Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts
, ,

#DiaryBumil Rasanya Hamil Anak Pertama

Sebelum menikah, saya dan suami sempat sepakat untuk menunda memiliki momongan untuk kurun waktu 3 bulan pertama. Hal ini dikarenakan kami masih harus menjalani Long Distance Marriage (LDM) antara Waingapu dan Banjarmasin. Hamil jauh dari suami tentu saja akan terasa lebih berat. Suami saya tentu akan merasa khawatir bila tidak dapat menjaga istrinya yang sedang mengandung buah hati kami. Selain itu, kami masih memiliki beberapa agenda jalan-jalan berdua ke beberapa tempat, sehingga rasanya akan lebih aman bila tidak dilakukan saat sedang hamil. Namun, saya dan suami tentu tetap akan merasa bahagia dan senang bila ternyata Tuhan memberikan titipannya lebih cepat dari rencana kami. Siapa yang tidak senang mendapat anugerah berupa janin di dalam rahim? Setiap pasangan yang baru saja menikah pasti sangat menantikannya. Tidak ada buncahan kebahagiaan yang sanggup melukiskan rasanya tentu saja. Beyond words if I could imply.

Benar saja, ucapan adalah doa. Meski saya sempat menentang keinginan suami untuk menunda momongan selama 3 bulan, rupanya Tuhan tahu kapan mempersiapkan hadiah terbaiknya. Saya dikaruniai kehamilan pada bulan keempat pernikahan tepat di saat saya sudah satu kota dengan suami. Kurang dari 10 hari sejak saya pindah ke Waingapu mengikuti suami, Tuhan menitipkan malaikat kecil itu di rahim saya untuk saya jaga dan saya rawat selama 9 bulan 10 hari ke depan. Awalnya, saya sempat beberapa kali kecewa dengan hasil satu garis di testpack pada awal keterlambatan haid saya pada bulan Mei 2017 lalu. Waktu itu, saya memang baru terlambat satu dua hari. Mungkin karena merasa terlalu bersemangat, saya sampai sudah menghabiskan 6 buah testpack yang khusus saya bawa dari rumah dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Sayang sekali, keenam testpack tersebut masih menunjukkan hasil negatif. Saya tidak ingin terlalu memikirkannya karena takut hal tersebut justru akan membuat saya menjadi stres. Terlebih, saya sedang menjalani ibadah puasa Ramadhan. Sebaiknya saya fokus pada ibadahnya saja dulu dan tentu saja tidak berhenti berdoa. Toh, semua sudah digariskan. Tuhan paling tahu kapan waktu terbaiknya.

Pada beberapa hari setelahnya, saya sempat curiga dengan kuantitas buang air kecil yang tidak biasa. Saya merasa menjadi lebih sering ke kamar mandi untuk buang air kecil padahal sebelumnya saya bukan tipikal orang yang beseran. Saya pun minta tolong suami untuk membelikan testpack di apotek karena katanya salah satu tanda orang hamil adalah menjadi lebih sering ingin buang air kecil (BAK). Saya bilang pada suami bahwa saya akan mencoba tes lagi tanpa bilang kapan waktunya supaya surprise. Selain itu, saya juga tidak ingin suami ikut kecewa dengan hasilnya bila ternyata masih negatif. Tepat di hari keenam keterlambatan datang bulan saya di bulan Mei 2017 lalu, saya akhirnya mendapatkan dua garis pada testpack dengan begitu jelas. Saya melakukan tesnya sekitar pukul 2 dini hari saat terbangun karena merasa ingin buang air kecil. Sambil masih diterkam kantuk yang teramat, saya dibuat melongo dengan hasil tesnya. Dua garis berwarna merah tua nampak jelas di sana. Saya langsung membangunkan suami. Ya, mohon maaf saja sepertinya saya bukan tipikal orang yang pandai membuat kejutan. Saya justru sering kali mudah dibuat terkejut, sehingga selalu merasa perlu untuk langsung memberitahukan kepada suami saat mendapat kabar bahagia ini.

Ada kejadian lucu saat saya hendak memberitahukan kepada suami perihal kehamilan saya. Kebetulan sekali, suami saya ini tipikal orang yang sedikit sulit untuk kembali ke dalam keadaan sadar ketika bangun tidur. Dia ini orangnya mudah sekali mengigau saat tidur. Butuh waktu agak lama untuk membuatnya tersadar. Sambil masih terkantuk-kantuk, dia butuh memperhatikan saya terlebih dahulu untuk mencerna apa mau saya saat membangunkannya. Dia mengamati barang yang saya serahkan kepadanya tersebut sambil dilihat-lihat lalu diciumnya. Saya langsung tarik dari tangannya dan mengatakan bahwa itu kotor. Dia masih tidak sadar benda apa yang baru saja dipegangnya itu. Barulah saya tertawa dan menyuruhnya mengumpulkan nyawa terlebih dahulu. Rupanya dia mengira saya membangunkannya di tengah malam hanya untuk memberikan tester parfum. Yap, it's clearly said. Tester Parfum dong. Ya Tuhanku. Ternyata, suami  saya belum pernah melihat isi testpack sebelumnya. Yang dia tahu, bentuk testpack itu besar semacam termometer seperti yang biasa dia lihat pada sinetron-sinetron. Iya sih memang tidak salah. Namun, harga testpack seperti itu lumayan mahal jika hanya untuk sekali tes saja. Sayang saja rasanya membuang-buang uang hanya untuk coba-coba. Setelah tahu bahwa saya hamil, suami langsung terbangun kaget sambil matanya terlihat berbinar (iya, karena suami saya sipit jadi tidak begitu berbinar sambil membelalak kaget, haha). Then, he asked me,"Ini beneran sayang? Alhamdulillah" sambil memeluk saya. Karena masih sekitar pukul 2 dini hari, kami pun kembali tidur sebentar sambil menunggu waktu sahur. Saya biasanya bangun pukul 3 dini hari untuk mempersiapkan sahur.

Kira-kira yang warna ungu ini yang suami tahu
Seminggu setelah saya mendapatkan dua garis merah tersebut, suami mengantar saya ke satu-satunya dokter spesialis kandungan yang ada di kota Waingapu. Kliniknya ternyata sangat dekat dengan kantor kami. Setelah dilakukan tindakan ultrasonografi (USG), dokter mengatakan bahwa usia kandungan saya masih sangat kecil, yaitu sekitar 3 minggu dan kantong kehamilan sudah terbentuk. Saya diminta untuk mengurangi aktivitas dan banyak mengkonsumsi makanan bergizi. Dokter juga memberikan beberapa vitamin untuk tumbuh kembang janin. Setelah check up ke dokter, rasanya morning sickness baru saja dimulai. Sebelumnya nafsu makan saya sangat besar, baru kemudian mulai enggan makan karena semua makanan terasa enek. Sebenarnya tidak sampai mual-mual atau muntah sih. Saya sangat bersyukur karena di kehamilan pertama ini, saya bahkan masih dapat melakukan aktivitas saya secara normal. Saya masih diperbolehkan untuk tetap berpuasa, saya masih bekerja seperti biasanya. Bahkan, saya juga masih aktif dengan pekerjaan rumah seperti mencuci, memasak, dan menyapu sambil dibantu oleh suami. Suami mengizinkan saya melakukan aktivitas sehari-hari asal tidak berat. Hal ini agar saya tidak begitu merasakan maboknya orang hamil muda. Selama kehamilan saya tidak bermasalah, rasanya sah-sah saja tetap melakukan aktivitas rutin seperti biasa. Saya terbilang tidak begitu manja saat hamil anak pertama ini. Mual hanya saya alami saat gosok gigi pada pagi hari saja. Itupun tidak sampai muntah-muntah. Hanya saja, saya akui rasanya saya menjadi sangat mudah sekali merasa mengantuk. Terkadang, saya sempatkan tidur di mushola saat jam kerja atau saat senggang tidak ada kerjaan di kantor. Suami rajin membuatkan susu hamil untuk saya setiap pagi karena sering kali saya merasa mudah lapar bila tidak minum susu saat sarapan. Sarapan seperti hanya bertahan sampai dengan satu sampai dua jam, seterusnya saya akan mudah sekali merasa lapar.

