Dilema Part II : Tentang Jadwal Screentime Anak dan Konsistensi Orang Tuanya

Masih dengan tema yang sama, membahas pola pengasuhan anak. Aku nggak cukup capable kalau harus membahas pola parenting. Namun hal-hal yang berkaitan dengan pengasuhan anak secara umum, sedikit banyak aku sudah mengalaminya. Membagikannya ke blog tidak hanya sekadar mengisi kekosongan blog ini saja, namun sebagai catatan dan pengingat buatku sendiri terhadap perjalananku sebagai orang tua. Jika dalam publikasi catatan ini terdapat hal-hal baik yang dapat pembaca ambil, tentu bisa menjadi pahala jariyah untukku kelak. 



Kali ini, aku akan membahas dilema semua orang tua di era kemajuan teknologi saat ini. Era revolusi industri 4.0 yang menggabungkan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional dalam pertukaran data dan informasi, sedikit banyak telah mengubah kebiasaan masyarakat secara umum di berbagai lapisan usia, kelas, dan generasi. Keharusan untuk mengikuti tuntutan kemajuan zaman sering kali tidak dibarengi dengan kesiapan mental dan kemajuan pola pikir manusianya. Banyak yang latah dan kaget dengan kemajuan yang begitu pesat dalam satu dekade ini. Pergeseran peran dan kebiasaan telah menjadi concern sebagian manusia yang masih peduli. Mengapa demikian? Tak jarang dilema kemajuan teknologi ini memunculkan kekhawatiran berubahnya karakteristik manusia di dalamnya. Adaptasi secara cepat untuk mengerti proses kerjanya sering tidak dibersamai dengan adaptasi untuk bijaksana dalam penggunaannya. Tidak sedikit yang terjadi adalah alih-alih manusia yang mengontrol teknologi, justru teknologilah yang berhasil mengontrol manusia dalam kesehariannya. Dan sayangnya, tak banyak yang mencoba berpikir sejenak untuk menyadarinya.

Seperti yang kalian tahu, aku terlahir sebagai orang tua di era digital. Aku adalah orang tua dari generasi alfa. Generasi yang lahir setelah tahun 2010. Generasi yang sudah terpapar internet bahkan sejak di dalam kandungan. Generasi yang memiliki banyak privilege untuk mendapatkan berbagai kemudahan dari kemajuan zaman yang sudah sangat pesat dan berpotensi untuk terus berkembang tanpa batas. Anakku, tidak tahu rasanya hidup di era tanpa teknologi. Anakku tumbuh saat dunia sudah sangat modern di sana sini. Beruntung dan dilema dalam satu waktu. Sulit dan mudah dalam satu kondisi. Bagaimana kita mencari jalan tengahnya sangat bergantung pada kebijaksanaan kita sebagai orang tua. Apakah kita mengalir saja atau diam sejenak untuk berbenah saat sadar ada yang salah dari langkah yang diambil dalam menghadapi derasnya aliran informasi di era teknologi masa kini. Aku juga sedang terus mempelajari pola ini.

Setelah punya anak, aku jadi tahu bahwa sulit sekali tidak untuk tidak menggunakan gadget sebagai salah satu "'nanny"nya anak. Meski, sebenarnya anak di bawah 2 tahun tidak boleh dapat paparan screentime sama sekali. Takaran ideal memang terkadang tidak sejalan dengan realita. Ada saja keadaan tidak ideal yang membuat kita, orang tua harus takluk juga dengan gadget. Aku masih ingat pertama kali Radif kenal gadget dan youtube tuh saat awal dia mulai MPASI. Ada kalanya saat ada distraksi yang membuat dia agak menolak makan, aku membuatnya stay duduk di booster seatnya dengan bantuan si nanny onlinenya ini alias youtube. Merasa bersalah, sangat. Merasa tidak ideal sebagai ibu, iya. Tapi kembali lagi, kondisi dan pilihan setiap orang tua memang tidak bisa disamaratakan. Kondisi normatif kadang tidak bisa mengikuti kondisi realitanya. Dan tidak ada pilihan lain selain berlapang dada. Menerima bahwa tidak pernah ada namanya orang tua yang ideal, yang ada adalah orang tua yang tidak berhenti belajar.

