Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Apa Kabar


Pagi ini, harum embun menyapaku dalam dingin
Selimutku menggagalkan rasa dingin itu menjadi hangat
Aku mencoba mengingat mimpi semalam, rumit.
Satu hal yang paling membekas di benakku
Kau nampak berdiri di sana,
di ujung jalan itu, tersenyum.

Apa kabarmu kini, wahai lelaki berkacamata?
Jika saja aku dapat menyapamu 
Seperti yang dulu-dulu
Melihatmu membalas senyumku, selalu.

Sedikit sekali tuturmu yang dapat ku rekam
Kau lebih sering terdiam mendengarkan
Seperti dahan-dahan pohon kepada angin
Tak pernah menolak untuk menyambut setiap hembusannya.

Tirai jendela kamarku tersingkap
Kau tahu, pagi di sini menyenangkan  sekali
Aku sering mengintip langitnya
Sesekali, kau harus mencobanya.

Kepada angin yang kini entah berhembus kemana
Ku titipkan salamku untukmu
Semoga pagimu selalu menyenangkan
Semanis roti selai kacang kesukaanmu
Atau, sehangat segelas susu coklat buatanku, dulu.
Continue reading Apa Kabar

Pagi

Pernahkah kamu menyapa pagi, yang setiap hari kamu kutuki kehadirannya
Pernahkah kamu mencoba bertanya bagaimana rasanya berselimut embun dingin sisa semalam
Mungkin kamu tidak pernah atau bahkan tidak peduli.

Bukankah ia yang senantiasa setia membangunkanmu dari pelukan hangat selimut tebalmu
Mengajakmu berbaur kembali dengan dunia
Sesekali ia tersenyum hangat manakala fajarnya mulai muncul di ufuk timur
Bahkan ia pun tetap hadir meski langit muram di musim ini kerap menemaninya
Tapi, kamu selalu mengabaikannya.

Continue reading Pagi

Dalam Doaku


Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana
Continue reading Dalam Doaku

Bagimu Negeri

Gambar diambil dari google
Rumahmu laksana raksasa alam yang membentang dengan angkuhnya di atas Planet Biru ini
Segalanya kau punya, apapun itu
Tuhan bermurah hati menghadiahimu surga dunia
Apalah yang tak kau punya, segalanya ada
Tambang emas, berlian, batu bara, minyak bumi, dan mineral-mineral berharga
Alam raya menghijau, laut kaya biota, tanah subur
Semua kau punya, semua terkubur di perutmu
Apalagi yang kau mau?



Namun, kini kau rapuh
Bahkan sekadar menopang dirimu pun tak mampu kau kerjakan
Kau ini harimau yang menjual taringmu sendiri pada para serangga
Lantas kau menangis tak mampu membela diri
Semut pun menginjakmu dengan angkuh
Semua telinga mampu menjangkau raunganmu meskipun berbisik
Semua mata mengarah hendak menerkammu

Semua milikmu ikut menggilasmu laksana kotoran
Meluluhlantakkanmu seakan marah pada ketidakmampuanmu
Kau tak menjaga milikmu
kau acuhkan yang harus kau jaga

Kini, manusia-manusia yang bangga berpijak padamu pun hengkang
Mereka menjelma serupa laron di musim hujan
Bingung mencari cahaya
Kapan mendung gelap di tanahmu ini menyingkir
Menghadirkan pelangi harapan, seperti yang sudah-sudah
Seperti kata calon pemimpinmu di lakon sandiwara

Mana garudamu yang perkasa?
Mana merah putihmu yang pernah gagah di atas kepala penjajah?
Katanya kau warisan dunia, katanya kau idaman semua bangsa
Tapi rakyatmu merasa miskin di istana emasmu

Kau bahkan tak sadar menaruh lintah-lintah itu di tubuhmu
Hingga kau tak bisa lagi merasakan apa yang kau punya
Kau tak bisa menunjukkan dirimu bahkan pada rakyatmu
Padahal bagimu, ku persembahkan jiwa ragaku
Kau mulai muak? Aku pun begitu, padamu