Kehamilan pertama memang selalu penuh kejutan. Selain karena kita belum pernah merasakan sensasi hamil sebelumnya, rasa bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang ibu terkadang mengalahkan kepayahan selama hamil. Minggu demi minggu saya lalui dengan santai. Meskipun beberapa kali harus dilanda dilema karena harus pulang kampung cukup jauh saat hamil muda, saya sangat bersyukur sejauh ini tidak ada masalah yang berarti. Saya tidak pernah putus berdoa agar janin yang saya kandung ini selalu dalam keadaan sehat tak kurang suatu apapun. Kata suami, lakukan saja apa yang membuat diri sendiri bahagia supaya janin di dalam kandungan ikut merasakan kebahagiaan ibunya. Kami juga rutin mengajak si janin berbincang-bincang. Terlebih setelah memasuki trimester kedua dan ketiga, janin di dalam kandungan menjadi sangat aktif menendang, meninju, bergerak kesana-kemari hingga membuat ibunya kewalahan mencari posisi duduk dan tidur yang nyaman. Semua itu saya lalui dengan senang hati. Setiap tendangan-tendangan kecilnya yang kini kian terasa nyeri tetap saya nikmati dan saya amati. Rasanya bahagia sekali merasakan pergerakan-pergerakan kecilnya di dalam perut saya. Lucu sekali padahal dulu saya tidak pernah terbayang bakal begini rasanya. Saya kira gerakan-gerakan itu tidak akan begitu terasa. Ternyata luar biasa sekali, masyaAllah. Itulah mengapa, menjadi seorang ibu itu adalah sebuah anugerah. 

Bulan depan, saya sudah mulai cuti bersalin. Hari Perkiraan Lahir (HPL) anak kami adalah tanggal 22 Januari 2018. Ini akan menjadi kado terindah untuk anniversary pertama kami yang jatuh pada tanggal 4 Februari 2018 nanti. Saya sangat berharap segala prosesnya berjalan dengan lancar dan dapat melahirkan dengan Vaginal birth (normal) dan minim trauma atau rasa sakit. Namun dari semua itu, hal yang terpenting adalah ibu dan bayi lahir dalam keadaan sehat tak kurang suatu apapun.
Continue reading #DiaryBumil Rasanya Hamil Anak Pertama
, ,

Tentang Kisah Cinta

Di umur yang sebentar lagi memasuki silver age dan bahkan sudah berumah tangga, agaknya membicarakan kisah cinta menjadi sedikit terdengar menye-menye dan apalah-apalah. Hahaha, but it’s fine then. It doesn’t always make you seem to be hopeless romantic though. It's normal.

Dari dulu, aku bukan tipikal orang yang bisa dengan mudah curhat panjang lebar ke orang lain mengenai kisah cinta. Entahlah, aku selalu merasa bahwa kisah cintaku tidak cukup menarik untuk diceritakan. Bahkan olehku sendiri. Kalau ku ingat-ingat lagi, kayaknya aku belum pernah curhat tentang masalah percintaanku years back, like for what? Ini bukan soal kisah cinta naksir-naksir alay gebetan lho ya, tapi tentang hubungan yang sedang benar-benar dijalani. Kalau naksir-naksir alay mah buat seru-seruan unyu-unyu sama teman-teman saja biasanya. And, I guess every teenagers experiences. Terkadang saat aku kepancing untuk cerita, bukan cerita yang panjang lebar lho ya, ujung-ujungnya pasti nyesel sendiri. Biar apasih gitu. I’m really talkative but I’m not really good in speaking and telling. Am I an introvert? Not really.

Aku penganut prinsip, mendingan orang mengetahui kapan permulaan dan kapan akhirnya saja. Meski demikian, aku selalu tertarik kok dengan kisah cinta orang lain, misalnya saja bila ada teman atau sahabat yang kebetulan menjadikanku teman curhatnya. Menjadi pendengar curhatan teman soal kisah cinta tidak harus berpengalaman juga tentang percintaan sih menurutku. Syaratnya yang penting punya telinga buat siap mendengarkan saja. Saat masih duduk di bangku SMP-SMA, aku sudah sering menjadi teman curhat teman-temanku tentang kisah percintaan mereka padahal aku sendiri belum pernah mengalami. Biasanya sih, orang curhat hanya ingin mencari tempat untuk mencurahkan beban di kepala dan hatinya saja supaya lebih lega. Mereka hanya butuh didengarkan saja dengan tulus dan mendapat jaminan bahwa rahasia mereka aman.

Pada dasarnya, mereka yang mempunyai masalah percintaan tidak benar-benar butuh solusi dari orang lain because they have already had their own choices and ways to solve it. Saran kita pun tidak akan sungguh-sungguh didengarkan juga kecuali bila memang mereka datang untuk meminta solusi. Jadi, saat mendengarkan mereka bercerita, ada baiknya kita tidak perlu terlalu sok tahu mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang seharusnya dilakukan. Biarkan saja mereka bercerita sepuas mereka hingga esensi curhatnya tersampaikan, yaitu lega. Tidak perlu juga membela atau menyalahkan pihak kedua yang menjadi tokoh dalam cerita temanmu yang biasanya adalah pasangan atau gebetannya. Lagipula, nggak ada yang baik juga dari sikap ngompor-ngomporin orang anyway. Sebaiknya, kita cukup menjadi orang yang berdiri di tengah-tengah mereka saja. Balik lagi dari awal bahwa tujuan mereka curhat biasanya hanya agar hatinya lega saja. Bukan malah dikasih solusi sok tahu apalagi judgmental dari kita yang bahkan menjalaninya saja enggak.

Meskipun kebanyakan orang datang bercerita hanya untuk didengarkan saja, beberapa juga datang benar-benar ingin meminta saran atau masukan. Terkadang, saat mendengar sahabat atau teman baik kita curhat, sisi seksis kita mengajak untuk membela teman kita tersebut yang notabene adalah sama-sama perempuan. Aku pun sering kali seperti itu. Merasa bahwa teman atau sahabatku diperlakukan dengan tidak adil. Then, what? Mau kita membela seperti apapun, tidak menyelesaikan masalah juga anyway karena toh nanti ujung-ujungnya mereka akan berbaikan juga dengan pasangannya, lalu siapalah kita selanjutnya? Hanya menjadi seseorang yang terlihat sok tahu saja. Jadi, ketika memberikan saran atau masukan, berusahalah menahan diri sebisa mungkin untuk tidak berdiri pada satu sisi. Bersikaplah sebagai seorang penengah. Belajar untuk melihat segala sesuatu tidak hanya dari satu sisi saja. Itulah mengapa, memberikan saran atau nasihat itu butuh sesuatu bernama kebijaksanaan. Nggak semua orang punya dan bisa memakainya di saat yang tepat.

