, ,

#DiaryBumil Rasanya Hamil Anak Pertama

Sebelum menikah, saya dan suami sempat sepakat untuk menunda memiliki momongan untuk kurun waktu 3 bulan pertama. Hal ini dikarenakan kami masih harus menjalani Long Distance Marriage (LDM) antara Waingapu dan Banjarmasin. Hamil jauh dari suami tentu saja akan terasa lebih berat. Suami saya tentu akan merasa khawatir bila tidak dapat menjaga istrinya yang sedang mengandung buah hati kami. Selain itu, kami masih memiliki beberapa agenda jalan-jalan berdua ke beberapa tempat, sehingga rasanya akan lebih aman bila tidak dilakukan saat sedang hamil. Namun, saya dan suami tentu tetap akan merasa bahagia dan senang bila ternyata Tuhan memberikan titipannya lebih cepat dari rencana kami. Siapa yang tidak senang mendapat anugerah berupa janin di dalam rahim? Setiap pasangan yang baru saja menikah pasti sangat menantikannya. Tidak ada buncahan kebahagiaan yang sanggup melukiskan rasanya tentu saja. Beyond words if I could imply.

Benar saja, ucapan adalah doa. Meski saya sempat menentang keinginan suami untuk menunda momongan selama 3 bulan, rupanya Tuhan tahu kapan mempersiapkan hadiah terbaiknya. Saya dikaruniai kehamilan pada bulan keempat pernikahan tepat di saat saya sudah satu kota dengan suami. Kurang dari 10 hari sejak saya pindah ke Waingapu mengikuti suami, Tuhan menitipkan malaikat kecil itu di rahim saya untuk saya jaga dan saya rawat selama 9 bulan 10 hari ke depan. Awalnya, saya sempat beberapa kali kecewa dengan hasil satu garis di testpack pada awal keterlambatan haid saya pada bulan Mei 2017 lalu. Waktu itu, saya memang baru terlambat satu dua hari. Mungkin karena merasa terlalu bersemangat, saya sampai sudah menghabiskan 6 buah testpack yang khusus saya bawa dari rumah dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Sayang sekali, keenam testpack tersebut masih menunjukkan hasil negatif. Saya tidak ingin terlalu memikirkannya karena takut hal tersebut justru akan membuat saya menjadi stres. Terlebih, saya sedang menjalani ibadah puasa Ramadhan. Sebaiknya saya fokus pada ibadahnya saja dulu dan tentu saja tidak berhenti berdoa. Toh, semua sudah digariskan. Tuhan paling tahu kapan waktu terbaiknya.

Pada beberapa hari setelahnya, saya sempat curiga dengan kuantitas buang air kecil yang tidak biasa. Saya merasa menjadi lebih sering ke kamar mandi untuk buang air kecil padahal sebelumnya saya bukan tipikal orang yang beseran. Saya pun minta tolong suami untuk membelikan testpack di apotek karena katanya salah satu tanda orang hamil adalah menjadi lebih sering ingin buang air kecil (BAK). Saya bilang pada suami bahwa saya akan mencoba tes lagi tanpa bilang kapan waktunya supaya surprise. Selain itu, saya juga tidak ingin suami ikut kecewa dengan hasilnya bila ternyata masih negatif. Tepat di hari keenam keterlambatan datang bulan saya di bulan Mei 2017 lalu, saya akhirnya mendapatkan dua garis pada testpack dengan begitu jelas. Saya melakukan tesnya sekitar pukul 2 dini hari saat terbangun karena merasa ingin buang air kecil. Sambil masih diterkam kantuk yang teramat, saya dibuat melongo dengan hasil tesnya. Dua garis berwarna merah tua nampak jelas di sana. Saya langsung membangunkan suami. Ya, mohon maaf saja sepertinya saya bukan tipikal orang yang pandai membuat kejutan. Saya justru sering kali mudah dibuat terkejut, sehingga selalu merasa perlu untuk langsung memberitahukan kepada suami saat mendapat kabar bahagia ini.

Ada kejadian lucu saat saya hendak memberitahukan kepada suami perihal kehamilan saya. Kebetulan sekali, suami saya ini tipikal orang yang sedikit sulit untuk kembali ke dalam keadaan sadar ketika bangun tidur. Dia ini orangnya mudah sekali mengigau saat tidur. Butuh waktu agak lama untuk membuatnya tersadar. Sambil masih terkantuk-kantuk, dia butuh memperhatikan saya terlebih dahulu untuk mencerna apa mau saya saat membangunkannya. Dia mengamati barang yang saya serahkan kepadanya tersebut sambil dilihat-lihat lalu diciumnya. Saya langsung tarik dari tangannya dan mengatakan bahwa itu kotor. Dia masih tidak sadar benda apa yang baru saja dipegangnya itu. Barulah saya tertawa dan menyuruhnya mengumpulkan nyawa terlebih dahulu. Rupanya dia mengira saya membangunkannya di tengah malam hanya untuk memberikan tester parfum. Yap, it's clearly said. Tester Parfum dong. Ya Tuhanku. Ternyata, suami  saya belum pernah melihat isi testpack sebelumnya. Yang dia tahu, bentuk testpack itu besar semacam termometer seperti yang biasa dia lihat pada sinetron-sinetron. Iya sih memang tidak salah. Namun, harga testpack seperti itu lumayan mahal jika hanya untuk sekali tes saja. Sayang saja rasanya membuang-buang uang hanya untuk coba-coba. Setelah tahu bahwa saya hamil, suami langsung terbangun kaget sambil matanya terlihat berbinar (iya, karena suami saya sipit jadi tidak begitu berbinar sambil membelalak kaget, haha). Then, he asked me,"Ini beneran sayang? Alhamdulillah" sambil memeluk saya. Karena masih sekitar pukul 2 dini hari, kami pun kembali tidur sebentar sambil menunggu waktu sahur. Saya biasanya bangun pukul 3 dini hari untuk mempersiapkan sahur.

