Showing posts with label Serba-serbi. Show all posts
Showing posts with label Serba-serbi. Show all posts
, ,

Menyambut Tahun Baru 2018 dengan Resolusi Pilihan


Tidak terasa minggu ini sudah memasuki awal bulan Desember. Pertanda tahun 2017 akan segera berakhir dan tahun baru 2018 sudah bersiap-siap menyambut kita dengan aneka agenda baru yang siap untuk direalisasikan. Di penghujung tahun ini, sudah siapkah kita menyongsong hari baru di tahun 2018 nanti? Apa saja yang sudah kita persiapkan agar segala kesalahan atau hal-hal yang sempat kita sesali sepanjang tahun 2017 ini tidak terulang kembali di tahun baru nanti? Kita bisa merenungkannya sejak dari sekarang. Mari kita lupakan dulu sejenak segala penyesalan di sepanjang tahun 2017 dan mulai mengubahnya menjadi sebuah semangat baru untuk menuju kehidupan yang lebih baik.

Berbicara mengenai pergantian tahun, ada satu agenda rutin yang sering kali kita lakukan selain hanya sekadar melakukan perayaan tahun baru. Kembang api dan pesta-pesta tidak selalu menjadi hal wajib yang harus ada dalam setiap momen penyambutan tahun baru. Terlebih, bagi kita yang kesehariannya sudah dipenuhi dengan begitu banyak kegiatan penting hingga sulit menyempatkan waktu bahkan di hari libur sekalipun. Pun dikejar masa hidup yang kian berkurang setiap tahunnya. Agenda penting itu bernama menuliskan resolusi atau pengharapan di tahun baru, baik literally tertulis atau hanya sekadar dicatat di angan. Diam-diam, kita selalu melakukannya di setiap pergantian tahun. Entah itu kita pikirkan dengan serius dan matang-matang atau sekadar pemikiran selintas saja. Bisa jadi bagi yang memikirkan dengan sangat matang dan serius sudah tahu apa saja yang akan dilakukannya pada tahun baru nanti. Bisa jadi bagi mereka yang sungguh-sungguh menuliskan resolusinya tersebut memang sudah begitu menanti-nanti pergantian tahun 2018. 

Sama seperti kebanyakan orang-orang, aku pun juga sudah mulai memikirkan resolusi apa saja yang akan menjadi agenda pentingku di tahun baru 2018 nanti. Sebenarnya, aku mulai serius merealisasikan resolusi-resolusi yang ku buat sejak tahun 2015 lalu. Meskipun tentu saja, tidak serta merta semua resolusiku tersebut berhasil ku tunaikan. Rencana hanyalah rencana, usaha kita dan tangan Tuhanlah penentunya. Namun setidaknya, di usiaku yang memang sudah terhitung matang secara biologis dan psikologis tersebut, aku sudah mulai belajar untuk merencanakan hidupku di setiap tahunnya. Karena tentu saja, kita semua tidak ingin membuang waktu kita yang begitu berharga secara sia-sia.  

Merenungi segala pencapaian apa saja yang sudah berhasil aku hasilkan di tahun 2017 dan apa saja yang masih gagal ku wujudkan, aku tentu tak ingin tahun 2018 berjalan tidak lebih baik dari tahun 2017. Saatnya membuat resolusi-resolusi besar untuk tahun 2018 nanti.

Resolusi pertama, tahun 2018 bakal menjadi tahun yang sangat ku nantikan bersama suami karena insya Allah akan menjadi tahun kelahiran anak pertama kami. Aku dan suami tentu saja berharap agar semua prosesnya berjalan dengan lancar. Ibu dan anaknya sehat tak kurang suatu hal apapun. Sebenarnya ada satu hal yang sangat ku harapkan, yaitu dapat menjalani proses persalinan secara normal. Di atas semua itu, doa terbesarku tetap saja adalah kesehatan bayi yang akan aku lahirkan. Semoga perkiraan tanggal lahirnya tidak meleset jauh agar dapat menyesuaikan masa cutiku. Dengan demikian, aku bisa mempunyai waktu lebih bersama bayiku. Memiliki anak memang bukanlah sebuah pencapaian hidup. Namun hal ini dapat menjadi sebuah catatan penting bagi mereka yang akan segera dikaruniai momongan. Belajar menjadi orang tua baru. Mulai memikirkan apa saja kebutuhan anak dan seberapa jauh persiapan kita untuk masa depannya. 

Theragran-M
Mempersiapkan masa depan anak di awal kelahirannya tidak pernah terlalu dini menurutku, justru semakin dini akan semakin baik. Selain fokus pada hal finansial, kebutuhan anak saat di dalam kandungan juga musti kita pikirkan. Memastikan bahwa segala kebutuhan gizinya terpenuhi adalah sebaik-baiknya hadiah. Untuk itu, aku selalu memperhatikan makanan yang aku makan selama hamil dan tidak lupa juga mengkonsumsi supplemen. Pilihan supplemen aku jatuhkan kepada Theragran-M. Theragran-M mengandung Vitamin C yang baik untuk menjaga kesehatan tubuh sehingga tubuh selalu dalam keadaan optimum untuk mengatasi serangan penyakit. Hal ini untuk memenuhi nutrisi sang ibu dan buah hati di dalam kandungan serta menjaga daya tahan tubuh selama hamil agar tidak cepat lemas. Konsumsi yang tepat serta memperhatikan anjuran dokter akan sangat bermanfaat bagi ibu dan anak selama kehamilan. Theragran-M ini juga sangat baik untuk ibu menyusui, aku pun akan mengkonsumsinya sebagai supplemen tambahan bila nanti diperlukan. Biasanya, aku mengkonsumsi Theragran-M ini sebanyak 1 tablet setiap harinya. Theragran-M ini dijual bebas kok dan dapat ditemui di apotek atau toko obat terdekat dan aman untuk ibu hamil untuk pemenuhan kebutuhan mineral setiap hari.

Resolusi kedua, menyelenggarakan aqiqah untuk anak. Salah satu kewajiban orang tua kepada anak adalah memberikan nama. Pemberian anak ini sewajarnya diresmikan pada saat aqiqah, atau sekitar 7 hari pasca kelahirannya. Aqiqah ini umumnya dilaksanakan dengan prosesi penyembelihan kambing untuk dibagikan kepada sanak saudara dan tetangga sebagai wujud rasa syukur juga. Rasulullah SAW bersabda.“Semua bayi tergadaikan dengan aqiqah yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama, dan dicukur rambutnya.” Pelaksanaan aqiqah ini tergantung pada jenis kelamin anak. Satu ekor kambing untuk anak perempuan dan dua ekor kambing untuk anak laki-laki.