Apa sih takaran keberhasilan kita dalam memberikan masukan atau menjadi pendengar curhatan teman? Hubungan sahabat atau teman dengan pasangannya langgeng? Balikan? Ah enggak gitu juga. Aku sendiri  juga tidak bisa mengukurnya karena yang bisa merasakan hasilnya adalah orang yang curhat itu sendiri. Lagipula, menurut sepenglihatanku, bercerita kepada seseorang itu sebenarnya lebih kepada perasaan nyaman saja. Kita itu nyamannya berbagi dengan siapa. Mau solutif atau tidak, kita juga akan kembali ke orang yang sama. Entah karena males gonta-ganti teman curhat atau memang sudah percaya pada orang yang sama. Biarkan mereka menakar sendiri kisah cintanya aman dibagikan kepada siapa. Ada beberapa orang yang bahkan nyaman-nyaman saja berbagi kisah cintanya kepada banyak orang. Entah dekat atau tidak. Orang kan memang macam-macam tipenya. Hanya memang sebagai teman baik atau sahabat, kita sering kali lebih vocal untuk memberi nasihat kepada sahabat kita apabila kita merasa apa yang dijalaninya tersebut sudah tidak sehat lagi untuk hati dan pikiran serta masa depannya. Realistis saja. Lagipula, siapa sih yang ingin melihat sahabatnya berakhir tidak bahagia? After all this time, nope.

Balik lagi soal kisah cinta, meskipun aku bukan tipikal orang yang suka curhat tentang kisah cintaku. Bukan berarti kisah cintaku tidak indah atau kurang unyu untuk diceritakan. Setidaknya kisah cinta sejati lho ya (ehem). Aku percaya satu hal, selain cinta sejati kedua orang tua kita atau saudara-saudara kita, kita berhak mendapat cinta sejati juga dari orang asing yang biasanya kita sebut sebagai soulmate, pasangan hidup atau jodoh kita. Menurutku itu saja yang patut untuk diingat, sisanya cukup diambil pelajarannya saja. Aku percaya bahwa setiap orang punya kisah cinta sejatinya masing-masing, pasti. Tinggal masalah waktu saja. Bukan sok dramatis ya, bukankah dalam agama juga dijelaskan bahwa jodoh itu sudah diatur bahkan sejak kita masih dalam kandungan? I have my own love story. It’s a happy story for me and I don’t think to share it offhandedly and clearly to anyone. Better to keep it to my self for the best part. Sisanya yang seperlunya saja dibagikan. Ya, membagi kisah percintaan terkadang juga menyenangkan kok. Dan, sebaiknya tidak berlebihan. Being romantic is not really my thing, but I love giving sweet things to my partner only to show how much I love him. Fortunately, we both do the same way.

Anyway, lagi iseng ngetik-ngetik postingan ini tiba-tiba teman-teman kantor sedang asyik membahas kisah percintaan bendahara kantor lalu berakhir dengan kepo-kepo kisah percintaanku dengan suami. Duh, ku sebaiknya melipir saja daripada kepancing terus malu sendiri sama suami. Haha, by the way sebenarnya apasih yang sedang ku bicarakan ini. Emak-emak kok ngomongin bahasan ABG. Enough.


I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways
Maybe just the touch of a hand
Oh me, I fall in love with you every single day
And I just wanna tell you I am
-Ed Sheeran


Credit gambar: unsplash.com
Continue reading Tentang Kisah Cinta
,

Tantangan Mendidik Anak Bagi Generasi Milenial


Generasi Milenial (Millenials) adalah sebutan yang biasa popular untuk menggantikan istilah generasi Y, yaitu generasi yang lahir pada rentang tahun 1980—2000. Generasi yang katanya paling banyak eksis menghuni dunia maya (social media) dengan gaya-gaya kekiniannya. Ada yang memberikan pengaruh positif (good influencer) namun tak sedikit pula yang viral karena pengaruh negatifnya (bad influencer). Kekhawatiran para orang tua terhadap fenomena tingkah laku generasi milenial ini sempat menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi setiap keluarga. Lalu, bagaimana sepak terjang generasi milenial sendiri ketika nanti menjadi orang tua?

Beberapa hari ini, saya dan suami sedang sering berdiskusi ringan mengenai pola asuh anak. Kami memang belum resmi menjadi orang tua, namun tidak ada salahnya untuk mulai mengumpulkan ilmu-ilmu parenting dari berbagai sumber. Pesatnya perkembangan internet di era globalisasi memang memberikan banyak dampak positif yang memudahkan kehidupan. Salah satunya adalah pemenuhan kebutuhan akan informasi. Terlebih lagi, dengan semakin menjamurnya beragam media sosial, informasi-informasi dari berbagai sumber di internet  dapat dengan lebih mudah ditemukan dengan lengkap dan rinci. Cukup dengan hanya mengikuti atau mengklik subscribe pada  akun-akun yang kita inginkan. 

Beberapa waktu belakangan ini, media sosial instagram sedang ramai mengidolakan gaya parenting ibu Retno Hening Palupi dalam mendidik putri sulungnya, Mayesa Hafsah Kirana. Gadis kecil yang kini sudah hampir menginjak usia 4 (empat) tahun tersebut terkenal dengan gaya polos, lucu, dan pintar dalam kesehariannya. Meskipun sedang berjuang untuk pulih dari penyakit eksimnya, Kirana (nama panggilan Mayesa Hafsah Kirana) kecil bahkan dapat secara tidak langsung mengajarkan kepada kita tentang kesabaran. She teachs us roundabout way about patience. Cara ibu Retnohening mendidik putrinya dengan lembut sekaligus berperan langsung sebagai teman bermain Kirana rupanya memberikan banyak komentar positif dari netizen hingga muncul berbagai akun penggemar Kirana. Hasil didikan ibu Retnohening pada Kirana sejauh ini dapat dilihat dan ditonton dalam video-video yang diunggah di laman instagramnya. Sering kali, ibu Retnohening mencantumkan caption yang berisi cerita atau cara beliau mendidik Kirana. Terkadang isinya cerita kocak dan lucu mengenai tingkah kirana namun tak jarang pula cerita yang menyentuh hati. Saya sering kali berhasil dibuatnya terharu. Jujur saja, saya juga merupakan salah satu pengagumnya. Like, siapa sih yang nggak sayang sama Kirana? 

Saya mulai mengikuti akun ibu Retnohening pada pertengahan tahun 2016. Salah seorang teman saya di rumah dinas menunjukkan pada saya video-video lucu Kirana hingga membuat saya ikut tertarik menyimak. Sejak itulah, setiap kali saya membuka instagram, akun Kirana tidak pernah lupa saya tengok. Terkadang, saya sampai hafal dialog-dialog yang Kirana ucapkan karena saya putar ulang terus.

Kirana sudah sangat akrab dengan buku sejak bayi. Sang ibu bercerita bahwa beliau selalu mengajak Kirana berbincang-bincang atau membacakannya cerita sejak bayi. Meskipun saat itu Kirana belum bisa berbicara dan hanya mengucapkan bahasa-bahasa bayi yang cenderung tidak dapat dimengerti, ibu Retnohening menanggapinya sungguh-sungguh seolah-olah paham. Sang ibu menganggap bahwa bahasa bayi Kirana merupakan cara dia berkomunikasi dengan orang lain. Tak mengherankan jika di umurnya yang masih sangat kecil, Kirana sudah pintar sekali bercerita. Bahkan konten cerita yang disampaikan oleh Kirana tersebut terbilang berbobot. Tak jarang dia bercerita tentang dunia sains, pengetahuan umum, ide-ide cerdas, dan bahkan pengenalannya terhadap agama. Bayangkan saja bahwa kalimat-kalimat cerdas dan polos tersebut keluar dari mulut gadis kecil yang bahkan belum genap berusia 4 (empat) tahun. Dari sekian banyak akun selebgram anak-anak, Kirana ini masih yang paling fenomenal menurut saya. Tingkahnya natural tanpa paksaan skrip. Caranya dia dididik terasa tulus tanpa terkesan dibuat-dibuat agar bisa booming. Dia adalah paket komplit dalam bentuk seorang balita.