Continue reading Bagimu Negeri

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan 
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Sapardi Djoko Damono, 1989. Dari kumpulan puisi "Hujan Bulan Juni"
Continue reading Aku Ingin

Di Ruang Senja


Ku bisikkan padamu sebuah kata
Tapi aku ingin kau menebaknya dulu
Aku sedang menatap langit di depanku
....................
Aku merasa kau terpajang di sana
Menemaniku melewati pergantian hari
Kala senja memerah, menghempas cahaya mentari
Yang kembali pulang ke peraduannya

Tapi.. tunggu sebentar
Aku takut setelah ku bisikkan nanti
Kau ikut menghilang bersama sang mentari
Meninggalkan inderaku yang masih tertuju padamu
....................
Ku tegaskan padamu, aku masih ingin diam
Menikmati caramu menunggu kata
...........
Aku sedang melukis langit di wajahmu
Harmoni sebuah ciptaan-Nya dalam balutan raga
Rona indah yang tak kunjung ku pahami
Serupa senja di ufuk barat
Menenggelamkan hariku tanpa sisa
...........
Ku tunggu kau di dermaga ini
Di ruang penuh kesunyian akan janji sebuah rindu
Kan ku bisikkan padamu kata itu
Hingga aku benar-benar tak lagi takut
Untuk kehilanganmu, sekali lagi



Continue reading Di Ruang Senja

Bogoshipda

Goresan tinta

Rasa itu menggiringmu untuk pulang
Untuk kesekian kalinya
Tanpa jalan keluar lain
Rindu kian rajin mendatangi hatimu
Mengabarkan sayup-sayup berita masa lalu
Membuatmu terjebak di lorong waktu
Menapaktilasi jejak-jejak cerita usangmu 
Lalu memaksamu berhenti

Dibias-bias kala hujan usai
Ia makin jelas menggerutu di hati
Mengais habis batas kesabaranmu untuk tetap melangkah
Menjauh dari dermaga masa lalu
Tanpa menoleh sedikitpun

Panggilan dari kuburan rasa terdalam di relung hati
Membiarkanmu larut menikmati sendiri
Di kereta yang membawamu kembali
Kau temukan serpihan-serpihan cerita perjalananmu
Hingga kau tersadar, semua telah berubah
Semenjak hari itu
16 September 2010, kau tiba
Di ibu kota, tempatmu bermimpi beberapa tahun silam
Tempat yang menjanjikanmu perubahan
Lalu kini di balik kaca kereta, kau termenung
Jauh sekali jarakmu dari mereka
Rindu tak terbilang namun masih bisa kau tahan
Kau akhirnya pulang, ke kampungmu
Kau tumpahkan rindumu di rumah tua itu, bersama mereka
yang tertinggal di masa lalu, namun akan terus terbawa
hingga ujung waktumu terhenti

Continue reading Bogoshipda

Hujan di Sudut Kota

Hujan datang membilas kotaku senja ini
 Seakan membawaku larut dalam lamunan tentangmu
Tentang sihir-sihir wajah sederhana yang terkemas manis
Menawan hatiku tanpa ampun
Tentang berderet kenangan berbalut mimpi tentang hal-hal indah
Hujan membawakanku pesan rindumu dalam sejuta rintik yang tak terhitung lagi jumlahnya
Aku basah dalam buai angan karena merindumu tak lagi dapat ku obati
 Hujan mengutukku dalam rasa mendalam yang tak kunjung ku mengerti
Sejenak rintiknya tajam menghujam tanahku
Menyisakan bekas titik yang tetap nampak namun terabaikan

Hujan selalu menyimpan cerita tentang kita
Tak lagi pernah dikumandangkan dalam kisah manis
Hujan telah melarutkannya di sudut hati
Tiada lagi berbekas
Kau dan hujan membias, menciptakan pelangi di duniaku
Lantas pergi seketika juga aku mulai mengaguminya
Menyisakan guratan senyuman yang tak lagi melengkung indah
Menguburnya dalam dingin sepi menyekap
Tak bisakah hujan ini lebih lama 
Biarkanku diam menyaksikan buliran airnya menetes
Biar ku hitung untuk sejenak melupakan
semua


Continue reading Hujan di Sudut Kota