja, beberapa juga datang benar-benar ingin meminta saran atau masukan. Terkadang, saat mendengar sahabat atau teman baik kita curhat, sisi seksis kita mengajak untuk membela teman kita tersebut yang notabene adalah sama-sama perempuan. Aku pun sering kali seperti itu. Merasa bahwa teman atau sahabatku diperlakukan dengan tidak adil. Then, what? Mau kita membela seperti apapun, tidak menyelesaikan masalah juga anyway karena toh nanti ujung-ujungnya mereka akan berbaikan juga dengan pasangannya, lalu siapalah kita selanjutnya? Hanya menjadi seseorang yang terlihat sok tahu saja. Jadi, ketika memberikan saran atau masukan, berusahalah menahan diri sebisa mungkin untuk tidak berdiri pada satu sisi. Bersikaplah sebagai seorang penengah. Belajar untuk melihat segala sesuatu tidak hanya dari satu sisi saja. Itulah mengapa, memberikan saran atau nasihat itu butuh sesuatu bernama kebijaksanaan. Nggak semua orang punya dan bisa memakainya di saat yang tepat.

Apa sih takaran keberhasilan kita dalam memberikan masukan atau menjadi pendengar curhatan teman? Hubungan sahabat atau teman dengan pasangannya langgeng? Balikan? Ah enggak gitu juga. Aku sendiri  juga tidak bisa mengukurnya karena yang bisa merasakan hasilnya adalah orang yang curhat itu sendiri. Lagipula, menurut sepenglihatanku, bercerita kepada seseorang itu sebenarnya lebih kepada perasaan nyaman saja. Kita itu nyamannya berbagi dengan siapa. Mau solutif atau tidak, kita juga akan kembali ke orang yang sama. Entah karena males gonta-ganti teman curhat atau memang sudah percaya pada orang yang sama. Biarkan mereka menakar sendiri kisah cintanya aman dibagikan kepada siapa. Ada beberapa orang yang bahkan nyaman-nyaman saja berbagi kisah cintanya kepada banyak orang. Entah dekat atau tidak. Orang kan memang macam-macam tipenya. Hanya memang sebagai teman baik atau sahabat, kita sering kali lebih vocal untuk memberi nasihat kepada sahabat kita apabila kita merasa apa yang dijalaninya tersebut sudah tidak sehat lagi untuk hati dan pikiran serta masa depannya. Realistis saja. Lagipula, siapa sih yang ingin melihat sahabatnya berakhir tidak bahagia? After all this time, nope.

Balik lagi soal kisah cinta, meskipun aku bukan tipikal orang yang suka curhat tentang kisah cintaku. Bukan berarti kisah cintaku tidak indah atau kurang unyu untuk diceritakan. Setidaknya kisah cinta sejati lho ya (ehem). Aku percaya satu hal, selain cinta sejati kedua orang tua kita atau saudara-saudara kita, kita berhak mendapat cinta sejati juga dari orang asing yang biasanya kita sebut sebagai soulmate, pasangan hidup atau jodoh kita. Menurutku itu saja yang patut untuk diingat, sisanya cukup diambil pelajarannya saja. Aku percaya bahwa setiap orang punya kisah cinta sejatinya masing-masing, pasti. Tinggal masalah waktu saja. Bukan sok dramatis ya, bukankah dalam agama juga dijelaskan bahwa jodoh itu sudah diatur bahkan sejak kita masih dalam kandungan? I have my own love story. It’s a happy story for me and I don’t think to share it offhandedly and clearly to anyone. Better to keep it to my self for the best part. Sisanya yang seperlunya saja dibagikan. Ya, membagi kisah percintaan terkadang juga menyenangkan kok. Dan, sebaiknya tidak berlebihan. Being romantic is not really my thing, but I love giving sweet things to my partner only to show how much I love him. Fortunately, we both do the same way.

