Showing posts with label Sharing. Show all posts
Showing posts with label Sharing. Show all posts
, ,

Cara Mendaftar RDN melalui Aplikasi IPOT dari Perusahaan Sekuritas Indopremier

Hai semua, bagaimana kabarnya di tengah Pandemi COVID-19 ini? Adanya pemberlakukan new normal yang membuat seluruh lapisan masyarakat harus instan beradaptasi juga lantas membuat kabarku tidak sedang baik-baik saja. Ketidakpastian di segala sektor membuatku khawatir pada nasib orang-orang tersayangku. Terutama di sektor perekonomian. Belum lagi, sudah berbulan-bulan lamanya aku dan keluarga kecilku tidak bisa pulang ke kampung halaman, termasuk melewatkan momen mudik lebaran. Merasa sedikit putus asa berada di tengah Pulau terpencil ini tanpa ada kejelasan akan sampai kapan kondisi pandemi ini berakhir dan semuanya kembali normal. Sejauh ini yang kita lihat, kondisi baru yang disebut new normal justru nampak menunjukkan perkembangan yang kurang baik. Berita adanya penambahan kasus positif setiap hari justru hanya ditanggapi dengan abai oleh masyarakat yang mulai lelah dan bosan. Membuatku sedikit pesimis semua akan segera berakhir. Nah, di tengah ketidakpastian ini, aku mencoba menghibur diri. Mencari kesibukan lain agar tidak terlalu bersedih meratapi new normal yang masih belum sepenuhnya ku adaptasi ini. Salah satunya adalah belajar investasi saham.

Sebenarnya, sudah lama aku tertarik dengan investasi yang katanya termasuk ke dalam kategori high risk high return ini. Namun keengganan belajar membuatku terus menunda-nunda. Beberapa bulan ini aku sedang mencoba rajin berinvestasi agar bisa mencapai kondisi financially settled. Mulai dari reksadana, emas, hingga Surat Berharga Syariah Negara sudah aku coba meskipun belum begitu konsisten. Namun setidaknya aku sudah mulai. Nah, gara-gara pandemi inilah aku merasa punya kesempatan untuk banyak belajar karena adanya pemberlakuan Work From Home yang membuatku mempunyai lebih banyak waktu senggang. Mengapa akhirnya aku berani berinvestasi saham? Hal ini dikarenakan kondisi indeks harga saham gabungan (IHSG) sudah menunjukkan kenaikan setelah terperosok cukup dalam karena pandemi ini. Setelah melihat IHSG mulai stabil, aku mulai berani membuka rekening untuk investasi saham. Di sinilah perjalanan investasi sahamku dimulai.

Pertama, aku menentukan perusahaan sekuritas mana yang akan ku jadikan tempat membuat RDN (Rekening Dana Nasabah). Kalian bisa mencari tahu sendiri nama-nama perusahaan sekuritas di google. Sesuaikan dengan kemampuan dan keadaan kalian. Proses milihnya ya sama kayak kita lagi memilih mau naruh uang kita di bank mana. Bedanya, ini tempat untuk menaruh dana investasi kalian. Nah, pilihan ku jatuhkan pada Indopremier setelah mempertimbangkan kelebihan dan kekurangannya. Pertimbangan utama mengapa memilih Indopremier adalah pendaftaran rekening dapat dilakukan secara online dari mana saja dan tanpa setoran awal alias gratis sama sekali. Posisiku yang sedang berada jauh dari ibu kota membuatku kerepotan jika harus mendaftar secara manual dengan pengiriman berkas dan lain sebagainya melalui pos. Makanya, Indopremier menjadi jalan ninjaku. Untuk panduan lengkap terkait pengetahuan dasar investasi saham, kalian bisa membacanya pada highlight instagram ngertisaham, cukup bacanomor 1-7 sudah akan menjawab pertanyaan awal kalian dalam memulai investasi saham.

Kedua, aku langsung mengunduh aplikasi IPOT melalui Google Playstore untuk pengguna Android (bagi pengguna Iphone, kalian bisa mengunduh aplikasi IPOT ULTIMA melalui Apple Store). Ohya, belum lama ini Indopremier melaunching Aplikasi IPOT terbaru, lho. Sebelumnya pengguna lama menggunakan Aplikasi IPOTGO dan turunannya. Nah, untuk memantau pergerakan saham, aku juga mengunduh Aplikasi Stockbit dan RTI. Jangan lupa juga follow akun instagram Indopremier untuk panduan lengkapnya.

Ketiga, kalian hanya membutuhkan KTP dan NPWP (optional) saja. Isi formulir pendaftaran melalui Aplikasi IPOT terbaru sesuai data diri kalian. Pastikan kebenarannya agar permintaan pendaftaran kalian dapat segera diproses. Isiannya pendaftarannya tidak terlalu banyak, mudah, cepat dan sangat user friendly. Kalian harus menyelesaikan pengisian formulir ini mulai dari unggah e-KTP, Foto selfie membawa KTP, scan tanda tangan hingga video call komitmen pembukaan rekening. Ikuti saja sesuai arahan aplikasi.

1. Klik pada bagian Registration untuk mulai mendaftar
Tampilan Interface Aplikasi IPOT terbaru
2. Isi seluruh formulir pendaftaran dimulai dari informasi awal di bawah ini.
Masukan alamat email dan nomor ponsel kalian yang masih aktif
Isian ini penting sekali karena akan berhubungan dengan proses verifikasi data, pengiriman data rekening hingga pengiriman kode OTP. Jadi pastikan kalian mendaftarkan alamat email dan nomor ponsel kalian yang masih aktif.

3. Setelah isian pertama tadi, selesaikan proses pengisian seluruh formulir yang diminta, termasuk unggah e-KTP, Foto selfi membawa e-KTP sejelas mungkin, scan tanda tangan kalian sejelas mungkin, hingga melakukan video call dengan membaca kalimat konfrimasi sesuai permintaan yang tercantum pada aplikasi. Setelah dirasa sudah lengkap dan sesuai, kalian dapat mengakhiri proses pendaftaran hingga pada tampilan seperti ini.
Tampilan selesai
4. Menunggu adanya email pemberitahuan terkait pembuatan single identification (SID) di KSEI, dan pembuatan Rekening Dana Nasabah. Untuk pembuatan Rekening Dana Nasabah, biasanya memakan waktu hingga 2x24 jam sesuai pengalamanku kemarin. Bila sesuai jangka waktu itu kalian belum mendapatkan email pemberitahuan terkait Rekening Dana Nasabah, kalian bisa menghubungi email support@indopremier.com untuk meminta bantuan.

Konfirmasi persetujuan elektronik

Pemberitahuan sedang dibuat SID dan RDN



5. RDN diterima melalui email dan kalian sudah bisa mulai membeli saham melalui Aplikasi IPOT. Jangan lupa untuk melakukan top up dana dulu ya ke RDN kalian. Caranya sangat mudah, sama seperti kalian transfer ke rekening biasanya. Nomor yang kalian transfer adalah nomor RDN yang tercantum pada Aplikasi IPOT pada bagian account information atau yang ada pada pemberitahuan email. Nominalnya bebas sesuai kebutuhan kalian.

RDN telah jadi, selamat berinvestasi
Terkadang proses dana tidak langsung masuk ke RDN, kalian bisa menunggu hingga 2x24 jam. Selama ini, aku masih lancar sih, transfer langsung masuk. Aku pernah baca memang kadang-kadang tidak langsung masuk dananya, kalian bisa menunggu dulu. Ohya, jangan lupa bahwa transaksi pembelian dan penjualan saham ada jam kerjanya. Biasanya ada dua sesi, kalian tidak perlu selalu memantau saham kalian. Apalagi jika tujuan investasi kalian adalah jangka panjang, tidak perlu risau bila saham kalian sedang merah atau turun. Selama dalam batas toleransi kalian, cukup ditahan saja. Demikian sedikit gambaran dariku, semoga dapat membantu dan menginspirasi kalian untuk segera mulai berinvestasi. Semoga kita bisa menjadikan investasi sebagai salah satu passion kita. Melakukan investasi saham berarti kamu selalu berharap perekonomian negara kita mengalami kenaikan. Semakin naik akan semakin baik. Berbeda dengan bermain forex yang justru berharap nilai rupiah jatuh.

Continue reading Cara Mendaftar RDN melalui Aplikasi IPOT dari Perusahaan Sekuritas Indopremier
, ,

Dilema Part I

Berada jauh dari kampung halaman sering kali membuatku merasa dilema. Banyak kondisi yang membuatku harus memilih. Sejujurnya, aku ingin melakukan semua pilihan itu dalam satu waktu. Namun, keterbatasan-keterbatasan yang ada di tempat rantau membuatku harus belajar berhitung dan menimbang keputusan. Salah satunya mengenai rencana liburan. 

Benar, tidak masalah kemanapun perginya, yang terpenting adalah dengan siapanya kita pergi. Namun, hal demikian tidak selalu berlaku. Ada kalanya, aku bosan dengan kegiatan yang hanya itu-itu saja atau tempat rekreasi yang hanya disitu-situ saja. Melihat linimasa teman-teman yang tinggal di kota besar, mampu melakukan banyak hal yang tidak bisa aku lakukan, namun sangat ingin aku lakukan, sering kali membuatku mempertanyakan keadilan. Manusiawi apabila kita kerap membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang-orang yang mampu kita jangkau keberadaannya. Lelah rasanya karena sulit sekali untuk menemukan syukur. Padahal, kita juga sama-sama tidak pernah tahu permasalahan apa yang kini tengah mereka alami. Kadang kala, dalam kesederhanaan keadaan, fisik kita justru diberi kesempatan istirahat sebanyak-banyaknya. Kita memang sering lupa nikmat yang satu itu.

