,

Radif's Story: Perjalanan Menuju ASI Eksklusif

Setelah belum lama ini aku membagikan cerita persalinanku yang pertama, kali ini aku mau lanjut berbagi cerita tentang perjalananku memberikan ASI Eksklusif. Ohya disclaimer dulu ya, di sini aku nggak menjustifikasi ibu-ibu yang memberikan anaknya susu formula. Ceritaku ini murni pendapatku pribadi dan apa yang aku usahakan untuk anakku tidak serta merta mempengaruhi usaha ibu-ibu lain. What I'm trying to say is every moms knows best for their children. So, it was just me who tried to tell you my story. As always, my story is gonna be so long.

Waktu hamil Radif, aku tipikal bumil yang santai banget. Entah bawaan hamil atau emang dasar akunya memang orangnya ndablek banget. Aku nggak begitu riweuh macem ibu-ibu milenial yang well prepared segala rupa baik ilmu maupun pritilan-pritilan lain untuk kehamilannya. Tapi bukan berarti aku nggak mencari tahu sama sekali informasi-informasi seputar kehamilan dan persalinan. Aku baca-baca sih, follow akun-akun yang berkaitan dengan kehamilan. Jaman sekarang tuh ya, gampang banget menemukan berbagai informasi kayak gini.

Nah, aku kan tergabung gitu di Grup Bumil Busui STAN 2013, ini tuh grup whatsapp yang membernya adalah ibu-ibu alumni STAN yang lulus tahun 2013 lalu. Dari sana  para bumil busui yang sebaya denganku berkumpul membagi pengalaman-pengalaman mereka. Salah satunya tentang ASI. Aku rada kepikiran waktu tahu banyak ibu-ibu hamil yang ASI nya udah pada keluar pada bulan-bulan awal kehamilannya. Sedangkan aku sendiri, boro-boro. Waktu dikasih tahu harus sering-sering bersihin putingnya aja aku masih bingung apanya yang musti dibersihin secara kayak nggak ada kotorannya gitu. Lalu aku mulai tanya sana sini sekadar nyari temen gitu manatahu banyak yang ASI nya baru keluar setelah persalinan.

Long short story, setelah lahiran ASIku nggak langsung keluar. Jadi tuh awalnya Radif anteng-anteng aja pas habis lahir. Radif lahir pukul 02.40 WIB, langsung rooming in sama aku buat IMD segala rupa. Setiap 2 jam sekali dia ku bangunin nenen buat mancing ASIku supaya cepet keluar. Menjelang magrib, anaknya mulai bangun minta nenen beneran. Lah, ASI tetep belum keluar dan dia mulai sadar. Nangislah dia nggak berhenti sampai subuh. Beneran aku nggak dikasih jeda istirahat pasca lahiran sama si bayi. Udah digendong segala macem masih nangis kejer kayak nggak bisa diapa-apain gitu. Udah coba ditenangin sama ibuku pun nggak mempan sama sekali. Aku mulai panik dan manggil-manggil suster terus buat nenangin anakku. Saat itu, jangan ditanya gimana kondisiku. Kacau sekacau-kacaunya. Sangking rempongnya, aku sampai nggak pakai baju biar gampang aja kalau Radif minta nenen.

Padahal setiap hari aku dikasih makanan bergizi selama di Rumah Sakit, bahkan dikasih supplemen pelancar ASI juga. Tapi ASIku tetep nggak kunjung keluar. Kebetulan aku dirawat di Rumah Sakit yang pro banget sama ASI. Jadi selama belum ada tanda-tanda gawat macem dehidrasi dan lain-lain sampai dengan hari ketiga, tetep harus diusahain ASI. Dokter anak yang nanganin Radif bilang kalau newborn baby tuh lambungnya masih kecil banget jadi kebutuhan ASI nya nggak banyak dan dia masih ada cadangan makanan dari lahir sampai dengan hari ketiga. Dan lagi, emang Radif pup sama BAK nya masih aman secara kuantitasnya. ASIku akhirnya baru keluar di hari ketiga, itupun cuma titik-titik aja. Kata perawatnya, jumlah segitu mah udah cukup buat bayi seumur Radif. Meski aku tetap saja khawatir karena Radif rewelnya nggak habis-habis selama inap di Rumah Sakit. Udah gitu putingku juga mulai lecet karena posisi latch on yang belum benar. Ditambah lagi, Berat Badan Radif terus mengalami penurunan setiap hari. Meski memang tren BB bayi baru lahir tuh bakal menurun di minggu pertama. Tidak perlu khawatir asal masih di range 10-20% dari BB lahir.