Anyway, lagi iseng ngetik-ngetik postingan ini tiba-tiba teman-teman kantor sedang asyik membahas kisah percintaan bendahara kantor lalu berakhir dengan kepo-kepo kisah percintaanku dengan suami. Duh, ku sebaiknya melipir saja daripada kepancing terus malu sendiri sama suami. Haha, by the way sebenarnya apasih yang sedang ku bicarakan ini. Emak-emak kok ngomongin bahasan ABG. Enough.


I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways
Maybe just the touch of a hand
Oh me, I fall in love with you every single day
And I just wanna tell you I am
-Ed Sheeran


Credit gambar: unsplash.com
Continue reading Tentang Kisah Cinta
, ,

Main-main ke Pelabuhan Rakyat Waingapu

Tadi pagi selepas mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-72 di kantor, aku dan suami berencana untuk mampir belanja sebentar ke salah satu swalayan langganan kami. Rencananya aku mau membeli garam dapur dan beberapa perlengkapan sehari-hari yang kebetulan sedang habis. Karena datang terlalu pagi, swalayan yang biasanya kami datangi itu ternyata masih belum buka. Kami pun memutuskan untuk langsung pulang saja. Sayangnya, jalanan yang tadi kami lewati sedang dalam penjagaan polisi karena masih ada penyelenggaraan upacara bendera. Kami pun disarankan untuk mengambil jalan memutar saja melewati pelabuhan.
                                         Gerbang masuk Pelabuhan Rakyat Waingapu                                      
Nah, kebetulan ini adalah kali pertamanya aku melewati pelabuhan di pagi hari. Saat melintasi jalanan sekitar pelabuhan, aku dibuat takjub oleh pemandangan laut yang terhampar di sepanjang jalan. Aku pun langsung meminta kepada suami untuk berhenti sebentar menikmati suasana laut di Pelabuhan Rakyat Waingapu. Karena kami datang lumayan pagi dimana jarum jam bahkan belum menunjuk angka pukul 9, suasana di pelabuhan terlihat masih sepi. Hanya ada beberapa motor saja terlihat sedang parkir di bibir pelabuhan. Meski sudah mulai terik dan terlihat ada sedikit sampah di area pinggir pelabuhan, aku tetap dapat menikmati suasana lautnya. It's amazingly beautiful that I can't resist. 
Kesan pertama saat masuk pelabuhan
Beberapa kapal kecil terlihat sedang menepi
Birunya langit berpadu dengan jernihnya air laut membuat kombinasi warna lazuardi terlihat seperti lukisan alam. Meskipun ini hanyalah pelabuhan kecil, hamparan laut di sekitar pelabuhan masih belum gagal membuatku terpesona. Suasana ini terlihat sempurna dengan aksen pemandangan bukit-bukit kota Waingapu yang mengepung area pelabuhan. Perpaduan harmonis dari alam yang bahkan membuat ekpektasiku meningkat tentang kota ini.
Salah satu kapal yang menepi, terlihat menara mercusuar
Airnya jernih sekali
Dari jauh, kami dapat melihat menara mercusuar berdiri di seberang sisi lain pelabuhan. Aku dan suami hanya sempat mengitari satu sisi pelabuhan saja dan ku rasa itu cukup memuaskan keinginanku melihat laut. Air laut terlihat tenang tanpa ombak, mungkin karena ini adalah laut utara yang ombaknya tidak sebesar laut selatan. Meskipun terlihat jernih dan dangkal, aku tidak melihat ada yang berenang di tepian laut. Rasanya gemas melihat air sejernih ini menganggur begitu saja di depan mataku. Ingin rasanya turun ke bawah sejenak untuk bermain air. Tapi ku urungkan saja niat itu karena aku sendiri cukup penakut untuk membayangkan apa yang ada di bawah permukaannya.