Salah satu masalah klasik tinggal di tempat rantau yang jauh dari peradaban ibu kota adalah mahalnya biaya perjalanan mudik dan liburan lintas pulau atau lintas negara, belum lagi yang memerlukan beberapa kali transit. Dampak naiknya harga tiket pesawat domestik juga memperparah keadaan. Benar memang ada banyak alternatif tempat berlibur di sekitar sini, namun bagaimana jika sebenarnya yang sangat ingin kita jelajahi adalah kota lain yang jauh dari tempat kita kini berada. Sering kita beranda-andai, ah andai saja aku penempatan kota itu mungkin aku bisa kesana-sini semauku tanpa terlalu pusing memikirkan waktu dan biaya. Ah andai saja aku tinggal di homebase, tentu aku bisa membeli ini dan itu dengan mudah. Terlalu banyak seandainya yang datang menghampiri pikiranku kala bosan dan jenuh. Celakanya, aku sering kali tidak menemukan jawaban atau obat atas kegundahanku itu. Lamunanku tidak pernah selesai pada tanda titik, selalu menyisakan tanya bagaimana dan kapan. Aku hanya ingin seperti yang lain.

Seperti yang lain itu siapa? Bukankah yang harus tinggal jauh dari rantau tidak hanya aku? Bukankah seharusnya mereka juga berada di keadaan yang sama denganku kini. Mengapa mereka terlihat tidak sedang bimbang dan dilema sepertiku, memikirkan keinginan ini dan itu yang tak tentu. Apa hanya aku saja yang kurang bersyukur. Apa hanya aku saja yang banyak maunya. Apa hanya aku saja yang playing victim? Tolonglah, aku bahkan tidak paham. Jika aku paham, mana perlu aku menulis kegundahanku ini di blog.

Liburan ke luar negeri selalu menjadi salah satu top list impian yang selalu ingin ku lakukan setiap tahun. Ku harap aku selalu punya destinasi negara baru untuk dijelajahi. Namun acapkali, dompet dan jarak menahanku untuk nekat pergi. Aku selalu berpikir, aku mampu ke negara ini dan itu jika saja aku penempatan homebase, jika saja aku tinggal di ibu kota. Tapi bukankah aku sendiri tidak suka dengan ibu kota? Terkadang aku ingin memiliki dua hal sekaligus, kenyamanan tinggal di daerah seperti yang kini ku rasakan dan kesempatan yang luas untuk berkembang dan jalan-jalan ke berbagai destinasi kesukaanku. Tentu saja itu tidak bisa ku dapatkan sekaligus bila aku tinggal di ibu kota. Aku sungguh rakus sebagai manusia. Lalu, bagaimana dengan homebase? Tentu aku tidak boleh terlalu berharap karena aku belum mendekati usia pensiun. Begitulah isi kepalaku setiap kali aku ingin pergi berlibur jauh dari tempatku kini berada. Tentu saja, sering kali hanya berakhir dengan tanya kapan dan bagaimana.

Untuk kalian yang sedang tinggal di homebase, bekerja dekat dengan keluarga atau menikmati kenyamanan di kantor pusat di ibu kota sana, aku tidak berharap kalian untuk selalu bersyukur, karena mungkin, permasalahan kita bisa jadi berbeda. Semoga, kita kelak diberi SK ke kota impian.

Continue reading Dilema Part I
,

Tata Cara Mendaftar Haji

Beberapa bulan yang lalu, aku dan suami sempat mendaftar haji di kota Klaten. Sebelum mendaftar, kami sempat mencari-cari info di Kantor Kementerian Agama setempat terkait persyaratan apa saja yang kami butuhkan. Dari sana kami memperoleh selebaran atau leaflet mengenai persyaratan pendaftaran haji. Pendaftaran haji di Kabupaten Klaten sudah menggunakan Siskohat. Bahkan ke depannya akan dilakukan layanan terpadu satu atap melalui layanan Simpehat yang sudah dilaunching sejak 2017 yang memungkinkan masyarakat dapat mendaftar haji tanpa perlu ribet ke Bank. Namun secara efektivitas pelaksanaannya aku kurang begitu paham. Waktu kami mendaftar di tahun 2018 lalu, kami masih harus membuat tabungan haji di bank. Kami kurang tahu ada tidaknya bank yang membuka layanan satu atap di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klaten. Nah, berikut dokumen-dokumen yang harus kami persiapkan. Aku agak lupa, jadi ini sudah ku himpun dari beberapa sumber.
  1. Fotokopi rekening tabungan haji sebanyak 2 lembar (Nah mending langsung membuka rekening tabungan haji sebelum ke Kantor Kementerian Agama agar tidak perlu bolak-balik)
  2. Fotokopi KTP sebanyak 5 lembar
  3. Fotokopi Kartu Keluarga sebanyak 2 lembar
  4. Fotokopi akta atau buku nikah/akta lahir/ijazah sebanyak 2 lembar
  5. Fotokopi surat kesehatan yang mencantumkan tinggi badan, berat badan, dan golongan darah sebanyak 2 lembar
  6. Foto ukuran 3x4 sebanyak 17 lembar, ukuran 4x6 sebanyak 3 lembar. Foto harus 80% wajah dengan latar belakang putih. Bilang saja kalian mau foto untuk haji, biasanya tukang fotonya sudah paham. Kantor Kementerian Agama menyarankan kami berfoto di salah satu studio foto, aku lupa namanya, mungkin nanti kalian bisa bertanya ke petugas. Atau coba saja di sekitar daerah kalian studio foto yang biasanya melayani foto untuk pendaftaran haji, kalau untuk di Karanganom, aku memakai studio foto Wartha.
  7. Map (merek map ditentukan oleh pihak bank) untuk menyimpan berkas-berkas sebanyak 2 buah
Seingetku dulu, kami sengaja membawa fotokopian masing-masing berkas sebanyak 5 lembar untuk  jaga-jaga. Walaupun sampai sana sebenarnya banyak yang tidak terpakai, karena tidak semua dokumen harus difotokopi rangkap 5. Tapi ya nggak apa-apa untuk persiapan. Nah, sebelum kalian mendaftar ke Kantor Kementerian Agama setempat, pastikan bahwa kalian telah membuka tabungan haji di bank-bank BPS BPIH agar tidak perlu bolak-balik ke kantor kemenag. Aku dan suami memilih membuka tabungan haji di Bank BNI Syariah yang ada di sebelah KFC Klaten. Kebetulan sekali di sana aku bertemu dengan kakak kelasku pas SMA. Dia bertugas sebagai CS Bank, namanya mbak Kafin Novianti. Akhirnya kami malah jadi ngobrol banyak di sana. Nah yang lucu, sebelum kami ke Bank BNI Syariah, aku dan suamiku terlebih dulu mengambil uang yang akan kami pakai untuk membuka tabungan haji sebanyak masing-masing sebesar 25 juta rupiah di Bank BRI Cabang Klaten. Ini hanya jumlah minimal, kalian bisa menyetor lebih banyak agar saat pemberangkatan haji, kalian tinggal menyesuaikan sedikit dengan perubahan ongkos haji di tahun keberangkatan. Nah, di sana tuh aku malah ketemu sama temanku zaman SMP sekaligus SMA yang kebetulan dia juga merupakan CS Bank, namanya Risang Galih Hapsari. What a day! Bertemu dengan teman-teman lama di tempat yang tidak terduga. Mungkin itu sedang menjadi rejekiku.

Ohya, dokumen yang dibawa ke bank saat akan membuka rekening tabungan haji adalah.
  1. KTP asli beserta fotokopinya
  2. Foto untuk pendaftaran haji sebanyak 2 lembar atau lebih, mending dicetak agak banyak saja untuk jaga-jaga kalau diminta lebih
  3. Uang tunai untuk setoran awal minimal 25 juta rupiah
  4. Materai 6000 sebanyak 2 lembar (kalau ini biasanya sudah disediakan oleh pihak bank, nanti kita tinggal bayar saja)
Nah dari sana, kalian akan mendapatkan beberapa dokumen yang dapat kalian bawa sebagai persyaratan di antaranya Buku Tabungan Haji dan Bukti Setoran Awal yang memuat nomor validasi. Bentuknya kurang lebih begini. Nanti jangan lupa untuk difotokopi sebagai antisipasi atau jaga-jaga.

Tanda Bukti Setoran Awal yang diperoleh dari bank

Saranku, jika kalian ingin mendaftar haji selesai dalam satu hari, luangkan saja satu hari waktu kalian dengan mengambil cuti jika kalian bekerja. Berangkat sejak pagi ke bank untuk menghindari tumpukan antrian di bank maupun di Kantor Kementerian Agama setempat. Nah setelah kalian sudah membuka rekening tabungan haji di salah satu bank BPS BPIH tersebut dan mendapatkan tanda bukti setoran, kami bisa melanjutkan perjalanan kalian ke Kantor Kementerian Agama setempat. Nah alurnya tuh begini.
  1. Kalian datang mengambil nomor antrian
  2. Mengisi formulir pendaftaran  haji berupa Surat Pendaftaran Pergi Haji (SPPH) dan menyerahkannya ke petugas bila sudah selesai. Aku agak lupa untuk yang ini, kalau tidak salah selain mengisi formulir cetak, petugas langsung menginputnya pada Siskohat untuk mendapatkan nomor porsi
  3. Menunggu antrian pengambilan foto untuk nomor porsi dan pengambilan sidik jari
  4. Memperoleh lembar bukti pendaftaran haji berisi Nomor Porsi pendaftaran yang sudah ditandatangan dan dibubuhi stempel.
Nah bentuknya kurang lebih begini. 
Surat Pendafataran Pergi Haji, punyaku dilaminating biar awet
Kami mendapat kesempatan berangkat haji dengan waktu tunggu 20 tahun. Sungguh waktu yang tidak sebentar. Saranku, sebaiknya pendaftaran haji menjadi prioritas utama kalian setelah menikah. Aku dan suami sangat menyesal kenapa harus menunda-nunda. Padahal sejak awal menikah kami sudah menyiapkan  dana tabungan untuk haji tapi karena satu dan lain hal yang terjadi saat pulang kampung sering kali membuat kami tertunda mendaftar. Semakin cepat akan semakin baik. Ohya, bagi kalian yang kelak berganti domisili, tidak akan menjadi masalah kalian mendaftar di domisili kalian sekarang. Nanti pada saat tahun keberangkatan, KUA setempat akan menginfokan kepada kalian tentang jadwalnya. Baiklah, demikian saja semoga bermanfaat dan membantu teman-teman yang ingin mendaftar haji. Untuk lebih jelasnya lagi, kalian bisa membuka tautan berikut ini.