Pas dibawa pulang ke rumah, anaknya sempet anteng beberapa jam. Setelah itu, tiada hari tanpa rewel. Dia bisa betah banget nangis berjam-jam dengan suara yang super kenceng macem ngamuk-ngamuk gitu. Sering kali habis subuh baru terlelap karena udah capek nangis. Nah, berhubung di keluargaku nggak pernah ada cerita anak bayi rewel nggak ketulungan kayak gitu, orang-orang rumah mulai khawatir. Banyak banget saran macem-macem buat aku. Ada yang nyuruh kasih sufor lah, kasih madu lah, air putih lah, makanan lah dan lain-lain yang bikin aku malah jadi emosi. Aku tahu sih maksud mereka sebenarnya baik dan mereka juga sama-sama khawatir sama Radif, tapi aku selalu menekankan bahwa Radif dan aku cuma butuh support saja. Selama nggak dehidrasi atau kegawatan lain, aku masih tetep pengen mengusahakan ASI. Soalnya kalau aku nggak bikin rule begini, lama-lama aku capek sendiri ngasih penjelasan ke orang rumah tentang pentingnya ASI.

Pernah suatu ketika, para tetangga pada jenguk Radif di rumah kayak kebiasaan di daerahku tiap ada orang lahiran. Nah, mereka ini sayangnya datengnya bergerombol satu RT gitu, mana bawa anak-anak kecil pula jadinya berisik banget. Bukannya aku nggak respek gimana-mana ya sama perhatian mereka ini tapi kondisi Radif lagi nggak memungkinkan buat dijenguk dengan cara begitu. Alhasil Radif nangis kenceng banget nggak bisa ditolong dan makin menjadi-jadi karena orang-orang pada ribut pengen bantuin aku begini begitu ngotak-atik caraku mangku Radif yang jatuhnya kayak menggurui. Pokoknya mengintervensi banget. Ku sedih dan marah jadi satu. Udah gitu ngasih saran macem-macem yang nggak jauh-jauh dari kata "orang dulu biasanya diginiin digituin blablabla" yang bikin kepalaku rasanya mau meledak. Yang kubutuhin sama Radif saat itu cuma satu, ketenangan. Itulah kenapa, menjenguk orang yang habis melahirkan itu ada adabnya.

Kita nggak boleh seenaknya ngomong atau menggurui dengan alasan apapun. Entah untuk menunjukkan superioritas kita, atau murni karena peduli. Aku masih nggak apa-apa sih kalau semisal ngajak anak menjenguk bayi asal anaknya nggak lagi sakit dan nggak berisik. Aku pun kalau mau jenguk temen lahiran juga bawa anak kok, selama kita yakin bisa mengkondisikan anak kita. Sungguh, sebenarnya pengen emosi tapi aku tahu banget maksud mereka datang tuh baik banget. Kondisinya aja yang nggak tepat.

Nah, sebenarnya, aku mulai curiga sama kondisi warna mata Radif yang berubah menjadi agak kekuningan. Namun itu semua kami tepis karena berfikir mungkin efek cat kamarku yang berwarna kuning. Pas suatu malem, tepatnya hari kelima dari kelahiran Radif, dia nangis kejer banget lebih dari biasanya dan sama sekali nggak bisa ditolong. Karena udah panik banget, tengah malem itu juga aku minta tolong suami dan ibuku buat ngantar Radif ke Rumah Sakit. Insting seorang ibu tidak pernah salah. Sampai di Rumah Sakit, Radif disuruh tes darah. Aku cuma bisa nangis sesenggukan mendengarkan suara tangisan Radif. Dan benar saja, Radif beneran kuning dengan kadar bilirubin 15 dan harus difototerapi saat itu juga. Karena masih di kisaran 15, fototerapinya hanya akan dilakukan selama 2x24 jam. Nah, berhubung rumah sakitnya ini sangat pro ASI, ibu menyusui disediakan ruangan khusus di sebelah ruang PICU/NICU agar memudahkan dalam pemberian ASI secara direct. Selama di sana, Radif jadi lebih anteng. Aku pun bisa memperbaiki sedikit jam tidurku yang berantakan beberapa hari belakangan.

