Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts
, ,

Keseruan Mengajak Bayi Jalan-jalan ke Kota Bangkok

Seperti janjiku di postingan sebelumnya, aku akan melanjutkan cerita liburan singkatku bersama keluarga di kota Bangkok, Thailand. Setelah transit selama beberapa jam di Singapura di hari sebelumnya, Rabu tanggal 29 Mei 2019 pukul 08.45 waktu Bangkok, kami tiba di Bandara Internasional Suvarnabhumi. Kami sudah sedikit banyak mempelajari rute transportasi dari bandara menuju hotel yang telah kami pesan di kota Bangkok. Untuk memastikan kebenaran informasi yang kami dapatkan melalui media online, kami bertanya kepada petugas bandara di pusat informasi. Beruntungnya, salah satu dari mereka dapat berbahasa Inggris dengan baik. 

Gambaran pintu keluar Bandara Suvarnabhumi
Untuk memudahkan mobilitas dan komunikasi, kami membeli simcard lokal TrueMove yang konternya tersedia di bandara dengan harga 299 Baht yang katanya merupakan jaringan seluler terbaik di Thailand. Paketan data yang kami beli ini sangat cukup sih untuk akses internet selama di sana. Menurutku ini penting banget agar kita dimudahkan membaca peta secara online kapanpun dan dimanapun. Apalagi ini adalah kali pertama kami ke Thailand. Setelah selesai membeli simcard, kami mencari rute ke kota. Hotel yang kami pesan adalah Ibis Bangkok Riverside di tepian Sungai Chao Phraya. Hotel ini dapat kami capai dari Stasiun Saphan Taksin. Untuk menuju ke sana, pertama-tama kami naik ARL (Air Rail Link) yang menghubungkan Bandara Internasional Suvarnabhumi dengan kota Bangkok. Setelah itu kami akan berhenti di titik pemberhentian Phaya Thai Station dan melanjutkan perjalanan menggunakan BTS (Bangkok Mass Transit System) dan mengambil rute ke arah Saphan Taksin Station. Sebelumnya kami sempat berbelanja perlengkapan mandi di salah satu minimarket bandara. Rupanya harga-harga di sini tidak berbeda jauh dengan di Jakarta.
Turunan untuk menuju loket tiket ARL
ARL nya sangat nyaman dan tidak terlalu padat, sama halnya dengan KRL di Jakarta saat bukan jam sibuk. Kami dapat melihat gambaran kota Bangkok dari balik jendela. Setibanya di Saphan Taksin, kami bergegas mencari rute jalan kaki menuju hotel. Kami mengira jarak hotel hanya 500 meter dengan berjalan kaki dari Stasiun Saphan Taksin. Namun rupanya jarak yang tertulis di Aplikasi Traveloka tersebut merupakan jarak yang diukur garis lurus dari stasiun ke arah hotel. Nyatanya, kami harus berjalan cukup jauh di siang terik itu. Selain itu, kami masih perlu untuk menyeberangi Sungai Chao Phraya dan berjalan beberapa ratus meter lagi menuju hotel. Bangkok di siang hari panasnya tidak bisa dianggap remeh. Baru beberapa menit tiba, Bangkok sudah memberikan satu pelajaran penting bagi kami, yaitu teliti dengan jelas lokasi hotel tempat menginap terutama bila memilih tinggal di area sekitar Sungai Chao Phraya. Kami juga baru tahu ternyata moda trasnportasi air di Bangkok sangat umum dipakai. Ongkos untuk penyeberangannya juga sangat murah dan baru dibayarkan ketika telah tiba di dermaga yang dituju. Lelah menyusuri sungai dan jalanan kota Bangkok di siang hari ditambah lelahnya transit di Singapura di hari sebelumnya rupanya membuat badan kami tak sanggup lagi menopang diri. Usai unpacking barang dan membersihkan diri, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak saja di hotel sampai badan kami pulih semua sebelum melanjutkan perjalanan. 