Baca juga: Tata Cara dan Persyaratan Pendaftaran Haji Reguler


Continue reading Tata Cara Mendaftar Haji
, ,

Aku Seorang Socmed Addict

Source: http://time.com/5026886/twitter-verification-policy-richard-spencer-jason-kessler/
Hai semuanya, sudah lama sekali aku vakum mengisi blog ini. Too many things happened back then. But, still I can't manage to write them down here. Mumpung suami dan anak lagi sama-sama tidur, aku jadi rindu ingin menulis lagi di buku diary online ini. Just to make sure that I don't forget to post something to this blog.  

Sebenernya udah lama banget aku mau cerita soal ini. Tapi karena lagi di fase sangat malas menulis dan posting, jadi ya baru bisa ku tuangkan sekarang. Jadi, aku tuh dulunya termasuk anak yang telat mengenal gadget dan internet. Aku baru punya ponsel pas kelas 3 SMP dan itupun bukan beneran ponselku, melainkan punya orang tua. Aku masih inget dulu tuh pakai ponsel Siemens yang ada antenanya itu. Zaman teman-temanku udah pada pakai jenis monophonic yang lebih modern, polyphonic hingga pakai symbian, aku masih setia memakai monophonic jadul berantena itu. Bukan apa-apa, kebetulan bapak dapet gratis dari teman beliau. Iya, kami memang belum mampu membeli ponsel saat itu. Jadi, kalau kalian udah pada melek ponsel sedari piyik atau mungkin jauh lebih awal daripada aku, I think we can't relate. Nah, persis kayak gini nih ponselku dulu. Aku pakai yang warna biru donker.
Source: https://ublik.id/apa-kabar-5-ponsel-sepuh-yang-dulu-sempat-berjaya/
Terus apa hubungannya dong sama judul di atas? Di sinilah awal mulanya. Aku nggak punya komputer atau ponsel. Modal kenal benda-benda ini ya dari pelajaran TI di sekolah dan itupun sangat tidak maksimal karena cuma satu kali pertemuan tiap minggu. Aku masih inget tuh dulu belajar hal-hal basic macam Lotus 123 dan Microsoft Office aja aku udah merasa kesulitan. Aku masih inget juga tuh pas aku disuruh mewakili sekolah untuk Lomba Siswa-Siswi Teladan Tingkat SMP, aku harus minta tolong tetanggaku untuk mengajariku Microsoft Word. Sebasic itu dulu pengetahuanku. Lalu berlanjut saat aku masuk SMA, di sinilah pertama kalinya aku kenal internet. Aku juga sama kayak yang lain, pernah punya alamat email yang susah dieja. Salah satunya adalah honey_beehutch@yahoo.co.id. Udah belibet belum bacanya? Ini adalah cikal bakal akun sosial mediaku selanjutnya. Nah, yang menarik adalah walaupun dulu orang-orang di sekolahku rata-rata udah pada punya friendster atau akun sosial media lain, akun yang pertama ku buat dengan email itu justru adalah blog. Why? Salah satunya karena aku penasaran sama blog setelah membaca buku saku pemberian guruku saat SMP. Melanjutkan tentang ponsel, aku akhirnya punya ponsel symbian saat duduk di bangku kelas XI, hadiah dari bapak atas prestasiku menjadi juara 1 umum di SMA. Hal inilah yang justru menuntunku pada social media addict sampai dengan sekarang.

Nah, sejak perkenalanku dengan ponsel dan internet itu, aku akhirnya membuat aneka akun sosial media seperti friendster, myspace, plurk, facebook, dan twitter. Padahal, awalnya aku tuh cuma penasaran doang gimana cara mainnya, bukan yang pengen mantengin banget. Friendsterku cuma bertahan setahun, setelah itu aku sangat maniak sama facebook. Hasil kecanduanku pada facebook ini adalah aku sempat turun peringkat juara umum saat kelas XII SMA. Wali kelasku menilai penurunan peringkat ini karena aku terlalu sibuk mengikuti aneka kegiatan ekstrakurikuler, beliau tidak tahu saja bahwa anak didiknya ini mulai kecanduan sosial media. Jangan tanya lagi gimana model kecanduanku. Setiap saat aku mantengin layar ponsel. Nggak di kelas, nggak di rumah, nggak dimana saja. Kalau kalian ingat lagunya Saykoji yang judulnya Online itu, nah kayak di video clipnya itu tuh diriku saat itu.

Aku juga pernah berada pada fase sangat alay di sosial media, kalau ini sih kayaknya sampai sekarang juga belum beneran ilang. Haha. Nah, oleh sebab itu aku tuh berencana mau menghapus akun facebook terus bikin baru gitu hanya agar menghilangkan jejak kealayan masa lalu. Tapi berhubung suami melarangku untuk menghapusnya, ku urungkan niatku. Katanya beliau mau membantuku merapikan feed jadi yaudah deh ku terima dengan senang hati sarannya. Aku sudah lelah scrolling feed facebook sampai ke jaman jadul hanya untuk menghapus satu per satu status atau kiriman foto atau apapun yang nangkring di berandaku. Geli-geli gimana gitu bacanya tuh. Kayak nggak percaya pernah nulis hal-hal kayak gitu dengan model tulisan yang nggak kalah bikin mata sakit. Nggak peduli aku sama anggapan itu kan buat kenang-kenangan pernah alay, itu kan sejarah. Halah aku lelah mbak, mas baca tulisan-tulisanku sendiri. Nggak sayang aku tuh sama kenangan alay masa lalu gitu. Blog lamaku aja aku hapus begitu saja tanpa menyisakan sesal. Ya demi memuaskan sikap perfeksionisku yang maunya apa-apa serba tertata. My soul needs to be statisfied. 

Aku sekarang lagi belajar menata satu persatu sosial mediaku. Aku udah banyak mengubah settingan di facebook ku agar lebih privat. Twitter udah ku rename dan ku protect sedemikian rupa demi bisa nyampah tanpa perlu khawatir handai taulan yang tidak diinginkan kepo-kepo manja, instagram juga ku gembok akunnya karena aku masih overshare soal anak, dan lain-lain. Intinya aku berusaha melindungi identitas dan kenyamananku di sosial media selama aku belum sembuh dari kecanduan ini. Sementara baru ini yang bisa ku lakukan.

Salah satu alasan kenapa aku kecanduan sosial media adalah karena aku sangat tidak suka curhat ke orang. Aku bisa nyampah banyak hal ke twitter atau facebook kala itu dan sekarang. Hal-hal yang sebenarnya tidak perlu ku tuangkan ke platform sosial media apapun. Sejak punya suami, aku jadi punya seorang teman yang benar-benar mengerti kebiasaanku ini. Suamiku adalah definisi sebaik-baiknya pendengar. Meski begitu, hal tersebut tidak membuatku lantas sembuh dari kecanduan pada sosial media. Apalagi sejak kenal instagram berikut aneka akun di dalamnya yang sering membuatku harus menengoknya. Buntut kecanduan ini salah satunya adalah aku merasa tidak pernah puas dengan apapun yang ku punya. Aku selalu ingin lebih. Aku selalu merasa kekurangan padahal semua hal yang ku butuhkan sudah ku genggam. Aku jadi mudah murung, moody-an bahkan emosian. Aku juga jadi merasa berhak menilai siapapun yang ku ketahui melalui sosial medianya. Padahal kan, who we are to judge?

Aku bahkan pernah berada pada fase kayak mempertanyakan perasaanku sendiri, apakah aku bahagia? Apakah aku sedang berada di posisi yang benar-benar ku inginkan? Kalau kata suamiku, seharusnya sosial media ini nggak usah dimasukin hati. Karena apapun yang ditampilkan di situ, sudah melalui penyaringan dan sarat dengan pencitraan. Lalu aku berkaca pada diriku sendiri, dan ya memang benar begitu. Aku nggak akan bahas mengenai dampak-dampak buruk sosial media terkait hate speech, hoax dan lain sebagainya yang sedang sangat meresahkan. Itu bukan hal yang menarik perhatianku kali ini, mungkin lain kali aku akan memberi opini. Aku juga paham kok kalau sosial media nggak selalu berdampak buruk, malah justru sebenarnya lebih banyak manfaatnya ketimbang keburukannya seandainya kita tahu dan bijak memakainya. Tapi ya apalah aku ini, bukan seorang pengguna yang bijak dan masih sering baperan.


Aku tuh jadi gampang banget stres sejak kecanduan sosial media ini. Padahal kan harusnya aku terhibur ya bukan malah stres. Tapi begitulah kenyataannya. Aku bisa berjam-jam cuma mantengin layar ponsel, jadi manusia yang sangat tidak produktif. Aku jadi semakin tidak suka dengan kegiatan bersosialisasi dengan sekitar. Semacam magerannya makin bertambah. Sekarang tuh ya, kayak hampir nggak ada platform sosial media yang nggak ku jadikan tempat curhat dan update. Biar apasih? Biar dapet pengakuan atau validasi dari orang lain? Enggak kok, asli bukan karena itu. Sebenarnya lebih karena aku tuh anaknya overshare. Aku nggak punya teman di lingkunganku sekarang untuk sekadar menjadi rekan ngrumpi-ngrumpi gitu. Temanku ya cuma anak dan suami. Jadi kasarannya kayak kesepian gitu. Bukan karena aku kesepian cuma bertiga dengan mereka. Bukan. Kan ku bilang, kayak kesepian tapi nggak butuh diramein juga, gimana ya susah menjelaskannya. Karena aku juga anaknya soliter, dan hiburanku adalah sosial mediaku, begitu kira-kira. Bingung ya? Sama. Intinya aku dan kesoliteranku ini masih sangat bergantung pada keberadaan sosial media. Terlebih di sini tuh nggak ada apa-apa, teman-teman. Nggak ada tempat buat family time secara proper yang bisa membuatku sejenak melupakan ponselku. Di sini nggak ada hiburan memadai kayak di kota-kota besar gitu. Makanya, aku makin kecanduan begini.