Sebenarnya, keresahan menjadi orang tua yang baik sering kali muncul setiap kali saya menonton video-video Kirana. Tak dapat dipungkiri bahwa gaya parenting ibu Retnohening ini banyak memberikan inspirasi pada ibu-ibu muda atau tepatnya para orang tua baru yang berasal dari generasi milenial. Berbagai fenomena positif atau negatif yang viral di media sosial, memberikan sumbang sih keresahan bagi orang tua masa kini. Melihat contoh dan hasil yang sangat baik dari didikan ibu Retnohening pada Kirana membuat kita mematok standar yang sama mengenai cara mendidik anak. Sedangkan fenomena negatif yang tak kalah viral di dunia maya juga memberikan sumbang sih standar yang harus kita perlakukan pada anak. Saya memang sangat tertarik pada kehidupan Kirana, makanya panjang sekali saya bahas. Saya memang tidak mungkin menyamakan anak saya kelak dengan Kirana, pun tidak akan pula saya jadikan pembanding. Karena setiap anak punya keistimewaannya masing-masing. Kekaguman saya pada pola asuh yang diterapkan oleh ibu Retnohening rupanya menjadi tantangan tersendiri bagi saya saat nanti menjadi orang tua. Dapatkah saya memberikan yang terbaik pada anak-anak saya kelak?
                          
Tak jarang pula saya geleng-geleng kepala pada cara orang tua generasi milenial dalam menanggapi masukan dari generasi sebelumnya yang dianggap ketinggalan jaman. Di twitter, sering saya temui cuitan-cuitan nyinyir dari selebtwit-selebtwit yang juga merupakan orang tua dari kalangan generasi milenial yang dialamatkan pada mereka yang secara langsung mengomentari cara mereka mendidik anak. Tidak ada yang salah memang. Saya pun juga bagian dari generasi ini. Saya juga masih suka nyinyir sana sini setiap kali menemukan hal yang saya anggap salah atau buruk. Beberapa contoh yang pernah saya temui misalnya kebiasaan menyebut tangan kiri dengan sebutan tangan jelek, sehingga anak-anak dibiasakan untuk menggunakan tangan kanannya dalam beraktivitas seperti makan, mengambil barang, dan lain-lain. Ada yang menyangkalnya dengan marah-marah dan kesal dengan menyebut bahwa semua tangan sama-sama baik. Tidak ada namanya tangan yang jelek. Oke, sampai di sini saya setuju. Namun, bukankah menggunakan tangan kanan untuk makan itu sunnah? Terlebih di daerah saya, kental sekali dengan unggah ungguh atau tata krama bahwa akan jauh lebih sopan bila kita menggunakan tangan kanan dalam berinteraksi dengan orang lain terutama yang lebih tua. Bila tidak suka dengan istilah tangan jelek, sebaiknya menyebutnya dengan istilah lain tanpa perlu ngotot marah-marah. Bukankah beberapa hal yang kita anggap ketinggalan jaman sebenarnya banyak juga yang mengandung nilai-nilai baik. Saya dan suami sepakat tidak akan menutup kemungkinan menerapkan beberapa pola asuh dari orang tua kami masing-masing yang kami anggap masih relevan dengan masa kini. Pun tata krama-tata krama yang mengandung nilai-nilai luhur masih akan kami terapkan sebagai khas keluarga timur. Saya tidak tahu apakah kelak saya bisa bijak dalam menerima kritik atau masukan dari orang tua generasi sebelumnya mengenai cara mendidik anak. Karena tentu saja, akan ada banyak sekali perbedaan pola pikir.

Maraknya video-video bullying pada anak-anak juga menjadi momok tersendiri buat saya sebagai calon orang tua. Saya sering kali menyampaikan keresahan-keresahan saya pada suami mengenai fenomena-fenomena yang sedang viral di dunia maya. Suami saya memang bukan pengguna aktif media sosial, sehingga sering kali sayalah yang lebih banyak mengetahui isu-isu terkini tersebut. Belum lagi banyaknya kasus-kasus kejahatan yang dialami anak-anak di berbagai daerah. Penggunaan gadget yang sudah tidak mengenal usia ini turut menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua untuk mengontrol konten-konten apa saja yang aman untuk anak-anak. Tak sedikit pegiat media sosial dengan banyak pengikut sering kali kurang bertanggung jawab terhadap konten-konten yang mereka unggah. Dan, sayangnya hal-hal negatif yang tidak seharusnya dicontoh tersebut justru menjadi kiblat tersendiri bagi para pengikutnya. Banyak sekali pemakluman dan pergeseran nilai-nilai di sini. Hal-hal yang dulunya dianggap tabu, vulgar, tidak sopan, tidak senonoh atau anggapan buruk lainnya menjadi wajar di era sekarang. Banyak dari kita menjadi geram pada bebalnya anak-anak yang memviralkan konten-konten gaya hidup kebarat-baratan di negara timur dan menganggapnya wajar serta kekinian. Saya mungkin memang masih menjadi bagian generasi milenial yang sedikit kolot terhadap nilai-nilai kesusilaan. Saya merasa bahwa banyak sekali anak-anak muda beken dari media sosial yang kehilangan identitas ketimurannya. Meski ya, banyak juga yang membela atau membenarkan tingkah laku mereka. Like, she/he is just living in the wrong country. Don't disturb them, mind your own life and soon and soon. Budaya menasihati rupanya disamakan dengan terlalu ikut campur urusan orang lain. Meski tentu, ada adab dalam menyampaikan nasihat di media sosial. Saya geram bukan karena saya ingin ikut campur. I don't care every single damn things you do with your life, but if your behaviours influence people in a bad way, it's gonna be my bussines too. It's gonna be other people's bussines too. You have better learned to think first before you go viral. Saya sangat berharap anak-anak muda dengan pola pikir positif semakin vokal speak up di berbagai media supaya mampu mengajak lebih banyak massa untuk terdorong melakukan hal-hal positif. Menjadi logis atau realistis berlebihan tanpa mempertimbangkan nilai-nilai yang hidup di masyarakat juga tidak selalu menjadi baik.

Lalu, bagaimana caranya nanti kita menghadapinya sebagai orang tua? Entahlah. Mungkin kita harus lebih banyak menanamkan nilai-nilai agama pada anak sejak dini dan tidak bosan-bosan membaca mengenai parenting. Tidak sungkan berkonsultasi dan berguru pada yang lebih berpengalaman. Selalu berusaha menciptakan suasana rumah yang nyaman bagi anak dan menjadi orang tua yang tidak judgmental serta dapat berperan juga sebagai teman baik anak. Kita yang harus paling tahu mengenai anak-anak kita. Jangan lupa bahwa tugas mendidik anak adalah tanggung jawab dua orang, sehingga kerja sama suami dan istri itu penting sekali. Learning by doing. Semoga saya dan suami dapat menjadi orang tua terbaik bagi anak-anak kami kelak.