Resolusi ketiga, setelah memastikan segala kebutuhan finansial anak menjelang dan pasca kelahiran nanti, aku dan suami juga berupaya untuk membuat perencanaan finansial untuk kebutuhan lainnya. Salah satunya adalah kebutuhan tempat tinggal. Kami mungkin memang belum genap satu tahun menikah, namun kami sadar bahwa kenaikan penghasilan tidak akan pernah sebanding dengan kenaikan harga properti. Kami tidak ingin terlalu terlena dengan kesibukan pekerjaan dan ketidakpastian lokasi kerja hingga lupa untuk melakukan investasi. Memiliki rumah merupakan salah satu kebutuhan primer sekaligus sebagai bentuk instrumen investasi. Aku dan suami sudah cukup lama membicarakan tentang pilihan domisili kami nanti setelah sudah settled. Hidup nomaden bukanlah alasan untuk menunda memiliki sebuah hunian. Berbagai alternatif mulai kami pertimbangkan, mulai dari lokasi, harga, pendanaan, hingga pemeliharaannya nanti. Hal ini penting mengingat kami tidak akan langsung dapat menempatinya. Entah nanti untuk disewakan atau bagaimana, semuanya itu sudah harus mulai kami pikirkan. 

Resolusi keempat, anak lulus ASI Eksklusif 6 bulan. Membaca berbagai cerita masa menyusui di berbagai Forum Bumil Busui membuatku diliputi sedikit rasa cemas. Drama ibu menyusui tidak sesederhana yang terlihat di sekitar kita. Perjuangan ibu baru dalam memenuhi kebutuhan ASI anak rupanya tidak segampang teorinya. Aku berharap, di tahun 2018 nanti dapat menjadi ibu yang bisa memberikan ASI secara eksklusif kepada anak dan tentu saja bisa minim drama. Semoga jumlah ASI ku nanti benar-benar cukup untuk kebutuhannya terutama dalam 6 bulan pertama. Untuk itulah, aku membutuhkan supplemen agar terhindar dari segala macam penyakit. Theragran-M akan menjadi salah satu list supplemen yang akan ku sediakan. Bila aku dalam keadaan sehat, besar kemungkinan akan berpengaruh baik juga pada produksi ASI.

Resolusi kelima, melanjutkan kuliah ke jenjang S1. Tahun depan, genap sudah 2 tahun TMT PNS. Aku sudah dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang S1. Aku sangat berharap bisa mendapatkan beasiswa internal S1 di salah satu kampus di Jawa sehingga aku bisa lebih maksimal dalam mengurus anak. Hal ini karena tinggal di Waingapu membuatku sulit menemukan pengasuh untuk anakku nanti. So, please kindly pray for me. 

Resolusi keenam, resolusi ini merupakan resolusi pendukung bila aku benar-benar dapat melanjutkan pendidikanku di tahun 2018 nanti. Aku ingin mengambil kursus Bahasa Inggris. Fokus di TOEFL dan TOEIC. Malu juga sih, sebenarnya ini adalah resolusiku sejak tahun 2015 namun sampai kini belum juga dapat ku penuhi. Waktu menjadi kendala utama yang membuatku masih enggan untuk mengambil kursus. Semoga jika aku benar-benar mendapatkan kesempatan melanjutkan S1, aku punya waktu lebih di sela jadwal kuliah untuk mengambil kelas Bahasa Inggris.

Resolusi besar terakhir, menunaikan rukun islam yang kelima. Setelah menyempurnakan separuh agama, aku dan suami terus berusaha untuk menyempurnakan seluruh kewajiban kami sebagai umat muslim. Salah satunya adalah menunaikan ibadah haji. Sebagai warna negara yang hidup di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam mengelola dana haji warna negaranya. Jumlah penduduk muslim di Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Wajar bila pemberangkatan jamaah haji tidak dapat serta merta terlaksana di tahun yang sama saat mereka mendaftar. Di beberapa daerah bahkan waktu tunggu pemberangkatan hajinya mencapai hampir 20 tahun sejak dari pendaftaran. Bayangkan saja selama itu. Padahal, umur orang tidak ada yang tahu, bukan? Untuk itulah, semakin cepat mendaftarnya akan semakin baik. Aku dan suami memang sudah punya rencana untuk mulai mendaftar haji di tahun 2018 nanti. Tabungan sudah kami persiapkan sejak dari awal menikah. Namun tentu saja, syarat dan ketentuan berlaku. Kami hanya bisa berencana, Tuhanlah penentunya.

Demikianlah gambaran resolusi-resolusi besarku selama tahun 2018. Aku merasa 2018 bakal menjadi tahun yang penuh dengan kerja keras. Aku tahu semua itu tidak mudah untuk diwujudkan. Bila selama menghadapi segala tantangan di 2018 tubuh mengalami sakit, ada Theragran-M yang akan menjadi vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Di tahun yang penuh dengan kerja keras, kalau sakit jangan lama-lama. Mari berjuang untuk 2018 yang lebih baik. I'm ready to greet you, 2018. Bismillah.

Disclaimer: Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.
Continue reading Menyambut Tahun Baru 2018 dengan Resolusi Pilihan
, ,

Rupiahku, Rupiah Kita Bersama

Suasana Upacara Hari Oeang RI ke-71 di KPPN Waingapu
Tanggal 30 Oktober 2017 lalu diperingati sebagai Hari Oeang Republik Indonesia ke-71. Jika kita melihat kembali sejarah, sebelum mata uang Rupiah resmi dipergunakan sebagai alat pembayaran yang sah, terlebih dahulu sudah ada ORI (Oeang Republik Indonesia) yang dijadikan sebagai mata uang di Republik ini. Sebagai generasi muda, penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana perjalanan panjang hingga akhirnya Rupiah ditetapkan sebagai mata uang resmi negara ini. Jangan sampai, kita hanya senang membelanjakannya saja tanpa tahu bagaimana sejarah uang kita sendiri. Rupiah sendiri konon berasal dari Bahasa Mongolia, rupia yang berarti perak. Hal ini dikarenakan bentuk uang Rupiah pada awal beredarnya dulu adalah berupa koin berbahan baku perak dan emas.
Continue reading Rupiahku, Rupiah Kita Bersama
,

Liburan Kini Menjadi Lebih Hemat Berkat Fitur Baru Traveloka

Bekerja sebagai PNS di Kementerian Keuangan membuat saya dan suami terbiasa dengan tingkat mobilitas tinggi. Selain selalu dihadapkan pada pola mutasi acak, kami seringkali mendapatkan tugas negara untuk melakukan perjalanan dinas ke luar kota atau bahkan luar pulau. Selain itu, keadaan terpisah lokasi kerja dengan suami membuat kami rutin melakukan kegiatan liburan bersama ke beberapa daerah. Tentu saja hal ini membuat kami menjadi sangat bergantung pada aplikasi penyedia jasa tiket perjalanan. Ini menjadi aplikasi wajib yang harus ada di ponsel android milik kami. Seperti yang kita tahu, jaman sekarang rasanya repot sekali atau kurang praktis jika harus mengandalkan jasa travel agent. Kebetulan sekali, saya dan suami paling suka dengan Aplikasi Traveloka karena ini adalah situs pertama yang kami tahu.