Aku sudah berusaha menguranginya dengan membatasi durasi bermain sosial media dalam sehari. Efektifkah? Sejauh ini belum terlalu signifikan karena ya seringnya aku melanggar batasan waktu yang ku bikin sendiri. We will see it later, nanti aku bakal ceritain kalau aku udah beneran terlepas dari kecanduan sosial media ini. Aku merasa komitmenku ini bukan cuma buat kewarasanku saja, tetapi juga buat anak dan suamiku. Doakan aku ya.



Continue reading Aku Seorang Socmed Addict
,

Radif's Story: Perjalanan Menuju ASI Eksklusif

Setelah belum lama ini aku membagikan cerita persalinanku yang pertama, kali ini aku mau lanjut berbagi cerita tentang perjalananku memberikan ASI Eksklusif. Ohya disclaimer dulu ya, di sini aku nggak menjustifikasi ibu-ibu yang memberikan anaknya susu formula. Ceritaku ini murni pendapatku pribadi dan apa yang aku usahakan untuk anakku tidak serta merta mempengaruhi usaha ibu-ibu lain. What I'm trying to say is every moms knows best for their children. So, it was just me who tried to tell you my story. As always, my story is gonna be so long.

Waktu hamil Radif, aku tipikal bumil yang santai banget. Entah bawaan hamil atau emang dasar akunya memang orangnya ndablek banget. Aku nggak begitu riweuh macem ibu-ibu milenial yang well prepared segala rupa baik ilmu maupun pritilan-pritilan lain untuk kehamilannya. Tapi bukan berarti aku nggak mencari tahu sama sekali informasi-informasi seputar kehamilan dan persalinan. Aku baca-baca sih, follow akun-akun yang berkaitan dengan kehamilan. Jaman sekarang tuh ya, gampang banget menemukan berbagai informasi kayak gini.

Nah, aku kan tergabung gitu di Grup Bumil Busui STAN 2013, ini tuh grup whatsapp yang membernya adalah ibu-ibu alumni STAN yang lulus tahun 2013 lalu. Dari sana  para bumil busui yang sebaya denganku berkumpul membagi pengalaman-pengalaman mereka. Salah satunya tentang ASI. Aku rada kepikiran waktu tahu banyak ibu-ibu hamil yang ASI nya udah pada keluar pada bulan-bulan awal kehamilannya. Sedangkan aku sendiri, boro-boro. Waktu dikasih tahu harus sering-sering bersihin putingnya aja aku masih bingung apanya yang musti dibersihin secara kayak nggak ada kotorannya gitu. Lalu aku mulai tanya sana sini sekadar nyari temen gitu manatahu banyak yang ASI nya baru keluar setelah persalinan.

Long short story, setelah lahiran ASIku nggak langsung keluar. Jadi tuh awalnya Radif anteng-anteng aja pas habis lahir. Radif lahir pukul 02.40 WIB, langsung rooming in sama aku buat IMD segala rupa. Setiap 2 jam sekali dia ku bangunin nenen buat mancing ASIku supaya cepet keluar. Menjelang magrib, anaknya mulai bangun minta nenen beneran. Lah, ASI tetep belum keluar dan dia mulai sadar. Nangislah dia nggak berhenti sampai subuh. Beneran aku nggak dikasih jeda istirahat pasca lahiran sama si bayi. Udah digendong segala macem masih nangis kejer kayak nggak bisa diapa-apain gitu. Udah coba ditenangin sama ibuku pun nggak mempan sama sekali. Aku mulai panik dan manggil-manggil suster terus buat nenangin anakku. Saat itu, jangan ditanya gimana kondisiku. Kacau sekacau-kacaunya. Sangking rempongnya, aku sampai nggak pakai baju biar gampang aja kalau Radif minta nenen.

Padahal setiap hari aku dikasih makanan bergizi selama di Rumah Sakit, bahkan dikasih supplemen pelancar ASI juga. Tapi ASIku tetep nggak kunjung keluar. Kebetulan aku dirawat di Rumah Sakit yang pro banget sama ASI. Jadi selama belum ada tanda-tanda gawat macem dehidrasi dan lain-lain sampai dengan hari ketiga, tetep harus diusahain ASI. Dokter anak yang nanganin Radif bilang kalau newborn baby tuh lambungnya masih kecil banget jadi kebutuhan ASI nya nggak banyak dan dia masih ada cadangan makanan dari lahir sampai dengan hari ketiga. Dan lagi, emang Radif pup sama BAK nya masih aman secara kuantitasnya. ASIku akhirnya baru keluar di hari ketiga, itupun cuma titik-titik aja. Kata perawatnya, jumlah segitu mah udah cukup buat bayi seumur Radif. Meski aku tetap saja khawatir karena Radif rewelnya nggak habis-habis selama inap di Rumah Sakit. Udah gitu putingku juga mulai lecet karena posisi latch on yang belum benar. Ditambah lagi, Berat Badan Radif terus mengalami penurunan setiap hari. Meski memang tren BB bayi baru lahir tuh bakal menurun di minggu pertama. Tidak perlu khawatir asal masih di range 10-20% dari BB lahir.

Pas dibawa pulang ke rumah, anaknya sempet anteng beberapa jam. Setelah itu, tiada hari tanpa rewel. Dia bisa betah banget nangis berjam-jam dengan suara yang super kenceng macem ngamuk-ngamuk gitu. Sering kali habis subuh baru terlelap karena udah capek nangis. Nah, berhubung di keluargaku nggak pernah ada cerita anak bayi rewel nggak ketulungan kayak gitu, orang-orang rumah mulai khawatir. Banyak banget saran macem-macem buat aku. Ada yang nyuruh kasih sufor lah, kasih madu lah, air putih lah, makanan lah dan lain-lain yang bikin aku malah jadi emosi. Aku tahu sih maksud mereka sebenarnya baik dan mereka juga sama-sama khawatir sama Radif, tapi aku selalu menekankan bahwa Radif dan aku cuma butuh support saja. Selama nggak dehidrasi atau kegawatan lain, aku masih tetep pengen mengusahakan ASI. Soalnya kalau aku nggak bikin rule begini, lama-lama aku capek sendiri ngasih penjelasan ke orang rumah tentang pentingnya ASI.

Pernah suatu ketika, para tetangga pada jenguk Radif di rumah kayak kebiasaan di daerahku tiap ada orang lahiran. Nah, mereka ini sayangnya datengnya bergerombol satu RT gitu, mana bawa anak-anak kecil pula jadinya berisik banget. Bukannya aku nggak respek gimana-mana ya sama perhatian mereka ini tapi kondisi Radif lagi nggak memungkinkan buat dijenguk dengan cara begitu. Alhasil Radif nangis kenceng banget nggak bisa ditolong dan makin menjadi-jadi karena orang-orang pada ribut pengen bantuin aku begini begitu ngotak-atik caraku mangku Radif yang jatuhnya kayak menggurui. Pokoknya mengintervensi banget. Ku sedih dan marah jadi satu. Udah gitu ngasih saran macem-macem yang nggak jauh-jauh dari kata "orang dulu biasanya diginiin digituin blablabla" yang bikin kepalaku rasanya mau meledak. Yang kubutuhin sama Radif saat itu cuma satu, ketenangan. Itulah kenapa, menjenguk orang yang habis melahirkan itu ada adabnya.

Kita nggak boleh seenaknya ngomong atau menggurui dengan alasan apapun. Entah untuk menunjukkan superioritas kita, atau murni karena peduli. Aku masih nggak apa-apa sih kalau semisal ngajak anak menjenguk bayi asal anaknya nggak lagi sakit dan nggak berisik. Aku pun kalau mau jenguk temen lahiran juga bawa anak kok, selama kita yakin bisa mengkondisikan anak kita. Sungguh, sebenarnya pengen emosi tapi aku tahu banget maksud mereka datang tuh baik banget. Kondisinya aja yang nggak tepat.

Nah, sebenarnya, aku mulai curiga sama kondisi warna mata Radif yang berubah menjadi agak kekuningan. Namun itu semua kami tepis karena berfikir mungkin efek cat kamarku yang berwarna kuning. Pas suatu malem, tepatnya hari kelima dari kelahiran Radif, dia nangis kejer banget lebih dari biasanya dan sama sekali nggak bisa ditolong. Karena udah panik banget, tengah malem itu juga aku minta tolong suami dan ibuku buat ngantar Radif ke Rumah Sakit. Insting seorang ibu tidak pernah salah. Sampai di Rumah Sakit, Radif disuruh tes darah. Aku cuma bisa nangis sesenggukan mendengarkan suara tangisan Radif. Dan benar saja, Radif beneran kuning dengan kadar bilirubin 15 dan harus difototerapi saat itu juga. Karena masih di kisaran 15, fototerapinya hanya akan dilakukan selama 2x24 jam. Nah, berhubung rumah sakitnya ini sangat pro ASI, ibu menyusui disediakan ruangan khusus di sebelah ruang PICU/NICU agar memudahkan dalam pemberian ASI secara direct. Selama di sana, Radif jadi lebih anteng. Aku pun bisa memperbaiki sedikit jam tidurku yang berantakan beberapa hari belakangan.

Hari kedua fototerapi, kadar bilirubin Radif sudah berangsur turun. Yay! Akhirnya Radif bisa pulang. Radif puput tali puser tepat pas dia usia 7 hari. Sayangnya gara-gara harus rawat inap, Radif nggak bisa ketemu sama eyang-eyangnya dari Semarang yang dateng menjenguk waktu Radif akikah. Semoga lain kesempatan bisa ketemu ya.