Salah satu gudang di pelabuhan
Jalan di tepian pelabuhan
Pelabuhan Rakyat Waingapu ini menjadi salah satu punggung perekonomian yang menghidupi masyarakat setempat. Banyak kapal ikan maupun kapal barang dari berbagai pulau singgah ke sini untuk membawa aneka kebutuhan. Seperti pernah ku ceritakan sebelumnya, meskipun dekat dengan pelabuhan tak lantas membuat harga ikan di Waingapu menjadi murah. Kalian akan menemukan berbagai macam penjual ikan menggelar dagangannya di area depan gerbang pelabuhan dengan harga eceran yang terbilang cukup mahal. Aku membuat perbandingan harga ikan ini dengan yang ada di kota Banjarmasin. Mungkin memang hasil ikan di pelabuhan ini tak sebanyak yang dibayangkan. Di dalam arena pelabuhan, terdapat banyak warung-warung makan yang menjajakan seafood sebagai menu andalan. Sayangnya, warung makan tersebut hanya buka di malam hari, sehingga pengunjung tidak bisa menikmati pemandangan laut seindah pagi ini.
Air surut dan bakau atau mangroov
Jalanan di pinggir pelabuhan
Hutan Mangroov kecil
Surutnya air laut
Saat meninggalkan pelabuhan, aku dan suami menemukan beberapa titik pelabuhan yang airnya terlihat surut. Di sana banyak ditumbuhi pohon bakau laksana hutan mangroov kecil. Banyak kapal yang terdampar di area itu yang menandakan bahwa air laut pernah mencapai area itu pada suatu waktu. Aroma amis ikan dapat kami cium di sepanjang jalan namun tidak begitu tajam mengganggu. 
Masih tentang hutan bakau
Sesekali menikmati suasana pelabuhan di kala hari masih cerah mungkin memang perlu agar tidak merasa suntuk. Mungkin memang tak banyak yang bisa disaksikan, namun bagi pendatang sepertiku, hal ini menjadi hiburan tersendiri. Rupanya ini adalah kado kecil yang kota ini suguhkan kepadaku di hari kemerdekaan. Tidak mengecewakan ku rasa. Terlebih sepanjang perjalanan pulang, aku dimanjakan dengan pemandangan laut maupun bukit-bukit kota Waingapu yang cukup indah dipandang mata. Belum puas menikmati laut di sekitar pelabuhan, suami mengajakku untuk melihat salah satu hotel yang terkenal di kota Waingapu, yaitu Pradadita Beach Hotel yang tepat berada sejalur dengan pelabuhan. 
Hotel Pradadita
Jalanan menuju hotel
Hotel Pradadita ini termasuk salah satu hotel terbaik yang ada di kota Waingapu. Hotel yang berada di Jalan Erlangga Pradadita, Prailiu ini menawarkan pemandangan laut sebagai bonus yang dapat dinikmati oleh para pengunjung. Banyak kamar yang tersedia dengan view langsung ke Pantai Waingapu. Jalanan menuju ke hotel terbilang cukup bagus karena belum lama ini diperbaiki. Meskipun terlihat eksklusif karena tepat di kanan kiri hotel hanya ada lahan kosong pinggir laut, hal ini tidak mengurangi nilai jual Hotel Pradadita di mata turis. Mungkin lain kali kami harus staycation sejenak untuk dapat melihat suasana di dalam hotel sekaligus menikmati layanan kamar di Pradadita Beach Hotel ini. Di samping itu, rate yang ada di beberapa web juga terbilang cukup baik. Jadi, tidak ada salahnya untuk mencoba.
Via Booking.com
Lain kali bila kami sudah merasakan sendiri layanan dari hotel ini, akan ku bagikan di blogku mengenai reviunya. Sekali lagi, tidak ada salahnya lho menjadikan hotel ini sebagai pilihan tinggal saat kalian bertandang ke Waingapu. Nah, itu saja sedikit cerita jalan-jalanku ke pelabuhan dan berlanjut melihat sekilas salah satu hotel yang berada sejalur dengan pelabuhan. Semoga bermanfaat ya.