Kamarnya lumayan luas dan menghadap langsung ke Sungai Chao Phraya
Kasurnya nyaman dan bersih
Kami mengira dapat langsung berjalan-jalan di hari pertama. Kenyataannya, kami baru bangun sore harinya menjelang petang. Bahkan anak kami juga tidur lagi dan baru minta nenen pukul 10.00 malam. Kami berusaha sesantai mungkin dalam membuat jadwal jalan-jalan menyesuaikan kondisi anak. Hari pertama kami korbankan tanpa pergi kemanapun, hanya makan KFC saja di hotel sambil sesekali melihat pemandangan dari balik jendela kamar. Kami juga memutuskan untuk istirahat lebih awal agar esok harinya badan kami lebih segar ketika jalan-jalan.
Masih takut-takut nyemplung
Ada kakak cantik jadi semangat renang
Mulai mau ke tengah kolam
Hari kedua pun tiba. Kami hanya sahur dengan ayam sisa semalam karena ternyata hotel memberi kami makanan non halal. Sulit sekali menemukan makanan halal di sini. Kami tidak sempat mencicipi Tomyum halal karena tidak berhasil menemukannya. Tetapi aku berhasil mencicipi Thai Tea asli sini dan rasanya enak sekali. Usai menyuapi anak sarapan, kami memutuskan untuk berenang di hotel saja mengingat Bangkok sedang agak gerimis. Meskipun awalnya takut, Radif akhirnya bisa menikmati keseruan berenang di kolam renang hotel. Terlebih lagi saat ada anak kecil perempuan dari Korea yang datang menghampiri kolam tempat Radif berenang. Dia tidak berhenti memanggil kakak pada anak kecil perempuan itu dan berjalan menghampirinya tanpa rasa takut. Rupanya anak bayi juga bisa mendapatkan motivasi berenang dengan cara seperti itu. Kami pun tidak berhenti dibuatnya tertawa.
Konter tiket
Pintu masuk Wat Pho
Aturan Pakaian bagi pengunjung Wat Pho
Setelah gerimis mulai reda, kami bersiap-siap menuju ke Wat Pho untuk melihat Sleeping Budha Statue (The Reclining Budha). Kali ini kami menggunakan moda transportasi online untuk menghemat waktu dan tenaga. Pada saat kami hampir tiba di Wat Pho, tiba-tiba saja sopir kami memutar mobil menjauhi area destinasi. Beberapa kali sopir tersebut mengucapkan kata-kata yang tidak kami mengerti seakan-akan hendak menjelaskan kenapa kami tidak langsung diturunkan di pintu masuk Wat Pho. Setelah kami pelan-pelan memahaminya, rupanya sopir kami tadi takut ditilang oleh polisi di dekat Wat Pho. Sebagai ucapan maaf, kami digratiskan ongkos taksi olehnya. Kami akhirnya melanjutkan perjalanan ke Wat Pho dengan berjalan kaki karena diturunkan tidak jauh dari Wat Pho. Sepanjang perjalanan kami mengamati tata bangunan di kota Bangkok yang tidak berbeda jauh dengan Jakarta terutama di area sekitar Monas. Hanya saja memang di setiap bangunan pemerintahannya dipajang foto pemimpinnya dalam ukuran raksasa. Pengunjung yang masuk ke Wat Pho harus mematuhi aturan berpakaian dengan tidak memakai celana pendek jeans bagi perempuan, sehingga disediakan peminjaman selendang untuk pengunjung yang salah kostum.