Kami pikir setelah fototerapi Radif bakal anteng. Taunya enggak. Radif tetep super rewel dan aku kayak yang clueless banget ini anak kenapa lagi dan harus gimana. Karena pada dasarnya Radif itu bayi sehat, enggak yang kenapa-kenapa. Bayi sehat kalau rewel ya jawabannya palingan cuma karena laper atau merasa nggak nyaman. Orang-orang rumah bilang kalau ASI ku tuh kurang makanya Radif nangis kelaperan terus. Sedih juga sih dibilang begitu terus, tapi aku harus tahan diri supaya nggak pesimis. Di saat aku mulai clueless, aku dihubungi sama kakak iparku. Beliau ngasih tahu tentang kasus anaknya yang dulu sama rewelnya kayak Radif dan ternyata indikasi Lip Tie Tongue Tie. Aku akhirnya cari info tentang ini sambil konsultasi ke Konselor Laktasi di daerahku.

Waktu konsultasi, dokternya enak banget ngejelasinnya kayak yang paham banget sama apa yang bakal ku ceritain. Ku pikir wah berarti aku dateng di tempat yang benar. Radif diperiksa lidahnya dan cara dia ngenyot. Dokternya menyuruh Radif untuk menjalani fisioterapi oral (yang kemudian baru ku ketahui sama dengan senam lidah) dan bilang agar aku supplementasi sementara ini. Jadi menyusui Radif secara langsung sambil memberinya ASIP kalau anaknya ternyata setelah menyusu masih belum kenyang. Radif dipantau selama 10 hari dan bila pada masa itu kenaikan berat badannya sudah bagus, berarti ASI ku enggak kurang. Demi mendukungku memberi ASI ke Radif, para iparku membelikanku pompa elektrik. Love you geng. Aku mulai pumping ASI sejak saat itu. Pumping pertama kali, ASIP ku cuma 20an ml dan ku pikir jumlah itu udah lumayan. Setelah aku main ke instagram, kaget banget banyak yang bahkan di atas 300ml. Rasanya langsung drop dan pesimis bisa menyusui secara penuh. Memang sih, instagram kadang tidak ramah untuk mamak-mamak yang sedang berjuang menyusui. Itulah mengapa, aku sedikit bersyukur koneksi internet di rumahku jelek banget sehingga aku jarang banget megang ponsel buat sekadar online. Ya lagi pula nggak sempet juga karena full bonding sama Radif.
Ohya, aku pakai Pompa Elektrik Malish Mirella. Enak banget ini
Bagaimana metode memberi ASIP ke Radif? Karena bayi di bawah satu bulan sangat rawan bingung puting, aku memberi ASIP ke Radif lewat sendok. Jadi aku menyusui Radif lalu lanjut memberinya ASIP pakai sendok. Setelah dia pules kekenyangan, aku pumping lagi untuk jadwal minum berikutnya. Begitu terus setiap hari. Hasilnya cukup bagus. Radif sudah berkurang banyak rewelnya, jam tidurku membaik, ASIku mulai lebih lancar, dan yang terpenting adalah berat badan Radif naik dengam cukup bagus. 10 hari pemantauan sejak supplementasi itu, berat badan Radif naik sekitar 400gram. Kata dokternya kenaikan segitu sudah sangat bagus. Namun, karena berat lahir Radif memang kecil, sekitar 2640gram, otomatis dengan kenaikan di bulan pertama yang sempat mengalami kuning, Berat Badan Radif di bulan pertama masih terbilang kurang dan mendekati pita kuning. Waktu kontrol bulan pertama, BB Radif cuma 3,3 kg di saat temen-temen sebayanya hampir semuanya tembus di atas 4 kg. Ibuku mulai khawatir dan takut Radif kurang gizi. Dokter anak yang menangani Radif enggak memarahiku karena kekurangan target BB di bulan pertama tidak begitu banyak. Asal aku telaten, pasti bisa mengejar di bulan berikutnya. Tapi ya, ibu mana sih yang nggak kepikiran tiap kontrol kok anaknya paling kecil.

Karena aku masih bersikeras menyusui, ibu membantuku nyari segala macem booster. Bikinin aku jus segala macem, susu kedelai, sayur-sayuran hijau macem daun katuk dan daun-daun lain yang bahkan aku sendiri nggak tahu apa namanya. Hasilnya? Udah makan sehari minimal 6 kali tapi masih belum begitu terlihat signifikan hasilnya. Saat itu, aku masih nggak tahu dimana salahnya. Aku udah galau banget karena tiap Radif rewel, ujaran untuk nambah sufor dan lain-lain terus menghantui. Jujur, aku nggak anti sufor. Semisal itu adalah pilihan terbaik, bakal ku kasih saat itu juga. Tapi aku yakin banget saat itu ada hal yang salah dari Radif. Aku yakin ASI ku cukup. Dokter anak yang menangani Radif nggak pernah bilang ASIku kurang. Meski Radif tidak divonis Lip Tie Tongue Tie, tapi hatiku kayak belum lega. Aku yakin masalah kami ini masih questionable. Bukan perkara ASI kurang atau apalah. Tapi aku bingung harus konsul kemana lagi. Suami yang tiap hari jadi tempat aku berkeluh kesah juga nggak kalah usahanya. Nanya sana sini, beliin segala macem booster, sampai nyiapin segala apapun buat aku dan Radif di Waingapu. Nggak ada orang lain yang bisa ngasih aku semangat selain suami. Karena saat itu hanya beliaulah yang optimis aku bisa menyusui Radif. Keluargaku sebenarnya sangat membantuku walau mereka masih sering ngebandingin BB Radif sama bayi-bayi lain yang terlihat gemuk. I knew, they just worried back then. I don't want to blame them. 

Usia satu setengah bulan, Radif ku ajarin dot. Alhamdulillah hidup makin mudah. Aku bisa sedikit punya waktu untuk me time. Aku bahkan bisa ninggalin Radif untuk pergi ke salon atau facial dalam tempo hampir 4 jam. Maaf ya nak, agar supaya mamamu tetap waras. Ini juga atas saran ayahmu yang kasian melihat istrinya menjelma menjadi zombi selama cuti.

Karena sangking insecure nya sama BB Radif, tiap minggu Radif ku bawa ke puskesmas buat sekadar tahu kenaikan BBnya. Nggak pakai daftar langsung nimbang tok sampai orang-orang puskesmas hafal sama Radif. Haha, aku udah nggak tahu musti dengan cara apa lagi menyemangati diri sendiri selain dengan melihat kenaikan BB Radif. Alhamdulillah kenaikan BBnya mulai bagus, udah nggak dibatin lagi kok kecil banget dan sebagainya. Aku mulai melupakan pikiranku tentang kenapa Radif dulu super rewel. BB Radif di bulan kedua 4,6kg dan sudah masuk di pita hijau. Yay!

Pas Radif dibawa ke Bogor di bulan kedua, mertua menyarankan kami untuk konsul ke dokter anak yang menangani Kenzo, anak kakak iparku. Kebetulan Kenzo divonis Lip Tie Tongue Tie dan harus menjalani insisi. Berhubung waktu itu Radif juga ada jadwal imunisasi pentabio yang pertama, aku sama suami menyetujui saran tersebut. Lagipula apa salahnya mencoba, begitu pikir kami waktu itu. Kami pun membawa Radif ke Puri Cinere Depok. Nah, di sanalah kami bertemu dengan Dokter Asti Proborini yang terkenal itu. Ternyata Radif ada Lip Tie Tongue Tie dengan derajat yang cukup parah dan harus insisi saat itu juga. Aku ngapain waktu Radif diinsisi? Nangis bombay mimbik-mimbik nggak tega. Setelah insisi, aku diajarin senam lidah untuk Radif dan harus dilakukan 5 kali sehari selama 3 minggu agar tali lidahnya tidak terhubung kembali. Radif disuruh belajar menyusu dulu tanpa boleh berkenalan dengan dot.

Progres menyusui Radif pun berjalan lancar selama 3 minggu itu. Aku mulai bisa merasakan perbedaannya pasca insisi. Radif mulai bisa merasakan kenyang tanpa supplementasi. Dia mulai pinter menyusu dan berhenti dengan sendirinya ketika kenyang. Tidurnya pun lebih awet dan pules, tanda bahwa dia benar-benar menyusu dengan baik. Di balik semua itu, sebenarnya drama meninggalkan Radif untuk bekerja tanpa boleh memakai dot sungguh tak kalah menguras jiwa raga. Dia kesulitan minum menggunakan cup feeder atau soft feeder. ASIP ku lebih banyak terbuang daripada yang terminum. Untungnya aku masih bisa pulang setiap dua jam sekali untuk menyusui, sehingga asupan ASI Radif tidak kurang.

Setelah berhasil menyusu dengan baik, Radif akhirnya kembali ku perkenalkan dengan dot untuk memudahkan hidup. Taunya setelah pinter menyusu, Radif jadi nggak doyan dot dong. I wanna cry out loud. Gimana ini drama kok kayak nggak habis-habis. Aku kasian sama ibu mertuaku yang harus susah payah memberi ASIP ke Radif. Sungguh, aku bersyukur sekali sejauh ini punya support system yang sangat baik. Keluargaku, keluarga suami, dan suamiku sendiri, mereka sangat membantu sampai di titik itu. Ibu mertuaku sabar banget dalam urusan menenangkan Radif. Selama 2 bulan, kami sangat tertolong dengan kehadiran beliau. Setiap kali Radif mulai rewel karena ASIku mulai turun produksinya setelah bekerja, pikiran menyerah sering menghantui. Terlebih di bulan keempat, hampir 2 minggu Radif rewel setelah imunisasi pentabio yang kedua. Aku cuma tidur 2 sampai 3 jam saja persis kayak waktu awal lahiran Radif. Aku mulai panik karena selama ini memang aku nggak pernah punya stok tabungan ASIP. Selain karena di awal cuti dulu Radif sangat rewel sehingga tabungan ASIP ku selalu habis di hari yang sama, ngebayangin bawa ASIP dari Klaten ke Bogor lanjut Waingapu sungguh tak kuat.

