Little Part of My Puzzle

Can you call it friend or something else?

Pernahkah ada seseorang yang dengan penuh kesabaran selalu mendengarkan setiap detail ceritamu di saat yang lain hanya sibuk bercerita tentang dirinya kepadamu tanpa pernah memperdulikanmu. Namun, orang ini justru selalu tertarik setiap kali kamu bercerita apapun meski dengan speed bicara yang kadang tak bisa dimengerti, tapi tetap dia dengarkan dengan penuh keikhlasan dan dia berikan nasihat terbaiknya dengan tulus tanpa memihak. Mengkhawatirkan keadaanmu hingga ia sendiri lupa dengan dirinya. Selalu memastikan bahwa kamu baik-baik saja, tersenyum dan tak tersakiti. Senantiasa menolongmu di tiap detail kecil masalah yang menghampirimu. Ikut merasakan sakit yang kau rasa, tidak akan pernah tega membiarkanmu terluka oleh apapun. Berusaha bertahan meskipun jiwanya mungkin telah lelah padamu. Namun, ia tetap sabar memberikan waktunya agar tetap membuatmu nyaman dengannya, mengertikan keadaanmu lebih dari cukup.

Seseorang yang kehadirannya tak kamu sangka, pelan-pelan membuatmu nyaman dengannya. Meskipun kamu tutup hatimu rapat-rapat agar tak berharap lebih padanya, hingga akhirnya saat ia menyatakan rasanya padamu justru tak kamu percaya. Walau begitu, ia tetap dengan sabar menunggumu mengatakan iya. Meskipun kau tahu, kau takkan bisa menjadi gadis yang membuatnya bahagia, namun kau tahu dia begitu tulus berbaik hati padamu. Hingga suatu ketika kau sadar lantas kau katakan iya atas pertanyaannya yang sekian lama dia tunggu jawabannya itu.

Kau merasa bahwa bersamanya seperti segalanya terlalu baik untuk orang sepertimu, yang dingin, kaku, apatis dan tak responsif tetapi kau dapati makhluk penuh kesabaran itu selalu menjagamu dalam kediamannya, mengiringi langkah-langkahmu menapaki hari-hari yang kadang kau rasa berat bila kau lalui sendiri meskipun bagimu itu biasa. Namun, segalanya menjadi lebih mudah manakala kau sadar ada dia yang tentu saja takkan membiarkanmu merasakannya sendirian. Ya kurang lebih begitulah yang mungkin sangat berlebihan kau rasakan ketika semua bukan lagi momenmu. Kau sadar betul, ada yang lebih baik yang benar-benar diinginkannya. Mungkin.


Dulu, kau sangat suka mendengarnya bercerita, atau sekedar berkeluh kesah. Kau senang saat dia sering mengulang cerita-ceritanya, semua menarik bagimu. Hal-hal yang tak kau punya selama ini, yang tak pernah kau pikirkan, dan selalu saja kau abaikan. Di tiap cerita menyenangkan darinya dulu dan saat itu, kau tahu kapan ia jujur atau bohong padamu. Namun, kau tahu di tiap kebohongannya itu selain karena sifatnya yang begitu penakut juga karena ia tak sedikitpun ingin membuatmu merasa tersakiti. Bukan sebuah kebohongan yang pantas dibenci, meskipun kebohongan itu sering kali membuatmu jengkel sendiri. Pada dasarnya tak masalah bagimu. Hari demi hari kau tahu hidupmu terasa aman berada di dekatnya, karena ia tak pernah meninggalkanmu larut dalam kesedihan. 

Kau tahu sebenarnya kau bukan orang yang tepat berada di sampingnya. Segala sisi menolakmu. Bukan kau yang seharusnya berada di sisinya saat itu. Kau sadari betul itu, tapi tetap saja kau tahan dia sedemikian rupa hingga kau tahu kau mampu menjalani semua sendirian lagi. Kau tak lagi ingin memikirkan apa yang sebenarnya kau rasakan. Entah rasa sayang atau rasa membutuhkan, tak lagi kau pikirkan. Kau takut bermain dengan kata-kata itu. Bagimu lebih baik tidak menyadari perasaan sendiri daripada sadar namun kenyataannya harus melepaskan. Kau tahu, kau berhasil tak menyimpan rasa itu terlalu dalam, hanya cukup di permukaan saja dan seketika dapat dengan mudah kau hempaskan saat akhirnya kalian harus mengakhiri semuanya. Dan, kau berhasil untuk tidak sedikitpun menyesali keputusan itu. Rasa lelahnya sudah cukup untuk membuatmu mengerti. Dia berhak berhenti, dan segalanya normal kembali bagimu.



Mungkin kau selalu mendoakannya. Mengertikannya. Takkan pula membiarkannya tersakiti dan berusaha membuatnya selalu tersenyum untuk melupakan hal di masa lalunya yang mungkin menyisakan luka. Kau tahu, mungkin kau tak sanggup menjadikannya bahagia. Tapi tetap kau coba. Kau tahu, kadang kita tak perlu terlibat dengan perasaan kita terlalu dalam ketika begitu mengagumi kebaikan hati seseorang pada kita. Apalagi kita tak tahu apakah segalanya akan tetap sama sampai di akhir yang indah. Bukan masalah hati yang harus selalu berada di depan baris pertimbangan, tetapi situasi terbaiklah yang sering kali harus terpikir. Kita bukan hanya sedang berdiri berdua dalam sisian yang berbeda.

Ada begitu banyak sisi yang memang pantas mendapat perhatian kita, satu sisi menolak, jangan pernah berpikir untuk memaksakan. Alloh tahu, segalanya adalah kehendak-Nya. Entah sebuah tempat persinggahan yang Alloh berikan atau memang pelabuhan terakhir yang Dia anugerahkan. Jangan menduga-duga, dugaan hanya akan menjerujimu dalam harapan yang entah dapat kau realisasikan atau justru mengecewakanmu. Hadapilah, mungkin itu hanya bagian kecil puzzle hidupmu yang harus kau lewati dengan cara yang mungkin tak kau sukai. Alloh tahu. Dia sangat tahu. Kau hanya butuh bersabar hingga menemukan mana yang memang milikmu, spot tempatmu. 

Cerita ini memang agak berlebihan, sungguh. Tak sesempurna itu. Jika kalian pernah mengalami hal tersebut ingat saja kalimat di bawah ini :

There is something that you think it is yours but actually, that's not yours. It's another one spot. And you have to let it go. Just say "nothing to lose".
January 2th 2013

0 komentar:

Post a Comment