Aku tidak sedang mencari pembenaran karena memang pilihanku itu tidak benar sama sekali. Anak dikenalkan gadget sebelum 2 tahun saja sudah salah secara aturan, bagaimana mungkin aku mencoba mencari pembenaran. Yang ku lakukan adalah menjelaskan bahwa ada kondisi tidak ideal yang gagal aku adaptasi. Tentu bukan aku tidak sadar. Saat itu, aku tidak ingin mencoba mencari jalan lain karena ku anggap tidak ada. Pilihan yang ada hanya aku dan pilihanku itu sendiri. Berakhir dengan anak kenal gadget sangat dini. Namun, aku sedikit merasa bersyukur bahwa intensitas dia screentime masih sangat jarang saat itu. Dalam satu bulan saja bisa dihitung hanya berapa menit atau jam saja. Radif kecil cukup disiplin untuk tidak terlalu terpapar gadget meski tidak juga sama sekali. Aku menggunakan gadget saat darurat saja. Saat aku dan suami merasa tidak mampu menghandlenya dan keadaan mengharuskan dia harus diam sejenak. Hal ini terjadi karena sejak di usianya dini, Radif harus dibawa ke kantor karena sulitnya mencari pengasuh di tanah rantau. Bekerja membawa anak ke kantor sungguh membuatku menggeser definisi parenting ideal. Karena kondisi yang ku hadapi saja sudah jauh dari ideal. Jika aku memaksa diri, aku justru sedang memberikan anakku seorang ibu yang tidak bahagia dengan dirinya sendiri. Dan itu justru lebih tidak baik untuknya.

Membawa anak ke kantor memang bukan hal mudah. Namun hal tersebut justru merupakan sebuah bentuk kemudahan tersendiri yang ku peroleh dari lingkungan kerjaku. Pro kontra dari lingkungan tentu saja harus kami hadapi. Kami berusaha berkomitmen bahwa bekerja dengan membawa anak tidak mengurangi kualitas kinerja. Berat sekali memang pada awalnya. Terutama saat dia masih sangat bayi dan kantor kami kebetulan belum mempunyai ruang laktasi. Bolak-balik menggunakan mushola kantor sebagai basecamp, mengajak anak lembur, hingga harus rela membiarkan anak bolak-balik naik motor saban hari. Aku dan suami cukup beruntung berada di lingkungan yang cukup supportif. Rekan kerja memperlakukan Radif selayaknya anak sendiri. Meski tentu, ada saja kesulitan yang kami hadapi dalam menangani anak dan kerjaan dalam satu waktu. Terlebih awalnya, aku dan suami sama-sama ditempatkan di frontliner. Garda terdepan pelayanan di kantor. Garda yang paling disorot oleh stakeholder. Sungguh, stakeholder di sana sangat memahami kondisi kami. Tak jarang mereka turut membantu kami menangani kerepotan bekerja sambil membawa anak. Tidak pernah sekalipun kami mendengar mereka mengeluhkan keadaan kami. Bantuan demi bantuan kami dapatkan secara cuma-cuma. Ku harap kami sudah berterima kasih dengan pantas.

