, ,

Liburan di Bali Sambil Menemani Suami Diklat

Curhat dulu ya sebentar. Lanjutan dari ceritaku tentang penantian Surat Keputusan Pindah Ikut Suami yang tak kunjung turun, akhirnya aku mengajukan permintaan pindah melalui Surat Tugas Titipan. Ini adalah privilage yang ku dapat karena menikah dengan pegawai satu instansi (khusus untuk Direktorat Jenderal Perbendaharaan). Negara memang sedang banyak melakukan penghematan, sehingga banyak mutasi pelaksana maupun pejabat yang harus mengalami penundaan. Namun, kabar bahagianya, aku berhasil mendapatkan Surat Tugasku tepat sepulangnya aku dari Surabaya. Yay! Lega dan bahagia.

Sebenarnya, beberapa rekan kantorku termasuk kepala kantor sempat menyarankanku untuk bersabar saja menunggu SK. Menurut mereka, lebih baik aku stay di Banjarmasin dulu saja daripada buru-buru pindah ke Waingapu which is menurut mereka itu adalah daerah terpencil. I know. I already knew. Tapi, komitmenku untuk menunggu SK turun sungguh diuji dengan biaya pertemuan yang tidak sedikit serta tentunya rasa rindu pada suami, terlebih setiap kali berkomunikasi lewat video call, suami selalu berharap aku bisa segera pindah ke Waingapu.

Berhubung pindah hanya berbekal ST Titipan, aku hanya memiliki satu hari perjalanan saja sebagai hari libur, yaitu tanggal 22 Mei 2017. Selebihnya, aku harus sudah melapor ke KPPN Waingapu paling lambat tanggal 23 Mei 2017. Sungguh waktu yang singkat untuk sekadar berpamitan dengan orang rumah. Aku berangkat pulang kampung tanggal 19 Mei 2017 dengan diantarkan ke bandara oleh rekan-rekanku di rumah dinas. Aku sempat bingung bagaimana nanti di Waingapu harus tinggal seorang diri karena suami mendadak ada Diklat Pendampingan LKKL di Denpasar selama tiga hari. Beruntung, kepala kantorku yang baru memperkenankanku masuk tanggal 26 Mei 2017 bersamaan dengan kedatangan suamiku. Selebihnya, aku diberi tugas untuk mengambil dokumen inovasi di KPPN Amlapura. Jadilah kami dinas bersama ke Pulau Bali. Dalam hal ini, aku hanya dinas sehari saja ke Amlapura.

Hari Pertama di Denpasar
Standard Room
Sekilas  closet dan showernya



Oke, aku memutuskan untuk mengambil dokumen inovasi di hari kedua saja karena badanku masih sangat lelah setelah beberapa hari harus maraton penerbangan dari Banjarmasin ke Yogyakarta lalu Solo ke Denpasar. I do need a rest. Hari pertama di Denpasar, aku tak pergi kemana-kemana. Suami berangkat diklat ke Wisma II dan aku tetap tinggal di hotel. Ohya, aku tinggal di hotel daerah Sunset Road, Jalan Dewi Sri, namanya The Sunset Hotel and Restaurant. Di daerah ini nama hotel sunset banyak sekali, sehingga harus lengkap saat menyebutkan namanya ke sopir grab. Kebetulan, ada banyak sekali promo di Traveloka yang menggabungkan tiket pesawat dengan kupon hotel. Jadinya, aku bisa menginap di hotel selama 4 hari 4 malam hanya dengan biaya sejutaan saja. Itupun sudah termasuk tiket pesawatku dari Solo ke Bali. Asal rajin-rajin lihat promo di Traveloka, liburan tidak harus bikin kantong jebol kok. Kita senang, dompet tenang.
Kolam renang hotel

Hotel yang ku pesan ini lumayan sih, desainnya bagus, mendapatkan welcoming drink gratis, staf hotelnya ramah-ramah, kamarnya bersih dan luas, dan terdapat kolam renang untuk bersantai. Selain itu, pada lobi tersedia juga mini perpustakaan yang menyediakan aneka buku atau novel yang bisa dipinjam gratis oleh pengunjung.
Salah satu novel yang tersedia di lobi hotel
Sate Taichan depan hotel
Lokasi di sekitar hotel juga terdapat banyak sekali pilihan tempat makan, sehingga pengunjung tidak perlu jauh-jauh untuk mencari alternatif tempat makan. Aku sempat mencoba Sate Taichan depan hotel. Rasanya biasa saja sih menurutku. Tapi cukuplah sekadar untuk memuaskan rasa penasaranku. Selain Sate Taichan, aku sempat mencoba makan di Warung Bu Kembar tak jauh dari hotel. Warungnya mirip seperti warung-warung penyetan biasa yang ada di pinggir jalan. Warung ini menyediakan aneka makanan seperti pecel madiun, ayam goreng lalapan, soto, nasi campur, rawon, hingga aneka minuman seperti es teller, es buah, dan lain-lain. Harganya miring sekali dan rasanya lumayan dengan porsi yang cukup bikin kenyang perut.
Es teller dan ayam lalapan
Untuk pilihan tempat makan malam, kebetulan aku diperkenankan untuk ikut makan malam di Wisma II bersama suami. Makanan yang disediakan untuk diklat memang biasanya berlebih, sehingga tak jarang meninggalkan banyak sisa. Oleh karena itu, setiap ada pegawai yang kebetulan membawa keluarga, diperkenankan untuk turut serta menyantap hidangan makan malam di Wisma. Sebelum menyusul suami ke Wisma II, aku sempat janjian dengan salah seorang sahabatku yang kebetulan sedang dinas di Bali, tepatnya di daerah Nusa Dua. Sayangnya, acara yang dia ikuti mengharuskannya tinggal sampai hampir larut malam. Kami pun membatalkan rencana untuk meet up.
Wisma II di malam hari
Makan malam di Wisma II dengan menu makanan khas Bali
Pertama Kali ke Pantai Seminyak dan Tanah Lot

