Persepsi Tentang Makan Sehat dan Makan Enak

Sejak kecil, kita selalu didikte dengan doktrin bahwa makan sehat itu adalah makan makanan yang mengandung unsur empat sehat lima sempurna. Pandangan tersebut tidak berubah bahkan hingga sekarang. Makanan yang ada dalam doktrin empat sehat lima sempurna diyakini telah mengandung semua gizi yang diperlukan oleh tubuh. Unsur-unsur seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral lainnya tidak ada yang boleh tertinggal. Begitu halnya dengan saya. Sedari kecil, ibu sudah memperkenalkan makanan sehat versi empat sehat lima sempurna pada saya. Salah satunya kebiasaan mengkonsumsi sayuran. Hal ini bertujuan supaya saya belajar menyukai sayuran. Di saat saya sedang tidak begitu lapar, ibu memberi saya sayuran bening untuk dijadikan cemilan. Terkadang kuah sayuran bening seperti bayam atau selada air, sengaja dimasukkan ke dalam botol (dot) minum saya. Alhasil, saya menjadi sangat menyukai sayuran hingga sekarang. Metode ini ternyata berhasil.

Meskipun tumbuh dengan kebiasaan baik karena suka mengkonsumsi sayuran, saya juga punya satu kebiasaan buruk dalam memilih makanan. Saya tipikal orang yang sering kali menilai makanan dari cita rasanya, bukan dari manfaatnya bagi tubuh. Kebetulan sekali sayuran-sayuran yang diolah oleh ibu saya tersebut rasanya masih tergolong makanan yang cocok dengan lidah saya. Entah karena lidah saya terbiasa dengan cita rasa buatan ibu, atau memang pada dasarnya sayuran buatan ibu saya tersebut rasanya enak. Meskipun ibu saya selalu mewajibkan sayuran sebagai salah satu menu utama, ibu masih setia menggunakan micin/vetsin/penyedap rasa sebagai bahan tambahan dalam mengolah masakan. Tumbuhlah saya menjadi generasi micin.

Berhubung terbiasa makan makanan yang mengandung micin di setiap olahannya, menikmati makanan bebas micin menjadi ujian tersendiri bagi saya. Sebelum menikah, saya sudah sedikit banyak belajar memasak meskipun hanya masakan yang sederhana. Saya mulai belajar mengurangi konsumsi micin dalam mengolah masakan. Meski ya, sering kali luluh juga cheating membubuhkan micin ketika masakan saya terasa hambar. Jujur saya akui, saya kurang pandai memasak. Terkadang itu justru membuat saya minder dan malas untuk belajar memasak. Padahal, saya selalu berharap bisa menjadi ibu dan istri yang baik dalam urusan dapur. Calon suami saya yang sekarang sudah menjadi suami, tahu bahwa saya tidak bisa memasak. Saya memang pernah beberapa kali membuatkan bekal makanan untuk calon suami saat masih magang dulu. Namun, tentu saja masakan saya tersebut sangat standar dan biasa saja. Berbeda jauh dengan masakan buatan mama atau adik perempuannya yang sudah jago dalam urusan memasak. Meski demikian, calon suami saya sangat menghargai bagaimanapun rasa masakan buatan saya.

Kebetulan sekali, kemampuan memasak bukan menjadi syarat bagi calon suami saya dalam mencari pasangan hidup. Dia menikah bukan untuk mencari wanita yang bisa memasak untuknya. Menurut dia, memasak itu proses. Selama saya mau memasak, menurut dia hal itu sudah lebih dari cukup. Tidak peduli bagaimanapun rasanya. Lagipula, suami saya ini tipikal penganut makanan sehat. Dia lebih memilih makan makanan yang hambar tapi sehat daripada memakan makanan yang enak tetapi mengandung banyak micin. Perbedaan persepsi tentang rasa inilah yang membuat saya lebih kesulitan dalam membuat masakan untuk suami. Bagi yang sudah ahli memasak, memasak tanpa micin tetapi tetap enak bukanlah hal yang sulit. Sedangkan bagi pemula seperti saya, rasanya gemas sendiri dengan rasa masakan buatan sendiri yang cenderung hambar ketika tanpa sentuhan penyedap rasa.

