Showing posts with label Venue. Show all posts
Showing posts with label Venue. Show all posts
, ,

Review Hotel: Swiss-Belinn Kristal Hotel, Kupang

Hai semua, kemarin aku baru saja menulis pengalamanku jalan-jalan ke kota Kupang untuk pertama kalinya. Nah, kali ini aku mau maraton mereviu beberapa hotel yang aku pernah menginap. Ada beberapa hotel yang kebetulan masih ada dokumentasi fotonya, jadi sayang kalau tidak diposting. Aku postingnya agak lambat karena pakai laptop lamaku yang umurnya udah hampir 10 tahun. Mengetik sambil tak berhenti mengucap istighfar karena lemot sekali astaga. Oke, kita langsung saja mereview salah satu hotelnya.

1. Harga dan Cara Pesan  
Radif lagi santai
Hotel pertama yang akan aku review adalah Swiss-Belinn Kristal Hotel, Kupang yang baru bulan lalu ku pakai untuk staycation. Rate aplikasi adalah 8/10. Untuk menginap di hotel ini, kalian bisa memesannya secara online melalui aplikasi yang kalian punya. Harga sewanya bisa jadi bervariasi antara aplikasi yang satu dengan yang lainnya, tergantung tipe kamar dan tanggalnya juga. Kebetulan aku pakai aplikasi Traveloka. Harga sewa pada aplikasi tersebut adalah sekitar Rp400.000 untuk Superior, Rp500.000 untuk Deluxe, Rp750.000 untuk Grand Deluxe, dan Rp1.050.000 untuk Club Suit. Kalian bisa pilih sendiri mau yang mana.

2. Lokasi Hotel

Hotel ini lokasinya cukup strategis. Kalian bisa melihat daftar lokasi populer di sekitar hotel seperti Barelo Restaurant and Coffee-shop yang hanya berjarak 4 meter saja, 732 meter dari Pura Obananta, 8 km dari Bandara El-Tari, sekitar 1,9 km dari Taman Nostalgia, dan 948 meter dari Pelabuhan Kupang. Selain itu, jaraknya juga tidak terlalu jauh dari aneka ragam tempat makan, dekat dengan gereja dan masjid, dan mudah menjangkau Lippo Mall. Bahkan, kolam renang dan pusat hiburan Subasuka serasa tinggal melangkah saja jaraknya. Kalian juga akan menemukan Pantai Pasir Panjang tak jauh dari hotel ini. Lebih lengkapnya dapat kalian lihat sendiri di google maps.

3. Fasilitas Kamar

Lobi hotel ini tidak begtu besar. Tidak ada lift di sini. Setelah tiba dan melapor ke resepsionis, kalian akan langsung di antar oleh bellboy ke kamar kalian. Kebetulan kamarku lokasinya agak jauh karena di gedung baru. Hotelnya memang sedang proses renovasi. Aku memilih tipe kamar Superior untuk 3 malam. Fasilitas yang aku dapatkan antara lain no smooking room, ranjang besar ukuran queen size, kulkas, wardrobe, meja kerja yang ada cerminnya, sepasang kursi santai dengan mejanya, tempat koper, telepon, televisi flat dengan saluran terbatas, kamar mandi pribadi dengan shower dan bathtub, handuk dan toiletris gratis, sandal hotel satu pasang, sepasang botol minum yang di-refill tiap hari, kopi, teh dan gula sachet beserta pemanasnya dan tak lupa sarapan gratis.
Ranjangnya queen size
Sandalnya dipakai Radif
Ada meja kerja dengan cerminnya
Wastafel dan toiletris, bersih dan kering tempatnya
Bathtub di kamar mandi
Kamarnya cukup luas dengan ukuran luas 32 meter persegi dengan view halaman parkir, my bad luck. Lantai kamarnya dilapisi karpet, nyaman dan bersih. Anak-anak dapat bermain-main dengan bebas karena terasa lebih empuk. Kalian dapat meminta cleaning service membersihkan kamar kalian dengan menggantung tulisan "Please make up my room" yang telah tersedia pada pegangan pintu luar. Handuk, keset, dan toiletris  diganti tiap hari. Aku agak tidak beruntung karena kulkas di kamar 1022 tidak dingin alias rusak. Kami sudah meminta petugas memperbaiknya namun tidak bisa. Petugas menyuruh kami untuk minta tukar kulkas ke layanan hotel.  Karena terlalu malas, kami lupa melakukannya. Alhasil sampai selesai menginap, kulkas tidak pernah terpakai.