Ps: Gambar-gambar diambil dari unsplash.com


Continue reading Tantangan Mendidik Anak Bagi Generasi Milenial
,

Saat Harus Melewati lebih dari 5 Provinsi untuk Mudik

Merantaulah, kau akan mendapat pengganti kerabat dan teman. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. (Imam Syafii)

Kata sebagian besar orang, semua akan pindah pada waktunya. Bagaimana yang terjadi pada hidupku dalam tujuh tahun terakhir ini sungguh-sungguh tak pernah terbayang di benakku sebelumnya. Tentu saja karena aku memang tak punya daya untuk meramalkannya. Waktu bukan milik atau kuasaku. Apalah aku yang hanyalah seorang pelaksana takdir Tuhan. Namun, jika boleh memutar waktu sebentar, aku teringat pada salah satu momen yang sempat ku lalui pada tujuh tahun yang lalu, satu momen yang tak mungkin ku lupakan (setidaknya akhir-akhir ini), yaitu menandatangani surat pernyataan bersedia ditempatkan (kerja) di seluruh Indonesia. Sudah melihat peta Indonesia yang terbaru? Betapa luasnya wilayah Indonesia dan begitu banyaknya pulau-pulau yang ada di seluruh Indonesia. Banyak di antara pulau-pulau itu sudah berpenghuni. Untuk informasi saja bahwa dimana ada PNS Pusat, disana jugalah pasti ada kantor kementerian kami. Kalimat siap ditempatkan di seluruh Indonesia itu seharusnya terdengar sangat menantang, bukan? Demikianlah seharusnya yang dirasakan oleh gadis muda sepertiku yang belum genap berusia 18 tahun saat itu. Namun yang terjadi, aku justru biasa saja saat menandatangani surat itu. Seperti terkesan meremehkan konsekuensi atas surat itu atau mungkin aku hanya masih naif saja kala itu. Aku lupa kenapa.
Saat menerima amplop SK Penempatan
September 2015 lalu, tepatnya dua hari setelah kegiatan Dikat Teknis Umum di Ciampea berakhir, aku dan semua rekan seangkatan DJPB 2014 mendapat surat sakti berisi SK penempatan. Ingin tahu seperti apa perasaanku hari itu? Jangan tanya bagaimana. Tentu saja, aku gugup dan takut sekali, sodara-sodara. Melihat bagaimana reaksi rekan-rekanku yang sedih, kaget, terpukul karena mendapatkan lokasi penempatan dengan nama-nama yang lucu, terdengar antah berantah dan jauh dari bayangan, nyaliku langsung ikut luntur tepat di detik amplop bertuliskan namaku itu ku terima. Pacarku, yang sekarang sudah menjadi suamiku, menjadi sangat iba saat melihat raut mukaku di ruangan itu. Aku tidak berani membuka amplopku. Pacarku menawarkan diri untuk membuka dan membacakan isinya untukku jika memang aku merasa demikian gugup. Namun, aku menolak dan memilih shalat sunnah sebentar supaya hatiku merasa lebih tenang. Benar saja, sekembalinya dari mushola, aku menjadi lebih berani dan siap menerima kenyataan apapun yang akan tertulis pada isi amplop itu. Aku dan pacarku membuka amplop kami bersamaan. Hasilnya, meski aku dan dia saat itu harus menerima kenyataan harus menjalani hubungan jarak jauh untuk sementara waktu antara kota Banjarmasin dengan Waingapu, kami cukup bersyukur karena masih berada di kota yang memiliki akses mudah untuk ke bandara.

Dua tahun sejak pengumuman penempatan definitif itu, aku sudah pindah tugas ke Waingapu mengikuti suami. Lebaran tahun lalu, aku masih bisa pulang kampung dengan hanya sekali naik pesawat dari Banjarmasin ke Yogyakarta. Sedangkan tahun ini, ada hal yang berbeda yang harus aku jalani. Untuk pertama kalinya aku harus mudik dengan dua kali naik pesawat dan satu kali transit. Aku mudik dari Waingapu ke Bogor dan masih melanjutkan perjalanan juga ke Klaten dalam keadaan hamil muda. Untuk mudik ke Bogor, bisa dibilang aku dan suami harus melewati lebih dari tiga provinsi mulai dari Nusa Tenggara Timur, Bali, dan DKI Jakarta hingga tiba di Bogor tepat dini hari tanggal 25 Juni 2017. Rasanya lelah sekali setelah sempat mengalami delay penerbangan dari Denpasar ke Jakarta selama lebih dari empat jam dengan barang bawaan yang tidak sedikit.

Setelah 4 hari 3 malam menghabiskan waktu bersama keluarga di Bogor, aku dan suami melanjutkan agenda mudik berikutnya ke kota Klaten, kampung halamanku. Ya, ini adalah lebaran pertamaku bersama suami. Kami sengaja membagi libur cuti lebaran untuk keluarga Bogor dan keluarga Klaten sama rata. Untuk perjalanan ke Klaten, kami memutuskan untuk memilih transportasi darat dibanding udara. Selain untuk menghemat pengeluaran, hal ini juga untuk meminimalisir risiko kehamilan muda. Selama kurang lebih 9 jam perjalanan yang melelahkan dengan menggunakan kereta api dan melewati tiga provinsi, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan DI. Yogyakarta, kami tiba di kota Klaten di hari yang sama.

Kondisiku dan suami yang sudah kurang fit sejak di Bogor, kami bawa serta ke Klaten. Alhasil, selama di Klaten, seluruh agenda yang sudah kami rencanakan jauh-jauh sebelum mudik terpaksa kami batalkan. Aku dan suami hanya bisa pasrah berdiam diri saja di kamar. Terutama, suamiku sedang masuk angin lumayan parah saat itu. Bahkan, aku dan suami tidak sempat melakukan kunjungan silaturahim ke tetangga sekitar rumah dan hanya terfokus pada kunjungan sanak saudara saja yang kebetulan datang silih berganti. Untuk urusan check up kehamilan pun batal ku lakukan. Aku sedih karena banyak sekali agenda yang rindu ingin ku lakukan selama di Klaten namun terkendala dengan kondisi badan. Memang lebih baik terfokus pada pemulihan kondisi badan saja daripada kembali ke perantauan dalam kondisi tidak sehat. Satu poin yang sempat ku pegang dengan suami agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Kami harus minum suplemen vitamin sebelum melakukan perjalanan mudik. Karena ya, kita sama-sama tidak tahu kapan badan kita akan protes pada semua aktivitas yang harus kita kerjakan. Hal ini juga berkaca pada pengalaman saat berlibur di luar negeri beberapa waktu yang lalu dimana kondisi kami sehat-sehat saja meskipun harus berjalan kaki kemana-mana. Salah satunya karena tertolong oleh suplemen vitamin.

Sebenarnya, aku juga bukan tipikal orang yang suka mengkonsumsi suplemen karena dampaknya juga kurang bagus jika harus dikonsumsi dalam jangka panjang. Namun, tidak ada salahnya untuk mengkonsumsi suplemen sebelum melakukan perjalanan jauh agar supaya semua rencana atau agenda penting yang sudah direncanakan, dapat dikerjakan sesuai dengan harapan. Lagipula, agenda seperti ini tidak sering kita lakukan. Sayang sekali jika banyak momen terlewatkan hanya karena tubuh kurang sehat. Selain itu, usahakan untuk senantiasa meringkas bagasi agar tidak memberatkan diri saat harus wara-wiri sepanjang perjalanan. 