Perkenalan kami dengan Traveloka dimulai sejak pertama kali mendapat penempatan tugas definitif ke luar Jawa. Sebagai informasi, saya adalah orang Klaten dan suami saya orang Bogor yang seumur-umur belum pernah bepergian ke luar pulau, terlebih menggunakan jasa angkutan udara. Sebagai orang baru dalam hal traveling, penting bagi kami untuk mengetahui situs-situs penyedia jasa tiket online mana saja yang kiranya bisa menguntungkan dan mempermudah perjalanan kami. Traveloka menjadi andalan kami selanjutnya setelah merasakan sendiri bagaimana manfaatnya dalam keseharian kami beberapa tahun belakangan. Fitur-fitur Aplikasi Traveloka terus mengalami perkembangan (update) seiring dengan meningkatnya kebutuhan pengguna. Satu aplikasi berguna untuk banyak fungsi. Hampir semua fiturnya sudah pernah saya gunakan bersama suami, bahkan selalu kami gunakan setiap kali kami membutuhkannya seperti tiket pesawat, hotel, paket data dan pulsa, kereta, yang terbaru adalah paket Pesawat+Hotel. Dari keseluruhan fitur yang pernah kami gunakan, saya paling terbantu sekali dengan fitur paket Pesawat+Hotel yang disediakan oleh Traveloka. Saya belum menemukan paket sejenis di situs lain dengan harga yang sangat reasonable. Bahkan untuk urusan refund dan reschedule, prosesnya sangat cepat dan mudah. Saya pernah melakukan refund tiket pesawat dari Surabaya ke Banjarmasin dan langsung diproses kurang dari 24 jam. Uang saya kembali hampir 100%. Padahal awalnya saya kira, saya perlu menunggu prosesnya selama berhari-hari. Saya dan suami dapat menghemat uang hingga ratusan ribu setiap kali melakukan perjalanan liburan.



Sunset Hotel and restaurant, Denpasar
Bayangkan saja, saya pernah berlibur selama 4 hari 3 malam di Pulau Dewata pada beberapa bulan yang lalu hanya bermodalkan uang kurang lebih satu juta rupiah untuk biaya akomodasi tiket pesawat dan hotel. Sebagai catatan, saya menggunakan maskapai Air Asia melalui kota Solo menuju Denpasar dan menginap di hotel bintang 3 di daerah Sunset Road, Bali, yaitu Sunset Hotel and Restaurant. Bila kalian berpikir bahwa biasanya harga paketan murah cenderung tidak diikuti dengan kualitas yang bagus, sayang sekali anggapan kalian salah kali ini. Saya dan suami sangat puas dengan pilihan hotel dari Traveloka yang menggabungkannya dengan tiket pesawat. Kamar yang kami dapatkan sangat luas dan lokasi hotelnya sangat strategis dengan fasilitas yang cukup lengkap. Berkaca dari pengalaman kami tersebut dalam memanfaatkan kemudahan paket Pesawat+Hotel dari Traveloka ini, kami menjadi ketagihan melakukan liburan dengan trik yang sama. Ketimbang mencari satu persatu pilihan hotel maupun tiket pesawat secara terpisah, dengan adanya fitur Pesawat+Hotel ini kami cukup mengisi jadwal tiket pesawat akan langsung diikuti juga dengan isian kota tempat menginap sehingga akan langsung muncul pilihan paketan Pesawat dan Hotelnya. Tinggal kita bandingkan saja harga dan fasilitasnya. Ingin yang biasa saja atau yang tergolong mewah. Semuanya tetap akan terasa lebih hemat daripada memesan satu persatu. Bila akan melakukan perjalanan dinas selama beberapa hari ke luar kota atau pulau, fitur ini tentu saja juga akan sangat membantu para pegawai. Uang perjalanan dinas dapat dipangkas, sehingga tidak terlalu besar membebani keuangan negara. Kerja nyaman, negara hemat. Hal ini sangat sesuai sekali dengan prinsip efisiensi anggaran pada Kementerian Keuangan terutama di saat adanya penghematan anggaran yang memangkas banyak sekali uang perjalanan dinas.

Dengan trik ini, saya dapat menghemat biaya dinas ke beberapa kota dan biaya liburan saya bersama suami terutama saat kami sempat menjalani Long Distance Marriage selama beberapa bulan. Jadwal berlibur bersama suami yang seyogyanya merogoh kantong cukup dalam, dapat saya pangkas dengan cukup lumayan berbekal paket Pesawat+Hotel dari Traveloka. Terlebih lagi, Traveloka sering memberikan promo diskonnya untuk digunakan pada semua fitur. Sudah hemat dengan akomodasi yang dibuat perpaket, masih mendapat potongan harga hingga 10% dari total biayanya. Rasanya memilih paket liburan menjadi terasa lebih menyenangkan. Aman, mudah, murah, dan berkualitas. Banjarmasin, Surabaya, Singapura, Kuala Lumpur, dan Denpasar berhasil kami jelajahi tanpa perlu khawatir menghabiskan banyak rupiah. Kami pun selalu dapat menikmati liburan dengan tenang. Bahkan saat lebaran lalu, saya dan suami dapat menghemat hingga lebih dari satu juta berkat fitur Pesawat+Hotel dari Traveloka ini untuk mudik. Tidakkah ini menggiurkan?
Contoh paket Pesawat+Hotel, via website. Via Aplikasi bisa lebih hemat lagi
Salah satu on going discount
Bulan depan, kami juga berencana berlibur lagi ke Pulau Bali dalam rangka merayakan babymoon sekaligus dilanjutkan pulang kampung ke Jawa. Kebetulan kami berangkat dari Waingapu, Nusa Tenggara Timur. Saya dan suami sudah melihat beberapa pilihan paket Pesawat+Hotel di Traveloka dan tergiur sekali dengan promo diskon 10% yang ditawarkan. Ada beberapa alternatif pilihan hotel yang menarik perhatian kami, namun belum saya putuskan akan memilih yang mana. Sesegera mungkin kami akan memesannya supaya tidak ketinggalan promo diskon dari Traveloka. Kalian dapat juga mencoba trik kami ini dalam memilih paket perjalanan liburan atau dinas. Hemat, mudah, cepat, dan tentu saja dijamin transaksinya aman. E-ticket pesawat dan E-Voucher hotel sudah langsung dapat diterima tanpa perlu repot harus mencetaknya. Semuanya berkat kecanggihan Aplikasi Traveloka. So, tertarik mencobanya? Buruan instal aplikasinya dan pilih paket Pesawat+Hotel yang kalian inginkan. Membelinya via aplikasi bisa menjadi lebih hemat lagi.
Continue reading Liburan Kini Menjadi Lebih Hemat Berkat Fitur Baru Traveloka
, ,