Hari kedua fototerapi, kadar bilirubin Radif sudah berangsur turun. Yay! Akhirnya Radif bisa pulang. Radif puput tali puser tepat pas dia usia 7 hari. Sayangnya gara-gara harus rawat inap, Radif nggak bisa ketemu sama eyang-eyangnya dari Semarang yang dateng menjenguk waktu Radif akikah. Semoga lain kesempatan bisa ketemu ya.

Kami pikir setelah fototerapi Radif bakal anteng. Taunya enggak. Radif tetep super rewel dan aku kayak yang clueless banget ini anak kenapa lagi dan harus gimana. Karena pada dasarnya Radif itu bayi sehat, enggak yang kenapa-kenapa. Bayi sehat kalau rewel ya jawabannya palingan cuma karena laper atau merasa nggak nyaman. Orang-orang rumah bilang kalau ASI ku tuh kurang makanya Radif nangis kelaperan terus. Sedih juga sih dibilang begitu terus, tapi aku harus tahan diri supaya nggak pesimis. Di saat aku mulai clueless, aku dihubungi sama kakak iparku. Beliau ngasih tahu tentang kasus anaknya yang dulu sama rewelnya kayak Radif dan ternyata indikasi Lip Tie Tongue Tie. Aku akhirnya cari info tentang ini sambil konsultasi ke Konselor Laktasi di daerahku.

Waktu konsultasi, dokternya enak banget ngejelasinnya kayak yang paham banget sama apa yang bakal ku ceritain. Ku pikir wah berarti aku dateng di tempat yang benar. Radif diperiksa lidahnya dan cara dia ngenyot. Dokternya menyuruh Radif untuk menjalani fisioterapi oral (yang kemudian baru ku ketahui sama dengan senam lidah) dan bilang agar aku supplementasi sementara ini. Jadi menyusui Radif secara langsung sambil memberinya ASIP kalau anaknya ternyata setelah menyusu masih belum kenyang. Radif dipantau selama 10 hari dan bila pada masa itu kenaikan berat badannya sudah bagus, berarti ASI ku enggak kurang. Demi mendukungku memberi ASI ke Radif, para iparku membelikanku pompa elektrik. Love you geng. Aku mulai pumping ASI sejak saat itu. Pumping pertama kali, ASIP ku cuma 20an ml dan ku pikir jumlah itu udah lumayan. Setelah aku main ke instagram, kaget banget banyak yang bahkan di atas 300ml. Rasanya langsung drop dan pesimis bisa menyusui secara penuh. Memang sih, instagram kadang tidak ramah untuk mamak-mamak yang sedang berjuang menyusui. Itulah mengapa, aku sedikit bersyukur koneksi internet di rumahku jelek banget sehingga aku jarang banget megang ponsel buat sekadar online. Ya lagi pula nggak sempet juga karena full bonding sama Radif.
Ohya, aku pakai Pompa Elektrik Malish Mirella. Enak banget ini
Bagaimana metode memberi ASIP ke Radif? Karena bayi di bawah satu bulan sangat rawan bingung puting, aku memberi ASIP ke Radif lewat sendok. Jadi aku menyusui Radif lalu lanjut memberinya ASIP pakai sendok. Setelah dia pules kekenyangan, aku pumping lagi untuk jadwal minum berikutnya. Begitu terus setiap hari. Hasilnya cukup bagus. Radif sudah berkurang banyak rewelnya, jam tidurku membaik, ASIku mulai lebih lancar, dan yang terpenting adalah berat badan Radif naik dengam cukup bagus. 10 hari pemantauan sejak supplementasi itu, berat badan Radif naik sekitar 400gram. Kata dokternya kenaikan segitu sudah sangat bagus. Namun, karena berat lahir Radif memang kecil, sekitar 2640gram, otomatis dengan kenaikan di bulan pertama yang sempat mengalami kuning, Berat Badan Radif di bulan pertama masih terbilang kurang dan mendekati pita kuning. Waktu kontrol bulan pertama, BB Radif cuma 3,3 kg di saat temen-temen sebayanya hampir semuanya tembus di atas 4 kg. Ibuku mulai khawatir dan takut Radif kurang gizi. Dokter anak yang menangani Radif enggak memarahiku karena kekurangan target BB di bulan pertama tidak begitu banyak. Asal aku telaten, pasti bisa mengejar di bulan berikutnya. Tapi ya, ibu mana sih yang nggak kepikiran tiap kontrol kok anaknya paling kecil.