Continue reading Saat Harus Melewati lebih dari 5 Provinsi untuk Mudik
,

Seeing Through Our Education System Nowadays

How long have you been in school? I counted mine was 15 years. It's not a short time to spend. All of us never think about it. We never try to count how long we have been studying in school. It spends time the most, even it can be most of our lifetime. I feel like I have been studying for all of my life. Lol. Considering the time we have spent, we should have learned so many things during school life. It supposed to be.

Our education system is still not mature yet compared to the other improved country's systems. The government especially the Ministry of Education often changes the education policy as if students are their experiment objects. Maybe we can try to understand their choice to change the policies often. Let say, they just try to find an education system that can fit us the best. Even though, it cost a lot especially for the phycology state of the students who constantly try hard to adapt to the new education system. I feel so grateful that I never have to experience such an extreme condition that forces me to adapt to the several changes in the education system just like what my juniors have been going through lately. It will stress me out. Our students are mostly not ready yet for the sudden change in our education system. Sometimes, the government doesn't try to find the best way. They are just trying to be different from their precursor when the cabinet changes. Isn't it such a waste? Now that government tries to give free education. We have to appreciate it. Even though it's still not followed by the quality itself. At least, they have tried.

Can you remember how many times our education systems have been changed? You can't even remember them. And now, our students still have to adapt to the changes in the education systems more and more. Isn't it so tiring? I can't even imagine how it feels. And what about our children in the future? Do they still need to feel so? It can't be, we can't let it be. I have a sister who is still in the second grade of high school. She once even told me that her school days were always really tiring and boring. She had to come to school till the late afternoon than at the weekend, she still had so many school assignments yet homework to do. It sucked. I always wish that our school days can turn into something fun that makes students feel so excited to attend every day. Sadly, the education system that supposed to be the best way to improve our quality of life turns into something that bothered us the most. Education is supposed to break the cycle of poverty yet to make our generation have a brighter future.

I don't know why a developed country like us just can't do better in the way of finding the best system for our education. We still don't know what we need to create a better generation. Do we need to imitate Finland that seems to have the best education system in the world? It can be true if we can be such good citizens that be able to commit to being disciplined in every aspect of life. Is it hard to achieve? Sure, but it will be worth the efforts. We as a future parent or currently parents have to concern about the education of our children. It's because we are their role model in the first place. We are the source of their basic education. Maybe it can be a simple way to stop complaining to the government about the bad quality of our education system or waiting for them to find the best education system. The Government often makes us disappointed that we need to do it ourselves. Just don't give up.

Ps. Pardon my bad English. I'm working on it.
Continue reading Seeing Through Our Education System Nowadays
, , ,

Cita-cita

Beberapa waktu yang lalu, aku sempat membaca kicauan dari salah satu akun di linimasa media sosial twitter mengenai cita-cita. Banyak di antara pengguna twitter yang dalam hal ini sepantaran denganku, telah berstatus sebagai seorang pekerja, turut serta berbagi tentang cita-cita mereka. Lantas, apa yang salah dengan pertanyaan seputar cita-cita yang diajukan kepada seorang pekerja yang sudah menyandang status pada sebuah profesi tertentu? Jawabannya, tidak ada yang salah. Boleh jadi masing-masing dari kita saat ini ada yang sedang terjebak dalam pekerjaan yang sama sekali berbeda dengan apa yang pernah dicita-citakan saat berada di bangku sekolah atau kuliah. Ada yang nyaman-nyaman saja, pun ada yang justru merasa tertekan atau seperti kataku barusan, merasa terjebak. Barang kali pula, sebuah cita-cita diartikan berbeda oleh masing-masing orang. Cita-cita bisa saja bukan hanya persoalan kamu ingin menjadi apa saat besar nanti atau apa pekerjaan impianmu saat sudah lulus nanti. Cita-cita bisa juga diartikan sebagai sebuah keinginan atau impian dalam banyak hal, tidak berhenti hanya seputar pekerjaan atau profesi impian. 

Aku dan Cita-citaku
Terkadang saat sendirian, aku juga suka iseng bertanya pada diri sendiri. Sebenarnya apasih cita-citaku terkait pekerjaan impian? Apa sekarang sudah tercapai? Apakah aku sudah bekerja di bidang profesi yang aku cita-citakan atau belum? Atau bagaimana? Lalu, aku akan banyak sekali mengenang berbagai peristiwa dalam hidupku nan jauh ke belakang. So long. Dulu saat aku masih kecil, setiap orang bertanya padaku mengenai cita-cita, aku selalu menjawab, “Kalau udah gedhe nanti, mbak Ifah mau jadi guru SD aja biar kayak Pak Basiran”. Ya, Pak Basiran adalah salah satu sosok guru SD yang inspiratif buatku. Selain itu, aku senang sekali memperhatikan betapa baik sikap dan perlakuan guru-guru SD di sekolahku dulu dalam mendidik kami yang notabene bukan anak kandung mereka sendiri. Mungkin begitulah bagiku saat itu, profesi guru adalah profesi yang terhebat. Ibaratnya kalau kata bapak dulu, presiden saja punya guru. Ya, Hanifah kecil mantap ingin menjadi seorang guru. Begitulah hingga aku akhirnya beranjak menjadi anak sekolah menengah pertama. Lalu, cita-citaku berubah. 

Ada profesi lain yang serupa dengan guru, namun namanya terdengar lebih keren. Dosen. Ya, ide itu tiba-tiba saja mampir ke otakku ketika lebaran entah tahun berapa, mungkin tahun yang sama ketika aku duduk di bangku kelas 1 SMP. Aku mendengar ada salah satu kerabatku menjadi seorang dosen di salah satu kampus di daerahku. Katanya kemudian, dengan menjadi dosen, kamu bisa jadi akan diundang untuk mengajar di universitas ternama lainnya di luar negeri, seperti Australia misalnya. Iya, tolong digarisbawahi pada frase luar negeri. Sebagai seorang anak yang dibesarkan di sebuah desa kecil, pun jarang diajak keluar kota, aku merasa penasaran. Tempat itu begitu menggema di hatiku seakan-akan luar negeri yang jauh itu adalah tempat yang keren dan hebat. Aku ingin menjadi dosen karena aku ingin mengajar hingga ke luar negeri. Iya, sesederhana itu sebuah cita-cita berubah. Hanya karena sesuatu yang menurutku terdengar lebih hebat. Apa ada yang salah dengan anggapan seperti itu? Jawabannya adalah tidak ada yang salah sama sekali. Itu sah-sah saja. Bukankah pepatah mengatakan “Gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Apalagi yang lebih tinggi dari langit? Bukankah itu artinya, kita berhak punya cita-cita setinggi-tingginya. Bukankah katanya punya cita-cita itu gratis? Iya, tapi ada syaratnya.


Gratis yang Bersyarat
Semakin dewasa, aku semakin belajar banyak mengenai teori tentang harapan dan kenyataan. Tak semua harapan berbanding lurus dengan kenyataan. Pun soal cita-cita. Iya, punya cita-cita memang gratis. Cara untuk meraihnya yang tidak gratis. Ini bukan melulu tentang uang. Bisa jadi kamu harus membayarnya dengan usahamu, kerja keras, belajar giat lebih dari kebanyakan, hidup prihatin, kalau yang relijius ya tentu mengimbanginya dengan ibadah-ibadah sunnah, dan sebagainya, dan sebagainya. Lalu setelah semua itu, apakah kamu dijamin bakal langsung berhasil? Tidak juga. Terkadang semuanya kalah dengan nasib. But trust me, Hard works paid off. Iya, harga yang harus kamu bayar memang tidak murah, tidak mudah, dan sering kali tidak menyenangkan. Kecewa? Pernah. Merasa seperti sedang berjuang sendiri? Sering. Gagal? Tidak hanya sekali. Tapi kenapa banyak yang sukses meraih cita-citanya dengan mudah? Kamu saja yang tidak tahu bagaimana dia berjuang mendapatkannya. Kalau kamu bukan anak orang penting yang bisa mendapatkan apa yang kamu mau dengan mudah, maka caramu membayarnya adalah dengan kegigihanmu.