Perpustakaan Mini di Rumah

source: www.google.com
"Mas, pokoknya rumah kita nanti harus ada perpustakaan mininya, ya." pintaku pada suami suatu hari yang kemudian hanya dijawabnya dengan senyum sambil berujar "Iya boleh. Tapi beli rumahnya dulu, ya sayang." Aku pun hanya bisa tersenyum maklum.

Salah satu kegalauan yang bakalan melanda pasangan muda generasi milenial adalah mengenai rencana membeli rumah tinggal, tak terkecuali juga buat aku dan suami. Namun, aku tidak akan membahasnya kali ini. Mungkin lain kali pada postingan terpisah supaya lebih jelas. Sejak dulu, entah mulai kapan, aku selalu menyimpan mimpi kecil memiliki sebuah perpustakaan mini di rumahku. Satu ruang kecil berisi beberapa rak buku yang tertata rapi dengan beberapa kursi atau sofa baca di sekitarnya. Tentunya dengan tambahan pencahayaan yang cukup dan dilengkapi jendela yang bisa dibuka untuk mengalirkan udara segar ke dalam ruangan. Tak lupa juga harus ada satu buah meja kecil tempat menaruh vas bunga dan bingkai foto untuk little family portrait. Perpustakan miniku haruslah senyaman itu. 

Bagaimana permulaannya? Maka, aku akan butuh untuk mengenang kembali masa sekolah. Sekolahku dulu sama seperti sekolah-sekolah lain yang menyediakan sebuah perpustakaan sebagai tempat untuk para murid meminjam buku atau sekadar duduk-duduk membaca buku. Sejak aku masih duduk di sekolah dasar, aku dan beberapa temanku sudah suka meminjam buku cerita di perpustakaan. Ada banyak sekali jenis buku yang ku baca. Ada yang bertema cerita rakyat, pengetahuan umum seperti biografi penemu-penemu dunia, cerita fiksi, fabel, sejarah kepahlawanan, dan lain sebagainya. Salah satu buku cerita kesukaanku masa SD yang paling ku ingat adalah Oliver Twist karya Charles Dickens yang menceritakan secara tidak langsung tentang keadaan sosial masa revolusi industri di Inggris. Kegemaranku menyambangi perpustakaan ini terus berlanjut hingga aku SMP.  Salah satu buku favorit yang pernah ku pinjam di perpustakaan SMP adalah Ipung, Hidup ini Keras maka Gebraklah! karya Prie GS yang menceritakan perjuangan seorang anak desa yang berkesempatan menempuh pendidikan di salah satu SMA favorit di Semarang dengan segala drama kehidupannya (This was coincidentally recalling me about my own life story back then). Ohya, aku juga pernah mengikuti lomba sinopsis tingkat kabupaten saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama yang mengharuskanku membaca habis satu buah buku berisi tentang budidaya mutiara laut untuk ku ringkas dan ku ceritakan ulang ke dewan juri. Meski bukan bibliophile atau semacamnya yang lahap membaca segala macam jenis buku, aku termasuk orang yang cukup antusias terhadap buku, terutama pada jenis buku yang ku suka. Buku-buku karangan Pramoedya Ananta Toer  dan Eka Kurniawan misalnya. 

Saat masuk SMA, aku tidak lagi begitu sering membaca buku di perpustakaan. Perpustakaan SMA di tempatku kurang banyak menyediakan buku cerita atau novel untuk anak-anak seusia kami. Perpustakaannya lebih banyak menyediakan buku-buku pelajaran yang digunakan untuk referensi materi presentasi atau sebagai buku diktat saja. Ya, tapi memang itu sih yang paling kami butuhkan saat itu. Kadang-kadang, aku masih menyempatkan datang ke perpustakaan hanya untuk sekadar melihat-melihat ensiklopedia yang ada di sana. Melihat-lihat gambarnya sambil sesekali membacanya sekilas. Ensiklopedianya berisi mengenai tempat-tempat menarik di berbagai belahan dunia yang kemudian berhasil membuatku berkhayal bisa ke sana suatu hari nanti. Kalian tahu nggak? This is not a joke. Dampak positif membaca buku itu memang nyata dan luar biasa kalau bisa ku gambarkan dengan lebay. Bahkan untuk orang yang kadar kegemaran membacanya masih sangat cetek dan pilih-pilih sepertiku pun, aku bisa merasakan manfaatnya. Kalimat buku adalah jendela dunia itu bukanlah sekadar kalimat pajangan tanpa makna yang kalian baca secara repetitif di berbagai tempat. It's a deep thought someone could state, indeed. Dengan membaca buku, tanpa perlu mendatangi suatu tempat yang letaknya ribuan mil dari negaramu, kalian bisa tahu bagaimana gambaran tempat itu. Kalian bisa mengetahui statistika daerah lain yang bahkan kalian tidak pernah selintas pun punya ide untuk mendatanginya. 

Buku-buku yang berisi pandangan hebat, kritis, dan sarat inspirasi dengan berbagai macam jenis label dari para penulisnya, mampu melibatkan pembacanya untuk turut serta memahami jalan pikiran di penulis. Tak jarang, banyak yang terinspirasi mengikuti atau belajar menjadi pribadi yang lebih baik setelah membacanya. Kalian pasti pernah tahu Tereliye dan Andrea Hirata, bukan? Meskipun tidak semua karyanya ku suka, namun beberapa bukunya yang berhasil ku tamatkan sering kali mempengaruhiku secara receh untuk menjadi manusia yang lebih baik. Iya, sereceh itu hanya dengan membaca buku. Untuk membuat tulisan yang bagus dan berbobot pun, orang harus mempunyai banyak kosa kata bagus yang semua itu secara tidak sadar dapat mereka peroleh dari buku-buku yang pernah mereka baca. Naskah pidato yang hebat pun, sering kali dibuat oleh mereka yang sudah mempunyai daftar bacaan begitu banyak dan kompleks di bidangnya. 