4. Makanan Hotel

Berhubung kami memesan kamar dengan sarapan, kami mendapat voucher sarapan gratis untuk 2 orang, anak bayi tidak perlu voucher. Sarapan dimulai pukul 06.00-10.00 WITA. Restorannya berada di samping meja resepsionis. Lokasinya menghadap langsung dengan pantai dan kolam renang sehingga dapat menikmati pemandangan laut sembari makan. Menu yang disajikan cukup lengkap mulai dari nasi putih, nasi goreng, bubur ayam, lauk dan sayur beraneka macam, aneka snack dan minuman. Puas dan enak untuk ukuran NTT menurutku. Sembari makan, kalian juga akan dihibur dengan alunan musik sasando yang memainkan lagu-lagu pop lokal.
om pemain sasando
Selain itu, kalian juga bisa pesan makanan ke kamar kalian lewat telepon yang terhubung langsung dengan restoran hotel. Daftar menunya dapat kalian lihat di meja kamar kalian. Aku sempat pesan nasi goreng untuk makan siang Radif. Rasanya lumayan enak, porsinya banyak, lauknya macem-macem, masaknya cepet langsung diantar ke kamar, dan harganya lumayan terjangkau. Alternatif kalau mager keluar atau sedang tidak bisa keluar kamar sepertiku.
View dari restoran (source: tripadvisor)
5. Layanan lain

Hotel ini menyediakan kolam renang yang pemandangannya langsung ke arah laut. Sayangnya kemarin kami tidak sempat mencobanya karena hujan. Banyak lopo atau gazebo di pinggir kolam untuk tempat berteduh mengintip laut.
Contoh gazebonya, bersih
Kolam renang
Ada fasilitas antar jemput bandara juga, namun kami tidak tahu itu berbayar atau gratis, lagipula mencari grabcar di situ juga mudah dan cepat kok. Nah, kira-kira begitulah pengalamanku menginap di hotel ini. Lumayan berkesan sih, walau sempat underestimate karena ini hotel lama. Untungnya udah proses renovasi dan bersih. Cukup pantas mendapatkan rate 8/10. Tapi kalau ke Kupang lagi mungkin aku akan mencoba menginap di hotel lain agar tidak bosan. Bagaimana menurut kalian, tertarik mencobanya?
Continue reading Review Hotel: Swiss-Belinn Kristal Hotel, Kupang
,

Mencicipi Salome Kuah di Taman Nostalgia Kupang

Aku termasuk orang yang tidak pernah berpikir mengambil cuti untuk berlibur di akhir tahun. Selain karena tidak merayakan Natal, harga tiketnya juga sangat mahal. Belum lagi, adanya kesibukan pekerjaan. Bagi yang bekerja di instansi pemerintah yang khusus mengejar realisasi anggaran, akhir tahun adalah peak season. Kerjaan menumpuk, lembur setiap hari, jadwal makan berantakan, dan sensitivitas emosi juga ikut meninggi. Mana terpikir liburan di tengah kerja rodi seperti itu. Namun, tahun ini rupanya berbeda, I got a chance to escape for a while. Destinasi yang kami tuju adalah kota Kupang. Sempat merasa underestimate bakal gegoleran saja di hotel, namun ternyata menyenangkan juga mengitari kota Kupang yang ternyata tidak begitu luas.
Pose siap berlibur
Liburan ini bermula dari keinginanku untuk pergi ke kota Kupang, sekadar ingin berkunjung saja mumpung masih berada di Nusa Tenggara Timur. Rencanaku ini sebenarnya untuk liburan tahun depan alias 2020. Secara tiba-tiba, suami mendapat panggilan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) se-NTT pada tanggal 11-13 Desember 2019 di Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kupang. Semacam gayung bersambut atau semesta mendukung. Sejujurnya, ini karena aku sempat khawatir tidak bisa menjaga Radif sembari bekerja jika ditinggal suami ke Kupang selama 3 hari. Aku tidak bisa membayangkan betapa hectic-nya hari-hariku. Terlebih, tanggal-tanggal tersebut adalah tanggal krusial penyampaian Gaji Induk bulan Januari 2020. Belum lagi batas-batas SPM akhir tahun yang tentu sudah pasti akan membuat ramai antrian front office. Kerja sambil menjaga Radif yang sedang aktif-aktifnya di saat ritme pekerjaan yang sangat tinggi, sungguh tidak terjangkau imajinasiku. Bakalan berat dan keteteran sekali tentunya. Kalau bukan pekerjaanku yang keteteran, tentu saja Radif yang akan keteteran tidak terurus. Oleh karena itu, aku terpaksa mengajukan cuti, begitupun atasanku, terpaksa mengabulkan cuti tersebut. Thank you for understanding. Deep inside my heart, I really felt guilty for leaving my office in that peak season with limited number of staffs. Sometimes, we don't have choice.
 