Karena aku masih bersikeras menyusui, ibu membantuku nyari segala macem booster. Bikinin aku jus segala macem, susu kedelai, sayur-sayuran hijau macem daun katuk dan daun-daun lain yang bahkan aku sendiri nggak tahu apa namanya. Hasilnya? Udah makan sehari minimal 6 kali tapi masih belum begitu terlihat signifikan hasilnya. Saat itu, aku masih nggak tahu dimana salahnya. Aku udah galau banget karena tiap Radif rewel, ujaran untuk nambah sufor dan lain-lain terus menghantui. Jujur, aku nggak anti sufor. Semisal itu adalah pilihan terbaik, bakal ku kasih saat itu juga. Tapi aku yakin banget saat itu ada hal yang salah dari Radif. Aku yakin ASI ku cukup. Dokter anak yang menangani Radif nggak pernah bilang ASIku kurang. Meski Radif tidak divonis Lip Tie Tongue Tie, tapi hatiku kayak belum lega. Aku yakin masalah kami ini masih questionable. Bukan perkara ASI kurang atau apalah. Tapi aku bingung harus konsul kemana lagi. Suami yang tiap hari jadi tempat aku berkeluh kesah juga nggak kalah usahanya. Nanya sana sini, beliin segala macem booster, sampai nyiapin segala apapun buat aku dan Radif di Waingapu. Nggak ada orang lain yang bisa ngasih aku semangat selain suami. Karena saat itu hanya beliaulah yang optimis aku bisa menyusui Radif. Keluargaku sebenarnya sangat membantuku walau mereka masih sering ngebandingin BB Radif sama bayi-bayi lain yang terlihat gemuk. I knew, they just worried back then. I don't want to blame them. 

Usia satu setengah bulan, Radif ku ajarin dot. Alhamdulillah hidup makin mudah. Aku bisa sedikit punya waktu untuk me time. Aku bahkan bisa ninggalin Radif untuk pergi ke salon atau facial dalam tempo hampir 4 jam. Maaf ya nak, agar supaya mamamu tetap waras. Ini juga atas saran ayahmu yang kasian melihat istrinya menjelma menjadi zombi selama cuti.

Karena sangking insecure nya sama BB Radif, tiap minggu Radif ku bawa ke puskesmas buat sekadar tahu kenaikan BBnya. Nggak pakai daftar langsung nimbang tok sampai orang-orang puskesmas hafal sama Radif. Haha, aku udah nggak tahu musti dengan cara apa lagi menyemangati diri sendiri selain dengan melihat kenaikan BB Radif. Alhamdulillah kenaikan BBnya mulai bagus, udah nggak dibatin lagi kok kecil banget dan sebagainya. Aku mulai melupakan pikiranku tentang kenapa Radif dulu super rewel. BB Radif di bulan kedua 4,6kg dan sudah masuk di pita hijau. Yay!

Pas Radif dibawa ke Bogor di bulan kedua, mertua menyarankan kami untuk konsul ke dokter anak yang menangani Kenzo, anak kakak iparku. Kebetulan Kenzo divonis Lip Tie Tongue Tie dan harus menjalani insisi. Berhubung waktu itu Radif juga ada jadwal imunisasi pentabio yang pertama, aku sama suami menyetujui saran tersebut. Lagipula apa salahnya mencoba, begitu pikir kami waktu itu. Kami pun membawa Radif ke Puri Cinere Depok. Nah, di sanalah kami bertemu dengan Dokter Asti Proborini yang terkenal itu. Ternyata Radif ada Lip Tie Tongue Tie dengan derajat yang cukup parah dan harus insisi saat itu juga. Aku ngapain waktu Radif diinsisi? Nangis bombay mimbik-mimbik nggak tega. Setelah insisi, aku diajarin senam lidah untuk Radif dan harus dilakukan 5 kali sehari selama 3 minggu agar tali lidahnya tidak terhubung kembali. Radif disuruh belajar menyusu dulu tanpa boleh berkenalan dengan dot.

Progres menyusui Radif pun berjalan lancar selama 3 minggu itu. Aku mulai bisa merasakan perbedaannya pasca insisi. Radif mulai bisa merasakan kenyang tanpa supplementasi. Dia mulai pinter menyusu dan berhenti dengan sendirinya ketika kenyang. Tidurnya pun lebih awet dan pules, tanda bahwa dia benar-benar menyusu dengan baik. Di balik semua itu, sebenarnya drama meninggalkan Radif untuk bekerja tanpa boleh memakai dot sungguh tak kalah menguras jiwa raga. Dia kesulitan minum menggunakan cup feeder atau soft feeder. ASIP ku lebih banyak terbuang daripada yang terminum. Untungnya aku masih bisa pulang setiap dua jam sekali untuk menyusui, sehingga asupan ASI Radif tidak kurang.