Kalian pasti juga sering membaca kisah mengenai efek membaca buku pada beberapa orang yang bahkan mampu mengubah jalan hidup atau bahkan memperbaiki masa depannya. Memang bisa sebesar itu dampaknya. Negarawan atau tokoh-tokoh penting dan hebat di negara kita itu hampir semuanya doyan membaca buku aneka jenis. Jangan tanya sudah seberapa banyak buku yang berhasil mereka khatamkan. Mereka sendiri pun pasti sudah lupa jumlahnya. Jangan dikira mereka mampu menelurkan ide-ide cemerlang dengan begitu saja. Peranan membaca buku pasti juga memegang andil cukup besar di sini. Buku adalah salah satu asupan gizi untuk otak. Ada rincian panjang mengenai daftar manfaat membaca buku yang tak perlu ku sebutkan di sini karena setiap orang pasti mampu menemukan sendiri manfaatnya bagi diri mereka. Bisa jadi akan sangat berbeda untuk setiap individu.

Berkaca dengan alasan-alasan tersebut, aku ingin (paling tidak) keluarga kecilku nanti dibangun dengan kesadaran yang tinggi akan pentingnya membaca buku. Membangun kecintaan pada buku di rumah. Pengenalan buku sejak dini dapat dilakukan dengan menyediakan berbagai jenis buku di rumah sesuai dengan usia perkembangan anak. Anak-anak mulai dikenalkan dengan buku sejak bayi, dari hal-hal kecil seperti pemberian cerita bergambar yang ada suaranya misalnya. Namun, tentu saja sebagai orang tua kita harus selektif dalam memilih buku yang akan dihadirkan di perpustakaan rumah. Terlebih lagi, di era sekarang ini banyak sekali kita temukan buku-buku cerita yang tidak sesuai dengan perkembangan usia anak dan bisa jadi justru memberikan dampak negatif kepada anak-anak kita. Aku ingin mulai membelikan buku-buku cerita kepada anak-anakku kelak dimulai sejak dia bayi. Sekadar mengenalkan warna dari gambar-gambar yang ada di buku cerita. Meskipun teknologi sudah begitu majunya, media cetak dalam bentuk buku tetap sangat dibutuhkan oleh anak-anak. Terlalu lama menatap layar gadget juga kurang baik untuk kesehatan mata. Untuk itulah, buku tetap harus hadir sebagai teman main anak.

Salah satu contoh model perpustakaan mini dari google image
Perpustakaan mini di rumah mungkin dapat dibangun seiring dengan selesainya pembangunan rumah kami nanti. Namun untuk urusan mengisi rak bukunya, tentu saja tidak bisa begitu saja menjadi langsung penuh. Perlu waktu untuk hunting buku dari sana sini. Tentu saja kita perlu mendatangi semacam book fair, event Big Bad Wolf setiap tahun, wara-wiri di gramedia atau toko buku lainnya, dan lain-lain. Hal ini agar koleksi perpustakaan mini di rumah kita bisa lengkap, up to date, dan bervariasi jenisnya. Aku akan melibatkan anak-anakku kelak dalam memilih jenis buku apa saja yang ingin mereka baca, sehingga minat bacanya bisa terus meningkat. Berbelanja buku juga bisa menjadi salah satu alternatif wisata kecil untuk keluarga manakala kehabisan ide. Ya, perpustakaan miniku masih ada di angan-angan. Aku bisa mencicilnya dari sekarang dengan menambah koleksi aneka jenis buku untuk perpustakaanku nanti. Tapi, kapan ya kira-kira punya perpustakaan mininya? 



Continue reading Perpustakaan Mini di Rumah
,

Apasih KPPN itu?

“Hai, Mbak Hanifah. Apa kabar? Kerja dimana sekarang?”
“Baik, Pak. Sekarang saya bekerja di KPPN Banjarmasin.”
“Oh, Kantor Pajak itu ya?”
“Bukan, Pak. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara.”
“Itu apa ya? Di Kementerian apa?”
---------

Pernah nggak kamu bete setiap kali orang nanya dimana tempatmu bekerja dan saat kamu menjawabnya, yang bertanya justru terlihat seakan-akan have no idea mengenai tempat kerjamu itu. Alih-alih mengerti, mereka malah sering kali asal menebaknya. Bekerja di sebuah unit atau instansi yang tidak begitu dikenal oleh masyarakat luas sering kali membuat kita bingung menjelaskan dimana tempat kita bekerja dan kantor macam apakah tempat kerja kita tersebut. Terkadang kalau mulai kepepet, cukup aku jawab saja bekerja di Kementerian Keuangan. Meski tentu saja itu terdengar terlalu global mengingat Kementerian Keuangan sendiri merupakan sebuah holding company yang memiliki tugas dan fungsi beragam pada setiap bagiannya.

Tidak hanya orang awam yang sering salah menyebut tempat bekerjaku ini, bahkan media pun sering kali salah menyebut kepanjangannya. Beberapa kali pernah muncul pada artikel media online maupun media cetak yang cukup terkenal, kantor kami ini sering kali masih jadi korban salah sebut. Ada yang menyebutnya Kantor Pelayanan Pajak Negeri, Kantor Perpajakan Pratama Negeri, atau bahkan lebih parah lagi dikira nama sebuah koperasi. Kesal? Sedikit sih, cuma lebih banyak sedih dan gelinya juga kalau ada yang salah menyebut. Padahal bisa saja kan orang searching dulu di internet mengenai kepanjangan kantor kami sebelum mempublikasikan artikelnya di media massa. Namun, aku dapat memaklumi itu karena memang kantor kami ini tidak berhubungan langsung dengan masyarakat luas dan stakeholder (pengguna kepentingan) kami hanyalah Aparatur Sipil Negara (ASN) terkhususnya ASN Pusat dan bank-bank mitra pemerintah saja. ASN sendiri pun tidak semua paham mengenai keberadaan kantor kami ini, biasanya hanya bendahara atau pengelola keuangannya saja yang kebetulan punya kepentingan. Nah, berkaca dari beberapa pengalaman salah sebut ini, aku jadi tertarik untuk mengenalkan kepada kalian tentang apasih KPPN itu. Bagaimana peran KPPN sendiri pada negeri kita tercinta ini. Simak ya.

Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) merupakan instansi vertikal tingkat Eselon III di bawah Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Untuk scope yang lebih luasnya lagi, berikut aku berikan gambaran singkat tentang struktur organisasi Direktorat Jenderal Perbendaharaan supaya jelas dimana posisi KPPN itu sendiri.