Tiket dan air mineral gratis
Mandatory Picture di Wat Pho
Harga tiket masuk Wat Pho sekitar 200 Baht untuk turis mancanegara. Selain mendapatkan tiket, pengunjung juga mendapatkan air mineral gratis. Kami pun segera berkeliling Wat Pho usai mendapatkan tiketnya. Banyak spot foto yang menarik di sana. Berhubung tempat ini merupakan tempat ibadah, pengunjung harus tetap mematuhi batasan-batasan yang telah ditentukan. Kami sebenarnya hanya ingin melihat patung The Reclining Budha yang terkenal itu. Rupanya tempatnya agak masuk ke dalam sehingga berulang kali kami memutar, kami tidak lekas menemukan lokasi patung tersebut. Di area ini banyak sekali turis lokal dan mancanegara yang berkunjung. Beberapa di antaranya terlihat rombongan pelajar yang melaksanakan study tour. Kami cukup terpuaskan dengan pemandangan kuil di sana sini dan patung-patung budha yang cantik. Meski kami akui memang tempatnya lumayan luas sehingga tidak sempat kami masuki satu persatu kuilnya.
Deretan patung budha nan cantik langsung menyambut pengunjung
Salah satu bangunan kuil tempat ibadah
Gambar informasi seputar tempat-tempat di Wat Pho
The Reclining Budha ternyata memang sebesar itu
Kami tidak lama berada di sana. Setelah menjumpai The Reclining Budha dan puas memasuki kuilnya sambil mengambil sebanyak-banyaknya gambar, kami bergegas melanjutkan perjalanan di hari itu. Menurut kami, tempat ini cocok sekali dijadikan alternatif wisata bersama keluarga atau pasangan. Selain kaya akan informasi, bangunan-bangunan yang ada di sana cukup bisa memanjakan mata. Bagi warga Thailand tentu saja wisata budaya semacam ini menambah kecintaan terhadap warisan budaya yang dimiliki oleh negara ini. Aku jadi ingat dengan candi-candi besar di Indonesia. Selanjutnya kami menuju ke Khaosan Road. Sebelum ke Khaosan Road, kami sempat mencari masjid untuk mennaikan ibadah sholat ashar. 
Akhirnya menemukan masjid
Lokasinya berada di gang sempit
Masjid ini lokasinya lumayan tersembunyi dan harus menelusuri gang-gang sempit. Sesampainya di masjid, kami bertemu dengan orang Indonesia yang tinggal di sana. Mereka menawarkan kami untuk berbuka puasa di masjid saat magrib nanti. Kami tidak berjanji karena kami tidak terlalu lama berada di sana. Warga sekitar lumayan ramah sama seperti halnya di Indonesia. Kami ingat juga waktu pertama kali tiba di Bangkok, kami dibantu membawakan barang oleh orang setempat. Padahal barang kami lumayan berat. Aku bersyukur sekali selama di sini bertemu dengan orang-orang baik. Selepas sholat ashar, kami melanjutkan perjalanan ke Khaosan Road. Menurut yang kami baca di internet, Khaosan Road merupakan salah satu lokasi yang bagus untuk mencari oleh-oleh murah dan lengkap. Tanpa menunggu lama, kami pun memesan Tuk-Tuk menuju ke sana. Selama di perjalanan, tak hentinya aku membidik kamera pada setiap sudut kota Bangkok. Kota ini lumayan rapi dan tertata. Selain itu, kondisi jalannya tidak macet dan lumayan luas. Beberapa bagian kota memang tidak berbeda dengan kota-kota besar di negara Asia Tenggara lainnya yang pernah kami kunjungi. Kami cukup senang menikmati pemandangan kota Bangkok.