Continue reading Main-main ke Pelabuhan Rakyat Waingapu
, ,

Kesan Pertama Pada Kota Waingapu

Pertama kalinya tiba di kota asal kuda sandlewood ini, saya langsung disuguhi dengan teriknya panas matahari yang seakan membakar kulit. Kota yang terletak di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur ini sama seperti kebanyakan gambaran daerah Timur lainnya yang terkesan gersang dan langka sumber air. Meskipun beberapa tahun belakangan, kondisi gersang dan kesulitan air tersebut sudah cukup dapat diatasi oleh pemerintah setempat. Dari atas pesawat, saya dapat menyaksikan bukit-bukit Pulau Sumba yang terlihat mulai menguning di akhir Bulan Mei. Rupanya saya sedikit kurang beruntung saat itu. Menurut penuturan suami saya, bukit-bukit itu akan terlihat hijau dan cantik pada musim penghujan. 
Gerbang Bandara
Pulau Sumba terdiri dari empat kabupaten yang terpisah cukup jauh satu sama lain, yaitu kabupaten Sumba Timur, kabupaten Sumba Barat, kabupaten Sumba Barat Daya, dan kabupaten Sumba Tengah. Kondisi medan yang kurang baik dan luasnya Pulau Sumba sendiri itulah yang membuat akses ke kabupaten lain terasa sangat jauh. Kota Waingapu sendiri berada di daerah kabupaten Sumba Timur. Salah satu keuntungan berada di kota ini adalah adanya bandar udara Umbu Mehang Kunda. Hal ini cukup memudahkan mobilitas antarpulau. Transportasi yang digunakan oleh masyarakat setempat adalah kendaraan bermotor pribadi. Untuk angkutan umum seperti angkot atau bus, armadanya sangat terbatas dan cenderung tidak terawat. Suaranya begitu bising dengan hiasan yang sangat ramai. Selain itu, rutenya juga kurang jelas.
Sekilas bandar udara Umbu Mehang Kunda
 Kondisi jembatan dan sungai dekat bandara
Terdapat perahu kecil parkir di tepian sungai
Tepat di jalan depan bandara, terdapat jembatan di atas sungai yang cukup lebar. Air sungai nampak berwarna hijau. Secara mengejutkan, sungai tersebut terlihat sangat indah. Di samping kanan kirinya banyak ditumbuhi pepohonan yang menambah rindang suasana. Arus sungai terlihat tenang yang kemungkinan menandakan kondisi sungai tersebut cukup dalam. Sesekali terdapat perahu kecil atau rakit terlihat mengarungi sungai. Konon katanya, kadang-kadang muncul buaya air tawar di wilayah sungai tersebut. Buaya-buaya tersebut bersembunyi di dalam air dan sesekali menampakkan diri. Sering kali anak-anak bubaran sekolah mampir untuk menyaksikan keindahan sungai atau sekadar bermain di jembatan bersama teman-temannya.
Jalanan dari dan ke bandara
Jalanan kota Waingapu sudah beraspal dan lumayan lebar. Di sepanjang jalan, saya sempat memperhatikan pemandangan di kanan kiri jalanan yang saya lalui. Terlihat kebun-kebun luas milik warga atau pemerintah setempat yang banyak ditumbuhi Pohon Kelapa memenuhi hampir sebagian besar pemandangan di luar mobil yang saya tumpangi bersama suami. Saya sempat mengira akan menemui sabana atau padang-padang rumput yang luas seperti bayangan pertama tentang Pulau Sumba. Namun, tak banyak yang bisa saya temui. Pemandangan seperti itu mungkin akan mulai terlihat di sekitar jalanan menuju pantai. Saya menjadi tidak sabar untuk mengenal lebih jauh tentang kota ini. Meskipun belum-belum, saya sudah mulai khawatir kulit saya akan menggelap dengan cepat mengingat teriknya kota ini di siang hari. Terlebih lagi, tidak akan dapat saya temui klinik-klinik perawatan kecantikan yang bagus seperti yang ada di Pulau Jawa atau Kalimantan.
