, ,

Perpustakaan Mini di Rumah

source: www.google.com
"Mas, pokoknya rumah kita nanti harus ada perpustakaan mininya, ya." pintaku pada suami suatu hari yang kemudian hanya dijawabnya dengan senyum sambil berujar "Iya boleh. Tapi beli rumahnya dulu, ya sayang." Aku pun hanya bisa tersenyum maklum.

Salah satu kegalauan yang bakalan melanda pasangan muda generasi milenial adalah mengenai rencana membeli rumah tinggal, tak terkecuali juga buat aku dan suami. Namun, aku tidak akan membahasnya kali ini. Mungkin lain kali pada postingan terpisah supaya lebih jelas. Sejak dulu, entah mulai kapan, aku selalu menyimpan mimpi kecil memiliki sebuah perpustakaan mini di rumahku. Satu ruang kecil berisi beberapa rak buku yang tertata rapi dengan beberapa kursi atau sofa baca di sekitarnya. Tentunya dengan tambahan pencahayaan yang cukup dan dilengkapi jendela yang bisa dibuka untuk mengalirkan udara segar ke dalam ruangan. Tak lupa juga harus ada satu buah meja kecil tempat menaruh vas bunga dan bingkai foto untuk little family portrait. Perpustakan miniku haruslah senyaman itu. 

Bagaimana permulaannya? Maka, aku akan butuh untuk mengenang kembali masa sekolah. Sekolahku dulu sama seperti sekolah-sekolah lain yang menyediakan sebuah perpustakaan sebagai tempat untuk para murid meminjam buku atau sekadar duduk-duduk membaca buku. Sejak aku masih duduk di sekolah dasar, aku dan beberapa temanku sudah suka meminjam buku cerita di perpustakaan. Ada banyak sekali jenis buku yang ku baca. Ada yang bertema cerita rakyat, pengetahuan umum seperti biografi penemu-penemu dunia, cerita fiksi, fabel, sejarah kepahlawanan, dan lain sebagainya. Salah satu buku cerita kesukaanku masa SD yang paling ku ingat adalah Oliver Twist karya Charles Dickens yang menceritakan secara tidak langsung tentang keadaan sosial masa revolusi industri di Inggris. Kegemaranku menyambangi perpustakaan ini terus berlanjut hingga aku SMP.  Salah satu buku favorit yang pernah ku pinjam di perpustakaan SMP adalah Ipung, Hidup ini Keras maka Gebraklah! karya Prie GS yang menceritakan perjuangan seorang anak desa yang berkesempatan menempuh pendidikan di salah satu SMA favorit di Semarang dengan segala drama kehidupannya (This was coincidentally recalling me about my own life story back then). Ohya, aku juga pernah mengikuti lomba sinopsis tingkat kabupaten saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama yang mengharuskanku membaca habis satu buah buku berisi tentang budidaya mutiara laut untuk ku ringkas dan ku ceritakan ulang ke dewan juri. Meski bukan bibliophile atau semacamnya yang lahap membaca segala macam jenis buku, aku termasuk orang yang cukup antusias terhadap buku, terutama pada jenis buku yang ku suka. Buku-buku karangan Pramoedya Ananta Toer  dan Eka Kurniawan misalnya. 

Saat masuk SMA, aku tidak lagi begitu sering membaca buku di perpustakaan. Perpustakaan SMA di tempatku kurang banyak menyediakan buku cerita atau novel untuk anak-anak seusia kami. Perpustakaannya lebih banyak menyediakan buku-buku pelajaran yang digunakan untuk referensi materi presentasi atau sebagai buku diktat saja. Ya, tapi memang itu sih yang paling kami butuhkan saat itu. Kadang-kadang, aku masih menyempatkan datang ke perpustakaan hanya untuk sekadar melihat-melihat ensiklopedia yang ada di sana. Melihat-lihat gambarnya sambil sesekali membacanya sekilas. Ensiklopedianya berisi mengenai tempat-tempat menarik di berbagai belahan dunia yang kemudian berhasil membuatku berkhayal bisa ke sana suatu hari nanti. Kalian tahu nggak? This is not a joke. Dampak positif membaca buku itu memang nyata dan luar biasa kalau bisa ku gambarkan dengan lebay. Bahkan untuk orang yang kadar kegemaran membacanya masih sangat cetek dan pilih-pilih sepertiku pun, aku bisa merasakan manfaatnya. Kalimat buku adalah jendela dunia itu bukanlah sekadar kalimat pajangan tanpa makna yang kalian baca secara repetitif di berbagai tempat. It's a deep thought someone could state, indeed. Dengan membaca buku, tanpa perlu mendatangi suatu tempat yang letaknya ribuan mil dari negaramu, kalian bisa tahu bagaimana gambaran tempat itu. Kalian bisa mengetahui statistika daerah lain yang bahkan kalian tidak pernah selintas pun punya ide untuk mendatanginya. 