Kembali ke persoalan screentime. Seiring berjalannya waktu, Radif semakin paham nikmatnya menonton. Radif yang mulanya tidak pernah secara langsung meminta, menjadi paham meminta jatah menonton. Sejak umurnya 2 tahun, kami memberinya jatah menonton hanya satu jam saja sesuai anjuran IDAI. Meski tentu saja sering kali bocor bila kami harus membawanya ke kantor. Bocornya pun kadang tak kira-kira. Jangan sangka kami tenang-tenang saja. Kami juga putar otak bagaimana caranya menyudahi penggunaan gadget secara amburadul ini pada anak. Paling tidak agar kebocorannya tidak berlebihan. Radif tidak ketergantungan sama sekali jika kami mampu menemaninya. Kamilah yang sangat bergantung pada gadget dalam pengasuhan anak. Radif sangat aktif selayaknya anak balita lainnya. Rasa ingin tahunya tinggi sekali. Dia tipe anak yang tidak suka hanya diam saja duduk sambil menonton karena dia akan bosan. Kami menghitung waktu dia bertahan diam menonton hanya setengah jam pada awalnya. Sisanya, kami harus meladeninya main. Entah menggambar, jalan-jalan keliling halaman kantor, melihat ikan di kolam atau mencari serangga di taman. Nah bagaimana bila pekerjaan kami sedang tidak dapat disambi sama sekali karena harus taat standar waktu? Kami merayu Radif agar mau menonton lebih lama. Meski tentu awalnya dia akan merengek minta turun dari high chair karena mulai bosan. Lama-lama dia menjadi baik-baik saja meski disuruh menonton dalam kurun waktu yang lama. Kami terbantu dan khawatir dalam satu waktu. Di sisi lain, kami dapat bekerja dengan tenang, di lain sisi ada hal besar yang harus segera kami atasi, yaitu memastikan anak tidak ketergantungan gadget

Kondisi tersebut ternyata tidak berlangsung lama, Radif makin besar makin enggak mau kalau hanya diminta duduk saja menonton. Dia mulai gelisah ingin keluar jalan-jalan. Di satu sisi kami merasa lega bahwa gadget bukan segalanya di dunianya. Namun sisi lainnya, kami kesulitan mengerjakan pekerjaan kantor. Aku mencoba mengalah untuk menemaninya. Beruntungnya, posisi kerjaku dipindahkan ke middle office. Posisi yang tidak langsung berhadapan dengan pelayanan. Kepindahan posisi ini sedikit banyak membantuku membersamai Radif lebih banyak. Kadang aku merasa, porsi waktuku di kantor lebih banyak ku gunakan untuk menemaninya main daripada bekerja. Aku tipe orang yang bisa bekerja dalam keadaan kepepet. Aku cukup perfeksionis. Aku tipe pekerja yang tidak akan tenang bila masih ada deadline pekerjaan yang belum selesai. Kondisi ini membuatku memaksa diri untuk bekerja lebih cepat. Aku selalu merasa bersalah apakah hasil pekerjaanku tersebut memuaskan atau tidak. Atasanku di kantor lama tidak pernah komplain sama sekali. Aku berusaha merespon perintah secepat yang aku bisa, meski sering kali aku minta maaf karena harus menemani anak sejenak. Privilege dimana-mana. Ku harap sekali lagi, aku sudah cukup layak berterima kasih pada semua yang berusaha memahami keadaan kami ini.