Tolong jangan tertukar ya mana Radif mana boneka saljunya walau sama-sama bulat
Berbekal cuti tersebut, berangkatlah kami bertiga ke kota Kupang menemani ayahnya Radif Rakorwil. Kami berangkat menggunakan maskapai Trans Nusa pukul 10.10 WITA dan tiba di kota Kupang pada pukul 11.15 WITA. Sesampainya di bandara, kami dijemput dan di-drop di hotel oleh Mas Jim, mantan pegawai KPPN Waingapu yang berdomisili Kupang. Pada kesempatan ini, kami memilih menginap di Swiss-Bell Crystal Hotel Kupang. Aku akan membuatkan postingan tersendiri untuk mereviu hotel ini. Rencananya, kami menginap selama 3 malam.

Hari pertama di Kupang, kami memutuskan jalan-jalan keliling di sekitar Hotel saja karena suami harus menghadiri pembukaan Rakorwil di Kanwil pada sore harinya. Kebetulan belakang hotel tempat kami menginap adalah pantai yang pemandangannya cukup memanjakan mata. Radif suka sekali melihat perahu hilir mudik di laut sembari menikmati semilir angin laut. 



Rdif menikmati pemandangan belakang hotel
Salah satu kenikmatan berada di kota besar adalah dapat menggunakan fasilitas grabfood. Rasanya menyenangkan sekali karena dapat kembali menikmati aneka makanan yang tidak tersedia di Waingapu. Aku sampai berpikir, tidak masalah tidak jalan-jalan asal order makanan sepuasnya di hotel. Kalau kalian tinggal di tempat rantau yang terpencil sepertiku, kalian akan paham rasanya jadi aku. Terlebih di luar dugaanku, Kupang tak jauh berbeda dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia yang ramai dan lengkap. I'm so happy. Kami memesan nasi padang, geprek Bensu, Solaria, Pizza Hut, aneka jenis Thai Tea, dan lain sebagainya. Aku rindu sekali menyantap kuliner-kuliner yang termasuk comfort food tersebut.

Malam harinya, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Lippo Mall Kupang tepat setelah ayahnya kembali dari Rakorwil. Tentu saja, ini adalah ajang kembali mencicipi aneka makanan yang hanya ada d kota besar seperti Solaria dan sebangsanya. Radif juga sempat main ke Fun City. Mencoba beberapa permainan yang dia berani. Kami hanya mengisi saldo kartu Fun City sebesar Rp50.000 saja. Selain mengajak dia bermain di sana, kami iseng juga mencoba berfoto di photoboothnya. Hasilnya sih kurang bagus ya tapi cukup bikin happy karena ini kali pertama aku dan suami melakukan sesi foto ala-ala begini.
Begini hasilnya, cukup gemas ya
Hari kedua, kami berencana staycation saja di hotel karena hari kedua inilah puncak acara Rakorwil. Suami berangkat pagi dan baru kembali ke hotel menjelang sholat isyak. Aku dan Radif hanya berjalan keliling hotel saja, sisanya bermain bersama Radif. Dia senang menggambar menggunakan mainan magnetic board yang ku bawakan dari Waingapu. Setelah lelah dan kenyang, Radif tidur siang hingga sore. Sementara aku membuat artikel untuk kantor. Karena ayahnya baru kembali menjelang isyak, kami tidak pergi kemana-mana malam harinya. Kami memutuskan istirahat saja di hotel.
Udah pro belum? Gambar dino katanya
Radif tidur dengan gemasnya
Besuk siangnya, kami memutuskan untuk ke Taman Nostalgia depan Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Provinsi Nusa Tenggara Timur sambil mencicipi salome khas Kupang yang terkenal. Salome adalah jajanan sejenis cilok atau bakso aci yang diberi kuah kaldu. Salome di sini ada yang berupa salome goreng dan ada yang kuah. Kami memesan salome kuah satu porsi seharga Rp10.000 saja. Warung Salome di pinggir Taman Nostalgia ini terkenal laris. Ketika kami ke sana, antriannya lumayan ramai. Untung saja kami datang waktu belum ada antrian. Pelanggannya rata-rata adalah bubaran anak-anak sekolah di sekitar sana. Rasa salomenya lumayan enak meski menurutku bukan yang mind blowing gitu sih. Kalian harus mencobanya ketika mampir sana.
Salome kuah
antrian salome