Back Then,
Apa aku sudah meraih cita-citaku? Ah, ku rasa belum. Aku ingin selalu beranggapan seperti ini agar aku tidak lelah atau bosan belajar. Aku kadang masih belum dapat menjawab apa cita-citaku sebenarnya. Aku punya banyak sekali impian. Dalam hal pekerjaan, sebenarnya cita-citaku sangat sederhana, yakni mendapat pekerjaan yang didambakan kedua orang tuaku. Pekerjaan yang membawa berkah dengan penghasilan yang dapat ku gunakan untuk membantu mereka, orang tua dan saudara-saudaraku, serta tentu orang-orang yang memang pantas dibantu. Karena aku punya anggapan bahwa bahagiaku bukanlah bahagia tanpa membuat mereka bahagia. Tak apa, apapun cita-citaku atas pekerjaan, selama itu menghasilkan dan berkah, aku akan belajar menikmatinya. 

Aku tidak munafik bahwa aku bekerja untuk dibayar. Tapi, aku selalu punya prinsip. Bekerja keraslah sesuai dengan penghasilanmu atau lebih dari itu. Maksudku, bekerjalah dengan profesional meskipun terkadang kamu harus rodi lebih dari yang lain. Bekerjalah sesuai dengan tugas dan fungsimu. Jika mampu, kerjakan sesuatu yang lebih asal tidak bertabrakan dengan SOP. Iya, tidak apa-apa lebih dari yang lain, asal tidak kurang. Saat kamu merasa lelah dengan semua yang ada dalam pekerjaanmu, pikirkan bagaimana dulu kamu berusaha mendapatkannya. Pikirkanlah banyak pengangguran di luar sana yang mungkin saja bersedia dengan senang hati menggantikan peranmu. Sering mengeluh? Tidak apa-apa. Kamu manusia bukan robot. Kamu tentu akan sering mengalami ketidakpuasan di tempat kerja, nikmati saja dinamikanya. Toh, pada akhirnya jika kamu masih membutuhkan pekerjaan itu, kamu juga akan kembali pada pekerjaanmu esok harinya. Belajarlah bersyukur hingga kamu benar-benar tak lagi dapat mengingat kelelahanmu. Belajarlah dengan ikhlas hingga bahkan kamu bisa sangat menyukai pekerjaanmu. Berat? Iya, tapi bukan yang terberat. Masih banyak yang lebih berat darimu barangkali. Apa aku sudah melakukannya seperti apa kataku barusan? Percayalah, aku juga sedang terus belajar bersyukur. Mengeluh pada berbagai problema selama bekerja? Sering. Tapi bukan berarti semua itu lantas membuatku tidak suka atau lelah dengan pekerjaanku. Aku selalu menyukai semua hal yang sedang ku jalani (pada akhirnya) meskipun sering kali ku mulai dengan muka masam (baca postinganku berjudul Tuhan Memang Hebat). 

Cita-cita dan Impian

Setiap orang terlahir dengan minat dan bakatnya sendiri-sendiri. Ketika dewasa, minat dan bakat itu mereka tuangkan menjadi passion. Lalu, saat memasangkannya dengan kegiatan tertentu, kita menyebutnya dengan hobi. Kalau kata Ridwan Kamil, salah satu hal yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Bagi sebagian orang, mereka merasa beruntung saat dapat menjalani sebuah pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat mereka. Sesuai dengan passion mereka dan bahkan mampu mengaktualisasi hobi mereka. Ya, mungkin juga karena mereka beruntung dapat mengambil bidang studi sesuai passion mereka tanpa tekanan dari pihak lain. Sebagian yang lain, bekerja sesuai dengan jurusan atau bidang studi yang mereka ambil semasa menimba ilmu, entah itu sesuai atau tidak dengan minat atau bakatnya. Lalu tak sedikit pula yang keluar dari comfort zone nya, bekerja di luar bidang studinya, pun di luar passion nya. Ada yang merasa berhasil, tak jarang pula yang merasa gagal. Iya, aku mengambilnya dari sudut pandang yang melakoni. Karena pada akhirnya kita hanya sebagai penonton atas apa yang sedang dijalani oleh orang lain. Ada pula yang sudah dapat mengatakan, “Aku sudah meraih cita-citaku.”


Seorang kakak tingkat di kampusku dulu pernah bercerita tentang sebuah impian yang dimiliki oleh teman sekamarnya, yaitu ingin menimba ilmu di Oxford University. Dia bahkan selalu membuat daftar keinginannya dalam selembar kertas, lantas melakukan check list pada setiap daftar keinginan yang sudah berhasil dilakukan atau diraihnya. Aku pernah terinspirasi untuk melakukan hal yang serupa, namun sayangnya aku tak serajin itu. Yeah, pardon me. Menjadi konsisten memang tidak mudah. Sangat tidak mudah. Semua hal yang kita inginkan, apapun itu, selama belum dapat kita raih, itulah yang disebut impian. Maafkan definisi sederhana ini. Bukankah ya, setiap orang punya cara tersendiri dalam mendefinisikan sesuatu, di luar terminologi ilmiah tentunya. Aku juga sedang dalam perjalanan untuk menemukan dan meraih impian serta cita-citaku. Pada akhirnya kita belajar dalam bekerja dan bekerja dalam belajar, pun belajar untuk bekerja atau bekerja untuk belajar. Kamu bisa memilih untuk menyepakati yang manapun. Apapun cita-cita dan impianmu, jangan biarkan siapapun menertawakannya. Sekecil apapun itu. Karena menurutku, semua impian dan cita-cita itu baik selama itu baik. Dan semua pekerjaan itu baik selama itu baik. Maka dari itu, kita berdoa meminta kebaikan-kebaikan yang ada pada pekerjaan beserta segala kebaikan-kebaikan  yang ada di dalamnya serta perlindungan dari segala keburukan dalam pekerjaan beserta keburukan-keburukan yang ada di dalamnya.
Jadi, apa cita-citamu?
Continue reading Cita-cita
,

Zakat untuk Negeri

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berbincang-bincang dengan Dosen Pembimbing saya melalui akun google talk. Beliau sempat mengajak saya berdiskusi ringan mengenai islamic finance dan islamic economic. Kebetulan sekali saya cukup tertarik dengan dunia ekonomi dan keuangan syariah yang sedang hangat diperbincangkan selama sedekade belakangan ini. Dalam hal ini, beliau membuka wawasan saya mengenai manfaat zakat jika dianalogikan sebagai APBN. Perbincangan kami selama beberapa menit ini bisa sedikit saya rangkum dalam beberapa paragraf pendek di bawah ini. 