Naik Tuk Tuk
Di semua bangunan pemerintah ada foto pemimpinnya dalam ukuran besar
Snapshot Kota Bangkok
Suasananya mirip Jakarta saat lengang
Aku mau cerita pengalaman pertamaku naik tuk tuk. Menurutku transportasi ini kurang recommended untuk dinaiki. Selain sopir yang membawanya ngebut dan bikin mual penumpang, tempat duduknya juga kurang aman bila dinaiki anak-anak, ditambah lagi harganya juga mahal dan susah dinego. Namun bila penasaran, kalian bisa mencobanya mumpung berada di sini. Setibanya di Khaosan Road, kami membeli Mango Smoothing Ice untuk Radif. Di Thailand, kalian jangan sampai melewatkan untuk membelinya karena mangga di sini manis dan segar sekali. Radif juga sangat suka. Kami pikir Khaosan Road akan menjadi surga belanja kami di hari kedua, ternyata barang-barang yang dijual kurang banyak pilihan dan harganya juga agak mahal. Kami yakin masih bisa mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah dan kualitas yang lebih bagus daripada memutuskan belanja di sini. Kami mencoba bolak-balik mengitari kawasan ini namun tidak menemukan oleh-oleh yang kami cari. Lelah berjalan, akhirnya kami memutuskan untuk pulang saja karena sebentar lagi magrib. Kami memesan Grabcar dari depan DHL, semacam biro jasa pengiriman di Thailand. Nah saat itu, suamiku sempat salah pilih titik penjemputan yang membuat driver kami kebingungan. Akhirnya setelah putar arah menuju titik penjemputan yang benar, kami dapat pulang kembali ke hotel.
Titik penjemputan yang sebenarnya
Plang Khaosan Road
Tempatnya penuh dengan baliho-baliho
Ada kendaraan semacam bajaj juga di sini
Suasana Khaosan Road
Malam harinya kami berencana ke Asiatique untuk membeli oleh-oleh yang belum berhasil kami dapatkan di Khaosan Road. Posisi hotel kami sebenarnya lumayan dekat dengan Asiatique. Namun sayangnya, malam harinya Bangkok diguyur hujan sangat lebat. Kami pun mengurungkan niat pergi kesana. Kami jadi sedih karena malam itu adalah satu-satunya kesempatan kami ke Asiatique. Asiatique hanya buka menjelang petang, sedangkan besuk sore kami sudah harus kembali ke Jakarta. Kami mencoba menghibur diri dengan menjadwalkan ulang rencana besuk paginya. Kami akan ke Wat Arun dan membeli oleh-oleh di sana.
Cantik sekali semacam Prambanan versi putih
Oleh-oleh baju murah khas Thailand
Oleh-oleh suvenir murah khas Thailand
Terlihat indah dengan background langit biru

Berhubung hari terakhir jatuh pada hari Jumat. Suami harus sholat Jumat terlebih dahulu sebelum ke Wat Arun. Sementara menunggu suami sholat Jumat, aku dan Radif berkeliling ke Wat Arun. Tempatnya tidak begitu luas tapi cantik sekali. Ditambah lagi cuaca sedang sangat cerah menambah sempurna hasil jepretan kamera. Beberapa kali aku berfoto selfie mengambil spot-spot cantik di Wat Arun sampai ada salah satu turis lokal menawarkan bantuan kepadaku untuk mengambil foto. Setelah berkeliling di area sekitar bangunan utama, mataku membidik salah satu pojok yang banyak terdapat kios oleh-oleh berderet rapi di pinggir. Aku langsung bergegas mencari oleh-oleh yang ku butuhkan. Akhirnya aku menemukan tempat yang kami cari-cari dari kemarin. Penjual di Wat Arun terkenal bisa berbahasa Indonesia dan mau menerima mata uang Rupiah. Aku menemukan salah satu penjual yang sangat ramah dan enak untuk dinego harga. Baju-baju yang dijual juga bagus dan banyak variasinya. Akupun membeli beberapa untuk orang rumah. Setelah suami selesai sholat, suami ikut bergabung denganku memilih oleh-oleh untuk keluarga. Bahkan kalung pesanan mertua berhasil kami dapatkan dengan harga yang lebih murah. Aku baru tahu kalau Wat Arun selengkap itu. Bagian dalamnya terdapat pasar yang tersembunyi yang menjual aneka tas, selendang, dan pernak-pernik khas Thailand dengan harga terjangkau. Buat kalian yang ke Bangkok, ku sarankan untuk mengunjungi tempat ini. Setelah puas berbelanja, kami pun kembali ke hotel untuk berkemas. Sore harinya kami check out dan melanjutkan perjalanan menuju Bandara Internasional Dong Mueang mengejar jadwal penerbangan malam maskapai Thai Lion.
