,

Mencicipi Salome Kuah di Taman Nostalgia Kupang

Aku termasuk orang yang tidak pernah berpikir mengambil cuti untuk berlibur di akhir tahun. Selain karena tidak merayakan Natal, harga tiketnya juga sangat mahal. Belum lagi, adanya kesibukan pekerjaan. Bagi yang bekerja di instansi pemerintah yang khusus mengejar realisasi anggaran, akhir tahun adalah peak season. Kerjaan menumpuk, lembur setiap hari, jadwal makan berantakan, dan sensitivitas emosi juga ikut meninggi. Mana terpikir liburan di tengah kerja rodi seperti itu. Namun, tahun ini rupanya berbeda, I got a chance to escape for a while. Destinasi yang kami tuju adalah kota Kupang. Sempat merasa underestimate bakal gegoleran saja di hotel, namun ternyata menyenangkan juga mengitari kota Kupang yang ternyata tidak begitu luas.
Pose siap berlibur
Liburan ini bermula dari keinginanku untuk pergi ke kota Kupang, sekadar ingin berkunjung saja mumpung masih berada di Nusa Tenggara Timur. Rencanaku ini sebenarnya untuk liburan tahun depan alias 2020. Secara tiba-tiba, suami mendapat panggilan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) se-NTT pada tanggal 11-13 Desember 2019 di Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kupang. Semacam gayung bersambut atau semesta mendukung. Sejujurnya, ini karena aku sempat khawatir tidak bisa menjaga Radif sembari bekerja jika ditinggal suami ke Kupang selama 3 hari. Aku tidak bisa membayangkan betapa hectic-nya hari-hariku. Terlebih, tanggal-tanggal tersebut adalah tanggal krusial penyampaian Gaji Induk bulan Januari 2020. Belum lagi batas-batas SPM akhir tahun yang tentu sudah pasti akan membuat ramai antrian front office. Kerja sambil menjaga Radif yang sedang aktif-aktifnya di saat ritme pekerjaan yang sangat tinggi, sungguh tidak terjangkau imajinasiku. Bakalan berat dan keteteran sekali tentunya. Kalau bukan pekerjaanku yang keteteran, tentu saja Radif yang akan keteteran tidak terurus. Oleh karena itu, aku terpaksa mengajukan cuti, begitupun atasanku, terpaksa mengabulkan cuti tersebut. Thank you for understanding. Deep inside my heart, I really felt guilty for leaving my office in that peak season with limited number of staffs. Sometimes, we don't have choice.
 
Tolong jangan tertukar ya mana Radif mana boneka saljunya walau sama-sama bulat
Berbekal cuti tersebut, berangkatlah kami bertiga ke kota Kupang menemani ayahnya Radif Rakorwil. Kami berangkat menggunakan maskapai Trans Nusa pukul 10.10 WITA dan tiba di kota Kupang pada pukul 11.15 WITA. Sesampainya di bandara, kami dijemput dan di-drop di hotel oleh Mas Jim, mantan pegawai KPPN Waingapu yang berdomisili Kupang. Pada kesempatan ini, kami memilih menginap di Swiss-Bell Crystal Hotel Kupang. Aku akan membuatkan postingan tersendiri untuk mereviu hotel ini. Rencananya, kami menginap selama 3 malam.

Hari pertama di Kupang, kami memutuskan jalan-jalan keliling di sekitar Hotel saja karena suami harus menghadiri pembukaan Rakorwil di Kanwil pada sore harinya. Kebetulan belakang hotel tempat kami menginap adalah pantai yang pemandangannya cukup memanjakan mata. Radif suka sekali melihat perahu hilir mudik di laut sembari menikmati semilir angin laut. 



Rdif menikmati pemandangan belakang hotel
Salah satu kenikmatan berada di kota besar adalah dapat menggunakan fasilitas grabfood. Rasanya menyenangkan sekali karena dapat kembali menikmati aneka makanan yang tidak tersedia di Waingapu. Aku sampai berpikir, tidak masalah tidak jalan-jalan asal order makanan sepuasnya di hotel. Kalau kalian tinggal di tempat rantau yang terpencil sepertiku, kalian akan paham rasanya jadi aku. Terlebih di luar dugaanku, Kupang tak jauh berbeda dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia yang ramai dan lengkap. I'm so happy. Kami memesan nasi padang, geprek Bensu, Solaria, Pizza Hut, aneka jenis Thai Tea, dan lain sebagainya. Aku rindu sekali menyantap kuliner-kuliner yang termasuk comfort food tersebut.