Hari kedua di Denpasar adalah waktuku untuk menjalankan tugas. Aku berangkat ke KPPN Amlapura seorang diri dengan mengendarai grab bike. Kenapa aku memilih grab bike? Pertimbangannya selain lebih cepat, aku juga tidak tahu pasti gambaran jalan di daerah Amlapura seperti apa. Kata temanku, jalannya akan semakin sempit dan banyak dilalui truk-truk. Rasanya bila mengendarai grab car akan repot dan lama. Agak kurang praktis juga sepertinya. Amlapura terletak di daerah Karangasem yang berjarak tempuh kurang lebih dua jam perjalanan darat dari Denpasar. Meskipun pegal dan lelah luar biasa, aku lumayan terhibur dengan pemandangan-pemandangan di sepanjang jalan. Di sepanjang jalan, aku bisa menikmati suguhan pemandangan indah dari aneka pantai yang terlihat masih perawan dengan pohon nyiur yang tumbuh di sekitarnya. Sayangnya, aku tak dapat mengabadikannya dengan kamera. Sesampainya di KPPN Amlapura, aku langsung bergegas menyelesaikan urusanku dan mengambil dokumentasi seperlunya. Kebetulan, ada temanku yang penempatan di sana sehingga aku sangat terbantu dalam menjalankan tugas.
KPPN Amlapura






Selesai sudah urusanku dengan KPPN Amlapura. Aku kembali ke hotel untuk beristirahat setelah lebih dari empat jam mengendarai motor. Selepas makan siang, aku ingin jalan-jalan ke pantai. Awalnya aku ingin ke Pantai Kuta saja yang dekat dengan hotel, namun ku urungkan saja mengingat ramainya Pantai Kuta. Akhirnya aku memilih ke Pantai Seminyak. Aku sempat bingung Pantai Seminyak yang sebelah mana karena ada beberapa pantai dengan nama yang sama. Akhirnya ku pilih saja yang lokasinya paling dekat. Ternyata aku tidak salah pilih. Selain dekat dengan hotel, pantai ini cantik sekali. Ada banyak hamparan tenda-tenda tempat para turis berteduh justru menambah warna pada pantai. Aku memang tidak menghabiskan waktu di sana terlalu lama karena aku masih ingin melihat sunset di Tanah Lot.
Pantai Seminyak di siang hari


Tenda-tenda para turis di Pantai Seminyak
Hari kedua aku tutup dengan menikmati sunset di Tanah Lot. Rupanya Tanah Lot ini lokasinya lumayan jauh dari Denpasar tepatnya di daerah Kabupaten Tabanan. Salah seorang temanku yang mendapat penempatan di daerah Tabanan sampai terheran-heran dengan kenekatanku pergi ke Tanah Lot seorang diri setelah sebelumnya di hari yang sama aku harus pergi ke Karangasem. Kuat kamu, Fah? Nekat sih sebenarnya. Rasa lelahku terbayar dengan keindahaan pemandangan senja di Tanah Lot. Untuk melihat Pura yang berdiri di atas batu besar yang ada pinggir laut, aku harus melewati jalanan yang kanan kirinya terdapat toko cinderamata. Untuk masuk ke Tanah Lot, pengunjung hanya cukup mengeluarkan biaya Rp22.000,00 untuk tiket satu orang.
Salah satu pure di Tanah Lot
Toko cinderamata di sepanjang jalan
Ramainya turis yang hendak mengabadikan momen sunset membuatku bergegas untuk turut serta menuju ke sisian pantai setelah aku mengabadikan beberapa tempat di sekitar Tanah Lot yang tidak kalah cantik di kala senja. Rasanya sayang sekali aku hanya punya waktu sekitar setengah jam berada di sana karena grab bike tumpanganku sedang menunggu di luar pintu masuk.