Aku udah hampir nyari info tentang sufor. Dalam hati, aku masih belum rela karena kenaikan BB Radif masih bagus. Hanya saja, siapa ibu yang tega mendengar Radif menangis tanpa henti tiap malam selama hampir 2 minggu. Setelah pelan-pelan berdamai dengan diri sendiri, mencoba mengurangi pekerjaan, memperbaiki jam istirahat, dan mengkonsumsi booster, aku mulai pelan-pelan berusaha mengembalikan produksi ASIku. Aku perbaiki jadwal pumpingku, ku tambahin jadwal power pumping untuk memancing produksi. Setelah hampir 2 minggu, aku berhasil sedikit demi sedikit mengembalikan jumlah produksi ASIku. Aku bersyukur sekali meski banyak banget up and down nya selama menyusui Radif, setiap kali aku berpikir untuk menyerah, setiap itu pula Alloh datang memberi pertolongan lewat perpanjangan tanganNya.
Terima kasih, nak sudah berjuang bersama mama

Aku tahu, sejauh ini yang paling berjuang adalah Radif. Keberhasilan memberi ASI Eksklusif selama 6 bulan ini benar-benar sebuah kerja tim yang diketuai oleh anakku sendiri. Tanpa kenaikan BB Radif yang bagus, aku mungkin sudah menyerah di bulan pertama. Sekarang Radif sudah hampir 8 bulan. Sudah 2 bulan ini dia belajar makan dan masih aktif menyusu. Dua minggu yang lalu, BB Radif sudah menembus 8,5 kg. Aku nggak tahu sampai di batas kapan aku bisa maksimal memberinya ASI saja. Tapi aku nggak akan menyerah selama kondisi Radif baik-baik saja. Aku tahu, semua drama yang ku lalui ini bukan hanya tagline "semua ibu menyusui pasti mengalaminya". Bukan. Aku tak mau bersembunyi dengan menggunakan pembenaran tersebut. Ini semua tidak terlepas dari ketidaksiapanku sebagai ibu dalam menghadapi kelahiran bayi. Aku bahagia menyambut kelahiran Radif tapi tidak sungguh-sungguh mempersiapkan hal-hal yang penting dengan baik. Seharusnya, aku cari tahu sejak awal apa-apa saja yang harus ku kuasai untuk menghadapi hal-hal di luar dugaan. Satu hal yang sampai detik ini ku pegang, anak itu adalah amanah. Bagaimanapun usaha dan cara kita, lakukan dan berikan yang terbaik untuknya. Terima kasih untuk terus berjuang bersama ya, nak.  Mama bangga sama Radif. Maaf ya kalau tulisanku ini rada antiklimaks.

Ohya, setelah ibu mertua pulang ke Bogor, aku dan suami membawa Radif ke kantor sejak dia usia 5 bulan. Nanti bakal ku ceritakan bagaimana suka duka membawa bayi ke kantor.

Continue reading Radif's Story: Perjalanan Menuju ASI Eksklusif
, ,

Cerita Persalinan Pertamaku: Labor Induction

Tadi sore, aku mendapatkan kabar duka dari teman sekelas suami di SMA yang meninggal dunia setelah melahirkan dengan proses CSection. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raj'un. Al fatihah untuk beliau, semoga khusnul khotimah. Sedih, patah hati rasanya meski aku tidak mengenal beliau. Ada sebuah rasa yang sulit dijelaskan ketika sudah menjadi seorang ibu, semua anak seakan terasa seperti anakmu sendiri. Berat membayangkan bagaimana si bayi mungil yang masih merah itu harus kehilangan seorang ibu. 

Okay hi, I'm back! Aku akhirnya tergerak untuk menuliskan pengalaman persalinanku beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya, aku sudah pernah membuat instastory tentang cerita persalinanku ini sih, bisalah dikepoin di highlight instagramku yang judulnya Birthstory. Kali ini aku pengen menuliskannya secara lengkap dan rinci di sini. Bingung nih mau mulai dari mana. So, here we go.

Jadi, Hari Perkiraan Lahir (HPL) bayiku adalah tanggal 28 Januari 2018 menurut HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir). Nah, ini penting banget diketahui sama ibu hamil. Selain untuk mengetahui usia kehamilan, juga untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk mulai mengambil cuti persalinan. Aku sudah mulai cuti sejak tanggal 22 Desember 2017 karena waktu itu aku berpatokan pada HPL versi USG. Optimis nggak akan jauh-jauh dari tanggal HPL, aku minta suami untuk pulang tanggal 25 Januari 2018. Alhamdulillah, di tanggal-tanggal itu bertepatan beliau mendapat tugas negara ke Denpasar sehingga bisa sekalian pulang kampung dan mengambil cuti panjang. Semacam kayak semesta mendukung gitulah. Entah aku yang berhasil sounding ke dedek bayi atau memang sudah rejeki kami, kelahiran pertama kali ini sudah dapat dipastikan bakal didampingi suami. 

Tanggal 26 Januari 2018 malam, aku ada jadwal kontrol rutin ke obsgyn. Ohya, selama di Klaten ini, aku langganan periksanya ke Dokter Zamzuri Hudaya, SpOG yang praktik di RSI Klaten. Beliau juga membuka praktik di Apotek Sidowayah in case you want to know. Kebetulan aku langsung cocok sih dengan gaya konsultasi beliau. Malem itu, aku akhirnya bisa kontrol rutin di Klaten dengan didampingi oleh suami. Nah, nggak kayak kontrol-kontrol rutin sebelumnya yang hampir nggak pernah ada masalah selain BB Janin yang kurang, malem itu banyak hal yang bikin aku khawatir. Indeks air ketubanku yang minggu lalu masih di level sangat aman tiba-tiba terjun bebas mendekati angka minimal. Aku bahkan nggak sadar bahwa ketubanku rembes. Berhubung usia kehamilanku sudah terbilang tua (saat kontrol sudah hampir uk 40minggu), plasentaku juga sudah mulai mengalami pengapuran grade 2. Dokter bilang bahwa kondisi ini tidak bisa dikatakan bagus. Bahkan beliau bersikeras agar bayiku segera dilahirkan saja demi keselamatan ibu dan si buah hati. Bila ditunda, beliau tidak berani mengambil risiko yang diakibatkan oleh kondisi air ketubanku ini. Beruntung, aku masih mempunyai kesempatan untuk melahirkan secara vaginal birth. Selain karena indeks air ketubanku masih memungkinkan, ukuran BB Janinku tergolong kecil namun normal. Tersebutlah aku diberi surat pengantar ke UGD untuk mendapatkan tindakan induksi besuk paginya. Syok banget rasanya karena nggak pernah kebayang bakalan mengalami proses induksi yang kata orang-orang rasanya berkali-kali lipat sakitnya.

Sampai rumah, aku dan suami galau banget. Ibu mertua menyarankan kami untuk cari second opinion terlebih dahulu. Akhirnya, pagi harinya tanggal 27 Januari 2018 pukul 06.30 WIB, kami coba periksa ke dokter lain. Namun ternyata, hasilnya tidak lebih bagus dari dokterku yang sebelumnya. Kami pun akhirnya mantap ke rumah sakit siang itu juga. Setiba di sana, aku langsung diberi makan dan dicek pembukaan serta DJJ. Aku seneng banget karena di sini aku dibebaskan menunggu hingga siap diinduksi. Tidak ada intervensi medis yang berarti.

Pukul 13.52 WIB, aku mulai mendapatkan tindakan induksi yang pertama dan akan dievaluasi 6 jam kemudian. Nah, selama masa nunggu itu aku nggak diem saja di tempat. Aku jalan-jalan keliling rumah sakit, naik turun tangga, main gymball, mengulang gerakan senam hamil, pokoknya gerakan apa saja yang memacu kontraksi alami. Setelah sholat ashar, aku mulai merasakan perutku mulai mengeras dan seperti makin turun. Saat sholat magrib pun aku sudah mulai kepayahan untuk rukuk dan sujud. Rasanya seakan aku optimis  sok tahu mungkin ini tanda sudah mulai pembukaan. Meskipun aku sendiri masih nggak tahu bagaimana rasanya gelombang kontraksi itu.

Pukul 20.00 WIB, dievaluasi dan ternyata belum pembukaan sama sekali. Duh, kok sedih banget ya rasanya. Pukul 21.00 WIB, aku setuju mendapatkan tindakan induksi untuk kedua kalinya setelah memastikan bahwa DJJ (Denyut Jantung Janin) masih aman. Setelah itu, ibuku mulai pamit ke mushola karena yang diizinkan menunggu hanya satu orang. Berhubung kami semua sudah sangat lelah, aku menyuruh suami untuk istirahat dulu. Aku berpikir mungkin aku lebih membutuhkan beliau saat nanti mulai kontraksi. Di saat ini, penting sekali yang namanya kerja sama tim. Aturan pertama mendampingi persalinan adalah jangan ikutan panik. Sungguh kami ini hanya butuh orang yang bisa menyemangati kami, mengurangi rasa panik, dan tentu saja selalu sigap dan siap dengan segala kondisi yang akan terjadi. Istilahnya siaga gitulah.

Pukul 23.00 WIB, aku ke kamar mandi dan ternyata sudah mulai keluar lendir darah. Rasanya gelombang kontraksi mulai muncul namun masih bisa ku atasi dengan mengatur nafas. Setengah jam kemudian udah nggak karuan rasanya, suami pun terbangun dan mulai mendampingiku menahan sakitnya kontraksi. Baru kali itu aku tahu rasanya orang melahirkan, sakitnya masya Alloh. Semua ilmu-ilmu saat senam hamil langsung luntur entah kemana. Aku nggak bisa mengontrol nafasku. Beberapa kali bidan yang jaga menegurku agar menghemat tenaga dan mengatur nafas supaya tidak kesakitan dan kelelahan saat mengejan nanti. Namun tetap saja aku takluk dengan rasa sakitnya kontraksi. Mulutku nggak bisa berhenti meringis keras.