Kalau lihat ini, teringat Taman Pintar Yogyakarta
Taman Nostalgia dari depan
Taman Nostalgia ini selayaknya taman kota pada umumnya. Namun, cuaca di NTT yang terkenal sangat panas menjadikan taman-taman di sini agak kurang diminati pada siang hari karena sangat terik. Selain itu, variasi tanaman di sana juga kurang banyak, terasa kurang terawat juga. Meski demikian, aku lumayan menikmati beberapa spot foto yang ada di sana, sebagai tanda pernah mampir ke taman ini. Kalau mengunjungi Kupang, tidak ada salahnya kok kalian mampir ke sini sembari mencicipi salome di seberang taman. Lepas dari Taman Nostalgia, kami segera memesan grab. Ohya, di sini mudah sekali kok mencari transportasi online. Jadi, tidak perlu khawatir. Tujuan kami berikutnya sebenarnya adalah Pura Obananta di tepian pantai. Namun ternyata tempat ini tidak begitu familiar bagi warga setempat. Kami agak kesulitan mencari jalan ke sananya.

Selain itu, rupanya jalannya harus melewati pasar ikan yang terkenal sangat macet dan sempit. Bau ikan betebaran di mana-mana. Meski demikian, hamparan laut di tengah cerahnya siang cukup memanjakan mata. Meski tentu saja, kalian harus sedia sunblock. Sopir grab salah menurunkan kami, seharusnya diturunkan di pintu masuk, malah diturunkan di belakang Pura. Kami setengah mati berjalan di tengah terik yang menyengat untuk menemukan pintu masuknya. Sialnya, pintu masuk tidak dapat diakses dari belakang, maksudnya tidak ada jalan pintas menuju pintu masuk dari belakang Pura. Rasanya kesal sekali karena lelah menggendong Radif yang tertidur, masih ditambah jalannya jauh dan panas. Belum lagi di sepanjang jalan dilihatin orang-orang karena aneh sekali berjalan-jalan di jalan setapak pada siang yang sangat terik begitu.

Karena ternyata jalan setapak ini tembus ke belakang hotel tempat kami menginap, kami memutuskan berjalan saja kembali ke hotel daripada kembali memutar. Asli, capek banget dan gembrobyos. Ayahnya Radif berpisah di tengah jalan karena harus sholat jumat di masjid dekat sana, sementara aku dan Radif melanjutkan perjalanan ke hotel. Sesampainya di hotel, kakiku keram sekali. Aku merendam kaki di air dingin dan merebahkan badan hingga pulih. Radif baik-baik saja untungnya, hanya kepanasan saja. Baiklah, catatan buat yang mau ke Pura Obananta, kumpulkan info sebanyak-banyaknya yang akurat mengenai lokasinya. Dengan demikian, kalian bisa mengarahkan sopir grab. Walau bete di hari terakhir, namun tetap saja aku merasa bersyukur sempat berlibur sebelum kembali kerja rodi di kantor pada minggu berikutnya. A well-spent weekend just approved.

Sore harinya
Sebelum negara api menyerang
Sore harinya aku memutuskan untuk ke Lippo Mall. Sebenarnya ingin ke Narisha untuk spa, namun ternyata tidak ada di sana padahal pada tag lokasinya ada yang berada di dalam Lippo Mall. Akhirnya aku facial saja ke Natasha. Awalnya Radif baik-baik saja ku tinggal di hotel dengan ayahnya. Kami sempat video call. Setelah selesai facial, aku ditelepon ayahnya, ternyata Radif nangis kenceng nyariin aku. Dengan buru-buru aku langsung kembali ke hotel. Sesampainya di hotel, dia langsung diam. Kami memesan makan malam dan lanjut beristirahat karena besuk paginya kami ada flight pagi. Ohya, aku sempat membeli sambal khas kupang di Bandara Eltari, namanya sambal sesawi. Tapi ternyata rasanya tidak cocok dengan lidahku karena asin sekali.