Saatnya berkemas pulang ke Jakarta
Aku bersyukur sekali karena penerbangan malam kali ini berjalan lancar. Radif bisa tidur pulas dan kami juga bisa ikut beristirahat karena esok harinya masih harus mengikuti upacara Hari  Lahir Pancasila tanggal 1 Juni 2019. Sebelum terbang, kami sempat mencicipi mango sticky rice khas Thailand di bandara. Rasanya enak sekali ternyata, berbeda dengan yang pernah kami beli di Indonesia. Ohya, sebagai penutupnya, aku mau memberi tahu kalau perjalanan liburan kali ini kami menghabiskan dana sekitar 15 juta rupiah. Aku tidak akan merincinya kali ini. Sebenarnya bisa lebih murah bila kami membeli tiket jauh-jauh hari. Bagaimanapun, kami tetap merasa senang dengan liburan singkat kali ini.

Continue reading Keseruan Mengajak Bayi Jalan-jalan ke Kota Bangkok
, ,

Transit Singapura Selama Beberapa Jam

Foto di deket mushola Bandara
Halo semua! Beberapa waktu yang lalu atau tepatnya tanggal 28 - 31 Mei 2019, aku dan keluarga kecilku sempat pergi berlibur ke kota Bangkok, Thailand. Sebenarnya liburan kali ini termasuk dadakan karena kami baru membeli tiket pesawatnya H-1 dari keberangkatan. Aku dan suamiku awalnya ingin menunda liburan ke Bangkok di tahun depan saja, namun karena satu dan lain hal kami putuskan untuk tetap berangkat pada tahun ini. Berikut cerita selengkapnya. Semoga belum basi ya.

Mempunyai bayi bukanlah halangan untuk melakukan perjalanan liburan ke luar negeri. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa liburan membawa bayi lebih menguras energi terlebih kami melakukannya sambil berpuasa Ramadhan. Selain persiapannya yang lebih menyita waktu, tenaga, dan biaya, ada banyak sekali penyesuaian-penyesuaian yang harus kita lakukan agar perjalanan tetap menyenangkan untuk si bayi dan orang tuanya. Kami memilih kota Bangkok karena sekalian ingin berbelanja pakaian anak yang konon lucu-lucu dan murah di sana. Kebetulan sekali liburan kali ini bertepatan dengan momen mudik lebaran, sehingga momen belanja baju anak menjadi wishlist yang tidak boleh tertinggal. Ohya, kami sengaja transit Singapura karena ingin melihat Changi Jewel dan mampir ke Garden By the Bay saat malam. Kami berangkat ke Singapura via Denpasar menggunakan maskapai Jetstar dengan nomor penerbangan 3K-246 yang berangkat Pukul 19.15 WITA dan tiba di Singapura Pukul 22.05 waktu setempat. Seperti yang pernah ku bilang sebelumnya bahwa waktu Singapura tidak jauh berbeda dengan WITA. Pesawat kami kebetulan on time sekali. Kami sempat khawatir akan tertinggal pesawat karena sebenarnya kami berangkat dari Waingapu dan pesawat kami sempat delay sekitar satu jam. Belum lagi, ini kali pertama kami berangkat ke luar negeri via Denpasar. Kami belum pernah masuk ke Terminal Keberangkatan Internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai. Bagi yang belum pernah kesana, aku bakal memberikan sedikit gambaran. 