Pindah ke kantor baru, ku kira kami akan menyudahi penggunaan gadget dan mengalihkannya dengan dunia main selayaknya anak seusianya. Masuk sekolah atau daycare atau cukup ditemani pengasuh di rumah. Namun ternyata, pandemi membuyarkan semua. Kami masih harus melanjutkan episode mengajak anak ke tempat kerja. Ku kira segalanya akan sama. Ternyata jauh lebih sulit karena di tempat baru, Radif harus adaptasi lagi dengan orang-orangnya. Jika di kantor lama dia sudah akrab dan bisa dengan mudah mengajak main siapapun, tidak dengan di kantor baru. Semuanya adalah orang baru dengan kepentingannya masing-masing. Kami tentu tidak ingin kehadiran Radif di kantor membuat mereka merasa terganggu. Kami juga tidak ingin terkesan memanfaatkan keadaan dan bersikap tidak profesional. Di luar dugaan pula Radif semakin tidak suka disuruh hanya duduk menonton youtube. Dia akan dengan mudahnya bosan dengan kegiatan screentime. Seperti kataku, sebenarnya kondisi ini bagus dan melegakan karena berarti gadget bukanlah sepenuhnya dunia yang menguasainya. Namun di lain sisi itu juga, kami sungguh-sungguh kesulitan melakukan pekerjaan. Di sinilah aku merasa gagal. Di saat inilah aku merasa tidak adil menyerahkan pengasuhan pada youtube. Sepulang kerja, biasanya kami akan membaca buku dan bercengkerama bersama di kamar tanpa gadget. Namun di sini, lelah sepulang kerja, kami langsung tepar tanpa ada interaksi yang berarti dengan Radif. Aku lupa kapan terakhir kalinya rutin membacakannya buku. Aku lupa kapan terakhir kalinya antusias membelikannya buku cerita. Aku merasa bersalah namun fisikku tak sanggup berbuat apa-apa. Kami lelah dengan rutinitas kantor. Lelah dengan pengasuhan tanpa bantuan pengasuh dan pembantu. Pandemi ini benar-benar halangan terbesar dalam mengatur jam screentime anak.

Kemajuan teknologi yang pesat bukan berarti sepenuhnya juga menakutkan. Bukan juga kami ingin anak kami sama sekali tidak terpapar teknologi karena itu jelas tidak mungkin dan tidak adil untuknya. Zaman dia dan zaman kami tentu sudah jauh berbeda. Definisi ideal juga tentu berubah. Yang kami pikirkan adalah bagaimana kami bisa bijaksana dalam menggunakan kemajuan teknologi dalam pengasuhan anak. Disiplin tidaknya anak dalam urusan screentime tentu saja andil terbesarnya berada di tangan orang tuanya. Keluarga adalah madrasah pertamanya. Tidak mungkin membenahi lingkungan jika lingkaran utamanya sendiri belum berbenah. Aku dan suami masih belajar dan berusaha berdamai dengan gadget. Sulit sekali karena kami sendiri juga sangat bergantung pada gadget. Sulit tapi bukan berarti tidak bisa. Aku percaya, setiap orang tua normal pada dasarnya ingin yang terbaik untuk anaknya. Caranya saja yang berbeda. Aku percaya, orang tua normal akan terus berusaha berbenah dan mencari jalan terbaik agar anaknya tumbuh dengan baik. Siapa kita untuk menghakimi.

Sekarang, porsi penggunakan gadget Radif memang masih di luar jadwal normalnya. Namun kami masih berusaha memangkasnya sedikit demi sedikit. Konsistensi adalah kunci dan itu berat sekali, Kami kembali berusaha membersamainya bermain, menggambar, menulis, dan membaca cerita. Dia sebenarnya sangat antusias dibanding hanya diam menonton youtube saja. Aku yakin hati kecilnya sangat ingin selalu ditemani bermain oleh orang tuanya. Karena sesungguhnya, kado termewah yang bisa orang tua berikan kepada anak adalah waktunya dalam membersamainya. Tidak hanya kehadiran secara fisik namun hadir pula hati dan pikirannya untuk anak. Dan selalu ingat bahwa anak dapat merasakan itu. Kami berusaha mengingat dan menyadari bahwa waktu membersamai anak itu sangat singkat. Dia akan tumbuh besar dan sibuk dengan dunianya sendiri pada waktunya nanti. Dia akan tumbuh mandiri dan tidak lagi membutuhkan bantuan kita lagi, kecuali doa. Dan kami juga tidak ingin menyesalinya kelak karena tak cukup hadir dalam kesehariannya. Rasa bersalah itu kekal.

1 comment:

  1. sekarang kan sudah ada Smarttv, tv berbasis android yg bisa memutar video youtube. nonton youtube nya di tv aja biar agak berkurang interaksi dengan hp
    Singapore.radio.FM

    ReplyDelete