Bagan Posisi KPPN pada Kementerian Keuangan

|
Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Eselon I)
|
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Eselon II)
|
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (Eselon III)

Untuk lebih jelasnya lagi, kalian bisa membukanya sendiri di sini. Aku tidak akan menjelaskan struktur organisasi Kementerian Keuangan karena terlalu luas. Kalian dapat membukanya sendiri pada link yang ku sertakan pada bagan di atas. Sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 262/PMK.01/2017, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara  mempunyai tugas melaksanakan kewenangan perbendaharaan dan Bendahara Umum Negara (BUN), penyaluran pembiayaan atas beban anggaran, serta penatausahaan penerimaan dan pengeluaran anggaran melalui dan dari kas negara berdasarkan peraturan perundang-undangan. 

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa KPPN memegang peranan penting sebagai Kuasa Bendahara Umum Negara di daerah. Mengapa di daerah? Hal ini karena lingkup pekerjaan Kementerian Keuangan itu sangat luas mencakup seluruh wilayah Indonesia. Jumlah KPPN di Indonesia sendiri untuk sekarang kalau tidak salah ada sekitar 181 kantor tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Ingin tahu dimana saja tempatnya? Silakan searching, kalian akan menemukan nama-nama daerah yang bahkan belum pernah kalian dengar semuanya. Dimana ada PNS Pusat, di sana jugalah ada kantor kami berdiri. Itulah sebabnya, bekerja di Kementerian Keuangan terkhusus dalam hal ini bekerja di KPPN, diperlukan komitmen yang tinggi untuk siap ditempatkan di seluruh Indonesia dan mengalami pola mutasi acak setiap beberapa tahun sekali. 

Lanjut lagi, nah Bendahara Umum Negara yang dimaksud di sini tidak lain adalah Menteri Keuangan yang kemudian melalui peraturan tersebut mendelegasikan kewenangannya kepada KPPN. Dengan kata lain, KPPN mempunyai kendali dalam penyaluran dana APBN kepada masyarakat secara tidak langsung. Semua pengeluaran negara yang berasal dari dana APBN, muara akhirnya adalah melalui KPPN. 

KPPN sendiri terdiri dari dua tipe, yaitu KPPN Tipe A1 (Provinsi dan Non Provinsi) dan KPPN Tipe A2. Penggolongan tipe tersebut didasarkan pada jumlah beban kerja, letak geografis, dan lingkup wilayah kerjanya. Secara garis besar, tugas dan fungsinya tidak jauh berbeda. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya tersebut, KPPN terbagi ke dalam beberapa sub dan seksi atau level Eselon IV. Kali ini aku akan membagikan tentang gambaran tugas dan fungsi yang ada pada KPPN Tipe A1 dimana tempatku bekerja. 
Struktur Organisasi
KPPN Tipe A1


Setiap unit Eselon IV pada KPPN mempunyai tugas dan fungsinya masing-masing. Tugas dan fungsinya tersebut sempat mengalami penyesuaian pasca implementasi SPAN (Sistem Anggaran dan Perbendaharaan Negara) dan SAKTI (Sistem Aplikasi Tingkat Instansi) yang sekarang sedang masa piloting. Sistem ini nantinya akan membuat segala proses pencairan dana dilakukan by system. Secara garis besarnya, dapat dijabarkan sebagai berikut.

a. Seksi Pencairan Dana, pasca penerapan proses bisnis baru akan mempunyai tugas melayani satuan kerja mulai dari proses pendaftaran tagihan sampai dengan pembayaran yang meliputi pengujian resume tagihan dan SPM, penerbitan SPPT (Surat Persetujuan Pembayaran Tagihan), penerbitan Surat Pengesahan Pendapatan dan Belanja (Badan Layanan Umum) BLU, pengelolaan data kontrak, data supplier, dan belanja pegawai satker, serta monitoring dan evaluasi penyerapan anggaran satker.

b. Seksi Bank, mempunyai tugas melakukan penyelesaian transaksi pencairan dana dengan penerbitan SP2D atas tagihan yang telah jatuh tempo sesuai SPPT yang telah diterbitkan oleh seksi Pencairan Dana, melaksanakan fungsi Manajemen Kas, pengelolaan rekening Kuasa BUN dan Bendahara serta penatausahaan pengembalian Pendapatan/Penerimaan Negara.

c. Seksi Verifikasi dan Akuntansi, mempunyai tugas untuk melakukan rekonsiliasi laporan akuntansi, penyusunan Laporan Keuangan tingkat Kuasa BUN, realisasi dan analisis kinerja anggaran serta analisis data statistik laporan keuangan regional.

d. Seksi Manajemen Satuan Kerja dan Kepatuhan Internal, akan mempunyai tugas melakukan pembinaan dan bimbingan teknis pengelolaan perbendaharaan, fungsi customer service, supervisi teknis SPAN dan helpdesk SAKTI, pemantauan standar kualitas layanan KPPN, penyediaan layanan perbendaharaan, manajemen risiko, kepatuhan dan pengendalian internal serta pemantauan kepatuhan terhadap kode etik dan disiplin.

e. Sub Bagian Umum, sebagai supporting unit pada prinsipnya tugas pokok dan fungsinya tidak banyak berubah bila dibandingkan dengan tugas pokok dan fungsinya saat ini. Sub Bagian Umum KPPN mempunyai tugas pokok dan fungsi melakukan pengelolaan organisasi, kinerja, SDM, dan keuangan, manajemen risiko, pengendalian internal serta tata usaha, rumah tangga, dan kehumasan.

Demikian mungkin gambaran umum mengenai tugas dan fungsi dari KPPN. Sebagai masyarakat awam yang tidak bersentuhan langsung dengan pencairan dana APBN, tentu membaca penjelasan di atas tidak akan serta merta membuat kita paham. Untuk memberikan gambaran mudahnya, aku akan sedikit memberikan ilustrasi.