Lorongnya penuh mural-mural cantik (Sumber: Liputan6.com)
Terminal Keberangkatan Internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai berada di luar. Setelah keluar dari pintu kedatangan domestik, kalian bisa belok ke kanan lurus hingga menjumpai Terminal Keberangkatan Internasional yang banyak terdapat gambar mural-mural lucu di dalam lorongnya. Nah, aku awalnya mengira bahwa terminal keberangkatannya tidak jauh dari lorong tersebut, ternyata aku salah besar. Lorong itu hanyalah pembukanya saja. Masih panjang jalan yang harus dilalui. Kalian akan melewati lorong-lorong yang mirip basement (sepertinya memang berada di sebelah basement, aku tidak sempat memperhatikan karena terburu-buru) hingga menemui pintu masuk kecil dengan beberapa orang petugas bandara. Jangan sedih, setelah itu masih panjang lagi jalannya karena kalian akan menaiki tanjakan yang rasanya tidak ada habisnya untuk ditelusuri di saat kalian sedang sangat terburu-buru begitu. Lorong keberangkatannya biasa saja, bukan bangunan yang menarik mata. Kelegaan kami muncul saat kami tiba di area internasional yang di sana tentu saja lebih didominasi oleh turis mancanegara. 

Area internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai
Dicari sendiri ya lokasi konter check in nya masing-masing maskapai
Area check ini pesawat berada di lantai 2. Kalian bisa menggunakan lift untuk menuju ke area tersebut. Nah, nanti akan ada banyak pilihan tempat check in sesuai dengan maskapai yang kalian gunakan beserta tujuan yang ingin kalian tuju. Sebelum check in, kami sempat memasuki ruang loker atau semacam ruangan untuk bongkar pasang koper. Kami sengaja mengatur isi koper agar tidak perlu menambah bagasi. Hal ini penting mengingat peraturan mengenai bagasi sangat ketat saat pergi ke luar negeri. Setelah memastikan bawaan kami aman, kami bergegas menuju ke konter check in. Beruntungnya, konter kami tidak ada antrian, sehingga proses check in berlangsung cepat. Saat itu kami belum sempat membeli tiket balik ke Indonesia. Petugas tetap mempersilakan kami check in namun meminta kami segera membeli sebelum masuk ke bagian Imigrasi. Tersebutlah kami segera membeli tiket balik sekalian mengambil beberapa uang Rupiah cash untuk jaga-jaga. Di sana banyak tersedia ATM maupun Money Changer. So, tidak perlu khawatir. Setelah memastikan semua sudah beres, kami bergegas sholat magrib. Mushola area ini agak tersembunyi di balik tempat semacam gudang, namun tempatnya tetap nyaman dan bersih. Setelah itu, aku menyempatkan diri mengganti popok Radif di Nursery Room. Tempatnya cukup bersih tetapi kecil. Meski demikian, tempatnya masih muat kok jika digunakan bersama dengan ibu dan anak lain. Lagipula, kami hanya butuh mengganti popok saja.
Perhatikan anak panah menuju ruang bongkar bagasi
Pengalaman penerbangan malam itu agak kurang nyaman bagi kami dan Radif ternyata. Radif yang semula baik-baik saja tiba-tiba mendadak rewel dan susah tidur. Padahal kami sengaja mengambil penerbangan ini karena menyesuaikan jam istirahat malamnya. Beberapa kali penumpang warga negara asing di depan kami terlihat terganggu dan mengeluarkan suara semacam menyuruh anak kami diam. Kami paham bahwa sudah seharusnya semua penumpang saling menjaga kenyamanan penumpang lain, kami juga luput dalam menjaga anak. Kami juga tidak bisa berbuat banyak mengingat anak kami juga sedang aktif-aktifnya. Radif baru bisa tertidur beberapa saat sebelum pesawat landing. Ada rasa bersalah terbersit di benakku karena memaksanya ikut dalam perjalanan kali ini. Tetapi, kecemasan sirna saat kami berhasil landing di Singapura dan Radif masih pulas tertidur.
Musholanya ada di atas ya
Bayinya tidur sesampainya di Singapura
Agar tidak tersesat di dalam Bandara
Di dalam Bandara Changi.