Kira-kira yang warna ungu ini yang suami tahu
Seminggu setelah saya mendapatkan dua garis merah tersebut, suami mengantar saya ke satu-satunya dokter spesialis kandungan yang ada di kota Waingapu. Kliniknya ternyata sangat dekat dengan kantor kami. Setelah dilakukan tindakan ultrasonografi (USG), dokter mengatakan bahwa usia kandungan saya masih sangat kecil, yaitu sekitar 3 minggu dan kantong kehamilan sudah terbentuk. Saya diminta untuk mengurangi aktivitas dan banyak mengkonsumsi makanan bergizi. Dokter juga memberikan beberapa vitamin untuk tumbuh kembang janin. Setelah check up ke dokter, rasanya morning sickness baru saja dimulai. Sebelumnya nafsu makan saya sangat besar, baru kemudian mulai enggan makan karena semua makanan terasa enek. Sebenarnya tidak sampai mual-mual atau muntah sih. Saya sangat bersyukur karena di kehamilan pertama ini, saya bahkan masih dapat melakukan aktivitas saya secara normal. Saya masih diperbolehkan untuk tetap berpuasa, saya masih bekerja seperti biasanya. Bahkan, saya juga masih aktif dengan pekerjaan rumah seperti mencuci, memasak, dan menyapu sambil dibantu oleh suami. Suami mengizinkan saya melakukan aktivitas sehari-hari asal tidak berat. Hal ini agar saya tidak begitu merasakan maboknya orang hamil muda. Selama kehamilan saya tidak bermasalah, rasanya sah-sah saja tetap melakukan aktivitas rutin seperti biasa. Saya terbilang tidak begitu manja saat hamil anak pertama ini. Mual hanya saya alami saat gosok gigi pada pagi hari saja. Itupun tidak sampai muntah-muntah. Hanya saja, saya akui rasanya saya menjadi sangat mudah sekali merasa mengantuk. Terkadang, saya sempatkan tidur di mushola saat jam kerja atau saat senggang tidak ada kerjaan di kantor. Suami rajin membuatkan susu hamil untuk saya setiap pagi karena sering kali saya merasa mudah lapar bila tidak minum susu saat sarapan. Sarapan seperti hanya bertahan sampai dengan satu sampai dua jam, seterusnya saya akan mudah sekali merasa lapar.

Kehamilan pertama memang selalu penuh kejutan. Selain karena kita belum pernah merasakan sensasi hamil sebelumnya, rasa bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang ibu terkadang mengalahkan kepayahan selama hamil. Minggu demi minggu saya lalui dengan santai. Meskipun beberapa kali harus dilanda dilema karena harus pulang kampung cukup jauh saat hamil muda, saya sangat bersyukur sejauh ini tidak ada masalah yang berarti. Saya tidak pernah putus berdoa agar janin yang saya kandung ini selalu dalam keadaan sehat tak kurang suatu apapun. Kata suami, lakukan saja apa yang membuat diri sendiri bahagia supaya janin di dalam kandungan ikut merasakan kebahagiaan ibunya. Kami juga rutin mengajak si janin berbincang-bincang. Terlebih setelah memasuki trimester kedua dan ketiga, janin di dalam kandungan menjadi sangat aktif menendang, meninju, bergerak kesana-kemari hingga membuat ibunya kewalahan mencari posisi duduk dan tidur yang nyaman. Semua itu saya lalui dengan senang hati. Setiap tendangan-tendangan kecilnya yang kini kian terasa nyeri tetap saya nikmati dan saya amati. Rasanya bahagia sekali merasakan pergerakan-pergerakan kecilnya di dalam perut saya. Lucu sekali padahal dulu saya tidak pernah terbayang bakal begini rasanya. Saya kira gerakan-gerakan itu tidak akan begitu terasa. Ternyata luar biasa sekali, masyaAllah. Itulah mengapa, menjadi seorang ibu itu adalah sebuah anugerah. 

Bulan depan, saya sudah mulai cuti bersalin. Hari Perkiraan Lahir (HPL) anak kami adalah tanggal 22 Januari 2018. Ini akan menjadi kado terindah untuk anniversary pertama kami yang jatuh pada tanggal 4 Februari 2018 nanti. Saya sangat berharap segala prosesnya berjalan dengan lancar dan dapat melahirkan dengan Vaginal birth (normal) dan minim trauma atau rasa sakit. Namun dari semua itu, hal yang terpenting adalah ibu dan bayi lahir dalam keadaan sehat tak kurang suatu apapun.

0 komentar:

Post a Comment