Mbak, Aku Ingin Menjadi Dokter

Satu pesan masuk dari adik bungsuku pada suatu hari langsung membangunkanku dari kantuk di hari minggu pagi. Ku baca pelan-pelan sambil terus ku ulang-ulang maksud kalimat yang dikirimkan olehnya itu. Kalimat berbunyi kurang lebih begini "Mbak, aku ingin menjadi dokter". Iya, aku kaget. Aku jadi teringat beberapa tahun yang lalu saat adik keduaku akan memasuki bangku kuliah, dia dengan sangat mantap ingin mengambil jurusan Statistika di salah satu kampus negeri favorit di kota Bogor. Sebagai kakak sulung, aku mendukung apapun yang menjadi keputusannya selama dia tahu dan paham betul apa yang akan dijalaninya itu. Aku selalu berusaha bersikap diplomatis pada setiap keputusan yang diambil oleh adik-adikku. Bukan aku yang akan menjalaninya, melainkan mereka. Meski sering kali, maksud baik itu harus berhadapan pula pada harapan lain orang tua. 

Aku pernah memberi saran pada adik keduaku untuk mengambil jurusan Kedokteran Umum saja bila dia kebingungan memilih jurusan. Bukan karena aku ikut-ikutan tren jurusan favorit yang umumnya dipilih oleh sebagian besar anak IPA. Jujur saja, dari lubuk hatiku yang terdalam, aku sama sekali tidak pernah ingin menjadi seorang dokter. Pernah suatu waktu ibu memberiku opsi mengenai jurusan Kedokteran. Aku memang sempat mempertimbangkannya. Salah satunya karena sebuah inspirasi yang ku dapatkan dari seorang dokter spesialis tulang yang cukup terkenal di daerahku yang kebetulan menjadi dokter yang merawat adik keduaku saat menderita osteoarthiris beberapa tahun yang lalu. Dokter spesialis tulang tersebut merawat adikku dengan penuh dedikasi meski tahu kami tidak membayar sepeserpun biaya karena menggunakan fasilitas askes. Rasanya hal tersebut membuka hatiku betapa mulianya profesi seorang dokter. Itulah mengapa aku menyarankan adik keduaku untuk mengambil jurusan Kedokteran Umum saja. Namun, rupanya hal tersebut di luar minatnya. Tentu saja aku tidak pernah memaksakan kehendak.

Tahun berganti tahun, adik bungsuku sebentar lagi akan lulus SMA. Dilema memilih jurusan tentu saja akan dia alami juga. Dia juga sama sepertiku, tidak tertarik pada jurusan Kedokteran Umum. Dia hanya selalu mengatakan bahwa dia ingin menjadi sepertiku saja. Iya, adikku sangat suka sekali meniru kakaknya. Oleh karena itu, saat tiba-tiba dia mengatakan ingin menjadi seorang dokter, aku menjadi sangat terkejut. Aku menanyakannya untuk memastikan bahwa ini adalah kemauannya sendiri. Dia sendiri sebenarnya sedikit ragu, namun dia merasa tidak ada salahnya mencoba. Toh, belum tentu juga dia bisa keterima. Aku mengatakan bahwa aku mendukung apapun keputusannya asal dia sudah mendapat lampu hijau dari orang tua. Selain itu, perlu dia catat bahwa memilih menjadi seorang dokter berarti memilih mengabdi pada kemanusiaan. Bukan aku terlalu idealis atau bagaimana, aku hanya ingin dia tidak lupa bahwa profesinya ini berhadapan langsung dengan nyawa manusia.