Continue reading Mencicipi Salome Kuah di Taman Nostalgia Kupang
, ,

Keseruan Mengajak Bayi Jalan-jalan ke Kota Bangkok

Seperti janjiku di postingan sebelumnya, aku akan melanjutkan cerita liburan singkatku bersama keluarga di kota Bangkok, Thailand. Setelah transit selama beberapa jam di Singapura di hari sebelumnya, Rabu tanggal 29 Mei 2019 pukul 08.45 waktu Bangkok, kami tiba di Bandara Internasional Suvarnabhumi. Kami sudah sedikit banyak mempelajari rute transportasi dari bandara menuju hotel yang telah kami pesan di kota Bangkok. Untuk memastikan kebenaran informasi yang kami dapatkan melalui media online, kami bertanya kepada petugas bandara di pusat informasi. Beruntungnya, salah satu dari mereka dapat berbahasa Inggris dengan baik. 

Gambaran pintu keluar Bandara Suvarnabhumi
Untuk memudahkan mobilitas dan komunikasi, kami membeli simcard lokal TrueMove yang konternya tersedia di bandara dengan harga 299 Baht yang katanya merupakan jaringan seluler terbaik di Thailand. Paketan data yang kami beli ini sangat cukup sih untuk akses internet selama di sana. Menurutku ini penting banget agar kita dimudahkan membaca peta secara online kapanpun dan dimanapun. Apalagi ini adalah kali pertama kami ke Thailand. Setelah selesai membeli simcard, kami mencari rute ke kota. Hotel yang kami pesan adalah Ibis Bangkok Riverside di tepian Sungai Chao Phraya. Hotel ini dapat kami capai dari Stasiun Saphan Taksin. Untuk menuju ke sana, pertama-tama kami naik ARL (Air Rail Link) yang menghubungkan Bandara Internasional Suvarnabhumi dengan kota Bangkok. Setelah itu kami akan berhenti di titik pemberhentian Phaya Thai Station dan melanjutkan perjalanan menggunakan BTS (Bangkok Mass Transit System) dan mengambil rute ke arah Saphan Taksin Station. Sebelumnya kami sempat berbelanja perlengkapan mandi di salah satu minimarket bandara. Rupanya harga-harga di sini tidak berbeda jauh dengan di Jakarta.
Turunan untuk menuju loket tiket ARL
ARL nya sangat nyaman dan tidak terlalu padat, sama halnya dengan KRL di Jakarta saat bukan jam sibuk. Kami dapat melihat gambaran kota Bangkok dari balik jendela. Setibanya di Saphan Taksin, kami bergegas mencari rute jalan kaki menuju hotel. Kami mengira jarak hotel hanya 500 meter dengan berjalan kaki dari Stasiun Saphan Taksin. Namun rupanya jarak yang tertulis di Aplikasi Traveloka tersebut merupakan jarak yang diukur garis lurus dari stasiun ke arah hotel. Nyatanya, kami harus berjalan cukup jauh di siang terik itu. Selain itu, kami masih perlu untuk menyeberangi Sungai Chao Phraya dan berjalan beberapa ratus meter lagi menuju hotel. Bangkok di siang hari panasnya tidak bisa dianggap remeh. Baru beberapa menit tiba, Bangkok sudah memberikan satu pelajaran penting bagi kami, yaitu teliti dengan jelas lokasi hotel tempat menginap terutama bila memilih tinggal di area sekitar Sungai Chao Phraya. Kami juga baru tahu ternyata moda trasnportasi air di Bangkok sangat umum dipakai. Ongkos untuk penyeberangannya juga sangat murah dan baru dibayarkan ketika telah tiba di dermaga yang dituju. Lelah menyusuri sungai dan jalanan kota Bangkok di siang hari ditambah lelahnya transit di Singapura di hari sebelumnya rupanya membuat badan kami tak sanggup lagi menopang diri. Usai unpacking barang dan membersihkan diri, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak saja di hotel sampai badan kami pulih semua sebelum melanjutkan perjalanan. 
Kamarnya lumayan luas dan menghadap langsung ke Sungai Chao Phraya
Kasurnya nyaman dan bersih
Kami mengira dapat langsung berjalan-jalan di hari pertama. Kenyataannya, kami baru bangun sore harinya menjelang petang. Bahkan anak kami juga tidur lagi dan baru minta nenen pukul 10.00 malam. Kami berusaha sesantai mungkin dalam membuat jadwal jalan-jalan menyesuaikan kondisi anak. Hari pertama kami korbankan tanpa pergi kemanapun, hanya makan KFC saja di hotel sambil sesekali melihat pemandangan dari balik jendela kamar. Kami juga memutuskan untuk istirahat lebih awal agar esok harinya badan kami lebih segar ketika jalan-jalan.