Kami menyempatkan diri untuk berbuka puasa di bandara sembari mencari mushola. Bandara Changi sedang dalam tahap renovasi di beberapa bagian, salah satunya mushola. Mushola yang tersedia di sana hanya berupa temporary mushola. Meski demikian, tempatnya sangat bersih, lengkap, dan nyaman serta luas. Selain itu, mukenanya juga bersih dan wangi. Kekurangannya hanyalah tidak ada tempat wudhu sehingga kami harus bolak balik ke toilet untuk wudhu. Karena tujuan kami ke Singapura hanyalah untuk transit beberapa jam saja, kami sengaja tidak memesan hotel. Setelah beres berbuka, kami memutuskan pergi ke Garden By The Bay sekaligus mencari makan untuk sahur. Awalnya kami hendak naik MRT karena mengira layanan MRT 24 jam. Ternyata kami salah. MRT hanya ada sampai dengan pukul 23.00 waktu setempat. Terpaksa kami memesan grab car. Tarifnya lumayan mahal meskipun dekat, sekitar 17 SGD sekali jalan. Rasanya bolak-balik bisa kami gunakan untuk membeli Tourist Pass selama 3 hari. Garden By The Bay tutup pukul 02.00 dini hari. Kami hanya ingin melihat Superbig Tree pada saat malam. 
Foto di deket Dragon Fly Bridge
Those beautiful trees just made me feel so happy back then
Wefie sama suami di bawah BigTree, bayinya pas belum bangun
Area Garden By The Bay sangat sepi di tengah malam, hanya ada beberapa penjaga dan satu dua turis lokal yang terlihat. Aku dan suami sangat menikmati suasana malam di sana sambil melihat Superbig Tree berganti-ganti warna dengan indahnya selayaknya pohon dalam film Avatar. Radif juga sempat bangun namun tidak menangis. Kami sempat bertanya ke petugas mengenai beberapa Junk Food Resto atau Restoran Halal lainnya, namun ternyata tidak banyak restoran yang buka 24 jam. Bahkan Junk Food Resto pun tidak ada yang buka 24 jam di sekitar sana. Kami agak kecewa karena berpikir Singapura sama halnya dengan kota-kota besar di Indonesia yang bakal banyak pilihan tempat makan buka 24 jam.
Dropping zone Garden By The Bay
Sambil melihat peta, kami menemukan satu restoran KFC agak jauh dari tempat kami berada, daerah dekat dengan Bugis Junction. Pada saat kami tiba di sana, ternyata restorannya baru saja tutup. Kami sangat kecewa karena hari telah menjelang pagi dan lapar sekali rasanya. Belum lagi biaya yang kami keluarkan untuk naik grabcar ke sini hampir 2 kali lipat dari sebelumnya. Akhirnya kami putuskan jalan menelusuri pertokoan manatahu ada toko atau restoran yang masih buka untuk sekedar membeli minum atau snack. Sebenarnya kami sempet bertanya kepada warga lokal namun tempat yang dimaksud agak jauh dari jangkauan sedangkan kami sudah sangat lelah. Untungnya di tengah keputusasaan kami, kami menemukan tempat makan Malaysia bernama Encik Tan dekat sekali dengan Bugis Junction. Di sana kami memesan Es Teh Trubuk, Susu Milo, dan Mie dua porsi. Sayangnya walau halal dan harganya terjangkau, rasa makanannya jauh dari harapan. Meski demikian, kami lega setidaknya perut sudah terisi makanan.