Jadi, negara kita mempunyai anggaran pendapatan dan belanja yang dituangkan ke dalam APBN. APBN sendiri terdiri dari dua pos penting, yaitu Pendapatan dan Belanja. Pada pos Pendapatan, dapat dengan mudah kita temukan fungsi ini pada Direktorat Jenderal Perpajakan (DJP) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) untuk lingkup besarnya, meskipun beberapa persen penerimaan negara juga bisa bersumber dari PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak), Utang Luar Negeri, dan Hibah yang ditatausahakan oleh unit-unit pemerintah lainnya. Nah untuk pos Belanja ini, ada banyak sekali pembagiannya. Setiap tahunnya, pemerintah menyusun APBN yang nantinya akan disahkan oleh DPR untuk membiayai seluruh kebutuhan pemerintah selama satu tahun ke depan. Bagaimana cara pemerintah menyalurkan dana APBN dalam rangka pembangunan ini kepada masyarakat? Caranya adalah melalui Kementerian/Lembaga pemerintahan selaku Kuasa Pengguna Anggaran APBN yang membawahi tugasnya masing-masing. Nah, pengelola keuangan di setiap unit pemerintahan inilah yang nantinya akan mencairkan dana APBN yang ada dalam penguasaannya. Unit-unit pemerintahan yang mengelola dana APBN inilah yang nantinya disebut sebagai satuan kerja (satker) yang menjadi mitra kerja atau stakeholder nya KPPN.

Mekanisme pencairan dana APBN inilah yang nantinya dilakukan melalui KPPN. Bendahara kantor pemerintahan atau pejabat keuangan terkait akan mengajukan Surat Perintah Membayar (SPM) ke KPPN sebagai dasar pencairan dana yang bebannya berasal dari APBN. Jadi, Gaji para PNS Pusat, proyek-proyek pemerintahan, dan lain sebagainya yang bersumber dari APBN itu semuanya dicairkan melalui KPPN dengan mekanisme yang telah ditetapkan, sehingga bukan langsung sulapan tiba-tiba sampai ke rekening masing-masing. Namun jangan salah paham dulu. Bukan berarti KPPN merupakan tempat menyimpan uang atau kas negara lho ya. Uang APBN yang ditransfer ke rekening-rekening PNS ataupun rekanan pemerintah tersebut dikirim oleh Bank Indonesia selaku bank sentral yang menyimpan kas negara. KPPN hanya menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) saja untuk selanjutnya dijadikan dasar oleh bank penyalur dalam melakukan pembayaran. Pemerintah mempunyai banyak sekali jenis rekening di Bank Indonesia yang nantinya akan terbagi-bagi lagi ke dalam rekening-rekening penampungan pada bank-bank mitra kerja pemerintah seperti Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, bank-bank daerah, dan sebagainya sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Sedangkan tugas dan tanggung jawab penggunaan dana tetap menjadi kewenangan satuan kerja penyusun anggaran. Tanggung jawab KPPN hanyalah terbatas sampai dengan pencairan dananya saja. 

Bagaimana, tambah paham atau tambah pusing? Semoga sedikit banyak mendapat gambaran ya meski aku tahu pasti masih banyak pertanyaan di benak kalian. Apa yang ku jabarkan di atas masih secuil saja mengenai lingkup tugas Kementerian Keuangan yang dalam hal ini aku wakilkan untuk satu unit saja, yaitu KPPN. Sebenarnya ada banyak sekali prosedur, mekanisme, proses, atau istilah yang melingkupi penyusunan hingga pencairan dana APBN. Tentu saja hal tersebut tidak mungkin dapat langsung ku jabarkan di sini mengingat keterbatasanku. Intinya, kalau kalian bertanya apa itu kepanjangan KPPN, jawabannya adalah Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara yang tugasnya mengelola segala macam tugas perbendaharaan. Apa saja tugas perbendaharaan itu? Di atas sudah sedikit banyak aku jelaskan.

Bila masih penasaran, kalian dapat searching di internet atau membaca peraturan-peraturan terkait perbendaharaan. Untuk permulaan, kalian dapat membaca tiga paket (trilogi) Undang-Undang Keuangan Negara yang terdiri dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharan Negara, dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Itu saja menurutku sudah cukup kalian jadikan bekal untuk bisa mengenal lebih dekat tentang Keuangan Negara yang tentu saja nanti akan berhubungan juga dengan KPPN.


Penjabaran tugas dan fungsi diambil dari sumber http://www.span.depkeu.go.id/


Continue reading Apasih KPPN itu?
, ,

Belajar Menulis dengan Baik #1

source: unsplash.com
Sebenarnya, aku sudah suka menulis sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, literally tulisan tangan. Kenapa tulisan tangan? Karena masa kecilku belum mengenal komputer atau laptop. Dulu, aku dan teman-teman masa kecilku senang mengarang cerpen bebas (namanya sih cerpen namun pada praktiknya hanya terdiri dari beberapa paragraf saja, tidak sesuai dengan aturan cerpen yang sebenarnya), membuat majalah dan buku cerita bergambar handmade ala-ala, memasang mading sederhana di samping rumah, hingga menulis diary. Masa kecilku belum mengenal gadget seperti kebanyakan anak kecil jaman sekarang. Itulah sebabnya, apapun dapat kami jadikan mainan. Saking ‘kreatifnya’, apapun dapat kami bikin jadi aktivitas bermain. Anak-anak desa di generasi kami yang terbiasa dengan keterbatasan fasilitas bermain, justru tak pernah habis kreasi menciptakan mainan-mainannya sendiri. Sayangnya sih hasil cipta karya kami tersebut sudah hilang entah kemana karena tidak disimpan dengan baik. Terlebih, beberapa teman masa kecilku sempat pindah rumah. Selain itu, rumahku sendiri juga sempat mengalami beberapa renovasi sana-sini, sehingga banyak barang-barang yang dianggap tidak berguna, dibuang atau dibakar.

Wali kelasku saat duduk di bangku sekolah dasar juga sempat mewajibkan kami membuat buku harian yang harus diserahkan dan dinilai setiap hari. Buku harian kami ini isinya bukan curhatan melainkan rangkuman materi atau kumpulan soal-soal lengkap dengan jawabannya. Wali kelas membebaskan kami memilih subjek pelajaran yang akan kami gunakan sebagai bahan mengisi buku harian dengan batasan bahwa satu bahasan yang sama hanya boleh dipakai untuk lima kali penulisan. Tujuan menulis buku harian ini adalah untuk memaksa para siswa agar mau tak mau belajar setiap hari. Menulis merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengingat pelajaran. Dengan menulis tentang materi-materi pelajaran ini, para siswa mau tak mau secara otomatis harus membaca materi pelajaran yang akan ditulisnya. Dengan begitu, minat bacanya juga akan meningkat. Kebiasaan ini kami lakukan selama 3 tahun karena kebetulan wali kelasku tersebut ingin tetap mengajar di kelas kami selama itu pula.