Masih takut-takut nyemplung
Ada kakak cantik jadi semangat renang
Mulai mau ke tengah kolam
Hari kedua pun tiba. Kami hanya sahur dengan ayam sisa semalam karena ternyata hotel memberi kami makanan non halal. Sulit sekali menemukan makanan halal di sini. Kami tidak sempat mencicipi Tomyum halal karena tidak berhasil menemukannya. Tetapi aku berhasil mencicipi Thai Tea asli sini dan rasanya enak sekali. Usai menyuapi anak sarapan, kami memutuskan untuk berenang di hotel saja mengingat Bangkok sedang agak gerimis. Meskipun awalnya takut, Radif akhirnya bisa menikmati keseruan berenang di kolam renang hotel. Terlebih lagi saat ada anak kecil perempuan dari Korea yang datang menghampiri kolam tempat Radif berenang. Dia tidak berhenti memanggil kakak pada anak kecil perempuan itu dan berjalan menghampirinya tanpa rasa takut. Rupanya anak bayi juga bisa mendapatkan motivasi berenang dengan cara seperti itu. Kami pun tidak berhenti dibuatnya tertawa.
Konter tiket
Pintu masuk Wat Pho
Aturan Pakaian bagi pengunjung Wat Pho
Setelah gerimis mulai reda, kami bersiap-siap menuju ke Wat Pho untuk melihat Sleeping Budha Statue (The Reclining Budha). Kali ini kami menggunakan moda transportasi online untuk menghemat waktu dan tenaga. Pada saat kami hampir tiba di Wat Pho, tiba-tiba saja sopir kami memutar mobil menjauhi area destinasi. Beberapa kali sopir tersebut mengucapkan kata-kata yang tidak kami mengerti seakan-akan hendak menjelaskan kenapa kami tidak langsung diturunkan di pintu masuk Wat Pho. Setelah kami pelan-pelan memahaminya, rupanya sopir kami tadi takut ditilang oleh polisi di dekat Wat Pho. Sebagai ucapan maaf, kami digratiskan ongkos taksi olehnya. Kami akhirnya melanjutkan perjalanan ke Wat Pho dengan berjalan kaki karena diturunkan tidak jauh dari Wat Pho. Sepanjang perjalanan kami mengamati tata bangunan di kota Bangkok yang tidak berbeda jauh dengan Jakarta terutama di area sekitar Monas. Hanya saja memang di setiap bangunan pemerintahannya dipajang foto pemimpinnya dalam ukuran raksasa. Pengunjung yang masuk ke Wat Pho harus mematuhi aturan berpakaian dengan tidak memakai celana pendek jeans bagi perempuan, sehingga disediakan peminjaman selendang untuk pengunjung yang salah kostum.
Tiket dan air mineral gratis
Mandatory Picture di Wat Pho
Harga tiket masuk Wat Pho sekitar 200 Baht untuk turis mancanegara. Selain mendapatkan tiket, pengunjung juga mendapatkan air mineral gratis. Kami pun segera berkeliling Wat Pho usai mendapatkan tiketnya. Banyak spot foto yang menarik di sana. Berhubung tempat ini merupakan tempat ibadah, pengunjung harus tetap mematuhi batasan-batasan yang telah ditentukan. Kami sebenarnya hanya ingin melihat patung The Reclining Budha yang terkenal itu. Rupanya tempatnya agak masuk ke dalam sehingga berulang kali kami memutar, kami tidak lekas menemukan lokasi patung tersebut. Di area ini banyak sekali turis lokal dan mancanegara yang berkunjung. Beberapa di antaranya terlihat rombongan pelajar yang melaksanakan study tour. Kami cukup terpuaskan dengan pemandangan kuil di sana sini dan patung-patung budha yang cantik. Meski kami akui memang tempatnya lumayan luas sehingga tidak sempat kami masuki satu persatu kuilnya.
Deretan patung budha nan cantik langsung menyambut pengunjung
Salah satu bangunan kuil tempat ibadah
Gambar informasi seputar tempat-tempat di Wat Pho
The Reclining Budha ternyata memang sebesar itu
Kami tidak lama berada di sana. Setelah menjumpai The Reclining Budha dan puas memasuki kuilnya sambil mengambil sebanyak-banyaknya gambar, kami bergegas melanjutkan perjalanan di hari itu. Menurut kami, tempat ini cocok sekali dijadikan alternatif wisata bersama keluarga atau pasangan. Selain kaya akan informasi, bangunan-bangunan yang ada di sana cukup bisa memanjakan mata. Bagi warga Thailand tentu saja wisata budaya semacam ini menambah kecintaan terhadap warisan budaya yang dimiliki oleh negara ini. Aku jadi ingat dengan candi-candi besar di Indonesia. Selanjutnya kami menuju ke Khaosan Road. Sebelum ke Khaosan Road, kami sempat mencari masjid untuk mennaikan ibadah sholat ashar. 