Encik Tan's Restaurant
Jajan es sama mie di situ
Suasana Victoria Street sekitar tempat makan, sepi banget
Tidak berlama-lama, kami memutuskan untuk pesan Grabcar untuk kembali ke Bandara. Sayangnya kami sempat mengalami penolakan oleh sopirnya karena membawa bayi. Mereka tidak berani membawa penumpang yang memiliki bayi karena takut melanggar peraturan lalu lintas yang mengharuskan bayi ditempatkan di carseat. Sopir tersebut menyarankan kami untuk memesan Grab Family saja. Kami pun segera memesannya namun berkali-kali mencoba, kami tidak kunjung mendapatkan grabcar di sekitar kami. Setelah putus asa mencoba, kami iseng kembali mencoba memesan grabcar biasa manatahu kami mendapat sopir yang tidak terlalu strict terhadap aturan. Beruntungnya, kami mendapatkannya di percobaan pertama. Kami lega sekali walaupun harganya lumayan mahal. Kalau dipikir-pikir, jalan-jalan malam di Singapura kurang menguntungkan bagi turis amatiran semacam kami. Selain pilihan moda transportasinya yang terbatas dan mahalnya ongkos taksi atau transportasi online di sana, tidak banyak pilihan tempat makan atau objek wisata yang bisa dikunjungi. Rasanya mudah sekali menghabiskan uang sejuta hanya dalam satu malam di Singapura tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti.
Pintu masuk Skytrain
Inside the Skytrain, mirip KRL sih
Foto di deket pintu kedatangan
Setibanya di bandara, kami berencana ingin langsung ke Changi Jewel. Pada saat kami bertanya ke bagian informasi, rupanya mereka tidak menyarankan kami pergi kesana karena butuh meluangkan waktu 5 jam agar kami dapat menikmati Changi Jewel. Keterbatasan waktu transit membuat kami tidak berani mengambil risiko. Sedih sekali rasanya mengingat belum tentu dalam waktu dekat akan kembali ke sana. Melupakan kekecewaan kami karena batal ke Changi Jewel, kami pun menelusuri beberapa spot di Bandara Changi yang bagus untuk tempat berfoto, salah satunya adalah Orchard Garden. Meskipun hanya berupa area kecil yang terdapat replika bunga anggrek besar, rupanya berfoto di sana juga perlu mengantri dari beberapa turis lainnya. Beberapa anak kecil juga terlihat bermain-main di sekitar area ini.
Orchard Garden
Kami beberapa kali menaiki Skytrain yang menghubungkan antar terminal di Bandara Changi. Puas berfoto-foto, kami pun kembali ke mushola tadi untuk menunggu waktu check in pesawat menuju Bangkok. Radif sempat tertidur lama di musholanya yang nyaman itu sembari aku dan suami sholat tarawih dan menunggu subuh. Beberapa kali kami bertemu dengan orang Indonesia yang sengaja menyebrang ke Singapura via Batam untuk pulang ke Surabaya karena tiket pesawat lebih murah dari Singapura daripada via Jakarta. Rasanya aku menjadi trenyuh sekali dengan dampak kenaikan harga tiket pesawat yang tidak wajar ini.
Ini mukenanya bersih banget dan wangi
Inside the musala
Ada sandalnya juga yang gak kalah bersih
My son even could manage to sleep comfortably there.
Kami tidak sempat mandi atau membersihkan diri selepas sahur dan sholat subuh. Radif sempat makan dan minum susu yang ku bawa dari Waingapu. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Bangkok menggunakan maskapai yang sama, yaitu Jetstar pukul 07.20 waktu Singapura dan akan tiba di Bandara Internasional Suvarnabhumi, Bangkok pukul 08.45 waktu setempat. Senang bisa kembali menyapa Singapura meskipun mengalami beberapa ketidaknyamanan karena kurangnya persiapan dan informasi yang kami punya. But, it was still fun tho. Senang karena akhirnya punya kesempatan liburan bertiga ke kota ini lagi. Semoga di lain kesempatan, mungkin tahun depan kami dapat kembali mengunjungi Singapura dengan lebih layak dan well prepared. Aku akan melanjutkan cerita liburan ke Bangkok pada postingan berikutnya. Tenang saja, nanti akan ku bocorkan biaya yang kami keluarkan selama liburan sebagai gambaran bagi kalian yang ingin berlibur ke sana bersama keluarga.
Continue reading Transit Singapura Selama Beberapa Jam