Lahan-lahan kebun di dekat bandara
Destinasi pertama saya saat tiba di kota ini adalah sebuah warung makan tak jauh dari bandara dengan nama Warung Bakoel. Saya penasaran dengan cita rasa setempat meskipun sudah mendapatkan sedikit bocoran dari suami saya. Makanan di sini porsinya sangat besar, semacam porsi kuli atau bahkan lebih besar dari porsi nasi padang yang dibungkus. Banyak perantau mendadak menjadi gemuk lantaran akhirnya terbiasa makan dengan porsi yang digunakan oleh orang Waingapu. Karena merasa tidak terlalu lapar, saya cukup memesan capcay saja. Rasanya sedikit lebih asin dan porsinya tentu saja cukup besar sehingga banyak pula yang saya sisakan. Bila kalian memesan es jeruk, maka yang kemungkinan akan datang adalah es jeruk nipis atau terkadang malah es nutrisari. So please just kindly ask them first. Namun, es jeruk nipisnya lumayan manis dan rasanya sangat segar. Meskipun tentu saja masih ada cita rasa asam khas jeruk nipis.
ATM di sekitar saya
Orang-orang di sini kebanyakan adalah suku Sumba yang bahasa sehari-harinya mirip dengan bahasa Indonesia namun dengan aksen daerah Timur dan banyak menyingkat dalam penggunaan kata-katanya. Orang-orang di sini lumayan ramah dan suka sekali berpesta. Katanya, setiap kali menyelenggarakan pesta, mereka dapat bertahan sampai dengan pagi hari sambil berdansa dan menari. Kebanyakan orang sini merupakan nasabah bank BRI. Hampir di setiap papan tulisan ATM, isinya adalah ATM Bank BRI. Meskipun demikian, bank-bank lain juga ada cabangnya di sini seperti Bank Mandiri, Bank BNI, dan Bank NTT. Agama mayoritas penduduk lokal adalah agama kristen, sehingga banyak kami temui gereja-gereja besar di tengah kotanya. Meskipun demikian, di dekat kantor juga terdapat beberapa bangunan masjid dengan ukuran yang lumayan besar. Mencari makanan halal di sini juga sangat mudah meskipun pilihan warung makannya tidak banyak. Kebanyakan penjual warung makan di sini justru pendatang, misalnya adalah orang Jawa.
Masjid At Taqwa Kemalaputi
Salah satu gereja di pusat kota
Salah satu warung langganan, pemiliknya orang Jawa
Yang unik dari yang saya temui selama beberapa hari berada di Waingapu adalah penggunaan helm yang hanya diwajibkan pada pengemudi depannya saja. Penumpang belakang yang membonceng tidak masalah jika tidak memakai helm. Mereka sering kali menerobos lampu merah jika detik waktunya sudah  mencapai angka 5. Berbeda sekali saat berada di pulau lain yang biasanya harus menunggu sampai lampu hijau untuk bisa jalan. Lama-lama, kami jadi latah ikut-ikutan saat sedang terburu-buru.
Penumpang belakang tanpa helm
Keunikan lainnya adalah jika di daerah lain orang-orang sudah lama meninggalkan penggunaan bahan bakar minyak tanah dan beralih ke elpiji, lain ceritanya di Waingapu ini. Orang-orang masih menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar karena langkanya gas elpiji. Harga minyak tanah tergolong murah, yaitu empat ribu rupiah perliter sehingga tidak heran jika masyarakat masih menggunakannya sebagai bahan bakar sehari-hari. Inilah tantangan saya di era gas elpiji, saya masih harus memasak menggunakan kompor minyak. Tidak berat sebenarnya, saya hanya cukup mengulang kembali pengalaman saat dulu masih era minyak tanah.