Suasana Senja di Tanah Lot
Salah satu bangunan di Tanah Lot
Di sana, ada beberapa pura yang di bangun di pinggir pantai. Pura yang paling banyak menyita perhatian tentu saja yang berdiri di atas batu besar. Dari sanalah matahari bersembunyi meninggalkan peraduannya. Aku sempat mengabadikannya dalam bidikan kamera.
Matahari terlihat tenggelam di horizon
Ramainya para turis yang mengejar foto sunset
Lain waktu, aku harus mengunjungi lagi tempat ini bersama suami dan anak-anakku kelak tanpa perlu was-was dikejar waktu saat menikmati keindahan Tanah Lot. Hari kedua yang melelahkan ku akhiri dengan makan malam bersama suami di Wisma II.

Mengunjungi Garuda Wisnhu Kencana

Area parkiran dan pintu masuk
Hari terakhir di Bali, aku mempunyai waktu lebih untuk ku habiskan bersama suami setelah tiga hari penuh ditinggal suami diklat. Awalnya, kami berencana pergi ke Pantai Pandawa dan Garuda Wisnhu Kencana mengingat lokasinya sejalur. Ternyata, untuk menuju ke Pantai Pandawa, kami harus menyewa mobil karena di sana tidak terdapat grab. Lokasinya agak susah dijangkau dan cukup jauh. Akhirnya, kami memutuskan menghabiskan waktu di Garuda Wisnhu Kencana saja. Taman Wisata Garuda Wisnhu Kencana ini terletak di Tanjung Nusa Dua, Kabupaten Badung. Untuk masuk ke arena tempat wisata, kami perlu mengeluarkan biaya tiket sebesar Rp70.000,00 untuk satu orang. Kawasan tamannya terlihat well maintained dengan sentuhan budaya setempat.

Tempatnya sangat luas untuk dikelilingi. Kami hanya berkeinginan untuk melihat Patung Garuda Wisnhu Kencana saja untuk menghemat waktu. Sebelum naik ke arca Garuda Wisnhu Kencana di bagian atas sekaligus melihat tarian, kami diberi semacam kain coklat untuk dililitkan di badan. Sebelum naik tangga menuju Patung Garuda Wisnhu Kencana, aku dan suami sempat berfoto-foto di kolam dekat tangga. Di sana terdapat patung seorang dewi yang terlihat berdiri di tengah kolam.

Patung salah satu dewi di kolam
Tangga menuju Patung GWK
Setelah tarian usai, kami berfoto-foto di depan Patung Garuda Wisnhu Kencana dan beberapa tempat foto lain. Lokasinya sangat cantik bahkan cukup layak dijadikan tempat untuk melangsungkan pernikahan. Hal ini terlihat dari bagian Lotus Pond yang disulap sedemikian rupa menjadi outdoor yang cantik dengan bangku-bangku kayu yang di atasnya terdapat hiasan payung berwarna-warni. Di kanan kiri berdiri bukit-bukit yang mengelilingi kawasan Taman Wisata Garuda Wishnu Kencana. Hal ini menambah cantik pemandangan.
Patung Garuda Wisnhu Kencana
Patung Lain di dekat Lotus Pond
Semacam bukit-bukit kecil yang mengelilingi kawasan GWK
Sebenarnya ada banyak sekali wahana yang dapat dicoba oleh pengunjung, tidak hanya sekadar berfoto dengan patung-patung raksasa yang ada di sana. Semua tempat hiburan yang ada di Taman Wisata Garuda Wisnhu Kencana tercantum dalam peta lokasi yang diberikan pada pengunjung. Salah satunya ada pemutaran film. Aku dan suami hanya punya waktu sekitar satu jam saja berkeliling di area Taman Wisata Garuda Wisnhu Kencana karena sopir grab kami sudah menunggu di area parkiran. Meski hanya singkat, kami sangat menikmati kunjungan kami ke taman ini.

Lotus Pond

Di atas kolam teratai
Untuk pilihan makan malam, kami memilih makan di Dewi Sri Food Court Centre yang letaknya tak jauh dari hotel. Banyak pilihan makanan halal dengan harga yang terjangkau. Aku memesan bakmi jawa di salah satu warung makannya dan suamiku memilih sate padang. Rasanya enak dan bisa diulangi lagi. Bakmi jawanya bahkan terasa seperti mie aceh yang pernah ku coba saat dulu masih kuliah. Suasana tempatnya juga lumayan nyaman, terutama saat malam. Ada lampion-lampion dan lampu-lampu berwarna-warni menghiasi kawasan foodcourtnya.

Bakmi jawa dan sate padang
Usai sudah perjalanan wisata ke Bali kali ini. Esuk paginya, kami harus melanjutkan perjalanan ke Waingapu. Kembali bertugas di kantor seperti biasanya dan menjadi hari pertamaku bekerja di KPPN Waingapu. Terima kasih, Bali untuk tidak pernah mengecewakan kami setiap berlibur. Pulau Dewata tidak pernah ada habisnya dalam memanjakan turis.

0 komentar:

Post a Comment