Menjadi dokter adalah sebuah dualisme profesi yang terkadang membuat kita harus memilih. Di sisi lain, kita bersumpah untuk mengabdi kepada kemanusiaan. Menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam menyelamatkan nyawa manusia. Di sisi lain pula, profesi itu pula yang akan menghidupi kita. Iya, dokter juga manusia biasa yang butuh makan. Tentu tidak dapat dipungkiri bahwa di samping misi kemanusiaan yang menjadi latar belakang profesinya, ada motivasi pribadi juga saat dia memutuskan menjadi seorang dokter. Yang menjadi masalah kemudian adalah bagaimana caranya kita nanti menyeimbangkan kepentingan pribadi dengan kepentingan pengabdian. Bagaimana caranya kita nanti bijak dalam mengatasi segala bentuk konflik pribadi dan kepentingan ketika menghadapi realitas di lapangan. Dokter sebagai karyawan rumah sakit harus mematuhi aturan main tempatnya bekerja. Di sisi lain, terkadang panggilan kemanusiaan justru hadir ketika banyak di antara pasien yang membutuhkan pertolongannya tersebut bahkan tidak lolos administrasi rumah sakit. Bila dia mengikuti prosedur dan birokrasi rumah sakit namun kemudian ternyata berdampak buruk pada pasien yang butuh pertolongan, profesinya lah yang akan menjadi sorotan. Belum lagi sering kali media memberitakannya dengan tidak berimbang dan bahkan memojokkan. Sering kali dibumbui drama yang tak jarang mendiskreditkan profesinya. Hal-hal yang tak jauh berbeda dengan permasalahan ini tentu akan terus menjadi teman berpikirnya sepanjang waktu. Belum lagi bila ada kasus-kasus lain yang lebih buruk atau bahkan sampai dianggap melanggar sumpahnya, seperti kasus malpraktik misalnya. Berat sekali oh Tuhan. Di saat masyarakat mensetting harapannya terlalu tinggi pada profesi mulia seorang dokter, masyarakat acap kali juga lupa menyelipkan pikir bahwa dokter juga manusia biasa. Dokter seakan tidak boleh salah. Sedangkan sayangnya, dokter bukan Tuhan yang akan selalu benar dan mampu menyelamatkan nyawa. Meski ya, tidak bisa kita pungkiri bahwa memang profesi dokter menuntut kebenaran dan ketepatan dalam pengambilan tindakan untuk pasien. Salah sedikit saja, hasilnya akan sangat fatal.

Akhir-akhir ini kita sedang sering membaca di beberapa media mengenai kasus-kasus pasien yang ditelantarkan oleh rumah sakit karena terganjal masalah biaya. Beberapa bahkan harus meregang nyawa karena terlambat mendapatkan penanganan. Sudah dapat dipastikan, profesi dokter jugalah yang menjadi sorotan. Publik terkadang tidak ingin tahu bagaimana dan apa yang sebenarnya terjadi. Meski tentu saja, sebagai masyarakat awam, kita selalu berpihak pada kepentingan pasien. Aku tak pernah siap dengan beratnya tanggung jawab moral menjadi seorang dokter. Memilih jalan menjadi seorang dokter menurutku adalah pilihan berani dan hebat. Apapun alasannya, tetap saja ada misi kemanusiaan yang diselipkannya meski tak seberapa besar. Terlebih sudah bukan rahasia umum lagi bahwa biaya pendidikan seorang dokter sangat mahal dan prosesnya sangat panjang. Sering kali bahkan orang mengatakan humor bahwa sekolah kedokteran itu balik modalnya sangat lama. Bahkan, untuk bisa menjadi dokter yang mapan secara finansial, waktunya tidak sebentar. Terkadang, bila dipikir-pikir hal tersebut memakan umur juga. Nah, semua tergantung pada niat awal setiap orang. Berat memang tanggung jawab seorang dokter bila dibandingkan dengan risiko yang akan dihadapi.

Aku tidak tahu apakah pilihan menjadi seorang dokter ini akan tetap dipegang oleh adik bungsuku sampai dia lulus nanti. Selain mendukung, aku tentu patut merasa khawatir. Dia perlu tahu bahwa profesinya bukanlah hal yang bisa diambil dengan sikap yang main-main dan asal-asalan. Semua profesi itu pada dasarnya sangat mulia dalam bidangnya masing-masing. Namun, profesi dokter ini berhubungan langsung dengan nyawa. Tidak berlebihan bila kita perlu memikirkan lebih dalam saat hendak memutuskan untuk mengabdi sebagai seorang dokter.

0 komentar:

Post a Comment