Penampakan kompor minyak di rumah dinas
Satu jerigen minyak tanah yang dapat menampung 5 liter minyak
Rumah Sakit Kristen Lindimara
Saya dan suami tinggal di rumah dinas yang terletak di daerah Tandai Rotu dekat dengan Hotel Tanto dan Rumah Sakit Kristen Lindimara. Hotel Tanto ini mungkin dari depan terkesan kecil layaknya bangunan rumah minimalis. Namun jangan salah, hotel ini lumayan luas dengan tipe hook sehingga membuatnya mempunyai dua pintu gerbang. Kondisi rumah dinas kami lumayan bagus (jika dibandingkan dengan rumah dinas di Banjarmasin tentu saja because that's kinda the worst). Area rumah dinas kami terletak sedikit tersembunyi di belakang sekolah. Kompleksnya lumayan luas dan hanya terdapat lima bangunan rumah dengan masih menyisakan beberapa lahan kosong yang sering kali dijadikan tempat parkir mobil atau truk milik pegawai kantor. Kondisi air di rumah dinas lumayan lancar meskipun debit airnya terbilang kecil. Itu saja sudah menjadi hal yang cukup saya syukuri saat tiba di sini.
Halaman rumah dinas bonus foto dedek
Rumah dinasku, abaikan mas-mas berhelm merah
Kondisi sekitar rumah dinas
Hal lain yang saya pertanyakan saat tiba adalah letak pasar maupun supermarket. And don't ever expect something like Indomart, Alfamart, Giant, or even a Mall. Just don't. Di sini tidak ada Indomart, Alfamart, atau bahkan Mall. Untuk membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari di kota ini, kalian dapat pergi ke beberapa swalayan atau minimarket lokal seperti Q Mart, Seven Mart, Lyon Nusantara, dan lain-lain. Barang-barang yang dijual pun kurang lengkap dan harganya sangat mahal jika dibandingkan dengan Pulau Jawa atau Kalimantan mengingat kebanyakan barang didatangkan dari luar pulau. Menurut pengamatan saya, Lyon Nusantara ini paling miring kalau soal harga meskipun secara stok kurang lengkap.
Salah satu minimarket dekat kantor
Malam hari pertama di Waingapu, saya dan suami serta rekan-rekan kantor diajak oleh kepala kantor untuk makan seafood di dekat pelabuhan. Kebetulan, kedatangan kami ini berbarengan dengan kunjungan salah satu pegawai dari KPPN Amlapura yang datang dalam rangka pembuatan inovasi. Memesan makanan di rumah makan yang ada di kota Waingapu ini harus dibekali dengan kesabaran yang ekstra karena proses masak dan penyajiannya memerlukan waktu yang cukup lama. Terkadang, makanannya sudah dalam keadaan sedikit dingin saat sudah dihidangkan. Menurut saya, seafood nya kurang berasa karena dibakar dalam keadaan segar dengan sedikit rempah saja. Di Waingapu ini, meskipun lokasi kotanya dekat dengan pelabuhan, harga ikan tetap saja mahal dan tidak mudah juga untuk mendapatkannya. Saya sendiri heran mengapa demikian. Mungkin ikan memang langka.