Akhirnya menemukan masjid
Lokasinya berada di gang sempit
Masjid ini lokasinya lumayan tersembunyi dan harus menelusuri gang-gang sempit. Sesampainya di masjid, kami bertemu dengan orang Indonesia yang tinggal di sana. Mereka menawarkan kami untuk berbuka puasa di masjid saat magrib nanti. Kami tidak berjanji karena kami tidak terlalu lama berada di sana. Warga sekitar lumayan ramah sama seperti halnya di Indonesia. Kami ingat juga waktu pertama kali tiba di Bangkok, kami dibantu membawakan barang oleh orang setempat. Padahal barang kami lumayan berat. Aku bersyukur sekali selama di sini bertemu dengan orang-orang baik. Selepas sholat ashar, kami melanjutkan perjalanan ke Khaosan Road. Menurut yang kami baca di internet, Khaosan Road merupakan salah satu lokasi yang bagus untuk mencari oleh-oleh murah dan lengkap. Tanpa menunggu lama, kami pun memesan Tuk-Tuk menuju ke sana. Selama di perjalanan, tak hentinya aku membidik kamera pada setiap sudut kota Bangkok. Kota ini lumayan rapi dan tertata. Selain itu, kondisi jalannya tidak macet dan lumayan luas. Beberapa bagian kota memang tidak berbeda dengan kota-kota besar di negara Asia Tenggara lainnya yang pernah kami kunjungi. Kami cukup senang menikmati pemandangan kota Bangkok.
Naik Tuk Tuk
Di semua bangunan pemerintah ada foto pemimpinnya dalam ukuran besar
Snapshot Kota Bangkok
Suasananya mirip Jakarta saat lengang
Aku mau cerita pengalaman pertamaku naik tuk tuk. Menurutku transportasi ini kurang recommended untuk dinaiki. Selain sopir yang membawanya ngebut dan bikin mual penumpang, tempat duduknya juga kurang aman bila dinaiki anak-anak, ditambah lagi harganya juga mahal dan susah dinego. Namun bila penasaran, kalian bisa mencobanya mumpung berada di sini. Setibanya di Khaosan Road, kami membeli Mango Smoothing Ice untuk Radif. Di Thailand, kalian jangan sampai melewatkan untuk membelinya karena mangga di sini manis dan segar sekali. Radif juga sangat suka. Kami pikir Khaosan Road akan menjadi surga belanja kami di hari kedua, ternyata barang-barang yang dijual kurang banyak pilihan dan harganya juga agak mahal. Kami yakin masih bisa mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah dan kualitas yang lebih bagus daripada memutuskan belanja di sini. Kami mencoba bolak-balik mengitari kawasan ini namun tidak menemukan oleh-oleh yang kami cari. Lelah berjalan, akhirnya kami memutuskan untuk pulang saja karena sebentar lagi magrib. Kami memesan Grabcar dari depan DHL, semacam biro jasa pengiriman di Thailand. Nah saat itu, suamiku sempat salah pilih titik penjemputan yang membuat driver kami kebingungan. Akhirnya setelah putar arah menuju titik penjemputan yang benar, kami dapat pulang kembali ke hotel.
Titik penjemputan yang sebenarnya
Plang Khaosan Road
Tempatnya penuh dengan baliho-baliho
Ada kendaraan semacam bajaj juga di sini
Suasana Khaosan Road
Malam harinya kami berencana ke Asiatique untuk membeli oleh-oleh yang belum berhasil kami dapatkan di Khaosan Road. Posisi hotel kami sebenarnya lumayan dekat dengan Asiatique. Namun sayangnya, malam harinya Bangkok diguyur hujan sangat lebat. Kami pun mengurungkan niat pergi kesana. Kami jadi sedih karena malam itu adalah satu-satunya kesempatan kami ke Asiatique. Asiatique hanya buka menjelang petang, sedangkan besuk sore kami sudah harus kembali ke Jakarta. Kami mencoba menghibur diri dengan menjadwalkan ulang rencana besuk paginya. Kami akan ke Wat Arun dan membeli oleh-oleh di sana.
Cantik sekali semacam Prambanan versi putih
Oleh-oleh baju murah khas Thailand
Oleh-oleh suvenir murah khas Thailand
Terlihat indah dengan background langit biru