Pukul 00.30 WIB tanggal 28 Januari 2018, aku mulai nggak tahan dan minta suami untuk memanggil bidan. Bidan mengecek ternyata baru bukaan 2. Patah hatiku setelah hebatnya rasa sakit itu ternyata baru bukaan 2. Rasanya langsung pesimis bakal bisa bertahan. Sangking kesakitannya, hampir setiap 5 menit sekali aku nanya ke suami jam berapa. Rasanya kok kayak lama banget. Sejam kemudian aku udah kayak nggak sanggup lagi dan ngaco pengen minta pain killer. Di tengah kemelut rasa sakitku, aku maksa suami buat googling pain killer induksi. Sungguh ngarang sekali karena jelas sekali tidak ada. Aku pun minta turun ranjang dan duduk di gymball. Rasanya sedikit membaik meski tentu saja makin lama gelombang kontraksi makin keras menyerang. Aku sudah nggak peduli lagi bagaimana kondisiku saat itu. Nguyek-nguyek suami sambil mainan gymball dengan nafas tersengal-sengal dan sesekali teriak kesakitan. Kalimat istighfar tidak berhenti melantun dari bibirku. Seakan-akan aku ingat semua dosa-dosaku selama ini.

Karena aku begitu berisik, bidanku datang menenangkan. Sungguh, kalimat bidan memberiku sedikit kekuatan meski tentu saja setelah bidannya pergi aku kembali dengan teriakan dan ringisanku yang tadi. Selama berjuang melawan kontraksi itu, aku tak henti minum air putih, teh manis, pocari sweat hingga makan pisang agar tenagaku tidak habis. Ini penting sekali ya ibu-ibu karena percuma aja menahan sakit bila akhirnya tidak kuat mengejan. Minta tolong suami untuk selalu bersiap memberi kita amunisi setiap kali merasa lapar dan haus.

Pukul 02.20 WIB, aku mulai merasakan ada yang mau keluar di bawah tubuhku. Aku selalu mengingat ajaran senam hamil dari pelatihku bahwa aku tidak boleh mengikuti ajakan tubuh untuk mengejan sebelum bukaan lengkap. Sayangnya, aku kelepasan. Saat aku mulai ribut minta dicek, ternyata sudah mulai bukaan 7. Disitulah aku sempat kelepasan mengejan sedikit. Dalam hitungan menit, aku mulai nggak sanggup menahan ajakan untuk mengejan tersebut. Aku pun teriak ke suami bahwa ada yang mau keluar tak tertahankan dari bawah sana. Suami mulai melihat kepala bayi dan langsung memanggil bidan. Seketika saat itu ketuban pecah, aku bisa merasakan hangatnya air ketuban membasahi bagian bawah tubuhku. Bidan pun datang menyiapkan alat, siap-siap menolong persalinan. Dengan dibantu suami menopang tubuhku, aku dipandu untuk mengejan. 

Ternyata, meskipun sudah diberi tahu bahwa proses mengejannya tidak jauh berbeda dengan proses kita mengejan saat BAB, aku tetap saja sempat salah melakukannya. Akhirnya setelah 3 kali mencoba untuk mengejan, tepat pukul 02.40 WIB, lahirlah putra kami dengan sehat dan selamat. Alhamdulillah, kalau kamu pernah mendengar kata orang bahwa setelah anak lahir, maka kita akan lupa bagaimana rasa sakitnya melahirkan. Begitulah rasanya kira-kira. Akhirnya aku tahu bahwa kalimat itu bukan bualan semata. Sungguh, aku bahkan sudah lupa rasanya sakit yang baru saja ku alami setelah melihat tubuh mungil itu diletakan di dadaku saat dilakukan proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Mau nangis haru sampai nggak bisa sangking bahagianya. Terima kasih, nak sudah mau berjuang bersama mama. Ohya, ternyata proses mengeluarkan plasenta serta jahitan jalan lahir itu nggak kalah sakit ya guys meskipun sudah dibius lokal.

For the first time in my life, I feel like a hero. I already knew, at this moment, I was not only giving birth but also being born again as a mom. My life will never be the same anymore. Thank you God for the best thing you could give to me as a human. Terima kasih banyak suamiku atas kesabaranmu selama mendampingiku berjuang hidup dan mati. I didn't know what's gonna happen without you. Terima kasih ibuku yang tak pernah berhenti melantunkan doa untuk anakmu yang akan melahirkan cucu untukmu. Kalian luar biasa. 
Continue reading Cerita Persalinan Pertamaku: Labor Induction

Namanya Radif

Namanya Radif. Aku dan suamiku tanpa sengaja menemukan nama itu di sebuah situs pencairan nama bayi suatu hari menjelang hari akikahnya 5 bulan yang lalu. Kebetulan sekali, kami belum pernah sekalipun mendengar nama tersebut pada orang-orang di sekitar kami.  Hampir saja kami menyerah dan pasrah karena tak kunjung menemukan nama yang cocok. Ya, aku memang yg paling riwil soal pemberian nama panggilan. Sebisa mungkin tidak terkait dengan orang-orang di sekitar kami, baik saudara, tetangga, teman main, teman kantor, teman sekolah, teman kuliah maupun lingkaran sekitar mereka yang masih bisa kami jangkau. Pun tidak ingin menyerupai nama-nama anak artis, peran dalam sinetron/film, atau bahkan novel yang pernah ku baca. Sulit ya. Begitulah salah satu bagian menyebalkan menjadi seorang perfeksionis.
Radif umur 5 bulan

Radif, sebuah nama yang diambil dari bahasa Sansekerta. Bahasa favoritku dalam pencairan nama. Radif artinya sukses. Satu kata yang rupanya sering kali menjadi tujuan utama setiap orang dalam hidupnya. Mengapa? Tanpa sadar setiap dari kita yang belajar matian-matian, usaha mati-matian, hingga berdoa sungguh-sungguh, muaranya selalu pada kata sukses. Baik itu sukses dunia maupun akhirat bila ku gambarkan dalam agamaku. Sukses sendiri punya banyak sekali turunan arti yang tidak pernah menyempitkan makna sesungguhnya. Ya, sukses itu artinya luas sekali. Tidak berhenti pada hal-hal duniawi atau yang cenderung mengarah pada matrealisme. Sukses artinya lebih beragam untuk setiap orang. Dan, biarkan Radif yang memaknai sendiri kata sukses dalam hidupnya. Kami sebagai orang tua selalu berdoa, suksesnya Radif tidak hanya untuk dirinya sendiri, namun mengena ke semua lini atau lingkaran dalam kehidupannya. Keluarga, agama, nusa, bangsa, dan negara.
 
Ayahnya yang tak lain adalah orang yang paling berhak memberikan nama untuk Radif, sudah menemukan kata kedua dan ketiga untuk namanya. Untuk dua kata ini, aku tidak begitu riwil sebagai mamanya selama artinya baik. Tersebutlah kami menemukan rangkaian nama yang tepat untuk anak pertama kami dengan arti harapan agar kelak dia menjadi anak laki-laki yang tampan, cerdas, bijaksana, kuat dan sukses, baik dunia dan akhirat serta senantiasa memberikan kedamaian pada orang-orang di sekitarnya. Nama belakang Radif merupakan nama depan ayahnya yang berarti damai.

Doa kami tidak akan pernah berhenti mengalir untukmu, nak. Berbahagialah dan janganlah kau bersedih hati. Bila bersedih tak perlu berlama-lama, segera tegakkan lagi kepalamu. Kami menyayangimu. Mama menyayangimu tanpa peduli bila pun nyawa yang menjadi taruhannya. Tumbuhlah dengan baik menjadi anak yang sehat, cerdas, sholih, dan baik hati lagi bijaksana. Tantang dunia dengan berani selama yang kau pegang adalah kebenaran. Selamat datang ke dunia kami, nak.

I am gonna share about my first vaginal delivery birth story soon.
Continue reading Namanya Radif
, ,

Menyambut Tahun Baru 2018 dengan Resolusi Pilihan


Tidak terasa minggu ini sudah memasuki awal bulan Desember. Pertanda tahun 2017 akan segera berakhir dan tahun baru 2018 sudah bersiap-siap menyambut kita dengan aneka agenda baru yang siap untuk direalisasikan. Di penghujung tahun ini, sudah siapkah kita menyongsong hari baru di tahun 2018 nanti? Apa saja yang sudah kita persiapkan agar segala kesalahan atau hal-hal yang sempat kita sesali sepanjang tahun 2017 ini tidak terulang kembali di tahun baru nanti? Kita bisa merenungkannya sejak dari sekarang. Mari kita lupakan dulu sejenak segala penyesalan di sepanjang tahun 2017 dan mulai mengubahnya menjadi sebuah semangat baru untuk menuju kehidupan yang lebih baik.

Berbicara mengenai pergantian tahun, ada satu agenda rutin yang sering kali kita lakukan selain hanya sekadar melakukan perayaan tahun baru. Kembang api dan pesta-pesta tidak selalu menjadi hal wajib yang harus ada dalam setiap momen penyambutan tahun baru. Terlebih, bagi kita yang kesehariannya sudah dipenuhi dengan begitu banyak kegiatan penting hingga sulit menyempatkan waktu bahkan di hari libur sekalipun. Pun dikejar masa hidup yang kian berkurang setiap tahunnya. Agenda penting itu bernama menuliskan resolusi atau pengharapan di tahun baru, baik literally tertulis atau hanya sekadar dicatat di angan. Diam-diam, kita selalu melakukannya di setiap pergantian tahun. Entah itu kita pikirkan dengan serius dan matang-matang atau sekadar pemikiran selintas saja. Bisa jadi bagi yang memikirkan dengan sangat matang dan serius sudah tahu apa saja yang akan dilakukannya pada tahun baru nanti. Bisa jadi bagi mereka yang sungguh-sungguh menuliskan resolusinya tersebut memang sudah begitu menanti-nanti pergantian tahun 2018. 