Kondisi Pelabuhan di malam hari
Menunggu makanan datang
Hari kedua di sini, saya langsung menyempatkan diri mengunjungi pasar tradisional yang terletak tak jauh dari kantor. Meskipun terkesan cukup luas, ternyata bahan-bahan kebutuhan sehari-hari yang dijual di sana terbilang kurang lengkap dan tentu saja sekali lagi, harganya sangat mahal. Saya sering kali harus banyak-banyak mengelus dada setiap kali bertanya harga bahan makanan. Sayuran dan bumbu dapur kebanyakan dijual dalam jumlah dan ukuran yang telah ditentukan. Misalnya saja kol putih, kalian harus membelinya dalam kondisi utuh seharga dua puluh lima ribu rupiah perbuahnya. Begitu pula dengan sawi hijau atau putih. Tidak peduli meskipun hanya butuh sedikit, kalian tetap harus membelinya utuh-utuh. Meski demikian ukurannya lumayan besar. Harga daging ayam di pasar sangat mahal. Untuk ayam broiler dipatok dengan harga sekitar 68.000/kilogram, sedangkan untuk ayam kampung sekitar 78.000/kilogram. Hal ini karena bibit ayam sengaja didatangkan dari luar pulau. Jika kalian naik pesawat Nam Air, berarti kalian sedang naik pesawat bersamaan dengan anak-anak ayam yang didatangkan dari luar pulau. Ohya jangan khawatir, harga daging ayam tersebut tidak jauh berbeda dengan harga daging sapi atau kambing. Ternak yang paling banyak dijumpai di sini memang ternak sapi atau kambing didukung dari keadaan geografis alamnya yang terdapat banyak padang rumput, sehingga tidak heran harganya jauh lebih murah dibandingkan di Jawa.
Pasar dekat bandara
Saya sempat menemui beberapa penjual asal Jawa yang terkadang masih bisa menjajakan dagangannya dengan ukuran sesuai kebutuhan pembeli. Misalnya saat membeli bumbu dapur. Di tempat lain, biasanya mereka sudah menakar ukurannya sedemikian rupa. Namun di penjual Jawa, saya masih bisa sekadar membeli setengah ukuran atau bahkan dengan spesifik menyebut jumlah. Entah saya yang terlalu peka atau bagaimana, saya merasa tipe rasa sayurannya sedikit berbeda dengan yang biasa saya temui. Sawi hijau terasa lebih pahit dan tomat khas Bima yang kurang cocok untuk dijadikan sambal.
Serangan hama belalang
Ohya saya sempat melihat hama belalang menyerang kota Waingapu pada awal bulan Juni lalu. Hal ini cukup bisa membuat saya melongo karena takjub dengan jumlah belalang yang datang. Kata orang-orang kantor, hal ini biasanya terjadi hampir tiap tahun di sini.
Patung kuda tak jauh dari taman kota
Kota Waingapu sendiri juga mempunyai taman kota layaknya kota-kota lain. Namun, kondisi taman kotanya bisa dibilang agak gersang karena tanamannya tidak banyak. Meskipun demikian, menurut suami saya kondisi sekarang sudah lebih mending dibandingkan dulu. Di dekat taman kotanya terdapat patung orang menunggangi kuda sebagai maskot dari kota ini. Sebenarnya, di jalanan kota juga masih sering kami jumpai orang-orang yang menaiki kudanya, terutama pada musim pertandingan balap kuda. Di siang hingga malam hari, banyak terdapat penjual makanan di area taman kota. Kami juga terkadang bisa membeli aneka buah-buahan.
Pemilik kuda
Sekilas gambaran taman dans sekitarnya
Awal di sini, saya agak takut dengan suara-suara anjing yang melolong setiap malam saut menyahut dari segala penjuru. Orang-orang di sini memang banyak sekali yang memelihara anjing. Namun lambat laun, saya mulai terbiasa. Saya memang belum bisa banyak bercerita mengenai hal-hal lain terutama terkait wisatanya karena setibanya di sini, saya dan suami sering kali sudah merasa lelah dengan aktivitas rutin sehari-hari sehingga belum menyempatkan diri untuk jalan-jalan. Terlebih lagi, saya sedang hamil muda. Kondisi saya tersebut tidak mengizinkan saya untuk jalan-jalan terlalu jauh mengendarai sepeda motor. Jika kondisi sudah memungkinkan, saya akan melanjutkan cerita tentang kota Waingapu di postingan-postingan saya berikutnya. Tunggu ya!


Continue reading Kesan Pertama Pada Kota Waingapu