Indonesia adalah negara dengan mayoritas pemeluk muslim terbesar di dunia. Meskipun bukan merupakan negara islam, berbagai kebijakan terkadang tanpa kita sadari sering menerapkan hukum islam. Tak terkecuali dalam bidang ekonomi dan fiskal. Hal ini bisa dilihat dari pasar keuangan domestik yang akhir-akhir ini mulai mengenalkan istilah ekonomi dan keuangan syariah. Perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 2008 dengan didirikannya sebuah direktorat baru dalam tubuh Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, direktorat yang khusus menangani masalah pembiayaan APBN, yakni Direktorat Pembiayaan Syariah. Direktorat ini bisa dibilang sebagai bentuk gambaran keuangan syariah jika dilihat dari kaca mata pembiayaan. Namun, kali ini saya tidak akan membahas masalah pembiayaan. Saya sedang tertarik membahas keuangan syariah dalam kaca mata penerimaan. Itulah yang sebenarnya sedang dibutuhkan oleh negara yang masih mempunyai puluhan juta rakyat yang berada di bawah garis kemiskinan ini.

Continue reading Zakat untuk Negeri
, , , ,

Info Kost Mahasiswa STAN

Disclaimer: Tulisan ini murni pendapat pribadi penulis dan berdasarkan pada kondisi saat penulis kuliah di STAN (sekitar tahun 2010 sampai dengan tahun 2013). Mungkin akan ada banyak perbedaan dengan sekarang.

Sebelumnya, hari ini aku mau mengucapkan selamat dulu untuk adik-adik yang berhasil lolos USM STAN 2013 hingga tahap terakhir. Selamat datang di Kampus Ali Wardhana, kampus perjuangan Jurang Mangu, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Selamat bergabung dengan Lembaga Pendidikan tingkat Eselon II di bawah Kementerian Keuangan. Selamat datang para calon birokrat muda Indonesia. Nikmatilah spesialisasi kalian nanti dan belajarlah sebanyak mungkin di tempat ini. Sedikit nasihat dariku saja, jangan sampai nanti kalian menyesal karena tidak dapat melakukan banyak hal berguna di tempat yang penuh dengan orang-orang hebat dari seluruh Indonesia ini. Kesempatan kalian hanya 3 tahun untuk berkarya di sini. Walaupun berbagai aturan menjadikan kalian idealis, aku berharap kalian tetap menjadi mahasiswa yang kreatif, inovatif, kritis, dan peka terhadap lingkungan. Beberapa penyakit utama anak STAN adalah terlalu apatis, terlalu individualis, psytrap, psywar, dan kurang berminat dengan organisasi. Mungkin memang masa depan kalian telah ditentukan sedemikian rupa, tetapi jangan dijadikan sebagai alasan untuk tidak mengembangkan diri, menggali bakat lain yang kalian miliki. Meskipun institusi pendidikan kalian adalah "Sekolah", kalian tetaplah mahasiswa, bukan siswa. Kalian akan mengerti nanti ketika sudah menjalaninya. Sekali lagi, selamat datang. Well, I'm so happy for you.

Berhubung sebentar lagi keberadaan kami, angkatan 2010, akan digantikan oleh ribuan wajah-wajah baru, aku mau berbagi sedikit informasi non akademik buat adik-adikku STAN angkatan 2013. Informasi ini mungkin bisa berguna untuk kalian yang menetapkan hati untuk memilih kuliah di kampus ini. Informasi pertama mengenai info kos-kosan. Ini adalah hal yang paling mendasar yang bakalan kalian cari untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di tanah Bintaro. Sebagai mahasiswa sekaligus calon alumnus STAN yang selama 3 tahun selalu berganti-ganti kost, berikut aku kabarkan kepada kalian mengenai spesifikasi wilayah kos-kosan di sekitar STAN yang mungkin akan menjadi salah satu alternatif pilihan hunian kalian selama 3 tahun atau 6 semester ke depan, mulai dari Dinamika (semacam ospek) hingga kalian wisuda nanti. Aku tidak memberikan gambaran spesifik nama kos-kosannya, kalian bisa mencarinya sendiri, ini hanya gambaran wilayah saja. Here, check this out.
Continue reading Info Kost Mahasiswa STAN

Poin Sukses Belajar

Memahami 100% seluruh materi SNMPTN dengan baik mungkin merupakan suatu impian yang ideal. Dalam kenyataannya sulit sekali, bahkan bisa dibilang impossible. Memahami materi SNMPTN dan Ujian Masuk PTN sebaiknya secara sistematis, dimulai dari konsep-konsep yang terpenting, dan jika masih ada waktu, baru meluas ke hal-hal lain secara mendetail. Pemahaman secara sistematis dan gradual seperti inilah yang diharapkan dapat memperoleh hasil yang optimal. Ada dua poin penting yang perlu diperhatikan dalam strategi belajarmu. Yang pertama adalah bahwa kamu harus memahami estimasi dan komposisi soal yang akan kamu hadapi di SPMB.


Yang kedua adalah bahwa kamu harus memahami jenis-jenis soal yang seperti apa yang memiliki kemungkinan lebih besar untuk muncul. Pemahaman yang benar tentang kedua aspek ini akan memberikan arahan strategi belajar efektif bagimu untuk menembus SNMPTN. Hal lain yang penting kamu pahami bahwa "Ibaratnya kamu menginginkan sebuah handphone terbaru, kamu harus tahu seberapa besar uang yang kamu butuhkan untuk membelinya". Yang terpenting, letakkan harapan pertamamu pada apa yang benar-benar kamu inginkan. Raih dengan sebesar-besarnya kapasitas kemapuan yang kamu miliki. Segalanya bisa berubah. Latihan sejak dini akan membantumu sukses. 

Begitupun saya. Saya juga sedang belajar berlatih memahami materi-materi ujian kelas XII untuk memenuhi kewajiban saya sebagai pengajar privat beberapa siswa SMA di salah satu SMA Negeri di Jakarta. Agaknya inilah yang menjadikan saya kembali merasakan atmosfer kegugupan menghadapi detik-detik menjelang ujian nasional maupun SNMPTN, terlebih lagi pola penerimaannya agak berbeda dengan masa saya dulu. Saya hanya bisa mendoakan semoga sukses untuk anak-anak kelas XII se-Indonesia, lulus 100% dan yang terpenting kalian harus tahu akan kemana kah kalian menempatkan masa depan kalian.
Continue reading Poin Sukses Belajar

Nasihat Penting

Seseorang pernah mengajariku untuk menerima suatu suratan dengan bijaksana. Mengenai apa yang sekarang sedang kamu jalani sebagai hal yang sudah seharusnya terjadi. Namun, bukan untuk sebuah kepasrahan. Melainkan lebih kepada rasa syukur, bahwa saat kita mulai menghargai maka kita akan mendapat begitu banyak nikmat bahagia yang mungkin saja tidak akan kita temui jika kita terus mengeluhkannya. Aku terima dengan baik semua penjelasan email dua halaman itu.

Bagaimana kita bisa mengukur sejauh mana kita bisa menghargai orang lain jika menghargai diri sendiri saja terkadang lupa. Masih seperti mengeja poin mana yang memang pantas untuk disematkan sebuah apresiasi. Sama seperti halnya orang yang putus asa, beranggapan negatif pada diri sendiri juga pada orang lain. Aku sangat berterima kasih saat email itu tiba-tiba sungguh datang. Menjawab dengan singkat, padat, dan jelas mengenai segala bentuk keraguanku, tentang apa yang telah ku perjuangkan. Aku pantas untuk tidak lagi memaki suratan. Bahwa Tuhan pun sudah benar-benar memberikan porsi teradilnya pada kita.

Credit to my old friendThank for letting me tell and giving me little advices.
Continue reading Nasihat Penting