Sama seperti kebanyakan orang-orang, aku pun juga sudah mulai memikirkan resolusi apa saja yang akan menjadi agenda pentingku di tahun baru 2018 nanti. Sebenarnya, aku mulai serius merealisasikan resolusi-resolusi yang ku buat sejak tahun 2015 lalu. Meskipun tentu saja, tidak serta merta semua resolusiku tersebut berhasil ku tunaikan. Rencana hanyalah rencana, usaha kita dan tangan Tuhanlah penentunya. Namun setidaknya, di usiaku yang memang sudah terhitung matang secara biologis dan psikologis tersebut, aku sudah mulai belajar untuk merencanakan hidupku di setiap tahunnya. Karena tentu saja, kita semua tidak ingin membuang waktu kita yang begitu berharga secara sia-sia.  

Merenungi segala pencapaian apa saja yang sudah berhasil aku hasilkan di tahun 2017 dan apa saja yang masih gagal ku wujudkan, aku tentu tak ingin tahun 2018 berjalan tidak lebih baik dari tahun 2017. Saatnya membuat resolusi-resolusi besar untuk tahun 2018 nanti.

Resolusi pertama, tahun 2018 bakal menjadi tahun yang sangat ku nantikan bersama suami karena insya Allah akan menjadi tahun kelahiran anak pertama kami. Aku dan suami tentu saja berharap agar semua prosesnya berjalan dengan lancar. Ibu dan anaknya sehat tak kurang suatu hal apapun. Sebenarnya ada satu hal yang sangat ku harapkan, yaitu dapat menjalani proses persalinan secara normal. Di atas semua itu, doa terbesarku tetap saja adalah kesehatan bayi yang akan aku lahirkan. Semoga perkiraan tanggal lahirnya tidak meleset jauh agar dapat menyesuaikan masa cutiku. Dengan demikian, aku bisa mempunyai waktu lebih bersama bayiku. Memiliki anak memang bukanlah sebuah pencapaian hidup. Namun hal ini dapat menjadi sebuah catatan penting bagi mereka yang akan segera dikaruniai momongan. Belajar menjadi orang tua baru. Mulai memikirkan apa saja kebutuhan anak dan seberapa jauh persiapan kita untuk masa depannya. 

Theragran-M
Mempersiapkan masa depan anak di awal kelahirannya tidak pernah terlalu dini menurutku, justru semakin dini akan semakin baik. Selain fokus pada hal finansial, kebutuhan anak saat di dalam kandungan juga musti kita pikirkan. Memastikan bahwa segala kebutuhan gizinya terpenuhi adalah sebaik-baiknya hadiah. Untuk itu, aku selalu memperhatikan makanan yang aku makan selama hamil dan tidak lupa juga mengkonsumsi supplemen. Pilihan supplemen aku jatuhkan kepada Theragran-M. Theragran-M mengandung Vitamin C yang baik untuk menjaga kesehatan tubuh sehingga tubuh selalu dalam keadaan optimum untuk mengatasi serangan penyakit. Hal ini untuk memenuhi nutrisi sang ibu dan buah hati di dalam kandungan serta menjaga daya tahan tubuh selama hamil agar tidak cepat lemas. Konsumsi yang tepat serta memperhatikan anjuran dokter akan sangat bermanfaat bagi ibu dan anak selama kehamilan. Theragran-M ini juga sangat baik untuk ibu menyusui, aku pun akan mengkonsumsinya sebagai supplemen tambahan bila nanti diperlukan. Biasanya, aku mengkonsumsi Theragran-M ini sebanyak 1 tablet setiap harinya. Theragran-M ini dijual bebas kok dan dapat ditemui di apotek atau toko obat terdekat dan aman untuk ibu hamil untuk pemenuhan kebutuhan mineral setiap hari.

Resolusi kedua, menyelenggarakan aqiqah untuk anak. Salah satu kewajiban orang tua kepada anak adalah memberikan nama. Pemberian anak ini sewajarnya diresmikan pada saat aqiqah, atau sekitar 7 hari pasca kelahirannya. Aqiqah ini umumnya dilaksanakan dengan prosesi penyembelihan kambing untuk dibagikan kepada sanak saudara dan tetangga sebagai wujud rasa syukur juga. Rasulullah SAW bersabda.“Semua bayi tergadaikan dengan aqiqah yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama, dan dicukur rambutnya.” Pelaksanaan aqiqah ini tergantung pada jenis kelamin anak. Satu ekor kambing untuk anak perempuan dan dua ekor kambing untuk anak laki-laki.

Resolusi ketiga, setelah memastikan segala kebutuhan finansial anak menjelang dan pasca kelahiran nanti, aku dan suami juga berupaya untuk membuat perencanaan finansial untuk kebutuhan lainnya. Salah satunya adalah kebutuhan tempat tinggal. Kami mungkin memang belum genap satu tahun menikah, namun kami sadar bahwa kenaikan penghasilan tidak akan pernah sebanding dengan kenaikan harga properti. Kami tidak ingin terlalu terlena dengan kesibukan pekerjaan dan ketidakpastian lokasi kerja hingga lupa untuk melakukan investasi. Memiliki rumah merupakan salah satu kebutuhan primer sekaligus sebagai bentuk instrumen investasi. Aku dan suami sudah cukup lama membicarakan tentang pilihan domisili kami nanti setelah sudah settled. Hidup nomaden bukanlah alasan untuk menunda memiliki sebuah hunian. Berbagai alternatif mulai kami pertimbangkan, mulai dari lokasi, harga, pendanaan, hingga pemeliharaannya nanti. Hal ini penting mengingat kami tidak akan langsung dapat menempatinya. Entah nanti untuk disewakan atau bagaimana, semuanya itu sudah harus mulai kami pikirkan. 

Resolusi keempat, anak lulus ASI Eksklusif 6 bulan. Membaca berbagai cerita masa menyusui di berbagai Forum Bumil Busui membuatku diliputi sedikit rasa cemas. Drama ibu menyusui tidak sesederhana yang terlihat di sekitar kita. Perjuangan ibu baru dalam memenuhi kebutuhan ASI anak rupanya tidak segampang teorinya. Aku berharap, di tahun 2018 nanti dapat menjadi ibu yang bisa memberikan ASI secara eksklusif kepada anak dan tentu saja bisa minim drama. Semoga jumlah ASI ku nanti benar-benar cukup untuk kebutuhannya terutama dalam 6 bulan pertama. Untuk itulah, aku membutuhkan supplemen agar terhindar dari segala macam penyakit. Theragran-M akan menjadi salah satu list supplemen yang akan ku sediakan. Bila aku dalam keadaan sehat, besar kemungkinan akan berpengaruh baik juga pada produksi ASI.

Resolusi kelima, melanjutkan kuliah ke jenjang S1. Tahun depan, genap sudah 2 tahun TMT PNS. Aku sudah dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang S1. Aku sangat berharap bisa mendapatkan beasiswa internal S1 di salah satu kampus di Jawa sehingga aku bisa lebih maksimal dalam mengurus anak. Hal ini karena tinggal di Waingapu membuatku sulit menemukan pengasuh untuk anakku nanti. So, please kindly pray for me. 

Resolusi keenam, resolusi ini merupakan resolusi pendukung bila aku benar-benar dapat melanjutkan pendidikanku di tahun 2018 nanti. Aku ingin mengambil kursus Bahasa Inggris. Fokus di TOEFL dan TOEIC. Malu juga sih, sebenarnya ini adalah resolusiku sejak tahun 2015 namun sampai kini belum juga dapat ku penuhi. Waktu menjadi kendala utama yang membuatku masih enggan untuk mengambil kursus. Semoga jika aku benar-benar mendapatkan kesempatan melanjutkan S1, aku punya waktu lebih di sela jadwal kuliah untuk mengambil kelas Bahasa Inggris.

Resolusi besar terakhir, menunaikan rukun islam yang kelima. Setelah menyempurnakan separuh agama, aku dan suami terus berusaha untuk menyempurnakan seluruh kewajiban kami sebagai umat muslim. Salah satunya adalah menunaikan ibadah haji. Sebagai warna negara yang hidup di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam mengelola dana haji warna negaranya. Jumlah penduduk muslim di Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Wajar bila pemberangkatan jamaah haji tidak dapat serta merta terlaksana di tahun yang sama saat mereka mendaftar. Di beberapa daerah bahkan waktu tunggu pemberangkatan hajinya mencapai hampir 20 tahun sejak dari pendaftaran. Bayangkan saja selama itu. Padahal, umur orang tidak ada yang tahu, bukan? Untuk itulah, semakin cepat mendaftarnya akan semakin baik. Aku dan suami memang sudah punya rencana untuk mulai mendaftar haji di tahun 2018 nanti. Tabungan sudah kami persiapkan sejak dari awal menikah. Namun tentu saja, syarat dan ketentuan berlaku. Kami hanya bisa berencana, Tuhanlah penentunya.

Demikianlah gambaran resolusi-resolusi besarku selama tahun 2018. Aku merasa 2018 bakal menjadi tahun yang penuh dengan kerja keras. Aku tahu semua itu tidak mudah untuk diwujudkan. Bila selama menghadapi segala tantangan di 2018 tubuh mengalami sakit, ada Theragran-M yang akan menjadi vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Di tahun yang penuh dengan kerja keras, kalau sakit jangan lama-lama. Mari berjuang untuk 2018 yang lebih baik. I'm ready to greet you, 2018. Bismillah.

Disclaimer: Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.
Continue reading Menyambut Tahun Baru 2018 dengan Resolusi Pilihan