Buku-buku yang berisi pandangan hebat, kritis, dan sarat inspirasi dengan berbagai macam jenis label dari para penulisnya, mampu melibatkan pembacanya untuk turut serta memahami jalan pikiran di penulis. Tak jarang, banyak yang terinspirasi mengikuti atau belajar menjadi pribadi yang lebih baik setelah membacanya. Kalian pasti pernah tahu Tereliye dan Andrea Hirata, bukan? Meskipun tidak semua karyanya ku suka, namun beberapa bukunya yang berhasil ku tamatkan sering kali mempengaruhiku secara receh untuk menjadi manusia yang lebih baik. Iya, sereceh itu hanya dengan membaca buku. Untuk membuat tulisan yang bagus dan berbobot pun, orang harus mempunyai banyak kosa kata bagus yang semua itu secara tidak sadar dapat mereka peroleh dari buku-buku yang pernah mereka baca. Naskah pidato yang hebat pun, sering kali dibuat oleh mereka yang sudah mempunyai daftar bacaan begitu banyak dan kompleks di bidangnya. 

Kalian pasti juga sering membaca kisah mengenai efek membaca buku pada beberapa orang yang bahkan mampu mengubah jalan hidup atau bahkan memperbaiki masa depannya. Memang bisa sebesar itu dampaknya. Negarawan atau tokoh-tokoh penting dan hebat di negara kita itu hampir semuanya doyan membaca buku aneka jenis. Jangan tanya sudah seberapa banyak buku yang berhasil mereka khatamkan. Mereka sendiri pun pasti sudah lupa jumlahnya. Jangan dikira mereka mampu menelurkan ide-ide cemerlang dengan begitu saja. Peranan membaca buku pasti juga memegang andil cukup besar di sini. Buku adalah salah satu asupan gizi untuk otak. Ada rincian panjang mengenai daftar manfaat membaca buku yang tak perlu ku sebutkan di sini karena setiap orang pasti mampu menemukan sendiri manfaatnya bagi diri mereka. Bisa jadi akan sangat berbeda untuk setiap individu.

Berkaca dengan alasan-alasan tersebut, aku ingin (paling tidak) keluarga kecilku nanti dibangun dengan kesadaran yang tinggi akan pentingnya membaca buku. Membangun kecintaan pada buku di rumah. Pengenalan buku sejak dini dapat dilakukan dengan menyediakan berbagai jenis buku di rumah sesuai dengan usia perkembangan anak. Anak-anak mulai dikenalkan dengan buku sejak bayi, dari hal-hal kecil seperti pemberian cerita bergambar yang ada suaranya misalnya. Namun, tentu saja sebagai orang tua kita harus selektif dalam memilih buku yang akan dihadirkan di perpustakaan rumah. Terlebih lagi, di era sekarang ini banyak sekali kita temukan buku-buku cerita yang tidak sesuai dengan perkembangan usia anak dan bisa jadi justru memberikan dampak negatif kepada anak-anak kita. Aku ingin mulai membelikan buku-buku cerita kepada anak-anakku kelak dimulai sejak dia bayi. Sekadar mengenalkan warna dari gambar-gambar yang ada di buku cerita. Meskipun teknologi sudah begitu majunya, media cetak dalam bentuk buku tetap sangat dibutuhkan oleh anak-anak. Terlalu lama menatap layar gadget juga kurang baik untuk kesehatan mata. Untuk itulah, buku tetap harus hadir sebagai teman main anak.

Salah satu contoh model perpustakaan mini dari google image
Perpustakaan mini di rumah mungkin dapat dibangun seiring dengan selesainya pembangunan rumah kami nanti. Namun untuk urusan mengisi rak bukunya, tentu saja tidak bisa begitu saja menjadi langsung penuh. Perlu waktu untuk hunting buku dari sana sini. Tentu saja kita perlu mendatangi semacam book fair, event Big Bad Wolf setiap tahun, wara-wiri di gramedia atau toko buku lainnya, dan lain-lain. Hal ini agar koleksi perpustakaan mini di rumah kita bisa lengkap, up to date, dan bervariasi jenisnya. Aku akan melibatkan anak-anakku kelak dalam memilih jenis buku apa saja yang ingin mereka baca, sehingga minat bacanya bisa terus meningkat. Berbelanja buku juga bisa menjadi salah satu alternatif wisata kecil untuk keluarga manakala kehabisan ide. Ya, perpustakaan miniku masih ada di angan-angan. Aku bisa mencicilnya dari sekarang dengan menambah koleksi aneka jenis buku untuk perpustakaanku nanti. Tapi, kapan ya kira-kira punya perpustakaan mininya? 



0 komentar:

Post a Comment