Setelah berhasil menyusu dengan baik, Radif akhirnya kembali ku perkenalkan dengan dot untuk memudahkan hidup. Taunya setelah pinter menyusu, Radif jadi nggak doyan dot dong. I wanna cry out loud. Gimana ini drama kok kayak nggak habis-habis. Aku kasian sama ibu mertuaku yang harus susah payah memberi ASIP ke Radif. Sungguh, aku bersyukur sekali sejauh ini punya support system yang sangat baik. Keluargaku, keluarga suami, dan suamiku sendiri, mereka sangat membantu sampai di titik itu. Ibu mertuaku sabar banget dalam urusan menenangkan Radif. Selama 2 bulan, kami sangat tertolong dengan kehadiran beliau. Setiap kali Radif mulai rewel karena ASIku mulai turun produksinya setelah bekerja, pikiran menyerah sering menghantui. Terlebih di bulan keempat, hampir 2 minggu Radif rewel setelah imunisasi pentabio yang kedua. Aku cuma tidur 2 sampai 3 jam saja persis kayak waktu awal lahiran Radif. Aku mulai panik karena selama ini memang aku nggak pernah punya stok tabungan ASIP. Selain karena di awal cuti dulu Radif sangat rewel sehingga tabungan ASIP ku selalu habis di hari yang sama, ngebayangin bawa ASIP dari Klaten ke Bogor lanjut Waingapu sungguh tak kuat.

Aku udah hampir nyari info tentang sufor. Dalam hati, aku masih belum rela karena kenaikan BB Radif masih bagus. Hanya saja, siapa ibu yang tega mendengar Radif menangis tanpa henti tiap malam selama hampir 2 minggu. Setelah pelan-pelan berdamai dengan diri sendiri, mencoba mengurangi pekerjaan, memperbaiki jam istirahat, dan mengkonsumsi booster, aku mulai pelan-pelan berusaha mengembalikan produksi ASIku. Aku perbaiki jadwal pumpingku, ku tambahin jadwal power pumping untuk memancing produksi. Setelah hampir 2 minggu, aku berhasil sedikit demi sedikit mengembalikan jumlah produksi ASIku. Aku bersyukur sekali meski banyak banget up and down nya selama menyusui Radif, setiap kali aku berpikir untuk menyerah, setiap itu pula Alloh datang memberi pertolongan lewat perpanjangan tanganNya.
Terima kasih, nak sudah berjuang bersama mama

Aku tahu, sejauh ini yang paling berjuang adalah Radif. Keberhasilan memberi ASI Eksklusif selama 6 bulan ini benar-benar sebuah kerja tim yang diketuai oleh anakku sendiri. Tanpa kenaikan BB Radif yang bagus, aku mungkin sudah menyerah di bulan pertama. Sekarang Radif sudah hampir 8 bulan. Sudah 2 bulan ini dia belajar makan dan masih aktif menyusu. Dua minggu yang lalu, BB Radif sudah menembus 8,5 kg. Aku nggak tahu sampai di batas kapan aku bisa maksimal memberinya ASI saja. Tapi aku nggak akan menyerah selama kondisi Radif baik-baik saja. Aku tahu, semua drama yang ku lalui ini bukan hanya tagline "semua ibu menyusui pasti mengalaminya". Bukan. Aku tak mau bersembunyi dengan menggunakan pembenaran tersebut. Ini semua tidak terlepas dari ketidaksiapanku sebagai ibu dalam menghadapi kelahiran bayi. Aku bahagia menyambut kelahiran Radif tapi tidak sungguh-sungguh mempersiapkan hal-hal yang penting dengan baik. Seharusnya, aku cari tahu sejak awal apa-apa saja yang harus ku kuasai untuk menghadapi hal-hal di luar dugaan. Satu hal yang sampai detik ini ku pegang, anak itu adalah amanah. Bagaimanapun usaha dan cara kita, lakukan dan berikan yang terbaik untuknya. Terima kasih untuk terus berjuang bersama ya, nak.  Mama bangga sama Radif. Maaf ya kalau tulisanku ini rada antiklimaks.

Ohya, setelah ibu mertua pulang ke Bogor, aku dan suami membawa Radif ke kantor sejak dia usia 5 bulan. Nanti bakal ku ceritakan bagaimana suka duka membawa bayi ke kantor.

0 komentar:

Post a Comment