Kebiasaan menulis tangan tidak begitu saja ku tinggalkan saat aku sudah lulus sekolah dasar. Aku masih aktif menulis diary ala-ala khas diary remaja sampai aku lulus SMP. Isinya pun tak jauh dari aktivitasku sehari-hari. Anyway, kalau mau mencari curhatan percintaan, tidak akan kalian temui di dalam diary ku tersebut. Diary ku ini murni hanya sekadar tulisan tentang aktivitas rutinku maupun tumpahan perasaan yang mungkin sempat ku rasakan di hari-hari tersebut. Selain itu, banyak pula terselip cerita tentang bagaimana jalinan persahabatanku kala itu. Anaknya emang rada-rada setia kawan gitulah. Selepas SMP, aku sudah tidak lagi menulis diary. Entah karena aku mulai malas, atau mungkin karena aktivitas di SMA sudah sangat banyak menyita waktuku. Apalagi aku anaknya lumayan aktif berorganisasi dan banyak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di sekolah.

Ohya, pada saat kelulusan SMP, seorang guru Mata Pelajaran Matematika memberikan hadiah buku saku kepada seluruh siwa-siswi yang berhasil mendapatkan nilai Ujian Nasional sempurna khusus Mata Pelajaran Matematika. Kebetulan aku salah satunya. Buku saku yang ku dapat ini berisi tentang cara membuat dan mengelola blog pribadi. Sebagai anak sekolah yang belum banyak mengenal internet kala itu, istilah blog masih sangat asing di telingaku. Meski demikian, buku saku tersebut entah bagaimana ceritanya tetap saja lahap ku baca habis. Tidak berhenti di situ, rasa penasaranku tentang blog pun berlanjut. Aku mulai mencari tahu selengkapnya mengenai blog saat aku masuk SMA. Kebetulan sekali mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi Komputer) menyediakan labolatorium yang berisi komputer dengan jaringan internet. Guru TIK pun mewajibkan kami untuk membuat blog pribadi. Alhasil tepat di tahun 2008, aku resmi membuat blog pribadi melalui www.blogger.com sesuai dengan petunjuk pada buku saku yang pernah ku baca.

Berhubung blog berbeda dengan media sosial atau tidak semenarik media sosial seperti friendster atau sebangsanya, tidak banyak teman-teman yang tertarik untuk menghidupkan blognya. Rata-rata blog mereka didiamkan begitu saja tanpa aktif diisi. Aku pun tidak punya teman untuk menulis blog. Meski demikian, aku lumayan aktif mengisi blogku dengan aktivitas sehari-hari atau informasi-informasi terkini dalam bahasaku sendiri. Rupanya, blog ini menjadi diary online buatku setelah kebiasaan menulis tangan sudah lama ku tinggalkan.

Bahasa tulisan yang ku pakai dalam blog pribadiku dulu sangat kacau bahkan cenderung alay (dulu sih itu termasuk bahasa keren kayaknya ya). Bentuk tulisan maupun tata bahasanya benar-benar bisa membuat pusing penulisnya sendiri ketika sekarang membacanya ulang. Like, what the hell I just wrote? Sebenarnya, blog lamaku itu masih aktif sampai dengan sekarang. Aku secara ajaib masih mengingat alamat email dan password blogku kala itu. Tentu saja namanya pun tetap alay. Aku sudah mencoba melakukan perombakan tulisan maupun desain blognya sebisaku. Namun berhubung terlalu banyak tulisan dan remeh-temeh lainnya, aku pun menyerah. Banyak tulisan-tulisan lamaku itu akhirnya ikhlas ku hapus secara massal. Aku juga mengubah privasi blogku, sehingga hanya pemiliknya saja yang dapat membacanya. Di tahun 2012, tepatnya saat aku sudah kuliah semester 3, aku akhirnya membuat blog baru. Tujuannya kali ini benar-benar ingin belajar menulis. Aku pernah membaca kutipan buku Pramoedya Ananta Toer yang berbunyi “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Berbekal dari kutipan tersebutlah, aku merasa harus belajar untuk menuangkan kata-kata dalam bentuk tulisan. Belajar menulis dengan baik dengan tata bahasa yang baik juga merupakan bentuk dari mencintai bahasa itu sendiri, khususnya bahasa Indonesia.

Aku suka sekali membaca tulisan-tulisan blogger lain yang sudah terbilang pro dalam dunia tulis menulis. Banyak yang akhirnya menjadi influencer. Aku selalu salut dengan cara mereka menuangkan ide-ide dalam bentuk tulisan. Pemilihan diksinya sangat jeli dan rinci hingga menghasilkan tulisan yang kritis dan berbobot. Susunan bahasanya rapi, kosa katanya luas. Bahkan banyak juga yang menggunakan bahasa asing sebagai bahasa penulisan. Menulis dalam bahasa yang bukan bahasa ibu sendiri (mothertongue) namun tetap menghasilkan tulisan yang berbobot itu level sulitnya dua kali menurutku. Ajaibnya, banyak yang menjadi blogger pro tersebut berusia tak jauh berbeda dengan usiaku, bahkan beberapa masih lebih muda dariku. Terkadang itu juga yang membuatku minder untuk membagi blogku kepada orang lain. Like, emangnya ada yang mau baca, Fah? Kata suamiku, kalau tetap tidak percaya diri membagi tulisan blog kepada orang lain, kapan majunya? Bagi yang suka membaca, menulis seharusnya menjadi kegiatan sepaket. Agar apa yang sudah kita baca dapat diikat oleh waktu dalam bentuk tulisan.

Beberapa waktu yang lalu, aku sempat bergabung dengan salah satu komunitas blogger Indonesia, yaitu Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB), logonya dapat kalian lihat sendiri di blogku. Kalian dapat ikut bergabung juga jika bersedia. Komunitas ini ku dapat dari facebook beberapa teman kuliahku yang rupanya sudah terlebih dahulu aktif menjadi member. Aku pun memberanikan diri untuk bergabung meski awal buka grup tersebut, aku langsung minder dengan kualitas tulisan member lain. Namun, sudah mau bergabung dengan komunitas merupakan kemajuan tersendiri untukku. Setidaknya aku mendapat lebih banyak inspirasi dan guru untuk menulis. Terlebih lagi, variasi tema blog para member grup sangat beragam. Lagipula yang terpenting dari semua itu adalah tidak ada kata terlambat untuk belajar menulis. Tidak pernah ada waktu yang paling tepat untuk mulai belajar menulis. Selama masih ada waktu dan kesempatan, lakukan saja. Bukankah menulis ya tinggal menulis saja tanpa henti asal menjadi tulisan? Setiap ada ide, tulis saja dulu. Perkara isinya bagus atau tidak itu urusan belakangan. Toh, selagi apa yang kita tulis tersebut bukanlah hal yang buruk.


PS: Budaya membaca dan menulis definitely bakal aku terapkan pada anak-anakku kelak. It’s a very good habit af.


Continue reading Belajar Menulis dengan Baik #1