Malam harinya, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Lippo Mall Kupang tepat setelah ayahnya kembali dari Rakorwil. Tentu saja, ini adalah ajang kembali mencicipi aneka makanan yang hanya ada d kota besar seperti Solaria dan sebangsanya. Radif juga sempat main ke Fun City. Mencoba beberapa permainan yang dia berani. Kami hanya mengisi saldo kartu Fun City sebesar Rp50.000 saja. Selain mengajak dia bermain di sana, kami iseng juga mencoba berfoto di photoboothnya. Hasilnya sih kurang bagus ya tapi cukup bikin happy karena ini kali pertama aku dan suami melakukan sesi foto ala-ala begini.
Begini hasilnya, cukup gemas ya
Hari kedua, kami berencana staycation saja di hotel karena hari kedua inilah puncak acara Rakorwil. Suami berangkat pagi dan baru kembali ke hotel menjelang sholat isyak. Aku dan Radif hanya berjalan keliling hotel saja, sisanya bermain bersama Radif. Dia senang menggambar menggunakan mainan magnetic board yang ku bawakan dari Waingapu. Setelah lelah dan kenyang, Radif tidur siang hingga sore. Sementara aku membuat artikel untuk kantor. Karena ayahnya baru kembali menjelang isyak, kami tidak pergi kemana-mana malam harinya. Kami memutuskan istirahat saja di hotel.
Udah pro belum? Gambar dino katanya
Radif tidur dengan gemasnya
Besuk siangnya, kami memutuskan untuk ke Taman Nostalgia depan Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Provinsi Nusa Tenggara Timur sambil mencicipi salome khas Kupang yang terkenal. Salome adalah jajanan sejenis cilok atau bakso aci yang diberi kuah kaldu. Salome di sini ada yang berupa salome goreng dan ada yang kuah. Kami memesan salome kuah satu porsi seharga Rp10.000 saja. Warung Salome di pinggir Taman Nostalgia ini terkenal laris. Ketika kami ke sana, antriannya lumayan ramai. Untung saja kami datang waktu belum ada antrian. Pelanggannya rata-rata adalah bubaran anak-anak sekolah di sekitar sana. Rasa salomenya lumayan enak meski menurutku bukan yang mind blowing gitu sih. Kalian harus mencobanya ketika mampir sana.
Salome kuah
antrian salome

Kalau lihat ini, teringat Taman Pintar Yogyakarta
Taman Nostalgia dari depan
Taman Nostalgia ini selayaknya taman kota pada umumnya. Namun, cuaca di NTT yang terkenal sangat panas menjadikan taman-taman di sini agak kurang diminati pada siang hari karena sangat terik. Selain itu, variasi tanaman di sana juga kurang banyak, terasa kurang terawat juga. Meski demikian, aku lumayan menikmati beberapa spot foto yang ada di sana, sebagai tanda pernah mampir ke taman ini. Kalau mengunjungi Kupang, tidak ada salahnya kok kalian mampir ke sini sembari mencicipi salome di seberang taman. Lepas dari Taman Nostalgia, kami segera memesan grab. Ohya, di sini mudah sekali kok mencari transportasi online. Jadi, tidak perlu khawatir. Tujuan kami berikutnya sebenarnya adalah Pura Obananta di tepian pantai. Namun ternyata tempat ini tidak begitu familiar bagi warga setempat. Kami agak kesulitan mencari jalan ke sananya.

Selain itu, rupanya jalannya harus melewati pasar ikan yang terkenal sangat macet dan sempit. Bau ikan betebaran di mana-mana. Meski demikian, hamparan laut di tengah cerahnya siang cukup memanjakan mata. Meski tentu saja, kalian harus sedia sunblock. Sopir grab salah menurunkan kami, seharusnya diturunkan di pintu masuk, malah diturunkan di belakang Pura. Kami setengah mati berjalan di tengah terik yang menyengat untuk menemukan pintu masuknya. Sialnya, pintu masuk tidak dapat diakses dari belakang, maksudnya tidak ada jalan pintas menuju pintu masuk dari belakang Pura. Rasanya kesal sekali karena lelah menggendong Radif yang tertidur, masih ditambah jalannya jauh dan panas. Belum lagi di sepanjang jalan dilihatin orang-orang karena aneh sekali berjalan-jalan di jalan setapak pada siang yang sangat terik begitu.

Karena ternyata jalan setapak ini tembus ke belakang hotel tempat kami menginap, kami memutuskan berjalan saja kembali ke hotel daripada kembali memutar. Asli, capek banget dan gembrobyos. Ayahnya Radif berpisah di tengah jalan karena harus sholat jumat di masjid dekat sana, sementara aku dan Radif melanjutkan perjalanan ke hotel. Sesampainya di hotel, kakiku keram sekali. Aku merendam kaki di air dingin dan merebahkan badan hingga pulih. Radif baik-baik saja untungnya, hanya kepanasan saja. Baiklah, catatan buat yang mau ke Pura Obananta, kumpulkan info sebanyak-banyaknya yang akurat mengenai lokasinya. Dengan demikian, kalian bisa mengarahkan sopir grab. Walau bete di hari terakhir, namun tetap saja aku merasa bersyukur sempat berlibur sebelum kembali kerja rodi di kantor pada minggu berikutnya. A well-spent weekend just approved.

Sore harinya
Sebelum negara api menyerang
Sore harinya aku memutuskan untuk ke Lippo Mall. Sebenarnya ingin ke Narisha untuk spa, namun ternyata tidak ada di sana padahal pada tag lokasinya ada yang berada di dalam Lippo Mall. Akhirnya aku facial saja ke Natasha. Awalnya Radif baik-baik saja ku tinggal di hotel dengan ayahnya. Kami sempat video call. Setelah selesai facial, aku ditelepon ayahnya, ternyata Radif nangis kenceng nyariin aku. Dengan buru-buru aku langsung kembali ke hotel. Sesampainya di hotel, dia langsung diam. Kami memesan makan malam dan lanjut beristirahat karena besuk paginya kami ada flight pagi. Ohya, aku sempat membeli sambal khas kupang di Bandara Eltari, namanya sambal sesawi. Tapi ternyata rasanya tidak cocok dengan lidahku karena asin sekali.


0 komentar:

Post a Comment