Berhubung hari terakhir jatuh pada hari Jumat. Suami harus sholat Jumat terlebih dahulu sebelum ke Wat Arun. Sementara menunggu suami sholat Jumat, aku dan Radif berkeliling ke Wat Arun. Tempatnya tidak begitu luas tapi cantik sekali. Ditambah lagi cuaca sedang sangat cerah menambah sempurna hasil jepretan kamera. Beberapa kali aku berfoto selfie mengambil spot-spot cantik di Wat Arun sampai ada salah satu turis lokal menawarkan bantuan kepadaku untuk mengambil foto. Setelah berkeliling di area sekitar bangunan utama, mataku membidik salah satu pojok yang banyak terdapat kios oleh-oleh berderet rapi di pinggir. Aku langsung bergegas mencari oleh-oleh yang ku butuhkan. Akhirnya aku menemukan tempat yang kami cari-cari dari kemarin. Penjual di Wat Arun terkenal bisa berbahasa Indonesia dan mau menerima mata uang Rupiah. Aku menemukan salah satu penjual yang sangat ramah dan enak untuk dinego harga. Baju-baju yang dijual juga bagus dan banyak variasinya. Akupun membeli beberapa untuk orang rumah. Setelah suami selesai sholat, suami ikut bergabung denganku memilih oleh-oleh untuk keluarga. Bahkan kalung pesanan mertua berhasil kami dapatkan dengan harga yang lebih murah. Aku baru tahu kalau Wat Arun selengkap itu. Bagian dalamnya terdapat pasar yang tersembunyi yang menjual aneka tas, selendang, dan pernak-pernik khas Thailand dengan harga terjangkau. Buat kalian yang ke Bangkok, ku sarankan untuk mengunjungi tempat ini. Setelah puas berbelanja, kami pun kembali ke hotel untuk berkemas. Sore harinya kami check out dan melanjutkan perjalanan menuju Bandara Internasional Dong Mueang mengejar jadwal penerbangan malam maskapai Thai Lion.
Saatnya berkemas pulang ke Jakarta
Aku bersyukur sekali karena penerbangan malam kali ini berjalan lancar. Radif bisa tidur pulas dan kami juga bisa ikut beristirahat karena esok harinya masih harus mengikuti upacara Hari  Lahir Pancasila tanggal 1 Juni 2019. Sebelum terbang, kami sempat mencicipi mango sticky rice khas Thailand di bandara. Rasanya enak sekali ternyata, berbeda dengan yang pernah kami beli di Indonesia. Ohya, sebagai penutupnya, aku mau memberi tahu kalau perjalanan liburan kali ini kami menghabiskan dana sekitar 15 juta rupiah. Aku tidak akan merincinya kali ini. Sebenarnya bisa lebih murah bila kami membeli tiket jauh-jauh hari. Bagaimanapun, kami tetap merasa senang dengan liburan singkat kali ini.

Continue reading Keseruan Mengajak Bayi Jalan-jalan ke Kota Bangkok