Saya memang sudah berkomitmen pada diri sendiri bahwa saya akan belajar memasak selama saya menjadi istrinya karena motivasi pribadi, bukan karena disuruh siapapun. Saya sangat ingin anak-anak dan suami saya kelak merindukan masakan buatan saya atau bahkan membanggakan kemampuan memasak saya. Meskipun menjadi seorang working mom, saya juga ingin selalu bisa membuatkan bekal untuk suami dan anak-anak saya kelak. Membuatkan makanan kesukaan mereka dan membuat mereka lebih doyan makan di rumah daripada jajan di luar. Rasanya bahagia sendiri membayangkannya. Saya merasa mungkin ini sedikit berlebihan, namun tidak ada salahnya berharap pada diri sendiri. Terlebih, saya suka merasa ngeri sendiri membayangkan bagaimana cara pengolahan dan apa saja bahan yang dipakai pada jajanan atau makanan jadi yang dijual di luar sana. Saya dan suami terkadang iseng becanda ketika terpaksa harus makan di luar. Kira-kira masakan yang kami makan tersebut memakai micin seberapa banyak dan bersih tidak pengolahannya. Meski ya, lahap juga memakannya.

Setelah menikah, saya menjadi sangat selektif terhadap semua makanan yang akan dikonsumsi. Sebisa mungkin, saya selalu menyediakan buah dan sayuran untuk suami di rumah. Meski di kota ini, persediaan buah dan sayuran sangat tidak variatif. Suami saya juga bukan penyuka minuman aneka rasa seperti kopi, teh, atau susu. Suami saya lebih memilih air putih atau jus sebagai minuman sehari-hari. Darinyalah saya belajar membatasi konsumsi gula. Dalam seminggu, mungkin  hanya dua tiga kali kami membuat teh. Kopi sudah hampir kami tinggalkan. Setiap suami saya pulang dari kerja lembur di kantor, saya lebih sering menawarinya minuman jeruk panas yang diberi tetesan madu murni daripada hobi menghidangkan teh atau kopi, kecuali jika dia meminta.
Terkadang, godaan untuk makan makanan yang tidak sehat seperti mie instan, mie ayam, makanan pinggir jalan, jajanan anak SD, dan lain-lain hadir di benak saya. Godaan minum minuman rasa-rasa yang mengandung banyak pemanis buatan juga sering kali muncul setiap kali saya memasuki minimarket. Maklum saja, dulu tidak ada yang harus saya jaga selain diri sendiri. Sekarang, ada manusia lain di dalam tubuh saya yang berhak untuk mendapatkan asupan makanan sehat. Ada manusia lain di dalam rumah saya yang harus saya jaga pola makannya. Bila saya tidak bisa mengontrol keinginan sesaat saya tersebut, bagaimana saya bisa menjaga mereka? Mungkin bila untuk sesekali, itu tidak menjadi masalah. Asal bukan menjadi kebiasaan yang tidak bisa dibatasi.

Makanan sehat dan makanan enak sering kali memang tidak berada dalam wujud yang sama. Namun, bukan berarti kita tidak bisa makan sehat dan enak dalam satu waktu. Tentu saja selalu ada cara untuk mengakalinya asal kita tidak berhenti mencoba. Iya, meskipun masih harus selalu berbekal resep masakan dari internet, saya tidak akan menyerah untuk belajar memasak. Tidak peduli meskipun harus gagal berkali-kali atau bahkan butuh waktu yang lebih lama dari orang lain. Bukankah selama orang-orang yang berada di sisi kita senantiasa mendukung itu sudah cukup bagi kita? Jadi, mulailah menjaga persepsi bahwa makanan sehat itu enak. Enak rasanya dan enak untuk tubuh. Tidak perlu ribet menjadi picky eater selama kamu sendiri masih dalam taraf belajar memasak.



0 komentar:

Post a Comment